Kompetensi, Tak Ditentukan Jabatan


Peran dan keberadaan seseorang dalam sebuah institusi apa pun, tak ditentukan dan tidak selamanya tergantung pada jabatan. Idealnya jabatan yang disandang adalah jaminan kualitas seseorang dalam bidangnya. Tetapi faktanya tidak selalu demikian.      

Orang-orang seperti Nurcholish Madjid, Amien Rais, Goenawan Mohamad, Kwik Kian Gie, Emha Ainun Nadjib, WS Rendra, Gus Dur, Franz Magnis Suseno, Eros Djarot, Pramudya Ananta Toer, dll ; akan tetap dikenang dan dicari, dengan atau tanpa jabatan apa pun.

Sebaliknya orang seperti Yusuf Emir Faishal, Al-Amin Nasution, Max Moein, Bulyan Royan, dan beberapa pejabat dan mantan menteri, hanya sekadar numpang lewat saja karena kebetulan mereka memiliki jabatan yang dianggap terhormat.

Buktinya ketika periode kabinet Indonesia Bersatu SBY-JK akan segera berakhir, sampai sekarang saya belum hapal semua nama-nama menteri. Apakah saya yang tak mengikuti perkembangan politik, atau karena para menteri itu tak terlalu menonjol gebrakannya ?  

Jabatan apa pun yang melekat dalam diri seseorang, tidak akan membuatnya dominan dalam memberi pengaruh positif terhadap policy institusi dipimpinnya jika tidak memiliki kompetensi (capability and acceptability).

Jabatan hanyalah sebuah kesempatan dan dalam terminologi orang Timur sangat banyak dipengaruhi ‘suratan tangan’ dan dewi fortuna. Jabatan yang disandang, tidak akan dengan serta merta membuat seseorang kredibel dan akseptabel.

Sedangkan kompetensi mewujud karena terus diasah lewat proses pembelajaran (educated) serta kemauan untuk terus belajar dan membenahi diri secara terus-menerus (learning by doing).

Makanya tak mengherankan, jika banyak di antara bloger, yang tak punya jabatan formal apa-apa, tetapi sangat sophisticated, intelek, dan kualitas tulisannya tak kalah jauh dengan penulis-penulis ngetop di negeri ini.

Karenanya tak perlulah terlalu ngotot mengejar jabatan formal. Yang mesti dilakukan adalah terus berupaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas pribadi, dengan cara senantiasa menjaga keseimbangan kualitas berpikir/ berkarya dengan kualitas moral.

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 3 November 2008, in Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 31 Komentar.

  1. Kalau jaman SD dulu hafal lah nama2 mentri, kalau sekarang anak2 lebih hafal nama2 selebriti 🙂 … kalau semua orang berpandangan bahwa hidup adalah proses belajar tanpa henti, maka Insya Allah negeri kita akan lebih baik….dan orang2 tidak sibuk mengejar jabatan duniawi yg tak pernah ada cukupnya

    @mikekono : iya tuh….anak2 skrng lbh tau Luna Maya, Bunga Citra Lestari, Shereen Sungkar, Raffi Ahmad, Dimas Beck, dll.
    Mestinya kesadaran tntng pntingnya belajar dan memperbarui kualitas diri, prl terus disosialisasikan pemerintah kpd rakyatnya……thanks

  2. ihh benerrrrrrrrr…
    iya ya….kenapa yessy gak apal nama nama mentri ya bang??
    yessy yang gak merhatiin apa emang mereka juga gak bikin gebrakan gituh??
    jadi inget jaman dulu..jaman sd…hapal semua mentri..astaga..
    ck ck ck ck ck

    @mikekono : kl yessy sih lbh hapal nama NH18, Mikekono, Jeunglala, Tutinonka, dan bloger lainnya…..heheheee.
    Para menteri itu memang kurang kreatif……jd tak kelihatan gebrakannya

  3. kawaii ayu sangat suka baca postingan mikekono sensei karena berkualitas….teruslah berkarya mikekono sensei lewat tulisannya….Kawaii ayu selalu mendukungmu…
    Ganbatte ne!!!!!!!!!!!!!!!!

    @mikekono : jadi malu nih…….sekaligus agak tersanjung dan terharu.
    Thanks atas dukungan tulusnya.
    Arigatou sensei Ayu……Ganbatte ne

  4. ada yang bilang kalau jabatan itu amanah. tak perlu dikejar dan diburu, tapi juga tak perlu ditolak kalau ketiban sampur. sayangnya, sekarang ini demikian bejibun orang yang memburu jabatan, bahkan menghalalkan segala cara utk mendapatkannya. semoga jebakan semacam itu tak menjerat kita, mas agus, hehehe … kehancuran pelayanan publik di negeri ini, menurut pendapat awam saya tak lepas dari jual-beli jabatan semacam itu.

    @mikekono : betul mas, fenomena jual beli jabatan itu sprtinya terus meruyak di Pemprov, Pemkab, dan berbagai instansi pemerintah lainnya.
    Semoga tradisi negatif sprt itu bs sgr diantisipasi, dengan lbh menekankan reward and punishment yg objektif

  5. Aku setuju bang…, yang penting adalah kita bisa memberikan yang terbaik yang kita miliki… 🙂
    Karena kadang jabatan bisa membuat orang menjadi lupa diri, merasa paling berkuasa dan merasa diri paling hebat…

    @mikekono : jabatan tak perlu ditolak asal sesuai kompetensi yg kita miliki, tapi tak perlulah terlalu bernafsu untuk mendapatkannya……..!

  6. Kalau dia tidak punya kompetensi dan kapabilitas, perlu dipertanyakan tuh siapa yang berani-beraninya ngasih jabatan ke orang-orang tersebut… 🙂

    Benar Bang.
    Banyak penulis-penulis bagus yang karya-karyanya tidak kalah dengan penulis terkenal. Seperti tulisan-tulisan Abang yang cerdas ini… Bikin saya ketagihan untuk datang dan datang lagi… ^_^

    @mikekono : hal sprt srng terjadi krn pengangkatan pejabat srng dilakukan atas pertimbangan like or dislike.
    btw, soal tulis menulis, sy justru mengagumi Jeunglala, dan senang sekali kl bs belajar cara menulis yg baik dari Jeung. Ilmunya dibagi2 dunk…..!

  7. banyak cerita khan kalau jabatan itu bisa dibeli ? 🙂

    @mikekono : betul itu…….!

  8. mengutip tulisannya abang nih
    “jika banyak di antara bloger, yang tak punya jabatan formal apa-apa, tetapi sangat sophisticated, intelek, dan kualitas tulisannya tak kalah jauh dengan penulis-penulis ngetop di negeri ini.”
    Ini ngomongin Indah juga khan tur…?
    Makacihh.. makacihhh
    (sambil berjabat tangan)
    heueheuehheheheh
    ditimpukin satu kampung hauahuuahahhahaha

    @mikekono : tak salah itu tur…….., Indah Sitepu memang termasuk bloger yg saya sebut sebagai penulis berkualitas itu.
    Tapi, kan tak mungkin namanya disebut satu per satu……..heheheee, bujurrrrr

  9. Numpang menuh2in Bang,
    Jabatan memang menggiurkan, dengan segala embel2 kemewahannya, tapi kalau udah kebentur…duh, siapa yang musti menanggung dosa? keluarga juga bisa kena.
    So, lets boost our glam!! (glamourkan diri kita, tanpa dipaksa jabatan geto)

    @mikekono : karena sangat menggiurkan, maka bnyk orng rela melakukan apa saja, demi mendapatkan jabatan.

  10. Aku setuju Bang …
    Kompetensi …
    Kebisaan …
    Kemampuan …
    dan
    Kearifan …

    Ini dipunyai oleh seorang tokoh sejati …
    Seperti Pak Nurcholis dsb …

    Thanks Bang …
    Salam saya …

    @mikekono : absolutely……..and mas NH18, termasuk ke dalam kualifikasi insan yang dianugeri kompetensi di bidang trainee. Thanks mas

  11. h!n99a deT!k ini aku tak hafal nama2 menteri ituh ban9..:)
    waktu masih sekulah seeh harus hafal..:)

    @mikekono :wahhhh, semakin bertambah jmlh orang yg tak hafal.
    Berarti menteri-menteri itu bs disebut gagal dan tak dekat dgn rakyatnya……hmmm

  12. Harimau mati meninggalkan belang..manusia mati meninggalkan nama..

    jadi yang memiliki nama besar..di mata masyarakat baik yang baik maupun yang kontroversi..akan menjadi bagian memori di mata masyarakat

    @mikekono : botul itu……mereka yg bnyk jabatan tapi tak berprestasi, namanya tak akan prnh dikenang lagi……

  13. sibuk nyari jabatan itu kan ujungnya duit. kalo sibuk memberi kontribusi, mau di dalam maupun di luar sistem tetep aja mencuat.

    @mikekono : biarlah mereka sibuk ngejar jabatan, kita belajar memberi kontribusi. monggo mas

  14. Kompetensi, Tak Ditentukan Jabatan..maaf bang sedikit ku ubah,tanda hormat saya buat seseorang..
    Ketulusan dan Kejujuran, Tak Ditentukan Jabatan..
    dialah bunda teressa..hati seorang ibu
    butima
    horas…

    @mikekono : Baenma i si……, tapi Bunda Teresa termasuk sosok yang punya kompetensi di bidangnya.
    So, judul itu tak prl diubah. Horas, njuah-njuah.
    Sayang, lae tak meninggalkan jejak (URL)

  15. alhamdulillah jabatan sy tdk pake uang dikit pun.. anugrah tapi amanat terberat. http://asephd.co.cc

    @mikekono : syukurlah kl begitu………

  16. Wah, Bang Agus nggak hapal nama menteri-menteri kabinet sekarang ya? Pantas aja, nggak tahu kalau saya juga seorang menteri ….. :mrgreen:
    Catat Bang, catat!

    @mikekono : wahhhh….mbak tuti menteri toh ? Menteri apaan tuh !
    Menteri Negara Bidang (Mem)perdayai Kaum Bloger kaleee ya……kekekekeeee :mrgreen:

  17. Karena menteri jaman dulu menjabat lama banget Bang dan selain itu didalam mata pelajaran IPS kita juga harus menghapalnya. Makanya kita selalu hapal bang. Kalau menteri sekarang yang dikenal yang paling berprestari atau yang paling kontroversti.. 😛 thanks

    @mikekono : betul itu mbak yulis ! lagi pula di zaman sekarang, media televisi lebih suka menampilkan tokoh2 publik yang populer dan kritis, ketimbang para menteri/ pejabat yg srng bicara teknis. Thanks and take care sist 😛

  18. jabatan cuma titipan, kalau tuhan meminta sekarang ya sudah lenyaplah jabatan itu 🙂 menteri sekarang sudah ganti2 saya sampe lupa nggak kayak jaman dulu yang ber status quo hehehehe

    @mikekono : benar, jabatan itu amanah. so, mesti dijalankan sesuai dengan mandat pemberi amanah…….thanks bro

  19. Iya bang.. Katanya fit n’ proper test untuk dptkan ‘kompetensi’ pd suatu jabatan, kebanyakan cuman prosedur ‘politis’ ajah.. Konon ada unsur ‘traveller check’ disana.. Kalo soal mentri, ini soal perhatian ajah.. Kalo aq sih, meski cuman beberapa, tapi hapal lho nama2 menterine. Spt mendagri, menkeu, men-PU, menkominfo, menlu, menhankam, menkes, menkokesra, dan mendiknas.. 😀

    @mikekono : exactly…..fit and proper test lbh didominasi unsur politis dan ekonomis.
    btw, kl hapal cuma beberapa, berarti tak hapal juga semuanya kan ! hmmm 😛

  20. “senantiasa menjaga keseimbangan kualitas berpikir dan berkarya dengan kualitas moral.”

    Inspiring nih….Asli banyak memberikan renungan. Tersentuh aku bang. kelepek-klepek berasa moral masih berantakan…

    @mikekono : hmmmmm…..itu sih sebatas renungan saja.
    Saya juga masih berproses menuju ke arah sana. Thanks Pakde

  21. Sebuah kesuksesan, dan kepopuleran adalah sebuah proses panjang dan bukan sesuatu yang instant.
    Apalagi diiringi dengan suatu karya yang monumental. Maka pribadi tersebut akan mengkristal pada hati orang lain. Jabatan tak lebih seperti angin, bisa dirasakan tapi nggak bisa di[pegang…Hatur nuhun.

    @mikekono : betul Pakde, tapi banyak juga yg tak sabar, dan pengen cepat melejit ke atas, hingga nekad menabrak prosedur tetap (protap).
    Ya, mestinya muncul kesadaran, bhw yang bakal dikenang adalah karya, bukan jabatan yg sprt angin itu. Matur nuwun 😀

  22. Hahaha iya nih saya ngaku deh, cuman hapal nama menteri dalam itungan jari saja… beda sekali waktu msh sd ato smp :mrgreen:

    Bang, tulisannya bagus sekali, ga banyak bercerita tp esensinya dapet. Two thumbs up buat abang 🙂

    @mikekono : sama dunk, sy juga tahunya cuma Menkeu Sri Mulyani, Menhut HMS Kaban, Menko Kesra Aburizal Bakrie, dan bbrp nama lagi.
    *Wow……jd tersanjung nih. Kata wong Medan, taunya awak diumbang (dipuji), tapi syooorrr juga……..thanks my sist 🙂

  23. aku cuma hapal nama bang mike aja hehehe
    males hapal nama menteri, ga pernah ada yang tanya juga 😀

    @mikekono : Ahhhhh….macam betul aja atuh ?
    btw, bener juga pendapat adinda…..hapal nama menteri pun bakal tak trll bermanfaat.
    Mending hapal nama pemain sepakbola Liga Inggris aja kaleee ya 😀

  24. setuju banget ma tulisan di paragraf terakhir itu,terus memperbaiki kualitas diri,moral , karya dan menularkannya ke orang lain

    @mikekono : jangan-jangan adinda Nina, cuma baca paragraf terakhir aja…..kekekeeee.
    Thanks my sist

  25. kompetensi memang tidak ditentukan oleh jabatan, sebagaimana kompetensi juga tidak bisa ditentukan oleh ijazah. Namun entah kenapa bangsa ini terlalu mendewa2kan ijazah, bahkan ijazah adalah salah satu persyaratan untuk duduk memangku jabatan tertentu dengan alasan, semakin tinggi ijazah semakin tinggi argumentasi.

    Sebenarnya hal tersebut tidak selamanya salah juga, namun di negeri ini kualitas pendidikan yang belum standard menyebabkan banyak orang2 yang tak berkopetensi tetapi punya ijazah untuk mengenyam jabatan yang tidak pantas dijabatnya…..

    @mikekono : Benar sekali mas. Jabatan masih sering ditentukan ijazah, padahal ijazah justru bs didapatkan tanpa harus repot-repot disiplin menghadiri kuliah.
    Ya, pendidikan kita memang blm kualified, dan karenanya tak seharusnya ijazah selalu dijadikan acuan penilaian. Thanks bro 😀

  26. ya, beda orang terkenal dengan tak dilupakan
    klo mau terkenal gampang, tinggal buat sensasi saja, seperti si Joko “Blue Energi” tapi ia tidak akan diingat, beberapa tahun lagi orang2 juga sudah lupa

    @mikekono : makanya kl mau terkenal dan terus dikenang, berkarya hrs benar2 berkualitas dan dilakukan secara konsisten……thanks mas aldo

  27. tapi jangan pula orang2 yg intelek itu sampai anti dg jabatan formal dan anti dg status abdi negara.

    kalau sudah begini kursi2 itu nantinya akan jadi mangsa para oportunis aji mumpung. pdhal idealnya posisi2 penting dan strategis itu diisi oleh orang2 intelektual bermoral

    @mikekono : betu Nita, mestinya jabatan dan kursi itu diisi oleh mereka yang kompeten di bidangnya serta sudah teruji kualitas moralnya. Thanks

  28. Betul itu bang. Kompetensi tidak ditentukan jabatan. Seperti orang-orang yang abang sebutin itu, mereka itu terkenal dan akan terus dikenang karena mereka konsisten dengan kompetensinya.
    Mereka tidak akan merambah ke wilayah-wilayah yang bukan menjadi kompetensinya. “the right man on the right place”.
    Jangan seperti negara kita ini yang suka menganut faham “trial and error”. Makanya kita gak heran ada orang gak punya kompetensi bidang tertentu diangkat jadi menteri dan jabatan-jabatan strategis. Gawatlah…!

    @mikekono : betul masgus, akan kacaulah negeri ini kl jabatan diberi pd seseorang, atas dasar pertimbangan politis, apalagi dijadikan sebagai ajang trial and error.

  29. hmm,, benar sekali. tapi jaman sekarang kompetensi ditentukan dengan IPK.. hiks..

    @mikekono : Hmmmm…, kl penerimaan dosen memang seperti itu.
    Padahal IPK pun blm sepenuhnya jaminan kualitas dan kreativitas berkarya.

  30. ..bang.. ada yang lupa mau menanyakannya.. kompetensi itu apaan si ? .. hehehe… *kabur..balik ke blog*

    @mikekono : pfffuuuih…..klo guru bertanya pd murid, biasanya ngetest itu ?
    Jwbnnya nanti tak smsken ae yo……..hehehe

  31. Benar itu, maka jabatan seharusnya diamanahkan kepada yang berkompeten.

    @mikekono : asal jangan amanah tak sampai ya ? heheheheeeee 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: