Bertanding untuk Kalah


Bertanding untuk kalah….! Itulah fenomena yang mencuat dalam pelaksanaan sejumlah pemilihan kepala daerah (Pilkada) di tanah air belakangan ini. Pada Pilkada Kabupaten Deli Serdang Sumut, Minggu kemarin misalnya, dari 1 juta lebih pemilih, ada pasangan calon cuma memperoleh 5 ribu suara. Sungguh tragis dan memalukan, bukan !   

Begitulah konsekuensi yang mesti diterima sang calon kepala daerah yang terjun bebas ke gelanggang Pilkada. Mereka mengikuti Pilkada, tanpa didukung analisis SWOT, serta persiapan memadai baik dari aspek pendanaan maupun kejelasan basis massa pendukungnya.

Kalau tak punya basis massa signifikan, dana yang kuat, tak pula didukung mesin parpol yang kuat dan bekerja efektif, masih juga berambisi ikut Pilkada, itu kan sama saja dengan bertanding untuk kalah. Sudah tahu bakal kalah, masih ngotot maju, ya sudah…..tahankanlah risikonya.       

Kalau dalam arena tinju profesional, bertanding untuk kalah konon sering terjadi. Tujuannya untuk memperoleh uang yang jumlahnya lebih banyak dari bayaran semula atau sengaja kalah, karena telah disusun sebuah pertandingan rematch, yang dipastikan akan lebih menarik dan mengundang lebih banyak penonton.

Sementara dalam Pilkada, bertanding untuk kalah, selain akan menuai kekecewaan dan beban psikologis selama bertahun-tahun, dapat dipastikan juga menguras pundi pundi keuangan pribadi dan organisasi. Kalah dalam Pilkada bisa bikin bangkrut.

Pasalnya, dana yang mesti disiapkan untuk mengikuti Pilkada jumlahnya tidak sedikit. Coba bayangkan, jika sang calon menggunakan ‘perahu’ parpol. Untuk satu parpol, setidaknya mesti setor Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar. Itu baru untuk satu parpol, bagaimana kalau 2, 3, atau 10 parpol ?

Sementara kalau menempuh jalur independen, seorang calon kepala daerah mesti mengumpulkan bukti dukungan dari sekitar 15 ribu warga (disesuaikan dengan jumlah pemilih) dengan menyertakan fotocopi KTP. Coba hitung kalau satu dukungan mesti dibayar Rp 50 ribu, berapa dana yang harus disediakan.

Belum lagi kalau dihitung dana harus dikeluarkan untuk atributisasi, kampanye, iklan, dana saksi, dan berbagai tetek bengek lainnya. Dapat dipastikan, seorang kandidat kepala daerah akan menghabiskan dana miliaran rupiah untuk keperluan pencalonannya itu. Umumnya dana berasal dari kocek pribadi dan beberapa di antaranya dari relasi dan sponsor.

Kita berharap fenomena Pilkada yang melahirkan implikasi negatif bagi kandidat yang terjun bebas itu,  bisa dijadikan pelajaran oleh para tokoh di tanah air saat ini, yang lupa berkaca, dan ramai-ramai ingin menjadi capres. 

Kalau sedari awal sudah menyadari, tak punya uang serta tak memiliki basis massa riil, tak usahlah ikut-ikutan nyapres. Kalah dengan selisih suara tipis, itu namanya kalah terhormat dan tak perlu disesali. Tapi kalah dengan babak belur ; tanpa memperoleh suara signifikan, merupakan sebuah kebodohan, karena ikut bertanding walau sudah tahu bakal kalah.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 29 Oktober 2008, in Politik, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 36 Komentar.

  1. Iya ya bang ya …
    Kalo dipikir-pikir … sungguh sia-sia tenaga dana dan usaha yang sudah terbuang …
    Memang sih adalah hak setiap warga negara untuk mengajukan diri dalam pemilihan seperti ini …
    Tetapi …
    Adalah kewajiban setiap warga negara juga untuk selalu bercermin … mengukur dirinya …(yang abang sebut dengan SWOT itu tadi …)
    Apakah tidak lebih baik jika sumber daya tersebut di gunakan untuk sesuatu yang lebih jelas … dan lebih berguna bagi orang banyak …
    eman-eman soalnya bang … sayang-sayang.
    (BTW tumben saya pertama nih Bang …)

    @mikekono : sering2 jadi yang pertama, bagus itu bang.
    Memang agak mengherankan juga, kenapa mereka yang sejak awal mengetahui peluang untuk menang sebenarnya sangat kecil, tapi masih juga bersemangat ikut bertanding di pilkada.
    betul kata abang, lbh bagus uang itu disalurkan pada kegiatan yg lbh berguna. Thanks bro

  2. Sip, sip…
    Saya setuju banget. Ingat dengan kasus seorang calon Bupati (atau Walikota ya?) yang malah stress berat karena duitnya ilang satu milyar dan istrinya minta cerai. Bukankah dia malah kehilangan semuanya?
    OK.
    People make mistake.
    OK.
    The future’s not ours to see.
    Tapi setidaknya…
    Think before do something. Jangan konyol. Tahu diri, lah, kasarnya.
    Mending juga dananya buat yang lain… Yang hanya seperseratusnya saja, sudah bisa bikin anak Yatim Piatu kenyang perutnya…

    @mikekono : agree….think before do something.
    Mbok, sebelum melangkah ya dipikirkan dululah dengan penuh perhitungan, plus minusnya……jangan bertanding tanpa latihan keras dan menghitung kekuatan lawan.
    good comment mbak lala, thanks
    🙂

  3. Kurang lebih penjelasan yessy sudah di terangkan oleh om trainer dan lala bang..
    kembali lagi..seharusnya ambisi yang mereka punya di barengi oleh kualitas serta kesadaran diri akan kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.
    Berapa uang yang di korbankan..
    relakah mereka??
    yakin gak stress??
    gak ada yang tau kecuali hati mereka masing masing ..
    Miris melihat ketika banyak orang berlomba lomba menjadi pemimpin dengan bermodalkan uang untuk melicinkan jalan mereka.
    uang itu pasti sangat berguna untuk yang lain..ahhh.sayangnya..mereka gak berpikir kesana ya bang..
    semoga abangku tersayang ini bisa bijak nanti kalo karir politiknya sukses..:)

    @mikekono : wadduhh nampak kali teman sehati dengan Jeung Lala dan om trainer, jadi ikutan terus nih.
    Bener yess, mestinya uang yang dipergunakan utk biaya pilkada itu akan jauh lbh berguna jika diinvestasikan untuk kepentingan masyarakat. Thanks atas apresiasinya…..good luck

  4. yang pasti harus kuat modal
    kalo ga kuat, minum jamu kuat ajahh hehehhehe
    enggak dink, madsudnya g usah cari masalah ajahhh
    duduk manis, jadi blogger gitcchuuu dari pada pusing 😛

    @mikekono : hehehee….tuhu dink eh turang, kl tak kuat modal mending sprt sy jadi bloger aja. begitcu aja kok repottttt….., btw, jamu kuatnya bagi dunk😛

  5. coba-coba lah, kan sudah punya predikat caleg. jadi besok-besok urusan bisa lancar

    @mikekono : trial and error ya, mas kis

  6. Setujuuuu …
    Daripada bertemen dgn bangkruttttttttttttttt mending bergaul ama bang mikekono dgn ngeblog … hehehehee

    @mikekono : huahaaahaaa…..cocok itu. kl sy berteman dengan Darren aja pun jadilah……

  7. Begitulah, yang menyebabkan saya tidak mencalonkan diri. Bisa jadi suara yang didapet paling 15 suara…. mending tuh duit borong kebon duren dah. Panen-panen jelas. (kiding)

    @mikekono : weleh….weleh gitu toh Pakde ! bagi-bagi dunk durennya

  8. Harusnya calon2 pilkada itu konsultasi dulu sama abang, jadi kan abang bisa ngasih saran sama mereka…😀

    @mikekono : hihihihiiii……nyindir bin ngejek nih ye……thanks

  9. semoga siapa pun yg terpilih, bs membawa perubahan yg berarti…:)

    @mikekono :ya, perubahan yg ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat. thanks

  10. saya pernah baca ada yang sampe stress yah calon pilkada dari jatim… daerah mana itu saya lupa… jadi gila karena banyak utang buat dana kampanye… masya allah…

    @mikekono : memang ada kejadian sprt itu beberapa bulan lalu. semoga itu bs menjadi pelajaran bg kita semua. thanks bro

  11. jabatan kepala daerah sekarang bukan lagi menjadi lahan pengabdian… tapi sudah menjadi lahan usaha. Sehingga biaya yang dikeluarkan bisa dianggapnya sebagai investasi…. kalau kalah, resiko bisnis itu sih!

    @mikekono : wahhhh….anggapan sprt itu justru keliru besar. Kl jabatan kepala daerah jd lahan usaha, ujung2nya bs berurusan dgn KPK.
    Berabe, kan !

  12. Yayaya
    Melihat keadaan seperti ini
    Selayaknya para politikus berpikir keras
    arena saat ini rakyat saatnya dlayani
    Bukan melayani

    @mikekono : ya…..berpikir keras dan bertindak tepat

  13. grhhh..lagi2 uang kan yg bicara..

    @mikekono : ya begitulah faktanya, Obama pun jadi capres hrs nyari bnyk uang buat kampanye, walaupun uang itu berasal dari donatur

  14. dan kalau terpilih , si kepala daerah ybs bakalan ganti menguras uang rakyat sebagai gantinya ??

    @mikekono : tau juga mbak susie ya, pdhl ngurasnya diem-diem….heheheee

  15. Daripada terbuang sia2, lebih baik dananya disumbangkan kepada rakyat yang membutuhkan…
    betul gak mikekono sensei????

    @mikekono : betul Ayu sensei dan sy usulkan uang itu sebagian disumbangkan bg pengembangan sarana belajar bhs Jepang, spy rakyat Indonesia bs maju sprt wong Nippon itu…..arigatou ne imouto

  16. ah..gak jelas abang…abang bilang ajalah orangnya itu …yang dapat cuma 5 ribu…
    …hahahahaha…. 😛

    @mikekono : kekekeeee…..kakakaaaa…….mau dijelaskan segan lah awak.
    apa kata dunia ?
    soalnya temen sampeyan nya iku……..ehm

  17. Era Reformasi sekrang banyak maunya.. tanpa dipikir 10x lipat..
    http://www.asephd.co.cc

    @mikekono : 10 kali terlalu singkat……mestinya seribu kali mas……hehehe

  18. wah Aya tanggal 4 nopember ni ada Pilgub di Surabaya
    tapi Aya milih Golput aja
    he..he..
    alasannya ntar Aya bahas d http://zahroulaliyah.info

    @mikekono : kenapa Aya milih golput….?
    jd ngga sabar nunggu alasannya

  19. hahaha … mereka yang kalah itu juga punya hak politik utk maju, mas agus. persoalan kalah atau menang, itu hal yang wajar terjadi dalam sebuah “pesta demokrasi”. kalau ndak dibuktikan lewat pemilihan, mereka yang kalah masih menganggp dirinya sebagai orang yang berhak utk menang, hehehe …. akhirnya yang berbicara lagi2 uang dan kekuasaan politik, haks.

    @mikekono : bener juga sih, tapi terbukti banyak juga yang maju tanpa perhitungan dan kalkulasi politik yang cermat. Kalau ikut bertanding, kemudian cuma memperoleh 5000 suara dari total pemilih 1 juta lebih, itu kan namanya kebangetan mas sawali…..sekaligus cerminan dia memang tak punya konstituen dan dukungan riil

  20. Pernah lihat di stasiun TV swasta yang memberitakan tentang kasus pilkada. Seorang calon yang gagal dan terlilit hutang akhirnya menjadi stress dan boleh dibilang sangat parah sampai gila keluyuran di jalan tanpa berpakaian layak dan mencoba bunuh diri. Memalukan jadi tontonan dan bahan tertawaan masyarakat. Hmmm… apa yang ada didalam otak mereka. Thanks

    @mikekono : begitulah akibatnya jika maju ke arena pilkada tanpa disertai kesiapan mental dan cadangan dana yang memadai.
    Terlalu berharap akan menang, akhirnya menuai kekecewaan mendalam. thanks mbak yulis

  21. sebuah artikel yang pantas untuk di renungkan
    ayadinata.com

    @mikekono : ahhhhh…..jd geer nih. thanks

  22. tuh kan, bang
    kalo nggak ada ‘apa2’nya setelah ‘jadi’, masak mereka mau susah2 dan bela2in utang sampai bejibun gitu.
    nggak heran setelah jadi, mereka jadi ‘preman’ buat rakyat, bukannya wakil rakyat.
    modalnya saja banyak, setelah jadi ya harus kejar setoran, hahaha…..
    mari ngopi, bang…selamat pagi !🙂

    @mikekono : ya begitulah faktanya, yang diharapkan membela rakyat, malah menjadi ‘preman’-nya rakyat. so, kopinya mana nih ?

  23. lha iya…betul sekali bang Mike…kalau gak di kalkulasi betul betul,baik dukungan,budget anggaran,dan kesiapan mental untuk kalah dan menang…saya khawatir..nanti malah nambahin jumlah orang stress…he..he.
    pokoknya,kalau pengalaman kami…nothing to loose,untuk ibadah,tapi kami juga rasional..ada hitungannya..gak boleh sampai mengganggu keuangan usaha….

    @mikekono : kelihatan sekali Bunda sudah punya pengalaman dan merasakannya sendiri.
    Betul bunda, mesti ada kalkulasi yang tepat dari segala lini, dibekali dengan kesiapan mental serta senantiasa bersikap nothing to loose supaya nggak stress sekiranya mengalami kekalahan.
    Best comment so far……matur sanget nuwun

  24. wah uang segitu,,, mending untuk buka usaha..
    berarti saya ga bakalan bisa daftar caleg, bupati, capres, dll ya ?
    lah saya ga mungkin punya uang segitu untuk dibagi-bagikan sebagai dana kampanye.
    #wajar ya banyak korupsi, kan mereka mo cepet balik modal setelah kepilih😀

    @mikekono : benar banget, uang segitu bagusnya tuk modal usaha dan buat biaya nikah….hehehee.
    btw, kl easy yang ikutan caleg, itu sih ngga bayar, karena akan bnyk ikutan nyumbang dan parpol juga senang bisa merekrut tokoh muda yg kapabel dan akseptabel sekaligus memenuhi kuota 30 persen perempuan😛

  25. lumayan buat cv dan diceritakan ke anak cucu🙂
    (satire)
    kadang suka aneh memang, mendengar debat calon atau wawancara caleg. mereka maju tanpa ada ideologi dan tujuan jelas yg ingin diperjuangkan. lalu berjuang untuk apa?

    @mikekono : cv yang tak perlu dibanggakan ! benar, para caleg bnyk tak pny visi dan misi yang jelas. Mereka berjuang utk partai dan dirinya sendiri. thanks

  26. hmmm….di daerah saya ada juga yang begitu, hasilnya memang kalah, soalnya dana ga cukup, g ada dukungan parpol otomatis promosi kurang padahal visi dan misinya bagus, selain itu juga udah ada bukti yg menunjukkan kalau calon tersebut bener2 bagus, sayangnya banyak orang yg g tau termasuk saya, saya baru tau malh sesudah pilkada😀

    @mikekono : idealnya visi misi dan kualitas calon bagus serta didukung pula oleh pendanaan yang kuat……thanks

  27. setelah kepilih biasanya kejar setoran tuh… weleh2… mo jd apa negeriku ini😦

    @mikekono : asik kejar setoran, akhirnya kesandung ama KPK….rasain ! 😀

  28. sebelum mencalonkan diri sebaiknya sudah tau apa seeh motivasinya,visinya,mau dibawa kemana nantinya,y9 past! sudah tau apa res!ko y9 akan terjad!,baik buruknya !stilahnya,jad! ket!ka nant!nya kalah ya jn9an kecewa,klu cuma mau nyuba2 car! keuntun9an dibalik ituh lebi!h ba!k jan9an dech,sayan9 uan9ya,leb!h ba!k dialokasikan pada sesuatu y9 ber9una..sayan9 loch uan9 bermilyar2 melayan9 hanya untuk sebuah ambis!..:)

    d! sumaban9kan malah leb!h bermanfaat wat ran9 la!n.hehheh..

    @mikekono : pas banget wi3nd, sebelum nyalon mestinya sudah dipikir dgn matang terlebih dahulu.
    Jadi, sebaiknya uang miliaran itu disumbangkan ke mana wi3nd ? sm kita berdua aja, atau dibagi sm mas ariefdj…….wekekekeeee

  29. saya paling gak suka sama caleg…(tapi gak semua sih..)
    jujur dalam hati saya … mereka ngeluarin modal banyak hanya untuk menghasilkan rupiah berpuluh juta….

    coba aja DPR gaji nya UMR masih banyak yang nyalon gak yah???

    lumayan loh kalo DPR digaji UMR dalam waktu 10 thn di indonesia bisa bikin jalan TOL gratis, jaringan kereta yang luas, jembatan merak lampung, jembatan bali jatim, alangkah senang nya bila semua itu terlaksana….

    @mikekono : waahhhh……kalau gaji DPR setara dengan UMR, hampir dapat dipastikan tidak akan ada yang mau menjadi anggota DPR…….heheheee

  30. Kaya gambling aja, untung2an main spekulasi perhitungannya pun ga mateng2 banget, yah begitulah gambarannya udah menjadi tradisi dunia politik di negeri ini selalu dijadikan lahan bisnis bagi segelintir orang yg ga puas2. modal berapa ??, untungnya berapa yah ??

    @mikekono : iya….seperti gambling aja. sungguh berbahaya dan merugikan rakyat, jika jabatan politis dijadikan lahan bisnis.

  31. Orang-orang yang nekad jadi Capres padahal nggak punya kans untuk menang ini ada dua kemungkinan : saking kuper-nya sehingga dilambungkan mimpi, atau sekedar memuaskan ego, cari popularitas dan sekedar membuat ‘catatan sejarah’ dalam hidup mereka (dalam biografi kan bisa ditulis : “pernah jadi capres” …. hebaaatt!).

    Saya juga heran, sekarang muncul banyak orang yang mencalonkan diri jadi capres, padahal sama sekali nggak punya track record yang memadai. Bahkan kita nggak kenal, mereka itu siapa? Benar-benar menggelikan, sekaligus memprihatinkan.

    Untuk menjadi seorang presiden, paling tidak kan harus punya pengalaman kepemimpinan di tingkat nasional, punya network atau dikenal dunia internasional, dan punya reputasi yang meyakinkan. Kalau di tingkat nasional saja nggak punya pengalaman, gimana nanti mau duduk semeja, melakukan diplomasi, lobby, negosiasi, dan perundingan berbagai permasalahan rumit dunia dengan kepala negara dari negara-negara lain?

    Heiran, heiraaan …

    @mikekono : betul mbak tuti, sungguh menggelikan memang wajah perpolitikan kita saat ini. Orang ramai ramai pengen nyapres, padahal dalam kalkulasi dan polling objektif, dia sebenarnya sama sekali tak punya peluang untuk menang.
    kl cuma untuk memuaskan ego pribadi, kan sayang mesti mengeluarkan uang yang jumlahnya tdk sedikit. semoga mereka segera sadar. daripada capek2 ikutan jadi capres, mending mereka ikutan sm kita ngeblog ria….iya kan mbak tuti. best comment so far

  32. Siapapun calonnya, yang pasti sukses itu Tim Suksesnya. Sukses ‘menghabiskan’ kekayaan sang calon, tul gak bang mike…heheheh

    @mikekono : tul itu. TS berprinsip, siapapun yg kalah, mereka hrs tetap menang.

  33. ada khan yang akhirnya jadi gila, nggak kepilih, hutang numpuk nggak bisa bayar

    @mikekono : iya benar, makanya sblm maju, berpikir dulu 1000 kali…..thanks mbak Ely

  34. Semangat boleh
    Nekad pun ga dilarang
    Tapi ya nekad yang pake strategi dan logika
    Masa mau bertanding untuk sebuah kekalahan….

    @mikekono : betul mbak Indira, masya’ nekadnya tanpa strategi, ya….hasilnya kalah melulu

  35. ban9..bolelah disumban9kan ke kita, mr.dije diajak ju9a dech..
    kita bikin yayasan untuk oran9 oran9 jompo,menolon9 mreka yan9 ditelantarkan anak2nya ju9a mreka yan9 teraba!kan

    *n9arep.net*
    hehheh…

    @mikekono : wow…..ide yg bagus tuh…..(*mikir.net)

  36. demokrasi..
    demokrasi..
    PILKADA emang buat PEMENANG (realitasnya)..
    namun sistem demokrasinya dah berada dijalur yang tepat..ITU YANG MESTI DIJAGAIN BIAR JANGAN SEMBRONO.
    hidup demokrasi…

    @mikekono : sistem demokrasinya sudah tepat, tapi pelaksanaannya masih sering amburadul dan sarat rekayasa…….thanks. horas, njuah-njuah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: