Korban Trial by The Press


Kepala Badan (Kaban) Infokom Pemprov Sumut Drs H Eddy Syofian MAP mengeluh pada saya, soal kecenderungan media massa yang terkadang sudah tak bisa dipercaya, karena beberapa di antaranya suka seenaknya sendiri dalam menyajikan berita.

“Beberapa hari lalu, ada sebuah media menulis, saya menggelapkan dana Infokom Rp 12 miliar,” katanya. Padahal, tambah Eddy, anggaran Badan Infokom yang dipimpinnya itu keseluruhannya tak mencapai angka Rp 12 miliar. Sungguh aneh, bukan ?

Hal senada juga pernah saya alami. Saya diberitakan media massa menggelapkan dana Rp 18 juta (jumlah yang relatif kecil). Tapi berita itu sungguh naif. Bagaimana mungkin menggelapkan dana Rp 18 juta, sementara dana yang saya terima dari Infokom cuma Rp 10 juta ? Betul-betul menggelikan.

Kalau pola pola pemberitaan sedemikian terus terjadi, dapat dipastikan media massa semakin tak bisa dipercaya. Media yang pemberitaannya suka hantam kromo tanpa didukung data akurat, selain tak bisa dipercaya, lambat laun pasti akan ditinggal para pelanggan dan pembacanya. 

Maraknya pemberitaan menjurus trial by the press itu, antara lain disebabkan pola rekrutmen wartawan yang amburadul (tak bisa wawancara dan tak mampu menulis pun bisa jadi wartawan) plus keberadaan media massa (utamanya di daerah) kebanyakan kembang kempis ; hidup segan mati tak mau.

Menurut pengakuan Eddi Syofian, dirinya sudah berkali-kali menjadi korban trial by the press. Dia sering dituduh terlibat korup, tapi faktanya tak pernah berurusan dengan aparat kejaksaan, sebab berita berita media itu cuma prejudice, tanpa didukung bukti yang sahih.

“Biarkanlah media menulis apa saja, saya sudah capek dan males menanggapinya. Nanti kan akan terbukti sendiri, mana yang benar dan mana yang cuma membual,” ujarnya.

Tapi, kan tak semua orang seperti Bang Eddy. Banyak orang lain yang merasa menjadi korban trial by the press dan pembunuhan karakter (character assassination), akhirnya terpaksa menggugat media yang seenaknya saja membuat berita-berita tak bertanggung jawab itu.  

Trial by the press bermakna membicarakan satu pihak secara bias, tidak membeberkan semua fakta, dan pemberitaan umumnya tidak berimbang.(Atmakusumah, 2007)

Harus diakui, keberadaan media massa memang sangat diperlukan sebagai lembaga kontrol terhadap kebijakan pemerintah, kinerja yudikatif dan legislatif. Tetapi jangan sampai fungsi kontrolnya menjadi bias dan didominasi kepentingan kepentingan subyektif.

Media massa hendaknya selalu melakukan check and balances, check and recheck, serta selalu mengkaji terlebih dahulu data (informasi) yang diterima sebelum menerbitkannya menjadi sebuah berita yang akan menjadi konsumsi publik.

Agar korban trial by the press tidak terus bertambah, media massa sebaiknya tidak dijadikan sebagai corong pihak pihak tertentu untuk menegasi dan membunuh karakter pihak lain. Pers mestinya concern dan konsisten berpihak pada kebenaran dan bukan sebaliknya selalu maju tak gentar membela yang bayar……?

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 16 Oktober 2008, in Budaya, Kehidupan, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 22 Komentar.

  1. Hmmm …. ( geleng2x kepala mode on )
    Karena kenyataan ” maju tak gentar selalu membela yang bayar ”
    Yang Bayar selalu yang menang dan benar …
    Wakssssssss kacauuuu

    @mikekono : iya nih bunda darren, nilai2 kebenaran sering dikamuflase akibat pengaruh uang. bener bener kacccaaau…………trims

  2. hum..dari judul atas yang di-bold aja udah ketauan isinya,hehhe..soal pers ya?huiks..saia anggap kadang mereka itu menjengkelkan..:(

    @mikekono : memang masih ada pers yg bagus, tp sebagian, sprti yg mada bilang, sering bikin jengkel……!

  3. susahnya sebuah kejujuran ya bang..pers aja udah ogah jujur dalam menulis…

    @mikekono : untung masih ada ibundanya Tangguh, yg sll jujur dlm menulis.

  4. Pers memang sangat ampuh untuk membentuk sebuah opini publik. Namun sebagai konsumen pers yang cerdas, seyogianya kita harus selalu dapat membentuk opini sendiri yang bebas bias. Memang tidak mudah, karena manusia selalu mempercayai segala macam yang ditulis oleh media yang berbasis ‘kelompoknya’. Apalagi kalau kita tidak menyaksikannya sendiri.

    Bagaimana sebaiknya?? Ya… mulailah kita berfikir bahwa pers tidak 100% obyektif walaupun tidak juga 100% subyektif. Nah, kini mulailah dari yang kecil dulu….. seperti contoh: jangan pernah percaya 100% akan keobyektifan pada komen saya ini, karena saya toh juga tak bebas dari kesalahan dan bias hehehe…..:mrgreen:

    @mikekono :karena ampuh membentuk opini publik, berbagai pihak sering berusaha menunggangi pers utk menjadi corong politik/ kepentingannya. so, benar kita mesti kritis dlm menyikapi pers. thanks my friend

  5. Kebebasan press-nya jadi kebablasan dan menghalalkan segala cara untuk dapat berita….ini soal mental sumber daya manusianya bang…bobrok

    @mikikono : betul sekali mbak indira, sayangnya mental SDM yg bobrok itu tak kunjung diperbaiki. thanks.

  6. serba salah memang,satu sisi kita membutuhkan media pers,satu sisi lagi kadangkala pemberitaan mreka berlebihan& tak sesuai,sebenarnya jika sajah para wartawan ituh bisa membedakan mana yang benar&mana yang ridak tentu sangad membantu,tp jika suda muda tersuap oleh uang ya lain lagi ceritana..

    semo9a sajah mreka para pewarta berita mampu meyebarkan berita yang tak sembarangan,sehingga tak merugikan orang lain..

    *nyambung nda seeh bang?
    lagi nda conect neeh otakna hehe

    @mikekono : betul wi3nd, jd serba salah….kita butuh media, tp medianya kadang tak objektif. Makanya kita mesti selektif. ngga usah sungkan2, komennya nyambung sekale kok wi3nd.

  7. Awak setuju dengan Bang Mike, trial by press harusnya dihindari setiap wartawan.

    Harusnya seorang wartawan bercermin, bagaimana kalok seandainya dia atau anggota keluarganya yang menjadi korban trial by press. Pasti menyakitkan.

    @mikekono : betul mas gus, mestinya wartawan hati2 dan berempati. jangan hantam kromo sj, tnp dicrosscheck terlebih dahulu

  8. saya pernah dengar ada istilah wartawan bodrex, wartawan yang hanya ingin cari duwit dan cari sensasi. bisa juga lantaran si wartawan merasa tdk suka terhadap orang tertentu sehingga menulis berita asal jadi tanpa melalui proses jurnalistik secara benar. meski demikian, saya tetep salut dan angkat jempol kepada kawan2 jurnalis yang tetep mengedepankan idealime sebagai kekuatan kontrol dan sebagai pilar ke-4 demokrasi. kalau terjadi “penghakiman” sepihak oleh wartawan bodrex semacam itu, alangkah baiknya jika langsung kontak kepada pimpinan media yang bersangkutan untuk memperjelas persoalan supaya ada revisi berita sehingga tak terjadi pembunuhan karakter.

    @mikekono : iya nih mas sawali, wartawan bodrex itu memang bnyk berkeliaran utamanya di daerah. sayangnya, PWI dan institusi media tak punya daya untuk membasminya. Mestinya pihak media melakukan selfcencorship secara ketat trhdp berita2 yg akan diterbitkan, dan jgn hny percaya spnuhnya pd wartawannya.

  9. Masalahnya, ilmu pertama yang dicekokin kepada para wartawan adalah, “Mulai dari curiga dan tak percaya”. Pertanyaan pun diarahkan sesuai “pesan” entah dari siapa.

    Syukur kalau kita ditanya dengan lengkap, yang sering, cuma ditelepon, basa-basi tanya sedikit, besoknya muncul tulisan yang isinya tak ada hubungannya dengan yang ditanya sebelumnya. Memang muncul nama nara sumber, tapi isinya ya sesuai “pesan” entah dari siapa.

    Kalau wartawan tidak bisa menaikkan “rating” berita, jangan harap akan naik jabatan dan dapat bonus. Jadi berlomba-lombalah para wartawan mencari berita sensasi. Seperti itu, anggaran total tak sampai 12 milyar, ditulis menggelapkan 12 milyar.

    Kadang antara judul berita dengan isinya jauh sekali isinya. Ketika kita tanya kok nulisnya begitu, sang wartawan enteng saja menjawab, “Ah kan cuma judul aja”.

    Yang kasihan keluarga, anak, istri, suami, yang kadang tidak tau kebiasaan media. Ada anak yang sampai tak mau masuk sekolah karena bapaknya diberitakan seperti topik posting itu.

    Sering terjadi “pembunuhan karakter”, mereka enteng bilang, “Kan ada hak jawab”.
    Apalah artinya lagi “hak jawab”, kalau reputasi sudah hancur, karena berita yang bombastis.

    @mikekono : benar sekali pndpt lae togar, bhw oknum wartawan sering membuat judul berita bombastis dan tak sesuai dengan isi. Sering pula berita diterbitkan didasari sikap benci dan tendensius. sudah saatnya anak2 diberi pemahaman bhw berita2 di media itu tak selalu benar, agar mrk tak mudah ikutan slh menilai orgtuanya. Soal hak jawab juga sering bikin kecewa, karena porsi pemuatannya srng tak seimbang. so, memang sudah selayaknya pemberitaan yang keliru dilimpahkan sj ke aparat penegak hukum untuk menimbulkan efek jera. horas, njuah-njuah lae

  10. Kalo pengacara kan emang membela yang bayar dia kang …

    @mikekono : lha iya, kl pengacara umumnya emang begitu

  11. sama seperti blogger..
    hendaknya menulis dan menganalisa sesuatu yang benar ya bang..
    jangan sampe karena tulisan kita malah mengompori sebuah berita yang belum jelas asal usulnya

    @mikekono : iya begitulah kira-kira……jangan smp gara2 sepele, kompor mleduk. heheheee

  12. Jaman sekarang mataduitan.. ada uang ada barang tak ada uang abang ditendang..hm
    http://www.asephd.co.cc

    @mikekono :betul mas kaka, uang sering membikin buta dan tuli

  13. Wah… mereka itu yang asal tulis dan fitnah mesti dikasih pelajaran tuh Bang.

    Tapi juga serba-salah, karena jika masuk ke court juga butuh duit dan kadang hasilnya malah bikin tambah geregetan lagi.

    Sekarang sih cuman bisa berharap, semoga para pembaca lebih arif dan bijak untuk membedakan mana yang berita benar dan mana yang berita ga bener alias fitnah.

    Be strong, jika berada di jalan yang benar jangan pernah surut dan takut, Allah selalu bersamamu. thanks and take care bro.

    @mikekono : sebenarnya pernah terbersit keinginan memberi pelajaran, tp setelah dipikir2, malah akan semakin ribet. takutnya lapor kehilangan ayam, bisa2 malah kehilangan kambing alias berat diongkos. akhirnya sy mengikuti saran mbak yulis, kl memang benar, mengapa mesti takut ? biarlah mereka yang menanggung beban dosanya. thanks.

  14. saya setuju aja , tulisannya bagus penuh warna dan kritik.

    @mikekono : jgn asal setuju aja mas, heheheee. tks

  15. [o0T]

    ban9 mike ada award diambil yakh……??

    makasiihh..;)

    @mikekono : oke win3nd, segera meluncur dengan zemangad 45

  16. kalo pers beneran sih, lebih imbang.. yang sering ngawur mah, ynag cuman punya koran-koranan doang..dimana korannya itu, gratis ajahbelom tentu ada yang ambil utnuk dibaca..

    @mikekono : betul tuh mas, yg serba gratis, biasanya emang kurang mutu. koran….koran (an)

  17. bang Mike,,,bener tuh kata pak Sawali,,,wartawan Bodreks…atau apalah itu namanya. Memang mereka itu di buang/dijauhi …sayang/eman…tapi di sayang…sok sok salah kaprah.
    Waaah…apalagi kalo jadi seleb or seseorang yang Top. Memang jadi sasaran.Merka kadang cuma cari judul dan isi yang Bombastis dan cerita yang kadang kadang…diambail tidak Balance…he..he…Biar laku kali ya…Maap buat rekan rekan media yang sudah profesional dan proporsional

    @mikekono : iya bunda, wartawan bodrex itu bukannya memulihkan sakit kepala sprti bodrex, tp malahan bikin mumeth. tapi lambat laun masyarakat pembaca akan bs melakukan seleksi sendiri sehingga media tak bertanggungjawab itu akan padam dengan sendirinya. thanks bunda yg arif dan wicaksono

  18. Era sekarang ini adalah era informasi Bang. Siapa yang memiliki kekuatan di bidang informasi, dia akan bisa menguasai dunia. Setiap mass media pasti punya visi dan misi masing-masing. Meskipun mereka berusaha untuk balance dan fair, tetap saja unsur subyektivitas itu ada, meskipun dalam kadar yang relatif rendah.
    Tapi mudah kok mengenali mass media yang isinya cuma gosip dan media yang balance.
    Benar, doktrin di dunia jurnalistik kadang-kadang memang ‘gila’. Misalnya : orang digigit anjing itu bukan berita, tapi orang menggigit anjing, itu baru berita.
    Pokoknya, bikin judul berita yang heboh dan sensasional. Itu ciri khas mass media murahan.

    @mikekono : kelihatan sekali kalau mbak tuti sangat paham soal media, komennya tak kalah dengan pemikiran praktisi media Jacob Oetama dan Goenawan Mohamad. Mantep sanget. Thanks my sist

  19. setuju ma tutinonka, kadang dari judul aja suka menipu

    @mikekono : betul nin, judul tak sesuai dengan isi, hingga sering bikin kecele.

  20. pada akhirnya jujur adalah sebuah kemauan…
    kesadaran tuk hidup jujurpun tak mampu menjadi nyata jika tanpa kemauan tuk jujur itu sendiri.. gitu ga sih mas?😀

    @mikekono : betul itu ukhti…..kunci dalam menjalani kehidupan adalah adanya tekad dan kemauan nyata utk selalu bersikap dan bertindak jujur. syukran katsir

  21. sudah jadi budaya nasional bangsa indonesia…yang punya duit yang berkuasa

  22. di negara lain juga cuma begitu. Mereka lebih ingin menjual daripada memberitakan. Sayangnya masyarakat sendiri juga asal lahap dan tidak berpikir panjang dalam mencerna berita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: