Monthly Archives: November 2008

Politik Bencana, Bencana Politik


Seiring dengan semakin dekatnya Pemilu 2009, para calon anggota legislatif pun makin giat sosialisasi. Karenanya segala sesuatu yang terjadi di tengah masyarakat, selalu menjadi perhatian mereka.

Sebagai contoh, kebakaran hebat yang meluluhlantakkan puluhan rumah di Jalan Mangkubumi Medan pekan lalu, tak luput dari perhatian para caleg dan elite parpol. Mereka seolah terlibat dalam kompetisi memberi bantuan.

sembakoYang menggelikan, prosesi pemberian bantuan tidak atau belum akan segera dimulai sebelum wartawan media cetak dan elektronik tiba di TKP. Mereka berharap, besoknya suasana pemberian sembako dan sumbangan alakadarnya itu tercover dengan manis di media.

Padahal dalam ajaran agama selalu diingatkan, jika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu. Tetapi begitulah politik. Bencana pun dipolitisir dan dijadikan sebagai sarana image building untuk memoles wajah mereka yang sebenarnya bopeng, agar terlihat lebih mulus di mata publik.

Politisasi terhadap bencana sebenarnya boleh dan sah-sah saja, asal tidak disertai dengan adanya kampanye serta upaya memaksa korban bencana agar berkenan mengikuti kemauan sang pemberi sumbangan.

Namun, perhatian para caleg terhadap berbagai jenis bencana yang melanda negeri ini, yang kerap ditampilkan saat menjelang penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada saja, selanjutnya akan menimbulkan bencana politik.

Sebab, patut diingat, rakyat pun sejatinya sudah semakin pintar dan kritis dalam menilai polah para politisi. Rakyat korban bencana, niscaya tidak akan dengan serta merta bisa ‘dibeli’ oleh para politisi opurtunis tersebut.

Bahkan sikap para politisi yang peduli pada mereka, hanya menjelang Pemilu dan Pilkada itu, akan berujung pada lahirnya kesadaran baru masyarakat, bahwa mayoritas para politisi tidak pernah benar-benar tulus mengabdi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Alhasil gairah para caleg dan kader parpol membuka posko atau menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran, gempa, dan bencana lainnya, yang awalnya dimaksudkan sebagai bahagian dari strategi politik menyikapi bencana, justru bermuara pada timbulnya bencana politik.

Disebut sebagai bencana politik, karena masyarakat pada akhirnya bukan semakin simpatik kepada politisi atau parpol yang memberikan bantuan, melainkan mencibir sikap mereka, yang telah menjadikan penderitan mereka sebagai komoditas politik demi perbaikan citra dan mendongkrak perolehan suara dalam Pemilu.

Karenanya kepada para caleg dan elite parpol diimbau, jika ingin memberi bantuan, baen ke mo i si…… monggo… dipersilahkan. Tapi jangan sampai publisitasnya justru lebih besar dibanding nilai sumbangannya. Itu namanya ada udang di balik rempeyek……!

*foto dari sini

Iklan

Mengapa Menjauh dariNya ?


devilSegenap hambaNya percaya sepenuhnya, setiap kebaikan atau perbuatan kasih akan dibalas dengan kebaikan atau kedamaian. Sebaliknya setiap kejahatan (perbuatan dosa) akan menuai azab nan pedih dariNya.

Dan sudah banyak bukti, mereka yang senantiasa menghiasi hari-harinya dengan gelimang kemaksiatan dan angkaramurka, disadari atau tidak, sudah bisa merasakan langsung akibat perbuatannya itu di dunia (tak perlu menunggu kiamat tiba).

Ketika anda korupsi, suka berzina, berlaku zhalim, menggunting dalam lipatan, mencemburui kesuksesan teman sendiri,  sebenarnya saat masih berada di dunia, ganjaran terhadap perbuatan yang dilarang Tuhan itu sudah diberikan dan diperlihatkanNya, tetapi seringkali kita tak menyadarinya, karena manusia memang makhluk yang lemah (dhaif).

Selebriti atau siapapun yang suka kawin-cerai dan lebih memilih menyelesaikan tetek-bengek rumahtangga di Pengadilan Agama adalah salah satu contoh nyata, betapa kebohongan atau pengkhianatan terhadap pasangan akan menuai badai. Setidaknya kehidupan keluarganya kocar-kacir. Apa gunanya harta melimpah, kalau anak-anak hasil buah cinta, tercecer dan menderita….?  

Sudah banyak contoh, betapa manusia yang selalu menjauh dariNya akan menuai nestapa. Tapi entah kenapa, kendati percaya sepenuhnya, bahwa Tuhan itu Maha Segala dan Segala Maha serta kelak akan ada kehidupan nan abadi di surga, kita tetap saja (seringkali dengan penuh kesadaran) menjauh dariNya, terus menjauh, dan lebih suka berkolaborasi dengan setan (sympathy for the devil). 

Saya, anda dan mereka,  pun mengetahui betapa kebajikan dan amal shalih adalah prasyarat mutlak untuk memuluskan peluang memperoleh ‘tiket’ ke surga. Tapi mengapa kita tetap saja enjoy, saat ingkar pada perintahNya dan lebih suka mengerjakan laranganNya ? 

Kita sejatinya juga pasti paham, ketika menjauh dariNya, Dia juga akan pergi menjauh. Tuhan tentu tidak akan menolong hambaNya yang senantiasa alpa dan tidak pernah mau menolongNya. MenolongNya bermakna, mengerjakan segala perintahNya tanpa reserve serta menjauhi laranganNya dengan konsisten, tanpa kenal musim.

Entah sampai berapa lama lagi, kita tetap saja suka membohongi hati nurani dan hidup dalam kehampaan. Jangan-jangan saat azal tiba, kita masih bergelimang dalam noda dan dosa. So, semuanya terserah kita, mau selamat atau ciloko, tinggal pilih. Bebas tak ada paksaan. Emangnye Tuhan pikirin….!

*foto dicomot dari sini 

Semua Terserah Ketua !


parpolElite partai politik sering mengidentifikasi diri sebagai pionir penegakan demokrasi. Parpol juga masih dianggap sebagai kawah candradimuka pematangan kemampuan berdemokrasi.

Tetapi, sesungguhnya disadari atau tidak, fenomena yang berkembang di tubuh parpol kita selama ini justru menyajikan fakta sangat kontradiktif dari identifikasi dan anggapan umum tentang keberadaan parpol tersebut.

Yang dominan dan berlaku dalam tubuh parpol kita adalah personalisasi ; semua keputusan yang berlaku tergantung dan terserah Ketua. “Saya tak berkompeten soal itu, tolong hubungi Pak Ketua saja,” begitu ungkapan salah seorang pengurus parpol ketika ditanya, apakah parpolnya bisa memberikan dukungan kepada salah satu bakal calon kepala daerah.

Hal seperti ini biasa dan sangat lazim terjadi. Salah seorang Ketua Tim Pilkada parpol besar di Sumut misalnya mengeluh, dirinya percuma saja capek-capek melakukan lobi-lobi dan survei ke lapangan perihal siapa figur bakal calon kepala daerah yang disukai rakyat. “Ujung-ujungnya, ya terserah pada apa maunya katua juga,” ujarnya.

Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Wiranto, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum partai, ucapan dan tindakannya sudah atau acapkali dianggap seperti undang-undang oleh para pengurus dan kader partai.

Apa yang diputuskan ketua, tentu mustahil bagi kader dan pengurus di bawahnya untuk membantah dan mengangkanginya. Kalau berani, siap-siaplah direcall dan atau ditempatkan pada nomor sepatu penyusunan daftar caleg. Monopoli Ketua yang sangat dominan itu sudah pasti menimbulkan iklim yang tidak sehat di tubuh parpol.

Padahal belum tentu apa yang diputuskan Ketua itu lebih baik, daripada usulan pengurus dalam rapat internal partai. Dan faktanya, kerapkali keputusan Ketua merugikan partai, karena lebih mendahulukan keinginan pribadi/ kelompoknya, ketimbang kepentingan bersama.

Kendati demikian, parpol senantiasa vokal bicara serta menekankan pentingnya penegakan nilai-nilai demokrasi di negeri ini, walaupun pada praktiknya para pimpinan parpol sendiri cenderung bergaya dan bersikap bak seorang diktator.

Itulah sebabnya aktivis parpol yang selalu mengedepankan hati nurani dan tidak pandai berlakon sebagai politisi ‘penjilat’, ‘panglima talam’ atau para pembisik, akhirnya lebih memilih keluar dari parpol yang dimenej sesuai dengan selera sang Katua tersebut.

Barangkali sindrom semua terserah ketua itu juga yang menyebabkan Kwik Kian Gie, Sophan Sophiaan (alm), Faisal Basri, Sri Bintang Pamungkas, hengkang dari partai politik. Hal senada bisa jadi akan menimpa intelektual dan tokoh kritis semisal Indra Jaya Piliang (Golkar), Budiman Sudjatmiko, Zuhairi Misrawi (PDIP), Anas Urbaningrum (Demokrat), dan lainnya.

Weekend with Lala


blig-of-lifePekan lalu saya mengeluh soal weeked yang nyaris selalu menyebalkan. Tapi kali ini rasanya lain, very special. Soalnya weekend kulalui asyik masyuk bersama Lala Purwono lewat her book ‘The Blings of My Life’.

Ya, pagi tadi aku senyam senyum sendiri menerima buku yang dibubuhi tandatangan dan sebaris kata ungkapan persahabatan dari Lala. Bagi orang lain, menerima hadiah buku mungkin dianggap biasa-biasa saja. Tapi bagiku, award The Blings of My Life ini setara dengan Oscar Award seperti pernah dirasakan Meeryl Streep atau Robert de Niro.

Nah, proses mendapatkan buku ini saya anggap sangat berkesan, sebab sang penulis Lala Purwono, memberi tantangan dalam blognya (jeunglala.wordpress.com), bagi siapa saja yang bisa mendiskripsikan gambaran pribadi Lala tuh…..dengan tepat, akan menerima hadiah buku, yang dilaunching pada 14 November lalu itu.

Saya merasa surprise, ternyata dari sekitar 74 responden, saya masuk pada posisi 6. Posisi yang lumayan membanggakan, sebab pada awalnya Lala memang menyatakan cuma 10 komentator terbaik yang berhak diberi hadiah. Tapi, Lala kemudian berbaik hati dan menambah jumlah penerima menjadi 15 orang. 

The Blings of My Life yang kesohor itu sudah saya terima Sabtu pagi tadi. Jadilah, weekend kali ini saya lalui dengan sumringah dan perasaan berbunga-bunga, melalap seluruh menu kehidupan yang disajikan Lala dalam bukunya itu.

Sejujurnya, saya baru sempat membaca beberapa halaman saja. Namun secara objektif, saya simpulkan segala kegelisahan, kegembiran, dan kontemplasi yang dituangkan Lala dalam buku ini semuanya inspiring dan mengandung wisdom yang seharusnya bisa mengubah mind set (cara berpikir) pembaca ke arah lebih baik dan selalu positive thingking dalam menjalani kehidupan.

Lala misalnya suatu ketika mengeluh soal berat badannya yang tak ideal hingga ingin memuntahkan makanan yang sudah terlanjur ditelannya, tetapi di sisi lain dia kemudian terbayang pada sekelompok orang yang untuk mencari sesuap nasi saja pun harus kelimpungan, sehingga dia trenyuh dan merasa tak sepantasnya selalu mengeluh cuma soal ukuran badan.

Jeunglala juga merasa enjoy saja, kendati dalam usianya sekarang (28 tahun) belum juga terdapat tanda-tanda akan segera menikah. Sebab bagi dia, yang datang pasti datang. Yang tidak datang, pasti tidak datang. “Dont wait, biar bagaimanapun….we’ll soon get there…,” katanya.   

The Blings of My Life, memang sebuah cermin diri yang dengan apik mengupas tuntas pergulatan batin seorang blogger bernama Lala Purwono, yang mengurai secara jujur gejolak jiwanya tanpa bermaksud menggurui serta merasa dirinya lebih hebat dari orang lain.

So, pas sekali komentar Daniel Mahendra  tentang buku ini, “bahwa kita bisa belajar dan berkaca dari pengalaman hidup orang lain. Sehingga rawian-rawian yang ada dalam buku ini begitu bermakna. Sesuatu yang membuat kita merasa ada”.  

Buku ini menarik dibaca, karena pengalaman pribadi yang diungkap di dalamnya, bisa jadi hampir sama dengan apa yang kita alami sehari-hari. Karenanya saya merasa bahagia pada weekend kali ini bisa bercumbu dengan Lala, kendati cuma lewat buku. 

Mungkin weekend bulan depan, saya akan beroleh giliran bercumbu dengan Mbak Tutinonka. Maksudnya dengan novel-novelnya yang legendaris itu. Ya, siapa tahu.  Hmmm.

Beri Aku Sejuta Hinaan…!


wisdomBeri aku sejuta hinaan, cacian, makian atau hujatan. Aku akan menerimanya dengan senyum, sebab para penghina itu, pasti tidak lebih baik dariku. Sebab orang baik tak mungkin menghina.  

Semakin banyak hinaan datang, semakin mudah mengenali diri sendiri karena rajin berkontemplasi. Makin deras hujatan menghampiri, makin kuat pula tekad untuk bertobat dan selalu mendekat padaNYA. Satu hinaan terlalu sedikit. Tolong, beri aku sejuta hinaan….!

Ini hanya sekadar ungkapan kegelisahan terhadap fenomena mentalitas sekelompok manusia yang masih saja suka menjelek-jelekkan kelompok lain serta menghasilkan karya tak bermanfaat bagi khalayak bahkan sejatinya merugikan dirinya sendiri.

Seorang rekan blogger kemarin mengirimkan email kepada saya perihal adanya blog Indonesia memuat komik yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW. Konon, gambar-gambarnya bernada pelecehan dan penghinaan.

Saya tak setuju dengan cara-cara seperti itu, bukan karena saya seorang muslim. Seandainya terdapat komik yang isinya menghina Yesus Kristus, Dewa Brahma, Siddharta Gautama, Kong Hu Chu, Dalai Lama, Bunda Teresa atau siapa pun, saya juga akan berada di baris terdepan untuk menentangnya.

Agama manapun di jagad ini, niscaya melarang para pengikutnya menghina dan merendahkan martabat pihak lain. Sebagai seorang muslim saya menghargai dan menghormati pemeluk agama manapun.

Kalau suatu ketika saya menghina agama lain, itu bermakna saya bukan seorang muslim yang baik. Sebaliknya kalau terdapat seorang Nasrani menghujat pemeluk agama lain, bisa dipastikan dia juga bukan seorang Kristiani yang taat.

Lagi pula apa manfaatnya menghina Nabi ? Semiliar atau seluruh penghuni jagad pun memberi penghinaan, yang namanya Nabi tetaplah Nabi. Penghinaan tak akan mengurangi kemuliaan dan derajat kenabiannya.

Sebaliknya walaupun beratus juta pujian datang kepada seorang pemimpin atau tokoh politik. Belum tentu dia akan beroleh kemuliaan, sebab boleh jadi, dia cuma seorang hamba hinadina yang tengah berpura-pura baik kepada rakyatnya.

Pujian kerap menjerumuskan. So, beri aku sejuta hinaan, sebab penghinaan adalah ‘obat kuat’ yang paling mujarab dan bisa membuatku tahan berjam-jam asyik-masyuk denganMU.

*foto diambil dari sini

Terbius Candu Jabatan


castroSejumlah mantan pejabat, ramai-ramai mendaftar dan  kini telah tercatat namanya sebagai caleg tetap untuk DPRD/ DPR-RI dan beberapa di antaranya membidik kursi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). 

Kabar ini sebenarnya biasa biasa saja. Tidak ada hal aneh di situ. Cuma, yang menggelitik kita, kok sepertinya tidak ada kamus berhenti mengejar jabatan dalam diri orang-orang yang sudah lama malang melintang di birokrasi pemerintahan itu.

 

Fenomena ini terjadi hampir di seantero nusantara. Dengan kata lain, seakan-akan ‘candu jabatan’ sudah demikian membius dan merasuk dalam sanubari manusia Indonesia, sehingga tidak pernah ada kamus berhenti dalam mengejar status, yang dianggap terhormat itu.

Begitu banyak orang yang terbius candu jabatan, hingga sering alpa menakar dan mengukur kekuatan  sendiri. Kekuatan dimaksud, bukan hanya kekuatan pendanaan, yang lebih penting lagi adalah kekuatan raga mereka, yang beberapa di antaranya sudah mulai pikun. 

Mengapa mereka begitu candu mengejar rupa-rupa jabatan itu ? Penyebabnya tiada lain karena ada anggapan, hanya dengan memiliki jabatan di institusi resmi, mereka merasa nyaman dan akan dihormati banyak orang. Mereka tak sadar, jabatan juga sering membuat harga diri dan kehormatan keluarga bisa lewong dalam sekejap.

Track record sebagai mantan pejabat serta cadangan dana yang lumayan tebal, memang bisa jadi akan membuat para tokoh gaek yang rata-rata sudah berusia 65 hingga 70a-an itu, masih memiliki peluang besar meraih dukungan suara signifikan sekaligus lolos menjadi anggota DPR/D dan DPD.

Tetapi, patut pula disadari, jika seluruh nafas kehidupan dihabiskan untuk menjadi pejabat negara dan legislatif, kapan lagi waktu tersisa buat bercengkerama dengan kaum kerabat, tetangga dan anak cucu ?

Dalam konteks demikian, apa yang dilakukan mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Syafii Maarif atau bos Harian Kompas Jacob Oetama, patut dijadikan acuan. Kedua sosok ini tak pernah terbius candu jabatan. Bahkan Jacob Oetama sudah lama melepas jabatan Pemred Kompas dan menyerahkannya kepada wartawan muda secara periodik. Faktanya, kedua tokoh sangat dihormati semua kalangan di negeri ini.

Pada usia pensiun, sudah sepatutnya para mantan pejabat mengisi hari-harinya dengan lebih banyak merenung dan mendarmabaktikan hidupnya untuk kemaslahatan ummat. Seandainya di dalam daftar kekayaannya terdapat hasil korupsi, yang kebetulan lolos dari endusan KPK dan aparat penegak hukum, alangkah mulianya jika dana itu dialokasikan pada kegiatan bermanfaat untuk masyarakat, bukan malah dijadikan modal kampanye sebagai caleg dan calon anggota DPD.  

Para mantan pejabat sudah sepatutnya memberi jalan bagi generasi muda untuk mengambilalih estafeta kepemimpinan nasional, bukan seperti kecenderungan yang berkembang saat ini, tetap membiarkan diri terbius candu jabatan, yang bisa jadi akan menutup peluangnya mengakhiri hidup dengan baik (khusnul khatimah).  

Kekalahan adalah Kemenangan !


Kekalahan adalah kemenangan ! Pernyataan ini mungkin terdengar aneh dan irrasional. Tetapi faktanya memang sering demikian. Kekalahan akan membawa kemenangan, kalau setiap kekalahan selalu diterima dengan lapang dada serta dijadikan sebagai momentum introspeksi dan kontemplasi.senator-clinton2

Pada kaukus Partai Demokrat beberapa bulan silam, Hillary Rodham Clinton mengalami kekalahan tipis dari Barack Obama. Selanjutnya Hillary tak melakukan penggembosan seperti biasa terjadi di negeri Sijujung Koden, tetapi bersama suaminya Bill Clinton malah giat berkampanye mendukung Obama. 

Setelah Obama menang, Hillary tak saja diposisikan sebagai wanita berpengaruh numero uno dan paling dikagumi masyarakat AS selama 7 tahun berturut-turut, kini juga digadang-gadang sebagai kandidat kuat yang akan menduduki posisi Menteri Luar Negeri pemerintahan Obama-Biden.

Itu bermakna, kekalahannya pada kaukus Partai Demokrat, tak membuat ibunda Chelsea ini terpuruk dan kehilangan jatidirinya sebagai demokrat sejati. Hasilnya, dia sukses mencatat rupa-rupa kemenangan di sektor lain. Setidaknya berhasil memenangkan hati (simpati) masyarakat AS dan dunia.

Sebaliknya banyak kepala daerah yang dulu begitu bangga memenangkan Pilkada sampai-sampai ada 100 hari pemerintahannya dilalui dengan acara syukuran melulu, saat ini justru terlunta-lunta dan menjadi pesakitan karena harus mendekam di tahanan KPK akibat korupsi APBD. Kemenangan membuatnya terlena dan kehilangan kendali.

Kekalahan adalah kemenangan ! Semuanya tergantung sikap dan mentalitas kita dalam menyikapinya. Kalau kekalahan memicu kemarahan, selain menghancurkan citra sendiri, juga  merusak tatanan sosial dan sistem yang berlaku. Jika kekalahan membawa keputusasaan, niscaya akan menuai kekalahan lebih parah lagi.

Tetapi kekalahan bisa juga berarti ‘kematian’,  seperti dipertontonkan pesepakbola PSIR Rembang tiga hari lalu, yang menendang dan membabakbelurkan wasit, karena tak siap menerima kekalahan. Selain kalah, pemain PSIR Rembang ini juga menunggu ‘kematian’,  karena terancam hukuman tak boleh bermain sepakbola sepanjang hayat. 

Kekalahan akan melahirkan kemenangan, jika selalu disikapi dengan pikiran waras dan lego lilo. Soal ini menarik mengutip pernyataan Al Gore saat kalah melawan George Bush Jr pada Pilpres AS tahun 2000 (padahal dia masih berpeluang menang jika ngotot meminta penghitungan ulang). “Kekalahan dan kemenangan dibutuhkan untuk memuliakan jiwa kita,” kata Al Gore.

Selepas itu, mantan Wapres-nya Clinton ini, tetap dikenang dan namanya harum di mata masyarakat AS hingga kini. Sementara Bush yang dulu menang, dalam penilaian kalangan Partai Republik tak lebih cuma seorang pecundang serta menjadi penyebab kekalahan McCain-Palin, karena ketidakbecusannya menyebabkan perekonomian AS hubar habir

So, akhirnya semua berpulang pada diri kita masing-masing, terus-menerus meratapi kekalahan dan mencari-cari ‘kambing hitam’ atau segera bersiap menikmati kemenangan pada etape berikutnya……! Monggo……etake kaltu

Award dan Weekend yang Menyebalkan


Sejak akhir Agustus 2008 kemarin, saya merasa weekend  sepanjang tahun ini, akan selalu sangat menyebalkan.  Sebal, bukan karena tiada perempuan ayu dan baik budi yang mendampingi. Bukan, bukan karena itu.

liverpoolWeekend  terasa membosankan dan menyebalkan karena saya tak lagi bisa menyaksikan tayangan  bigmatch Premier League, utamanya yang menyajikan clash antara klub kesayanganku The Reds Liverpool versus The Blues Chelsea, atau Liverpool vs The Red Devils MU atau The Gunners Arsenal.

Untunglah Liverpool kini bertengger di puncak klasemen bersama Chelsea, sama-sama mendulang 29 poin. Semoga tim besutan Rafael Benitez ini bisa meraih gelar jawara tahun ini. Liverpool, you’ll never walk alone

Tahun lalu, semua pertandingan penting itu masih bisa kusaksikan berkat berlangganan tv pra bayar. Sayangnya, tv berlangganan ini mendadak modar. Dan tayangan Liga Inggris pun beralih ke perusahaan lain. Sebetulnya saya bisa saja berlangganan, tetapi sudah kadung kecewa dengan polah tv berlangganan yang tak konsisten dan kerap mengecewakan konsumen.

So, apa boleh buat, terpaksalah pasrah menerima sajian salah satu televisi swasta kita, yang saban Sabtu malam menayangkan live Premier League. Sayangnya, yang disajikan selalu pertandingan antara klub-klub semenjana melulu seperti Sunderland, Stoke City, Wigan Athletic, West Brom Albion, atau paling banter klub big four versus klub kecil. Tak pernah menyajikan bigmatch. Sungguh menyebalkan.

Lalu, apa kaitannya dengan award ? Hmmm. Pada pekan ini saya merasa bersyukur karena ‘kebanjiran’ award. Mungkin ini berkah ‘November Rain’, mengutip postingan mas Ariefdj, yang menyinggung soal bulan November yang ditandai dengan hujan melulu. Mungkin karena lagi musim penghujan, saya pun ‘kebanjiran’ award.

Award pertama (dua sekaligus) saya terima dari turangku Indah Sitepu, seorang putri Karo yang Njawani, pintar dan kini tengah mereguk hari hari indah bersama pacarnya, seolah dunia milik mereka berdua. Ehem. Award berikutnya datang dari Anny, seorang gadis bersahaja, akunting mandiri nan suka bertualang ke seluruh negeri, lumayan ayu dan baik budi.

Award berikutnya berasal dari saudaraku yang intelek, humoris, arif wicaksono dan piawai berbahasa France and English, Mr Ariefdj. Entah apa alasan mereka memberi award itu, akupun tak tahu pasti. Tapi yang namanya pemberian, mestilah selalu disyukuri. Kepada mereka bertiga saya sampaikan penghargaan dan terimakasih tiada terhingga.

Sesuai dengan aturan yang berlaku di jagad perbloggeran, maka award tersebut, katanya mesti disalurkan kepada blogger yang berhak. Mereka yang beruntung mendapatkan award itu (awardnya bisa diambil di sinidi sini dan di sana tanpa dikenai pajak) adalah sebagai berikut : 1. Bunda Dyah Suminar 2. Ayu Ratna Sensei 3. Sillystupidlife  4. Mbak Tutinonka 5. Mas NH 18, 6. Yessy Muchtar 7. Mbak Yulism 8. Mbak Ind1r4, 9. Pakde (Inspirasi Pakde) dan 10. Ida Wahyuni ‘Pimbem’ Yanuarti.

Melanawati : 20 Tahun Bersandiwara


melana1Melanawati, adalah wanita ‘sukses’ dan lumayan kesohor di Negeri Sijujung Koden. Suksesnya sangat mencengangkan, sebab sudah hampir 20 tahun lebih, dia menjalani hidup dengan bersandiwara.

Perempuan cantik yang sering diibaratkan seperti handphone ; cashingnya bagus, isinya sowak ini, bisa dikategorikan sebagai ibu rumah tangga yang cukup sukses. Betapa tidak, dia sudah punya rumah seharga ratusan juta, mobil pribadi dua unit serta dua toko butik.

Konon, menurut cerita teman-temannya di Negeri Sijujung Koden, wanita yang selalu tampil modis pada usianya yang baru memasuki 37 tahun ini, kesuksesan yang diraih ibu tiga anak dari suami yang cuma berpenghasilan pas-pasan ini, lebih disebabkan kepiawaiannya melakoni sandiwara.

Karena kehebatannya dalam bersandiwara itu pula dia diberi gelar Melanawati. Konon, dalam terminologi bahasa di kampungnya Indah Sitepu, Melana berarti malunya. Hal itu bermakna, perempuan sukses ini kerap dicibir sebagai sosok manusia yang tak tahu malu. Sebab hampir seluruh hidupnya dilalui dengan bersandiwara.

Lalu, sandiwara apa gerangan yang dilakoni Melanawati ? Menurut keterangan penduduk Negeri Sijujung Koden, dia bersandiwara sebagai seorang wartawati selama 20 tahun lebih. Padahal menurut pengakuan teman-temannya, Melanawati sama sekali tak bisa menulis berita. Selama 20 tahun menyandang status sebagai wartawati, hingga kini belum pernah sekalipun menulis berita. Wow, sungguh menakjubkan sekaligus memalukan.

Konon, dengan mengandalkan statusnya sebagai wartawati itulah, Melanawati bisa menjalin hubungan kedekatan dengan sejumlah pejabat pemerintahan, termasuk penguasa tertinggi Negeri Sijujung Koden. Para pejabat di negeri itu dibuat terpesona oleh kelembutan tutur kata dan pesona sensualitas perempuan ini.

Hingga kini mereka tak pernah mengetahui, bahwa Melanawati sejatinya bukan seorang wartawati. Dia sesungguhnya cuma mengaku-ngaku sebagai wartawan dan menjadikan statusnya itu sebagai ‘pintu masuk’ untuk dapat memperoleh uang dan proyek. Sungguh, sandiwara yang benar-benar ciamik.

Mengapa pemimpin dan pemilik media di Negeri Sijujung Koden, mau mempekerjakan Melanawati yang tak bisa menulis berita itu ? Alasannya sederhana saja, Melanawati memang dikenal cukup ramah dan mudah akrab dengan banyak pria. Alasan lainnya, dia terpaksa diterima bekerja sebagai wartawati, karena memiliki kemampuan menjual koran, mencari iklan, dan yang terpenting bisa memberi setoran kepada sang petinggi media itu. Alaaamak ! 

Apa yang dilakoni Melanawati tersebut, jelas merupakan sebuah kebohongan teramat fatal, yang akan menjadi aib seumur hidupnya dan hal itu tak perlu ditiru oleh siapapun. Tetapi, sisi positifnya Melanawati sukses mensejahterakan diri dan keluarganya dari sandiwara yang dilakoninya selama 20 tahun itu.

Barangkali Melanawati juga merasa malu dengan kelemahan dan kekurangannya sehingga terpaksa bersandiwara agar bisa eksis menghadapi beratnya tantangan kehidupan. Atau sebaliknya, dia justru bangga dengan keberhasilannya karena bisa lebih ‘sukses’ dan kaya dibanding orang lain yang benar-benar jujur melakoni profesi yang sama.

Tak cuma Melanawati melakoni hal serupa, di negeri Ruahkemokarina (tetangga negeri Sijujung Koden), terdapat banyak PNS kerjanya lebih sering main catur atau nongkrong di mall, atau seorang wakil rakyat selama menjadi anggota dewan, jangankan memperjuangkan nasib rakyat, bicara soal rakyat saja ogah. Begitu juga oknum pejabat banyak yang suka memperkaya diri dan kerabatnya. Mereka ini juga layak disebut orang yang piawai bersandiwara, seperti halnya Melanawati.

Mengapa Betah Melajang ?


Semua cewek di seantero jagad, tanpa perlu melalui voting niscaya secara aklamasi akan menyatakan koor setuju, bahwa aktor beken Bollywood Salman Khan merupakan pria macho, handsome, dan intellect.

sallu-bhaiSayangnya kegantengan Salman Khan seperti terbuang percuma. Sebab di usianya yang kini memasuki 43 tahun (lahir 27 Desember 1965), putra sulung penulis skenario terkenal Salim Khan ini, sampai sekarang masih tetap betah melajang.

Aktor legendaris Bollywood Dilip Kumar (Yusuf Khan) doeloe juga baru menikah dengan artis Saira Banu pada usia 44 tahun. Beberapa artis Indonesia juga lumayan banyak yang betah melajang.

Misalnya, Christine Hakim yang baru menikah di usia kepala 4. Bella Shapira sudah memasuki sangat matang 35 tahun, tetap saja masih suka tidur sendiri. Angelina Sondakh (31 tahun) juga tak jelas kapan bakal menikah dengan Adjie Massaid.

Kenapa dan apa yang menjadi faktor penyebab seseorang betah dan atau terpaksa berlama-lama mengakhiri masa kesendiriannya…..? Sementara orang lain justru sudah bolak-balik gonta ganti pasangan atau bahkan nambah istri/suami.

Orang sekeren Salman Khan, dapat dipastikan tak akan kesulitan mempersunting gadis ayu manapun yang diincarnya. Terbukti saat ini dia sudah beberapa tahun pacaran dengan artis most beautiful Katrina Kaif. Sebelumnya Salman pernah pacaran dengan wanita tercantik sejagad (Miss World 1994) Aishwarya Rai, Sangeeta Bijlani (Miss India 1980) dan artis Somy Ali.

Lalu, mengapa setelah sangat berpengalaman dan mereguk kenikmatan berkencan dengan beberapa wanita ayu tersebut, Salman tak juga kunjung menikah ? Sementara adik-adiknya (Akbar, Sohail, Alvira Khan) sudah berumahtangga semua.

Tentu masih banyak lagi orang yang tetap sorangan wae pada usia yang semestinya sudah menyandang status sebagai suami atau istri. Tak cuma artis, warga biasa juga kerap mengalami hal serupa. Pertanyaannya, mengapa seseorang betah melajang ?

Dalam perspektif saya, sebagai seorang yang awam soal psikologi serta tanpa merujuk pada analisis pakar, setidaknya terdapat beberapa kemungkinan atau faktor penyebab mengapa seseorang masih tetap happy hidup sendiri pada usia 30 tahun ke atas.

1. Suka bertualang (ini biasa dilakukan kalangan selebriti). 2. Pernah patah hati, hingga sukar melupakan figur kekasih yang pernah teramat dicintainya. 3. Terlalu pilih-pilih dan banyak pertimbangan. 4. Kurang pede serta selalu merasa belum siap secara mental dan ekonomis. 5. Ada dugaan sudah kehilangan keperjakaan/ kegadisannya saat pacaran, sehingga khawatir akan dipersoalkan calon suami/ istrinya. 6. Orangtua tak merestui pilihannya, karena perbedaan status, suku dan agama.

Beberapa faktor penyebab yang saya kemukakan itu, murni merupakan analisis menggunakan telaah non-ilmiah alias tidak menggunakan data yang valid serta sama sekali tak ada kaitannya dengan nama-nama artis yang disinggung di atas. Karenanya, prediksi tersebut belum tentu mengandung kebenaran alias masih bersifat debatable.