Monthly Archives: Januari 2009

ABS Versus ABM


mega-vs-sbyAkhir-akhir ini disinyalir terdapat gerakan ABS (Asal Bukan SBY). Bahkan SBY sampai merasa perlu menyinggung soal itu, sembari mengingatkan TNI/ Polri agar bersikap netral pada Pemilu/Pilpres 2009 dan tidak terlibat menjadi TS salah satu capres.

Sinyalemen gerakan ABS ini agaknya bukan sekadar isapan jempol. Indikasi ke arah itu bisa dilihat dari semakin intensnya pertemuan yang digalang beberapa capres lain, yang terkesan ingin meninggalkan SBY dan Partai Demokrat sendirian.

Keinginan membiarkan Partai Demokrat jalan sendiri, bukan tanpa alasan. Partai Golkar yang selama ini sebagai pendukung setia SBY, mulai menjauh sebagai konsekuensi kekecewaan mereka terhadap iklan SBY dan Partai Demokrat, yang terkesan mengklaim sendiri berbagai kesuksesan Pemerintah.

Jika Partai Golkar benar-benar pecah kongsi dengan Partai Demokrat, hampir dapat dipastikan gerakan ABS akan menuai sukses. Sebab dukungan 20 persen sebagai persyaratan mengusung capres, bakal sangat sulit dicapai Partai Demokrat.

Tetapi di pihak lain, juga mencuat wacana ABM (Asal Bukan Mega). Kelompok yang mengembangkan wacana ini, adalah mereka yang menghendaki munculnya capres alternatif ; sosok presiden baru, yang bisa membawa perubahan fundamental bagi bangsa Indonesia.

Di mata banyak kalangan, gerakan ABS tidaklah mesti bertujuan untuk menggolkan Mega sebagai presiden. Sebab seperti dikemukakan Amien Rais, antara SBY dan Mega sebenarnya podo wae, sama-sama tidak akan membawa angin segar bagi rakyat Indonesia.

Karenanya pertarungan wacana ABS versus ABM, diharapkan tidak akan menghasilkan kemenangan kepada salah satu di antara keduanya, melainkan memberi keuntungan kepada kelompok tengah yang menghendaki Presiden, asal bukan SBY dan tidak pula Mega.

Mengapa demikian ? Pertimbangannya, jika SBY atau Mega yang kembali memimpin negeri ini, dikhawatirkan akan muncul ‘dendam politik’ yang tak berkesudahan di antara dua kelompok ini, yang berimplikasi negatif bagi kondusifitas bangsa.

Indikasinya bisa dilihat dari semakin menajamnya saling tuding di antara kedua kubu ini. Kalau Mega mengibaratkan Pemerintah SBY bak permainan yoyo, Partai Demokrat gantian menilai Pemerintahan Mega dulu ibarat gasing. O..alah….ada-ada saja.

Karena pendukung SBY dan Mega, sibuk berantem melulu. Sudah selayaknya dimunculkan capres alternatif yang lebih kuat dan bebas konflik. Untuk itu, elite politik  di PKS, PAN, PKB, PPP, Gerindra, Hanura, PBR, PBB, dan lainnya diharapkan dapat bersatu-padu mencari figur Presiden Baru tersebut, sebagai jawaban dan solusi menyikapi munculnya wacana ABS versus ABM itu.

karikatur dari sini

Kreativitas Mentok, Dangdut Jeblok


ridho-irama

Ridho Rhoma

Pada Senin (26/1) malam kemarin, TPI menggelar acara bertajuk ‘Dangdut Never Dies’, yang sesungguhnya merupakan gawenya The King of Dangdut Rhoma Irama, menggunakan momentum acara itu melaunching putranya Ridho Rhoma.

Rhoma berobsesi Ridho tampil sebagai ‘pangeran dangdut’, yang akan mewarisi kejayaannya sebagai penguasa musik dangdut yang hingga kini belum tergantikan.

Obsesi Rhoma itu wajar dan sah-sah saja. Tapi, sayangnya performance dan vokal Ridho Rhoma yang sudah lumayan mempesona itu tak diimbangi dengan pemunculan sesuatu yang benar-benar baru.

Dengan kata lain kehadiran Ridho baru sebatas mendaur ulang lagu-lagu beken yang pernah dipopulerkan ayahnya.  Padahal dari kepiawaiannya menyanyikan lagu-lagu Hindustan seperti diperlihatkan dalam acara itu, mestinya nilai plus putra kesayangan Bang Haji itu layak dijual ke publik.

Sangat disayangkan kalau Ridho cuma menyanyikan lagu-lagu lawas Rhoma Irama. Mestinya launching Ridho Rhoma bersama ganknya Sonet 2 Band, disertai dengan pemunculan album anyar. Maksudnya, album berisi lagu benar-benar baru, bukan cuma daur ulang.

Dalam konteks demikian, tak terlalu berlebihan jika dikatakan, daya kreasi  musisi dangdut sekarang benar-benar cukup memprihatinkan. Kreativitas mentok, dangdut pun jeblok.

Sebagai penikmat segala jenis musik, sudah bertahun-tahun saya mencermati, tidak ada lagi album dangdut sukses mencetak hits dan digemari masyarakat. Coba bandingkan dengan perkembangan musik pop, hampir setiap bulan ada saja lagu-lagu baru muncul dan populer di tengah masyarakat.

Lihatlah misalnya Ahmad Dhani. Selalu saja ada lagu-lagu baru yang diciptakannya dan hampir semuanya meraih hits, baik saat diluncurkan lewat Dewa 19, The Rock, Mulan Jameela atau Dewi Dewi.rhoma

Sementara Rhoma Irama, sudah berpuluh tahun tak kunjung mengeluarkan album yang benar-benar baru (berisikan full lagu baru). Parahnya lagi, penyanyi dangdut lainnya saat manggung di layar kaca dan di mana saja, juga selalu menyanyikan lagu yang itu-itu saja. Membosankan ! Kreativitas mentok, dangdut jeblok.

Kelemahan penyanyi dangdut seperti Dewi Persik, Saiful Jamil, Inul Daratista, Cici Paramida, Ikke Nurjannah, Uut Permatasari, Kristina, Ine Cynthia, Iis Dahlia, Irfan Mansyur S, dan para alumni KDI ; mereka cuma bisa menyanyi dan tak punya talenta menciptakan lagu seperti halnya Rhoma, Mansyur S, Meggi Z, Ayu Soraya atau Rita Sugiarto. Adapun musisi dan group band pop saat ini umumnya kreatif membuat lagu baru.

Dalam konteks demikian, sungguh mengherankan Rhoma Irama yang dulu begitu kreatif dan sudah menciptakan sekitar 500 lagu, ikut-ikutan pula mandeg kreativitasnya dalam membuat lagu-lagu baru. Padahal para fansnya sudah cukup lama merindukan kehadiran album barunya.

Agar dangdut tak semakin lama jeblok, Rhoma seharusnya bisa memberikan terobosan baru menciptakan lagu-lagu anyar buat dirinya sendiri serta untuk penerusnya Ridho Rhoma. Dan akan lebih baik lagi jika Ridho juga diberi ‘pelajaran’ oleh sang ayah agar tak sekadar muncul sebagai penyanyi ansich, tetapi sekaligus sebagai musisi all-round.

Kalau Ridho tak punya talenta mengkreasi lagu, slogan Dangdut Never Dies akan berhenti sebatas jargon, selanjutnya jagad perdangdutan pun tetap jeblok dan kemungkinan besar akan ditinggalkan para pengemarnya…..!

foto dicomot dari sini

Semua Pria Berbakat Selingkuh ?


saif-ali-khan-kareena-karoor-loveSemua pria berbakat selingkuh ? Hmmmm, benarkah ? Sepertinya demikian. Maraknya berita soal nikah sirri belakangan ini, agaknya bisa dijadikan sebagai salah satu indikator.

Nikah sirri kerap dijadikan sebagai solusi (jalan pintas) menghindari perzinahan. Tetapi, tetap saja hal itu bisa dianggap sebagai aktualisasi bakat selingkuh, walaupun nikah sirri dianggap legal dalam perspektif agama (Islam).

Tetapi, masih lebih banyak lagi, pria terlibat selingkuh berlumur dosa. Misalnya, seorang suami memadu kasih dengan seseorang, lalu perempuan itu dijadikannya sebagai istri simpanan (dan tak pernah dinikahi), walau sebatas nikah sirri sekalipun.

Semua pria berbakat selingkuh ? Kalau Anda menanyakan soal ini kepada kaum pria, mereka pasti tak akan membantahnya. Kendati sudah punya istri, tunangan, pacar,  semua pria lazimnya punya ketertarikan dengan perempuan cantik, menarik, intelek, yang mungkin baru saja dikenalnya atau sama sekali tak pernah dikenalnya.

Pria bisa menjalin affair dengan wanita, hanya karena pengaruh sex appealnya saja alias tanpa mempedulikan kepribadiannya. Pria juga bisa terperangkap dalam hubungan perselingkuhan singkat di setiap kota yang disinggahinya…?

Kendati berbakat selingkuh dan atau punya obsesi memiliki istri lebih dari satu, tetapi tak dengan serta merta semua pria mempunyai keberanian untuk terlibat dalam perselingkuhan. Artinya, tetap saja masih sangat banyak pria clean dari perselingkuhan. (misalnya, bro NH 18, Ariefdj, Sawali Tuhusetya, Yari NK, Nirwansyah Putra, Pakde, Pak Wali HZ, bos Melayu online (Mahyuddin Al Mudra), dan Mikekono-red)…..hehehe.

Penyebabnya bukan karena mereka tak mau selingkuh. Tapi, lebih sering disebabkan beberapa hal. Pertama, tak ingin rumahtangganya berantakan. Kedua, takut reputasinya sebagai politisi/ pejabat hancur. Ketiga, tak punya modal (uang yang cukup). Keempat, takut pada yang di Atas (Allah SWT).

Kalau saja selingkuh tak berdosa, mungkin semua pria akan punya selingkuhan di mana-mana, seperti halnya Mick ‘si bibir ndower’ Jagger, Charlie Sheen, Christiano Ronaldo, atau Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang rela mencampakkan istrinya demi si super sexy Carla Bruni.

Last but not least, judul postingan di atas suatu ketika juga bisa berubah menjadi : semua wanita berbakat selingkuh ? Pasalnya, kalau pria hendak selingkuh, bukankah yang diselingkuhi para wanita juga. Mungkin yang membedakan, cuma motifnya saja.

Kalau pria biasanya tergoda selingkuh karena banyak uang dan karier mapan. Sebaliknya, banyak wanita ‘bernafas dalam lumpur’ alias terjerumus ke arena perselingkuhan karena terpaksa. Terpaksa, karena ketiadaan uang atau balas dendam, sebab suami/ pacarnya berkhianat, loyo, penghasilannya minim atau berstatus pengangguran…..!

Pejabat Kita Terjebak Rutinitas


pejabatPara pejabat kita  di pusat maupun daerah, memiliki kecenderungan yang sama. Mereka sudah terkungkung oleh jebakan rutinitas. Acara-acara yang dijalani mengacu pada aturan protokoler dan karenanya cenderung monoton.

Akibat sudah terpola pada rutinitas itu, para pejabat utamanya top figure, sering tak lagi kreatif. Mereka akhirnya lebih banyak bersifat pasif dan menunggu laporan anak buahnya, yang cilakanya lebih banyak bersifat Asal Bapak Senang (ABS) .

Sesekali coba perhatikan agenda kerja para pejabat di daerah Anda masing-masing. Kegiatannya lebih banyak diisi dengan aneka kegiatan seremonial dan rapat-rapat yang terkadang tak jelas outputnya.

Gubernur Sumatera H Syamsul Arifin misalnya, diberitakan media di Medan, dalam satu hari tak jarang menerima kunjungan audiensi 5 hingga 7 lembaga sosial kemasyarakatan dan politik. Yang lebih sering dibahas dalam kunjungan itu cuma sekadar meminta kehadiran  Gubernur membuka acara yang bakal digelar organisasi itu.

Kalau hanya ingin meminta kehadiran Gubernur, mestinya cukup memberikan undangan ke bahagian Sekretariat Kantor Gubernur, atau jika ngebet kali ingin bertamu ke kantor Gubernur, cukup diterima Wagub atau Sekda saja. Tak perlulah Gubernur sendiri menerima semua organisasi yang hendak bertamu.

Karena terpola pada rutinitas itu, alhasil tatkala terjadi bencana di negeri ini, acapkali para pejabat kita tak siap melakukan antisipasi serta mencari alternatif solusi mujarab dalam menghadapinya.

Sebagai contoh, Jakarta, Medan, dan beberapa daerah di Kalimantan, NAD, Sumbar, Sulawesi, dan lainnya, hampir setiap musim hujan tiba, selalu dilanda banjir. Namun hingga kini, belum juga terlihat kiat jitu para pejabat terkait untuk mengatasi banjir di daerah itu.

Alhasil setiap kali banjir datang melanda, upaya-upaya yang dilakukan untuk membantu para korban, selalu bersifat insidentil misalnya memberi bantuan sembako, dll. Sejauh ini belum terlihat solusi yang benar-benar ditujukan untuk mencegah atau meminimalisir kemungkinan datangnya lagi serangan banjir itu.

Padahal insitusi pemerintah seperti Pemprov, Pemkab/Pemko punya Dinas Pengairan, Tata Ruang dan Pemukiman, Jalan dan Jembatan, Kebersihan, Tata Kota, dan lainnya yang mestinya tanggap dan dapat melahirkan alternatif solusi mumpuni mengatasi banjir.

Para pejabat itu mestinya paham, bahwa banjir umumnya terjadi karena maraknya penggundulan hutan, sampah menumpuk, drainase tumpat, dan sejenisnya. Kalau sudah tahu akar masalahnya, kenapa frekuensi banjir yang melanda tak juga berkurang ?

Lagi-lagi mungkin saja hal itu disebabkan, karena para pejabat kita sudah terjebak pada kungkungan rutinitas. Mereka bekerja hanya mengacu pada agenda kerja monoton dan menghabiskan anggaran tersedia, tanpa disertai terobosan terobosan inovatif berorientasi pada penyelesaian masalah yang dialami rakyat.

Pemimpin Gagal Harus Dihukum !


sby-megaDosen UI Boni Hargens dan Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) yang dipimpinnya berencana melaporkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke polisi pada 20 Januari 2009 karena dinilai gagal mewujudkan sebagian janji politiknya.

Janji yang gagal dipenuhi itu, kata Boni, antara lain mengurangi tingkat kemiskinan hingga 8,2 persen tahun 2009. Sebab, tingkat kemiskinan sekarang masih sekitar 14 persen atau 40 juta penduduk. Angka pengangguran, yang dijanjikan berkurang hingga 5,1 persen dari angkatan kerja, saat ini masih sekitar 8 persen.(Kps, 15/1)

Apa yang dikemukakan Boni Hargens di atas, tentu tidak mengada-ada. Sebab semua argumentasinya didukung oleh data dan fakta akurat. Yang hendak ditekankan di sini adalah kenyataan, betapa SBY sebagai pemimpin telah terbukti gagal merealisir janji-janji kampanyenya dulu.

Kalau sudah terbukti gagal, sudah sepatutnya rakyat Indonesia mencari pemimpin baru yang diyakini bakal dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan mencerahkan.

Rakyat Indonesia harus mulai menumbuhkan tradisi menghukum secara legal, para pemimpinnya melalui Pemilu legislatif dan Pilpres 2009. Pemimpin yang telah terbukti gagal harus dihukum !

Dalam konteks ini, rakyat Amerika Serikat pada Pilpres beberapa bulan lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi segenap masyarakat dunia, soal bagaimana mereka memberikan hukuman kepada pemimpinnya yang diangap gagal.

Presiden George W Bush Jr sudah dianggap gagal total dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala negara, yang berimbas pada ambrolnya perekonomian AS. Konsekuensinya rakyat AS ogah memberikan dukungan kepada capres yang didukung Bush, John McCain.

Dalam konteks Indonesia, budaya menghukum pemimpin yang gagal, sudah sepatutnya mulai dan sejak kini ditumbuhkembangkan. Tak selayaknya lagi, rakyat dengan mudah melupakan janji-janji politik para pemimpin serta terpesona dengan tutur bahasa dan tampilannya doang.

Momentum Pemilu legislatif dan Pilpres 2009, hendaknya dapat dijadikan rakyat sebagai arena penghakiman terhadap para pemimpin yang banyak menebar janji-janji muluk pada Pemilu 2004 lalu, tetapi janji-janjinya itu urung ditepati.

Indonesia ke depan butuh sosok pemimpin yang strong, berwibawa, tegas, dan senantiasa memikirkan nasib rakyatnya selama 24 jam. Tak cuma berpikir saja, tetapi disertai dengan kebijakan-kebijakan nyata yang dapat mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Untuk itu Indonesia memerlukan sosok pemimpin baru yang fresh, yang diyakini akan mampu membawa negeri ini ke jalan yang benar, menjadikan negeri ini lebih bermartabat dan disegani di seantero jagad.

Pemimpin baru Indonesia itu, hanya dimungkinkan bakal muncul memimpin negeri ini, apabila rakyat mau dan mampu memberi hukuman kepada pemimpin yang saat ini telah terbukti gagal !

BBM Turun, SBY Naik ?


sby-bushMenjelang akhir-akhir masa jabatannya, Pemerintahan SBY-JK tak berhenti melakukan gebrakan yang terkesan memihak rakyat. Yakni kembali menurunkan harga BBM gopek (Rp 500).

Sebelumnya Pemerintah juga telah menurunkan harga BBM dengan kadar yang sama. Alhasil BBM jenis premium yang dulu Rp5.500, kini turun menjadi Rp 4.500 per liter.

Dalam pengumumannya kemarin, Pemerintah tak cuma menurunkan harga BBM saja, melainkan juga menurunkan tarif angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Tarif Dasar Listrik (TDL).

Yang menarik dari peristiwa ini,  seperti terlihat di televisi, Presiden SBY langsung mengumumkan sendiri penurunan harga-harga itu. Padahal, jika ditilik dari jobnya, pengumuman itu sejatinya cukup dilakukan Menko Perekonomian, Menkeu, atau Mentamben.

Tetapi dalam perspektif politik jelang Pilpres, SBY kelihatannya merasa perlu untuk tampil dan berbicara langsung kepada rakyat, perihal komitmen dan concern pemerintahannya yang paham pada aspirasi dan kepentingan rakyat.

Dalam konteks demikian, tidak berlebihan jika dikatakan : BBM Turun, SBY Naik…..! Dengan kata lain kebijakan menurunkan harga BBM ini, suka atau tidak, pasti akan berdampak positif bagi image building SBY.

Dengan kebijakan menurunkan BBM, tarif angkutan dan TDL, SBY telah meretas jalan yang legal dan mulus, menuju periode kedua sebagai Presiden RI.  BBM Turun, SBY Naik (lagi ) ?

Bagi rakyat di pedesaan dan perkotaan yang tak peduli siapa pun yang memimpin negeri ini, setiap penurunan harga apapun, dipastikan akan selalu disambut dengan sukacita. Implikasinya mereka akan dengan senang hati menjatuhkan pilihan kepada SBY lagi.

Beda halnya dengan kalangan masyarakat yang terbiasa kritis dan obyektif. Bagi mereka, penurunan harga BBM menjelang akhir masa jabatan SBY-JK  itu, hanya akan dianggap sebagai sebuah kebijakan sarat muatan politis.

Dan memang jika kita berkata jujur, sesungguhnya selama menjabat sebagai Presiden RI empat tahun lebih, SBY belum banyak berbuat nyata bagi kemajuan bangsa dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Ketika saya mudik ke kampung, jalan-jalan yang 10 tahun lalu saya tinggalkan, tetap begitu-begitu juga, masih berlobang-lobang. Petani miskin di kampung saya juga tetap miskin sejak zaman Soeharto hingga sekarang.

Lalu, apanya yang telah berubah di negeri ini ? Perubahannya cuma sebatas alamiah. Ruko dan pusat perbelanjaan mewah makin menjamur, perbukitan yang dulu padat ditumbuhi pepohonan kini telah gundul, anak-anak dulu jajannya cukup seribu, kini sepuluh ribu pun kurang, dulu cuma mengetik manual kini sudah memakai laptop.

Lalu, adakah kontribusi Pemerintahan SBY terhadap perubahan alamiah itu ? Wallahu a’lam. Pastinya, dengan atau tanpa campur tangan presiden pun, perubahan alamiah tersebut tetap akan terjadi.

Kendati demikian, turunnya harga-harga yang sarat dengan muatan politis, tetap patut diapresiasi dan disambut dengan rasa syukur.

Namun jika ditanya, apakah SBY sudah berhasil membawa perubahan dan peningkatan kesejahteraan rakyat selama menjabat Presiden RI, jujur kita harus mengatakan, SBY belum cukup berhasil !

foto diambil dari sono

Sesama Caleg pun ‘Asah Parang’


berantemPemilu April 2009 sudah di ambang pintu. Tak heran, sesama calon anggota legislatif (caleg) pun kini terpaksa ‘mengasah parang’. Apa pasal ? Penyebabnya tiada lain, perkelahian antar caleg kini semakin meluas dan memanas.

Imbas penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak, menyebabkan wilayah pertempuran di antara caleg tak lagi sebatas perang antar partai, melainkan sudah memasuki teritorial sendiri.

Perang saudara di internal parpol tak bisa dielakkan, karena suara terbanyak mengharuskan sesama saudara itu berjuang menyelamatkan diri masing-masing.

Demi menyelamatkan diri masing-masing pula, mau tau mau, suka atau tidak suka, para caleg itu sejak dini mesti ‘mengasah parang’ agar bisa bersaing dan tidak mudah dipecundangi lawan.

Lalu bagaimanakah cara caleg itu ‘mengasah parang’ masing-masing ? Caranya tiada lain dengan menempuh berbagai intrik menghalalkan segala cara (Machiavellism) untuk memikat dan meraih simpati calon pemilih di daerah pemilihannya masing-masing.

Perang spanduk dilancarkan, kaum kerabat pun dikerahkan. Iklan di media massa cetak, elektronik (tv/radio), dunia maya pun terus diluncurkan. Bahkan black campaign pun dihalalkan.

Cilokonya, ‘asah parang’ tersebut akhirnya menjurus pada retaknya silaturrahmi dan kekeluargaan antar caleg yang sebelumnya berasal dari keluarga dan habitat (partai) yang sama.

Mereka yang dulunya sohib kental dan selalu giat membesarkan partai, kini saling menjatuhkan. Mereka mati-matian ‘berkelahi’ dan mengasah parang masing-masing agar lebih tajam dan mengkilat, demi meraih tujuan akhir : menjadi anggota legislatif.

Padahal menjadi wakil rakyat sejatinya merupakan warga kelas dua, sebab posisinya cuma sebagai wakil-nya rakyat. Demi posisi warga kelas dua itulah, mereka rela ‘mengasah parang’. Alaaamak

foto diambil dari sini

Cinta Sejatiku, Telah Kembali !


loveCinta sejatiku, telah kembali ! Dulu aku menyia-nyiakannya. Dulu aku tak sadar betapa dia sangat mencintaiku. Aku tak bisa membedakan mana loyang dan mana emas.

Ternyata setelah menjalani hari-hari bersamanya, ku baru memahami betapa dialah sesungguhnya yang benar-benar mencintaiku ; yang lain cuma sekadar lewat dan tak pernah benar-benar mencintai dengan tulus.

Walau telat, aku bersyukur, akhirnya bisa terbangun dari tidur yang panjang. Tidur dalam buaian bantal keangkuhan dan selimut kealpaan…..!

Kini…..aku baru menyadari, ternyata yang selalu siap mencintaiku apa adanya, yang selalu memaafkan kekhilafanku cuma dia seorang. Yang selalu memberi hatinya padaku, juga hanya dia.

Dia tak pernah lelah mencintai dan menyayangiku. Dia selalu ada saat ku membutuhkan belaian kasih sayang. Dia selalu hadir, saat ku berada dalam kesusahan.

Cinta sejati tak pernah mati. Cinta sejati tak pernah lekang di hati. Cinta sejati akan abadi, walaupun tak kuasa memiliki. Cinta sejati membuatku tersadar pada hakikat diri.

Cinta sejatiku, kini telah kembali, membuat hidupku lebih berarti. Thanks my darling…..I Love u forever. (postingan didedikasikan buat someone special)

Dicari, Presiden Pengganti SBY !


amienSusilo Bambang Yudohoyono (SBY), harus diakui merupakan sosok pribadi yang baik dan santun. Dia juga suami, ayah dan kakek yang lumayan perfect bagi keluarganya.

Tetapi sebagai seorang Presiden Republik Indonesia, banyak kalangan menilai, SBY tidak cukup berhasil dalam membawa Indonesia menuju perubahan ke arah lebih baik.

Saya tidak mau terlalu berpedoman pada data statistik yang diklaim pemerintah soal pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Tetapi dari kasat mata, terlihat pengangguran dan kemiskinan ada di mana-mana. Infrastruktur jalan di daerah banyak hubar-habir. PHK juga meningkat tajam belakangan ini.

Dengan kata lain, saat SBY menjabat Presiden RI, belum terlihat peningkatan signifikan perihal kesejahteraan rakyat Indonesia. Negeri ini juga tak kunjung disegani dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. SBY juga tak memiliki kharisma seperti halnya Bung Karno, Mahathir Mohammad, Ahmadinejad, atau Moammar Qaddafi.

Prestasi SBY dengan para pendahulunya (Habibie, Gus Dur dan Megawati) hampir sama saja, alias minus gebrakan dan nihil prestasi spektakuler. Memang pemberantasan korupsi lewat KPK selalu dibangga-banggakan, tetapi masih sangat banyak koruptor hingga kini tetap bebas lenggang kangkung.

Karena prestasi SBY tak terlalu mengesankan, tentu wajar jika bangsa Indonesia kini mulai meretas jalan untuk mencari Presiden baru pengganti SBY. Hal ini bukan didasari perasaan benci atau sentimen pada SBY, melainkan demi kemaslahatan bangsa di masa mendatang.

Tradisi mengganti pemimpin yang dianggap gagal, sudah sepatutnya dibudayakan di negeri kita. Kalau sudah terbukti tak mampu membawa perubahan radikal (ke arah yang lebih baik), buat apa dipertahankan.

Lalu, ke mana dan di manakah presiden pengganti SBY itu hendak dicari ? Inilah yang benar-benar sulit merealisirnya. Pasalnya, yang paling berpeluang mencari pengganti SBY itu adalah elite parpol, sebab merekalah secara konstitusional (berdasarkan UU Pilpres) yang berhak mengusung calon presiden.

Cilakanya, elite parpol kita kerap lebih mendahulukan pertimbangan kepentingan kelompok ketimbang kepentingan rakyat, dalam memutuskan kandidat capres yang bakal mereka usung.

Ketika muncul keinginan mencari pengganti SBY, tentu yang mesti diperjuangkan tak semata-mata terpola pada prinsip ABS (Asal Bukan SBY). Tetapi harus benar-benar dicari figur pemimpin kredibel, berwibawa, dan diasumsikan bakal bisa lebih baik dari SBY.

Nama-nama semisal Jimly Asshiddiqie, Amien Rais, Sultan HB X, Prabowo Subianto, Fadel Muhammad, M Fajroel Falaakh, Akbar Tandjung, Wiranto, Yusril Ihza Mahendra, Hidayat Nurwahid, Soetrisno Bachir, Adhyaksa Dault, Anas Urbaningrum, Anies Baswedan, mungkin patut dipertimbangkan menjadi pengganti SBY, walaupun saya belum yakin sepenuhnya mereka bakal bisa lebih baik dari SBY.

foto diambil dari sini

Belang Obama pun Terkuak


Menyandang Hussein di tengah namanya, banyak orang memendam harapan tinggi, Barack Hussein Obama, sang Presiden USA terpilih yang akan menghuni White House 20 Januari itu, akan memberi keuntungan (politis) bagi dunia Islam.
obama-israeli-flag

Obama berada di antara bendera AS & Israel

Atau setidaknya dia akan lebih moderat dan getol membela penegakan HAM serta mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah, ketimbang pendahulunya si pemberang George Bush, yang baru saja ditimpuk sepatu oleh Al-Zaidi.

Tetapi apa hendak dikata, harapan berhenti sebatas harapan. Belang Obama terlalu cepat terkuak. Seperti pernah saya tulis di blog ini beberapa bulan lalu, kita (Indonesia dan dunia Islam) memang tak selayaknya terlalu berharap pada seorang Obama.(Lihat postingan berjudul : Jangan Terlalu Berharap pada Obama, 25 Okt 2008)

Belum lagi secara resmi menjabat sebagai Presiden negeri Paman Sam itu, belang Obama sudah terkuak. Ketika terjadi teror bom di Mumbai India yang menewaskan warga Barat beberapa bulan lalu, Obama langsung bereaksi keras mengecam aksi itu.

Tapi saat Israel meluluhlantakkan Jalur Gaza Palestina dan menewaskan ratusan nyawa manusia tak bersalah, Obama diam seribu bahasa. Bahkan dia masih bisa santai dan asyik main basket. Alaaamak….!

Untuk membedakannya dengan George Bush, banyak kalangan berharap Obama memperlihatkan sikap penyesalannya terhadap aksi membabibuta Israel tersebut. Sayang, hingga kini Obama tak jua memperlihatkan keprihatinannya terhadap situasi mutakhir di Timur Tengah itu.

Lalu, bagaimanakah kita memandang sikap double standard Obama itu ? Sejatinya, Obama tak bisa disalahkan sepenuhnya. Dia berada dalam posisi gamang. Mungkin saja dalam hati kecilnya, dia ingin menentang aksi kejam Israel itu.

Tetapi di sisi lain, dia kini menyandang status sebagai Presiden AS. Negeri yang selalu menjadi sekutu utama Israel. Sikap Obama yang tak mungkin keras terhadap Israel juga telah diperlihatkannya saat menunjuk Hillary Clinton sebagai Menlu, yang notabene dikenal sebagai sosok yang selalu konsisten membela kepentingan Israel dalam konflik Timur Tengah.

Obama sebagai seorang manusia biasa mungkin saja akan menentang aksi kekerasan dalam menyelesaikan konflik. Tapi, Obama sebagai orang nomor satu di Gedung Putih, sudah pasti akan berpegang pada kebijakan baku politik luar negeri AS, yang selamanya akan berpihak pada Israel.

So…., yang keliru adalah mereka yang selama ini terlalu memendam ekspektasi berlebih kepada seorang Obama. Akhirnya belum lagi dilantik, belang Obama sudah terkuak. Obama telah memberi kekecewaan bagi para pengagumnya selama ini, terutama dari kalangan masyarakat muslim Indonesia dan dunia. Obama….., teganya dikau !