Politik Bencana, Bencana Politik


Seiring dengan semakin dekatnya Pemilu 2009, para calon anggota legislatif pun makin giat sosialisasi. Karenanya segala sesuatu yang terjadi di tengah masyarakat, selalu menjadi perhatian mereka.

Sebagai contoh, kebakaran hebat yang meluluhlantakkan puluhan rumah di Jalan Mangkubumi Medan pekan lalu, tak luput dari perhatian para caleg dan elite parpol. Mereka seolah terlibat dalam kompetisi memberi bantuan.

sembakoYang menggelikan, prosesi pemberian bantuan tidak atau belum akan segera dimulai sebelum wartawan media cetak dan elektronik tiba di TKP. Mereka berharap, besoknya suasana pemberian sembako dan sumbangan alakadarnya itu tercover dengan manis di media.

Padahal dalam ajaran agama selalu diingatkan, jika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu. Tetapi begitulah politik. Bencana pun dipolitisir dan dijadikan sebagai sarana image building untuk memoles wajah mereka yang sebenarnya bopeng, agar terlihat lebih mulus di mata publik.

Politisasi terhadap bencana sebenarnya boleh dan sah-sah saja, asal tidak disertai dengan adanya kampanye serta upaya memaksa korban bencana agar berkenan mengikuti kemauan sang pemberi sumbangan.

Namun, perhatian para caleg terhadap berbagai jenis bencana yang melanda negeri ini, yang kerap ditampilkan saat menjelang penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada saja, selanjutnya akan menimbulkan bencana politik.

Sebab, patut diingat, rakyat pun sejatinya sudah semakin pintar dan kritis dalam menilai polah para politisi. Rakyat korban bencana, niscaya tidak akan dengan serta merta bisa ‘dibeli’ oleh para politisi opurtunis tersebut.

Bahkan sikap para politisi yang peduli pada mereka, hanya menjelang Pemilu dan Pilkada itu, akan berujung pada lahirnya kesadaran baru masyarakat, bahwa mayoritas para politisi tidak pernah benar-benar tulus mengabdi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Alhasil gairah para caleg dan kader parpol membuka posko atau menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran, gempa, dan bencana lainnya, yang awalnya dimaksudkan sebagai bahagian dari strategi politik menyikapi bencana, justru bermuara pada timbulnya bencana politik.

Disebut sebagai bencana politik, karena masyarakat pada akhirnya bukan semakin simpatik kepada politisi atau parpol yang memberikan bantuan, melainkan mencibir sikap mereka, yang telah menjadikan penderitan mereka sebagai komoditas politik demi perbaikan citra dan mendongkrak perolehan suara dalam Pemilu.

Karenanya kepada para caleg dan elite parpol diimbau, jika ingin memberi bantuan, baen ke mo i si…… monggo… dipersilahkan. Tapi jangan sampai publisitasnya justru lebih besar dibanding nilai sumbangannya. Itu namanya ada udang di balik rempeyek……!

*foto dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 29 November 2008, in Kehidupan, Politik, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 48 Komentar.

  1. Wah…wah…ga’ enak nih jadi yang pertamax komen..

    @mikekono : iya tuh….harga pertamax udah turun

  2. yang kedua juga….
    Ngga enak juga Nih bang…

    @mikekono : betul juga, (istri) kedua memang nggak enak
    hehehehe😛

  3. rakyatnya memang makin kritis dan pintar cuman politisinya yang makin bego. ada yang tiap pemilu selalu bikin partai tapi gak lulus sma. ijazahnya palsu..heee

    @mikekono : karena politisi bego, walau sll bikin partai,
    tapi partainya tetap gurem dan dia pun tak pernah kepilih…..hehehe😀

  4. Oke nyang ketiga ini tuyi komen nih…
    Kalo pilih orang yang jujur tanda-tandanya apa bang…?
    Diliat kakinya, hidungnya, jidatnya, apa yang lainnya….
    Wah..wah…bang Mike udah mlotot….
    Kaburrrrrrrrr……………..!:mrgreen:

    @mikekono : ini yang keempat…….! Kl wong jujur itu ya sprti mas tuyi,
    berani bicara jujur walau terus kabur…..heheheh:mrgreen:

  5. mau banget aku kl dapet uang dibalik rempeyek😀

    @mikekono : memangnya ada uang di balik itu ya ?

  6. eh kurang huduf D jadinya uang

    @ mikekono : maksudnya udang toh……

  7. endingnya bikin laperr…
    udang dibalik rempeyek. Mau tuh…😆

    @mikekono : klo mau nanti tak traktir ya, hehehe😆

  8. Kecuali bencana itu senengnya milih yang gak ngeh politik ya bang😉
    Lebih enak rempeyak make kacang bang, soalnya aku alergi udang :D….

    Sehati bang, kita yang menyaksikan dari luar yang merinding menyaksikan sikap super perhatian lebayyy para poli-tikuss ituu di saat2 seperti sekarang ini… Ketauan banget ada mau-nya…..

    @mikekono : oooh… alergi udang rupanya ya ?
    namanya juga poli-tikuss, cuma baik2 pas ada maunya aja😉

  9. kirain cuma seleb aja yg segala kegiatannya diliput media ternyata politisi juga latah yaa…
    sama aja boong ,bantuan yg diberikan ngga ikhlas
    dibenci Allah SWT sekaligus dibenci masyarakat yg dijadikan objek cari muka V(^_^)

    @mikekono : bantuan tak ikhlas….tak dapet pahala. thanks ukhti (^_^)

  10. mereka memberi sedikit dulu ma rakyat, setelah menjabat mereka mengambil banyak dari rakyat, sungguh licik ya sensei….

    @mikekono : ya….licik dan penuh kepalsuan. Mending berteman dgn Ayu sensei aja yg jujur dan tulus🙂

  11. duh
    gimana masih rakyat indonesia???

    @mikekono : ………???

  12. Benar Bang, alah bisa karena biasa, bisanya mereka, iya begitu begitu saja. Mereka adalah penguasa yang tidak kuasa terhadap kebiasaannya. Harapan kita, semoga mereka berkuasa atas dirinya. hehehe…

    @mikekono : ya semoga mereka bisa dan terbiasa berbuat kebaikan dgn tulus. Thanks

  13. http://padiemas.wordpress.com/

    kalo udang dibalik rempeyek, bisa jadi rempeyeknya bukan rempeyek udang. mungkin rempeyek kacang ato ikan teri ya?. asik dah yang pertama makan aj dulu rempeyeknya baru udangnya(halah)

    @mikekono : wahhh….seru juga soal udang dan rempeyek itu ya…..hehehe

  14. heheh mo ngasih bantuan aza
    mesti nunggu wartawan
    nggak ikhlas bgt ya
    dasar elite politik

    @mikekono : iya nih…..betul2 tak ikhlas. Payahhh😉

  15. Karena rakyat sudah tahu mana yang tulus dan mana yang bulus, mending pakai cara yang tulus aja Bang. Kasih bantuan nggak usah nunggu menjelang pilkada, nggak usah nunggu bencana, dan nggak usah nunggu diliput wartawan.

    Tapi sebenarnya, para politisi yang mem’beli’ simpati dan suara itu masih mending lho Bang, dibanding pejabat yang menilep bantuan bencana. Sudah jadi berita biasa, bantuan untuk korban bencana disunat oleh para pejabat yang bertugas menyalurkannya kepada rakyat.

    Lalu bantuan yang dikumpulkan dari para dermawan oleh berbagai LSM/institusi, adakah laporan dan pertanggungjawabannya? Bantuan untuk tsunami Aceh yang mencapai trilyunan itu, mana laporannya? Lebih jauh lagi, laporannya bener nggak?

    @mikekono : iya….rakyat pun sdh tak bisa dikadali. so, benar kata Mbak Tuti, mending pake cara yang tulus, seperti Mbak Tuti yg sll tulus memberi komen di blog ini 😆
    Soal pejabat penilep bantuan bencana, selain kebangetan, juga pantes dimasukkan ke dalam goni yang didalamnya dipenuhi semut dan kalajengking. biar tau rasa dia. hehehee🙂
    betul, laporan bantuan tsunami itu mana ya ? lho kok Mbak bertanya sama saya…..
    saya kan tak tahu menahu soal laporan itu……qiqiqiqiiiiii😀

  16. kayaknya gitu pak setiap caleg, memanfaatkan setiap moment… kalo ngak diliat yah percuma dong uang keluar…😀
    kalo saya sih sebenarnya ada baiknya memilih seorang caleg dari sikap sebelum dia menjadi caleg…
    suka memberi dan bakti sosialnya bukan saat jadi caleg, tapi sebelum mencalegkan diri.

    @mikekono : betul mas aRul, historical back groundnya perlu ditelusuri dan dicermati sebelum dia menjadi caleg. Sebab seseorang tak bs mendadak sontak menjadi org baik dan dermawan😀

  17. Saya rasa sekarang Masyarkat Indonesia sudah mulai bisa membedakan mana pemberian tulus dan mana yang Pamrih…
    tetapi menurut saya lebih baik Pemberian “berkait” itu daripada tidak sama sekali…. toh bagi yang sangat membutuhkannya… tak ada bedanya dari mana asalnya, yang utama kebutuhan mereka tertutupi….

    @mikekono : benar Lae, betapapun memberi lbh baik daripada mereka yg cuma menonton saja penderitaan korban bencana itu

  18. Sebenarnya, mempolitisasi bencana demi kepentingan politik golongan tertentu saja itu sudah merupakan suatu bencana. ‘Kemunafikan’ para caleg yang memperhatikan segala bencana sebelum menjadi anggota legislatif untuk kemudian melupakannya pada saat sudah terpilih, juga merupakan sebuah bencana.

    Apa iya sih bang, segala sesuatu yang berbau politis di negeri ini merupakan suatu bencana?😦

    @mikekono : itulah yg sy maksudkan bencana politik, sebab para caleg tak memberi pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Politisi justru mengajarkan sikap politik (kemunafikan) kpd rakyat.
    Eniwei, tak semua hal berbau politis bs disebut bencana😦

  19. apa mau dikata bang ?.. tapi sebenarnya ‘amalan’ yang berbau riya itu emang percuma ajah.. moga2 kelak mereka akan sadar deh.. Media juga sebenarnya ikut2an ‘mengkondisikan’ hal2 seperti itu, bahkan masyarakat juga sedikit2 banyak ikut2an pisan.. Kesannya, jika si anu atau partai anu gak pernah KEDENGERAN atau TAMPAK bantu2 saat2 ada bencana, maka akan dinilai negatif, yang kurang peka lah, yang gak peduli lah, dst.. Hehe.. Sepertinya, masalah politik adalah masalah pembentukan citra, bukan masalah ketulusan hati.. What’s we can say, bang ?

    @mikekono : exactly mas ariefdj…..baik buruknya politisi kita lbh ditentukan image building di media.
    So, diperlukan hub baik dengan media. Politisi yg baik, bs kelihatan bermasalah, jika tak ramah pd media😦

  20. yessy rasa masyarakat lebih pintar dari yang kita kira..

    mungkin karena mereka membutuhkan bantuannya..mereka kan terima dengan senang hati apa saja yang di berikan itu

    tapi kalo soal di suruh memilih..

    tunggu dulu

    kebanyakan malah ogah untuk memberikan suaranya kepada pimpinan atau parpol seperti itu🙂

    katanya..

    semakin banyak golput dalam pemilu yang akan datang lo bang

    heheheh

    @mikekono :wahhhh….semakin cerdas aja Mbak Yessy ngomong soal politik ya (mungkin karena sering bc postingan Mikekono ya)….hehehe😀
    Bener, yess…kemungkinan besar angka golput akan semakin meningkat pd Pemilu mendatang.

  21. jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. ah, itu nggak berlaku bang. yg ada, jika tangan kanan memberi, kalo bisa tangan kiri, kedua kaki, dan tangan kaki orang lain tahu. buat mereka, itu baru paten !
    kalo dipikir2, sebenarnya malah mereka itu lebih bodoh dari rakyat yang menurut dia bisa dibodohi. lha gimana enggak. mendekati waktu pemilihan. sumbangan dan amplopan semakin sering beredar. rakyat yg sudah apatis ya dengan senang hati menerima rejeki cuma2. seperti kata yessy….untuk memilih ? nanti dulu. bisa jadi malah golput, hehe…
    hayo, kalo gitu siapa yang bodo ?
    gitu kan bang mike ?😀

    @mikekono : hehehe bener juga ya……biar aja mereka mengumbar amplop. Amplop diambil, milih nanti dulu……cocok itu😀

  22. Bila tangan kanan memberi, usahakan jangan sampai tangan kiri melihat…. *prinsip itu*

    salam hangat mike

    @mikekono : betul….prinsip itu yng kini ditinggalkan. Salam hangat juga, thanks

  23. Selama pemimpin masih mencari kedudukan dan berusaha untuk dipilih menjadi pemimpin,
    niscaya keberpihakan akan selalu ada dan menjadi hutang bagi para pemimpin terpilih…..

    @mikekono : ya….semoga keberpihakan itu kpd rakyat dan jalan yg benar. amien

  24. Titip Rindu Buat pemimpin yang Adil…

    @mikekono : tp pemimpin adilnya belum lahir tuh….

  25. Hmmm….

    @mikekono : he eh…….

  26. gimana nih? dua-duanya saya suka. Rempeyek suka, udang apa lagi.

    @mikekono : wahhhh…..berarti Pakde suka lebih dari satu …..ya ? hehehe😀

  27. udang di balik rempeyekkk???
    mauuuuu…

    btw i’m back for blogging tur.. 😀

    @mikekono : mau ya…..hmmmm…..welcome back tur😀

  28. Kata teman-teman yang nongkrong di POLTAKS ( Samping Kantor Harian Sinar Indonesia Baru), : BIKIN BIKINMU –KU BIKIN PULA BIKINKU… (Singeteh ngenca ngangkasa) alias hanya yang mengerti yang dapat memahaminya……
    —itulah dunia politikking..

    @mikekono : hehehe…..payo silih. ya begitulah politik
    si ban jang na saja….., entek la kula……..hehehe😀

  29. Halaah memalukan….apalagi kalau kesehariannya gak pernah nongol dan bersama sama dengan masyarakat…eh…giliran punya kepentingan, mereka ada disitu dengan kepentingan agar di publikasi. Hi…para caleg….masyarakat saat ini sudah pandai…biar saja mereka yang akan menilai…..siapa sipa caleg yang berkualitas…dan bisa mewakili kepentingan masyarakat…

    @mikekono : betul Bunda, ketika menjadi caleg…mereka mendadak sontak menjadi dermawan. Sebelumnya mereka tak peduli pd masyarkat sekitarnya.
    Ya….rakyat sudah pandai menilai dan tak akan terkecoh oleh sandiwara para caleg itu😀

  30. gk heran…😡
    dan salam salut buat masy yang sudah sangat pintar menilai mana yang tulus mana yg gk🙂

    @mikekono : bener, rakyat sdh bs membedakan, mana yg tulus, mana yg pura2😉

  31. …dan selebriti sekarang ikut-ikutan juga tuh terjun ke politik…
    ah, saya mah sudah pasti golput deh taon ini….

    @mikekono : hmmmm…..kelihatannya jumlah golput cenderung meningkat pd Pemilu mendatang😉

  32. Rasanya penyakit seperti ini belum akan berhenti pada 2009, bahkan 2014. Preseden semacam itu justru merupakan moment jitu. Penghias bedak dan gincu.

    Rasanya pemirsa TV atau pembaca koran bukannya jatuh kagum, tapi malah tertawa geli melihat penyakit semacam itu.

    @mikekono : betul Mas DM, pada akhirnya mereka sebatas gincu, membuat rakyat tak terpicu. Mereka tak sadar jadi bahan tertawaan rakyat yg semakin mampu membedakan mana asli dan siapa palsu. Thanks bro😀

  33. Gpp mas, rakyat kita kan udah pinter
    pastinya udah tau udang dibalik peyeknya hehehe

    @mikekono : betul Bundarara, karena udah pinter…..
    akhirnya udang disikat, peyeknya pun diambil…..

  34. endingnya kok udang dibalik rempeyek … jadi ngiler😛

    geli kalau lihat ada orang nyumbang terus gembor2 mengumumkan kalau dia udah nyumbang ini dan itu , berarti ada pamrihnya dong

    @mikekono : suka udang juga ya ? kirain cuma suka sunset and sunrise aja….hehehe😀

  35. Halo om, eh bang…, klo saya mending kita dorong terus nih KPK (mobilnya mogok ya?) biar diobrak-abrik tuu DPR Kupret uda makan duit rakyat, korupsi, main cewe, narkoba, petantang-petenteng, sok galak sama pemerintah, taunya duit to,

    eh om usul nee, gimana klo posting kejelekan caleg-caleg itu.. yahh yang uda masuk media aja… nama partainya digedein fontnya klo perlu pk warna merah biar sa’donyo tau

    AAARGH, pengen tak lempar peyek aja orang2 itu!

    @mikekono : saya mendukung….klo mas Yande mau ngeposting soal kejelekan caleg2 itu….ditunggu ya…

  36. Iya ya, kok kayanya ketulusan itu sudah jadi barang yang sangat mahal dan langka di negri ini..

    @mikekono : exactly…..tulus langka di negeri ini

  37. Yup bener banget mas, bukan hanya para caleg saja yg berbuat seperti ini, terkadang tanpa sdar kita juga melakukannya walaupun tidak samapi di liput…
    butuh rasa ikhlas dan tanpa pamrih untuk berbuat amal seperti ini

    @mikekono : amal saleh kudu ikhlas…..kl tak ikhlas, statusnya cm sumbangan biasa. Thanks Mas Koko

  38. semuanya seremonial. benci saya…
    gelar? harus disebutkan dengan benar
    riwayat hidup? jangan sampai salah
    keluarga? expose bhw keluarganya utuh dan bahagia (padahal…)
    keuangan? Gembar-gembor bahwa usahanya halal dan selalu memberikan sumbangan pada panti A, organisasi B….
    Kalau bisa semuanya itu jadi satu majalah khusus, satu program TV khusus…dan itu hanya demi kedudukan. HUH!
    EM

    @mikekono : wahhh…..sama donk Mbak. Saya juga tak suka pada orang2 hipokrit seperti itu. Arigatou…..ganbatte ne😀

  39. kita mesti menyikapi dengan lapang dada daripada tambah stress. Hidup sudah susah… ehmm apakah harus dibuat susah juga😦

    @mikekono : ya…..enjoy aja…..thanks bro

  40. Sebelum pemilu slogannya “SOSIALISASI”
    Sedang Kampanye “SOK SIALIS”
    setelah tidak terplih “Soooooo Sial”
    Hitung kancing dulu bang…kasih waktu bentar aja ya…aku nyalonkan nggak ya…nggak nyalonkan nyalonkan nggak…mmmmh nggak deh.

    @mikekono : heheheee……so sial toh. wahhh…sayang tak nyalon.
    padahal dari tongkrongannya, Pakde tuh…pantes jadi Presiden…..atau paling jatuh jadi Bupati……hmmmm😀

  41. ya..ya.. untuk sementara mereka harus ‘berkorban’ dulu untuk sebuah ‘kemenangan’. Setelah itu.. “everything in our power”.

    @mikekono : ya…..berbaik2 dulu….setelah punya power, sombong bin angkuh kemudian

  42. blm ada yang baru kah ?

    @mikekono : yang baru, kan blm tentu lbh baik dari yg lama. hmmm….

  43. untun9na daku nda suka udan9 ban9..

    tapi klu mreka memberi ya daku trima sajah,sual milih ituh urusan nanti ehheheh…

    @mikekono : jadi, wi3nd sukanya apa ?

  44. Yang kayak gitu mah caleg aspal

    @mikekono : justru yang aspal ini srng lolos jd wakil rakyat…..!

  45. Bang, mumpung ada yang bahas soal golput, gimana kalo sesekali abang bikin tulisan tentang fenomena tersebut dengan edukatif seperti biasanya ? Semacam analisis sosial lah, paling tidak, kan bisa dilihat tanggapan dan alasan2nya para blogger itu.. Kenapa Golput, kenapa gak golput.. Itung2 latian pendewasaan sikap berpolitik gitu bang.. Lagipula, sebagian besar kan kemungkinan sudah masuk daftar pemilih di ’09 nanti.. Sebaiknya sih mulai dari definisi, terus akar dan rumusan masalah, terus efek2 jika golput dan jika tidak, dst.. Kalo saia yg nulis, masih repot nih.. Enakan blogwalking.. hehe..

    @mikekono : wow…..jadi dapat PR yang agak berat juga nih ! Memang awalnya, ada keinginan menulis soal itu. Tapi kl secara mendalam, rasanya agak berat juga tuh. Lagi pula teman2 blogger itu pun pastinya sdh paham golput itu apa. Mungkin sy akan menulis golput dari perspektif berbeda.
    btw, thanks bro, di sela-sela hiatus karena repot ngurusin proyek miliaran, Mas Ariefdj masih sempet juga blogwalking ke sini. Inggih…..matur sanget nuwun. Arigatou….gracias amigos😆

  46. Semoga masyarakat Indonesia semakin pandai memilih dan memilah serta mengambil keputusan. Terima saja bantuan dari mereka tapi tetap pilih calon yang menyuarakan hati mereka.. 🙂 Thanks

    @mikekono : setuju Mbak….bantuan diterima, pilihan tetap sesuai hati nurani. Thanks🙂

  47. rakyat sudah semakin pintar sekarang😀
    bantuannya diambil, tapi soal milih, gak janji deh….

    @mikekono : persis buanget…..rakyat tak lg gampang dikadali…. 😀

  48. Mencari dukungan semata. Sepertinya yang beruntung para pemilik media TV yang kebanjiran order iklan politik

    @mikekono : exactly, media untung, politisinya buntung (jika tak terpilih)
    thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: