Monthly Archives: Oktober 2008

Dari Besan SBY Hingga Adik Mega


Ada apa dengan besan SBY hingga adiknya Mega ? Keduanya kini sama-sama sedang kesandung masalah. Besan SBY (Aulia Pohan) baru saja ditetapkan sebagai tersangka, sementara adik Mega (Sukmawati Soekarnoputri) dilaporkan ke pihak berwajib karena diduga terindikasi ijazah palsu.

Penetapan status tersangka besan SBY serta dugaan ijazah palsu adiknya Mega itu memang tidaklah berhubungan langsung dengan SBY dan Megawati. Keduanya sama-sama tidak dalam posisi terlibat di dalamnya.

Tetapi dalam konteks semakin dekatnya Pemilu 2009, hampir dapat dipastikan kedua peristiwa tersebut akan berimplikasi politis bagi SBY dan Megawati atau setidaknya akan dijadikan ‘peluru’ oleh lawan-lawan politik kedua figur yang disebut-sebut paling tinggi ratingnya saat ini serta diprediksi kembali akan bersaing ketat pada Pilpres 2009.

Status tersangka sang besan serta dugaan pemalsuan ijazah yang disangkakan kepada Sukmawati, bisa jadi akan menjadi ‘bola liar’ serta dijadikan sebagai materi kampanye untuk mendiskreditkan SBY dan Megawati. Dalam ranah politik, hal demikian sah dan wajar-wajar saja. Hal yang sama juga terjadi di AS dan hampir seluruh penjuru jagad.

Namun kasus itu tidak akan memberi side effect negative bagi SBY dan Mega, jika mereka bisa memenej serta menyikapi peristiwa tersebut dengan arif dan bijaksana. Dalam hal ini SBY kelihatannya lebih siap dan piawai dalam melakukan manuver politik cantik dan kalkulatif.

Dengan penetapan status tersangka terhadap besannya itu, SBY seakan ingin menegaskan dalam pemerintahannya, penegakan hukum (law enforcement) dilakukan tanpa pandang bulu, kendati dia secara pribadi mengaku sedih melihat nasib besannya itu.

Adapun Megawati seperti biasanya terlihat lebih suka bersikap low profile serta tidak mau mengumbar komentar berlebihan di media. Barangkali istri Taufik Kiemas dan ibunda Puan Maharani ini lebih suka banyak bekerja di lapangan, bertemu konstituen, ketimbang asyik tebar pesona.

Kendati demikian, kita berharap kasus yang menimpa besan SBY dan adik Megawati tersebut, tidak dijadikan sebagai bahan black campaign pada Pilpres 2009 mendatang. Biarkanlah rakyat yang memberi keputusan dan menyimpulkan sendiri….!

Rakyat Indonesia sudah cukup pintar dan paham, bagaimana cara yang tepat dalam menjewer serta memberi hukuman kepada para pemimpinnya !

Iklan

Bertanding untuk Kalah


Bertanding untuk kalah….! Itulah fenomena yang mencuat dalam pelaksanaan sejumlah pemilihan kepala daerah (Pilkada) di tanah air belakangan ini. Pada Pilkada Kabupaten Deli Serdang Sumut, Minggu kemarin misalnya, dari 1 juta lebih pemilih, ada pasangan calon cuma memperoleh 5 ribu suara. Sungguh tragis dan memalukan, bukan !   

Begitulah konsekuensi yang mesti diterima sang calon kepala daerah yang terjun bebas ke gelanggang Pilkada. Mereka mengikuti Pilkada, tanpa didukung analisis SWOT, serta persiapan memadai baik dari aspek pendanaan maupun kejelasan basis massa pendukungnya.

Kalau tak punya basis massa signifikan, dana yang kuat, tak pula didukung mesin parpol yang kuat dan bekerja efektif, masih juga berambisi ikut Pilkada, itu kan sama saja dengan bertanding untuk kalah. Sudah tahu bakal kalah, masih ngotot maju, ya sudah…..tahankanlah risikonya.       

Kalau dalam arena tinju profesional, bertanding untuk kalah konon sering terjadi. Tujuannya untuk memperoleh uang yang jumlahnya lebih banyak dari bayaran semula atau sengaja kalah, karena telah disusun sebuah pertandingan rematch, yang dipastikan akan lebih menarik dan mengundang lebih banyak penonton.

Sementara dalam Pilkada, bertanding untuk kalah, selain akan menuai kekecewaan dan beban psikologis selama bertahun-tahun, dapat dipastikan juga menguras pundi pundi keuangan pribadi dan organisasi. Kalah dalam Pilkada bisa bikin bangkrut.

Pasalnya, dana yang mesti disiapkan untuk mengikuti Pilkada jumlahnya tidak sedikit. Coba bayangkan, jika sang calon menggunakan ‘perahu’ parpol. Untuk satu parpol, setidaknya mesti setor Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar. Itu baru untuk satu parpol, bagaimana kalau 2, 3, atau 10 parpol ?

Sementara kalau menempuh jalur independen, seorang calon kepala daerah mesti mengumpulkan bukti dukungan dari sekitar 15 ribu warga (disesuaikan dengan jumlah pemilih) dengan menyertakan fotocopi KTP. Coba hitung kalau satu dukungan mesti dibayar Rp 50 ribu, berapa dana yang harus disediakan.

Belum lagi kalau dihitung dana harus dikeluarkan untuk atributisasi, kampanye, iklan, dana saksi, dan berbagai tetek bengek lainnya. Dapat dipastikan, seorang kandidat kepala daerah akan menghabiskan dana miliaran rupiah untuk keperluan pencalonannya itu. Umumnya dana berasal dari kocek pribadi dan beberapa di antaranya dari relasi dan sponsor.

Kita berharap fenomena Pilkada yang melahirkan implikasi negatif bagi kandidat yang terjun bebas itu,  bisa dijadikan pelajaran oleh para tokoh di tanah air saat ini, yang lupa berkaca, dan ramai-ramai ingin menjadi capres. 

Kalau sedari awal sudah menyadari, tak punya uang serta tak memiliki basis massa riil, tak usahlah ikut-ikutan nyapres. Kalah dengan selisih suara tipis, itu namanya kalah terhormat dan tak perlu disesali. Tapi kalah dengan babak belur ; tanpa memperoleh suara signifikan, merupakan sebuah kebodohan, karena ikut bertanding walau sudah tahu bakal kalah.

Maya bikin ‘Orgasme’


Maya bikin ‘orgasme’ ? Ahhh……Maya yang mana nih ? Maia Estianti, Maya Hasan, Maya Luna, Maya Sopha, Maya KDI, Maya Rumantir, Maya Angelou, Maya putri Pak Lurah, atau Maya yang manakah gerangan ?

‘Orgasme’ atau puncak kenikmatan tertinggi yang saya reguk beberapa hari ini bukan karena sajian khusus yang dipersembahkan perempuan bernama Maya, melainkan menikmati kepuasan atau titik kulminasi setelah beberapa lama bermain di Dunia Maya.

Kemarin saya merasa ‘orgasme’ , karena tulisan saya bertajuk “Merindukan Meutya Hafid sebagai Presenter’ selain mendapat sambutan antusias dan komentar beragam dari rekan-rekan blogger, juga memperoleh tanggapan langsung dari objek tulisan itu, yakni Meutya Hafid.

Dalam komentarnya, Meutya menyatakan dirinya sangat tersanjung, terharu, sekaligus menitikkan air mata dengan adanya postingan itu, yang kemudian memunculkan berbagai tanggapan, apresiasi, dan dukungan dari kalangan pembaca dan rekan rekan para blogger.

Demi menghargai independensi jurnalis, saya harus memilih menjadi seorang jurnalis atau politisi. Saya tidak mungkin memilih keduanya. Saya menghargai kerinduan teman-teman. Dengan titik air mata, saya pamit sebagai seorang jurnalis,” kata Meutya Hafid dalam komentarnya.(Lihat dalam kolom tanggapan)   

Wow…….seorang Meutya Hafid mengaku sampai menitikkan air mata sekaligus memberikan apresiasi positif terhadap sebuah postingan, sungguh mengharukan dan membahagiakan. Wajar jika saya merasa tersanjung sekaligus tanpa sadar mengalami ‘orgasme’.

Saya juga merasakan ‘orgasme’ saat blogger junior dalam usia tapi senior di dunia perbloggeran, Afwan Auliyar, memilih Mikekono ke dalam top five blog yang direview-nya pekan ini. Apresiasi yang sama juga dilakukan Bunda Dyah Suminar, Tutinonka, Yessy Muchtar, Easy, yang beberapa kali menyinggung Mikekono dalam beberapa tulisannya.

Seorang Bunda Dyah Suminar, yang notabene merupakan istri Walikota, menyinggung nama saya dalam postingannya, sudah pasti merupakan sebuah kehormatan. Padahal di Medan, kalau mau jumpa istri Walikota,  ngantri berjam-jam pun belum tentu bisa ketemu. Lewat dunia maya, saya bisa bertemu ibu Dyah Suminar setiap saat.    

Orgasme yang saya maksudkan dalam tulisan ini, tentu bukanlah kenikmatan seperti saat menelusuri tubuh mulus dan sensual Monica Bellucci, Madhuri Dixit atau Jennifer Lopez serta membaca tulisan-tulisan bombastis di 17 tahun.com, tetapi orgasme dalam makna merasakan kenikmatan teramat sangat dan membuai, dalam dimensi spiritual.       

Sejujurnya sejak terjun ke dunia maya sebagai seorang blogger, secara material saya mengalami kerugian, sebab seringkali kecanduan blogwalking atau berlama-lama di depan laptop, sampai-sampai sering menyebabkan abai makan siang dan alpa mencari tambahan rezeki di luar.

Tetapi ngeblog memberikan kebahagiaan dan ‘orgasme’ yang berbeda citarasanya. Bisa bersahabat dan berkomunikasi secara intens dengan rekan-rekan blogger, yang beraneka ragam profesi, merupakan sebuah kemewahan dan kenikmatan yang tak bisa dirupiahkan…..!

Jangan Terlalu Berharap pada Obama


Tanpa bermaksud mendahului kehendak Tuhan, Barack  Obama (47) tampaknya akan melenggang mulus meraih kemenangan pada Pilpres AS pada 4 November nanti. Hampir semua polling mengunggulkannya. Bahkan mayoritas masyarakat dunia pun sudah tak sabar ingin melihatnya berkantor di Gedung Putih.

Karena pesaingnya John McCain diidentifikasi sebagai fotocopi Presiden Bush, memang sangat wajar jika masyarakat dunia yang cinta perdamaian, utamanya warga Indonesia lebih suka jika pria yang di masa kecilnya pernah mukim di Jakarta itu, tampil menjadi Presiden AS berikutnya.

Obama akan lebih baik dibanding McCain, sepertinya sukar untuk dibantah. Tetapi, ada satu hal yang patut dicermati berkenaan dengan merebaknya Obama-mania di kalangan masyarakat dunia saat ini. Yakni ekspektasi (harapan) pada Obama jangan sampai menjadi bias dan terlalu berlebihan.

Dengan kata lain dibandingkan dengan Bush yang pemberang dan lebih suka mengandalkan otot ketimbang otak itu, Obama memang jauh lebih beradab dan kemungkinan akan lebih akomodatif, demokratis dan bisa diajak berdiskusi secara santun dan rasional.

Tetapi patut diingat, saat duduk di White House nanti, Obama adalah Presiden Amerika Serikat. Kebijakan presiden negeri Paman Sam itu tentu tidak bisa bergerak menuruti alur pikirnya sendiri. Dia akan sangat banyak tergantung pada masukan negara sekutunya, pengaruh dan tekanan Kongres, plus kekuatan lobi Yahudi.

Hal itu bermakna, secara umum suami Michelle Obama ini tetap akan menjelma seperti para pendahulunya– kecuali Bush yang memang agak lain sendiri–karena sering selalu suka hantam kromo seenak udelnya dewe.

Indikatornya bisa dilihat dari statetement Obama beberapa waktu lalu. Dia menyatakan, jika terpilih menjadi presiden, AS akan keluar dari Irak, tetapi akan terus melanjutkan perang dengan Afghanistan dan Pakistan, mengeringkan dukungan dan memerangi teroris serta mengamankan tanah air.

Afghanistan dan Pakistan adalah negeri muslim. Teroris selama ini juga selalu diidentikkan dengan Islam. Saat Bush menjadi presiden, dia dikenal sebagai sosok yang sangat anti-Islam. Obama walaupun kelihatannya akan lebih kompromistis, bila dicermati dari statementnya di atas, ternyata masih tetap memandang negara (Islam) sebagai ancaman….?

Atas dasar asumsi demikian, ekspektasi berlebihan pada Obama akan berimbas kekecewaan. Jangan terlalu berharap, Obama akan membela kepentingan Indonesia atau lebih membela Palestina dibanding Israel. Obama cuma Presiden AS, dia bukan Presiden-nya dunia. So, pasti dia akan selalu melindungi dan lebih mengutamakan kepentingan AS serta para sekutunya.

Sama halnya saat SBY-JK terpilih memenangkan pilpres 2004 lalu, banyak kalangan memendam harapan tinggi, keduanya akan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memerangi korupsi hingga ke akar-akarnya.

Tetapi, faktanya dalam penilaian mantan Ketua MPR-RI Amien Rais, pemberantasan korupsi masih  tebang pilih, bahkan Istana pun tak luput dari dugaan keterlibatan korupsi. Selanjutnya Indonesia menjadi bahan kenduri korporasi asing. “Perkebunan, pertambangan, perbankan, pertelekomunikasian kita, kini dikuasai pihak asing,” katanya.

KITA memang sudah terlanjur terpesona dan ikut merasa senang jika Obama tampil sebagai pemenang pilpres AS. Tetapi, agar kelak tidak memendam kekecewaan mendalam, janganlah terlalu banyak berharap pada Obama. Dia tak lebih baik dari Hillary Clinton. Obama baru sebatas piawai bicara dan berdebat,  tapi belum pernah membuktikan apa-apa….!   

Merindukan Meutya Hafid sebagai Presenter


Presenter yang keren, memesona, cerdas dan selalu tampil penuh percaya diri itu telah berpamitan karena ingin membuka ‘ladang baru’ di ranah politik. Ya Meutya Hafid, kini beralih profesi menjadi politisi.

Dia dipercaya sebagai calon anggota legislatif DPR-RI dari Partai Golkar daerah pemilihan Sumatera Utara I pada nomor urut 2. Bisa jadi, keputusan dan keberhasilannya meraih posisi lumayan strategis itu, sangat banyak dipengaruhi bossnya Surya Paloh, yang notabene adalah Ketua Dewan Penasihat partai paling berkuasa di zaman Orba itu.    

Tapi, soal kapasitas, so pasti Meutya memenuhi segala persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi wakil rakyat di Senayan. Dia bersahaja, intelek dan jauh lebih cantik dari Oprah Winfrey. Rekam jejaknya sebagai jurnalis juga kinclong. Pengalamannya pernah disandera selama tiga hari oleh Mujahidin Irak tahun 2005 lalu dan meraih Australian Jurnalism Award, semakin menambah bobot CV-nya. 

Namun sejujurnya, saya dan banyak orang sejatinya lebih merindukan dan mengidolakan Meutya Hafid sebagai seorang presenter Todays Dialog, pemandu acara Debat Kandidat yang bijak, serta jurnalis yang piawai mengorek informasi eksklusif dari narasumber, ketimbang sebagai politisi.

Dalam posisinya sebagai presenter, seperti halnya Rahma Sarita dan Tina Talisa, Meutya selama ini merupakan milik semua kalangan. Akan menjadi sangat jauh berbeda kalau sudah terjun ke kancah politik.

Dia akan mengejawantah menjadi sosok yang ‘lain’, diidentifikasi sebagai asetnya Partai Golkar, selanjutnya bisa jadi akan terus mengalami metamorfosis sehingga tanpa disadari kehilangan jatidirinya sebagai figur yang terbiasa kritis dan objektif menyikapi setiap masalah.

Pada tahapan berikutnya niscaya Meutya akan lebih banyak mengedepankan visi misi partainya dan dikhawatirkan sekadar dimanfaatkan sebagai vote getter, di tengah kondisi aktual partai berlambang beringin itu, yang menurut berbagai survei mutakhir, bakal mengalami penurunan perolehan suara signifikan pada Pemilu 2009 mendatang. 

Indikator bakal anjloknya persentase perolehan suara Partai Golkar itu, antara lain dikaitkan dengan fakta hampir semua calon kepala daerah yang diusung mereka pada Pilkada mengalami kekalahan. Di sisi lain, disinyalir terdapat faksi-faksi di tubuh partai yang dinakhodai Jusuf Kalla tersebut. 

Kalau benar begitu,  peluang Meutya memperoleh kursi legislatif sangatlah kecil. Kendati Partai Golkar juga sudah menerapkan sistem suara terbanyak yang awalnya dipelopori PAN, sukar bagi perempuan kelahiran tahun 1978 itu untuk bersaing dengan para caleg Golkar lainnya yang sudah ‘karatan’ dan malang melintang di lapangan ‘becek’ maupun ‘kering’.

Tetapi, semuanya sudah terjadi, Meutya sudah memutuskan pilihannya menjadi politisi. Semoga pilihan itu membahagiakannya. Begitupun, saya dan banyak orang masih sabar menunggu…. serta akan senantiasa merindukanmu sebagai presenter.

“Jeruk Makan Jeruk”


‘Jeruk’ makan ‘Jeruk’ , begitu ungkapan yang sering dipakai, untuk menggambarkan sikap seseorang yang penuh kepalsuan alias suka teriak soal pentingnya penegakan moral, padahal dia sendiri adalah serigala berbulu domba yang lebih sering ‘bernafas dalam lumpur’.

Jeruk makan jeruk adalah ungkapan lain dari maling teriak maling. Di zaman yang semakin edan ini, sangat banyak ditemukan kualifikasi manusia yang sukses mengidentifikasi diri sebagai sosok panutan di tengah masyarakat.

Dia dicitrakan sebagai figur taat beragama, rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, dan suka membantu sesama, tak tahunya semua itu kamuflase belaka. Sejatinya, dia adalah seorang bandit, maling yang kebetulan saja dilindungi mbak Dewi Fortuna, sehingga kepalsuannya belum terungkap.

Dua hari jelang lebaran lalu, seorang teman berstatus sebagai anggota DPRD Sumut, dibekuk polisi karena ketangkap tangan mengkonsumsi shabu-shabu. Banyak orang terkejut dengan peristiwa itu, karena oknum anggota dewan yang ditangkap itu, selama ini dikenal sebagai aktivis partai berasasaskan agama dan sering menekankan soal pentingnya moralitas dan pemantapan akhlakul karimah.

Pasca penangkapan, banyak rekan-rekannya sangat menyayangkan kelakuan oknum dewan berstatus terhormat tersebut. Cilokonya yang bereaksi lumayan vokal ini, kelakuannya sebenarnya hampir sama saja dengan rekannya yang ketiban sial itu. Kepada mereka ini patut kita serukan : “jangan jeruk makan jeruk lah”.

Berangkat dari fenomena itu, saat ini sangat sukar untuk memastikan siapa sesungguhnya benar-benar clean dan terbebas dari perilaku biased. Walikota Medan Drs Abdillah Ak dan Wakilnya Dr Ramli saat ini boleh-boleh saja menjadi pesakitan karena kesandung kasus korupsi dan telah divonis bersalah.

Pertanyaannya, ketika beberapa kepala daerah lainnya belum tersentuh KPK dan aparat penegak hukum lainnya, apakah bisa dipastikan mereka sudah terbebas dan bersih dari dugaan korupsi dengan modus yang sama seperti dituduhkan kepada Abdillah-Ramli…? ohhhh….no…., no way.

Saat ini para kepala daerah, anggota legislatif, yudikatif, dan pejabat lainnya boleh-boleh saja senyam-senyum dan tidur nyenyak karena untuk sementara lolos dari KPK. Hal itu mestinya dijadikan semacam warning agar lebih berhati-hati dan segera melakukan self-censorship.

Jangan sebaliknya, mentang-mentang tak terendus KPK, kemudian berperilaku bak jeruk makan jeruk ; mempersoalkan maraknya korupsi dan penyimpangan moral, padahal dia sendiri seorang koruptor yang tak bermoral. 

Kalau merasa diri juga maling, bagus banyak diam saja, seraya segera melakukan introspeksi dan perbaikan diri secara menyeluruh, agar benar-benar terbebas dari kejaran KPK, dan yang lebih penting terhindar dari azabNYA nan teramat pedih.

‘Bencana’ Award


Tahukah Anda siapa Divya Bharti ? Hampir bisa dipastikan hanya segelintir, atau bahkan tak ada yang pernah mendengar nama itu. Kalau disebut nama Kajol, Kareena Kapoor, Rani Mukherjee, Aishwarya Rai, atau Priyanka Chopra, mungkin masih banyak yang tahu.

Divya Bharti adalah artis Bollywood seangkatan dengan Kajol, Raveena Tandon, Karishma Kapoor, Juhi Chawla, Manisha Koirala dan Urmila Matondhkar. Dia memulai debutnya di jagad perfilman India pada usia teramat muda, 16 tahun.  

Setelah sukses di industri film daerah (Telugu) tahun 1990-1991. Pada 1992, Divya menjejakkan kakinya di Mumbai, Bollywood dan meraih sukses besar lewat film debutnya Vishwatma (bersama Sunny Deol) dan Shola Aur Shabnam (bersama Govinda).

Sejak sukses dalam debutnya itu, sepanjang tahun 1992-1993, sedikitnya terdapat sekitar 15 film yang dibintangi artis kelahiran tahun 1974 ini dan hampir semuanya meraih sukses. Salah satu di antara filmnya yang super hits adalah Deewana, bertrio dengan aktor beken Rishi Kapoor dan Shahrukh Khan.  

Berkat kesuksesan yang sangat mencengangkan itu, Divya diganjar sejumlah award serta dipuji semua kritikus film dan sineas di negeri sungai Gangga itu. “She’s the most promising newcomer, innocence and a perfect figure,” kata Pehlaj Nehalani, produser terkenal. “Now, she’s a star,” puji sutradara Lawrence D’Souza.

Setelah rupa rupa award didapat dan pujian setinggi langit nyaris setiap hari menghiasi media, Divya Bharti ternyata tak kuat menahan beban mental pencitraan dirinya sebagai perfect figure serta seorang megastar yang harus selalu tampil ramah dan charming.

Akhirnya bak petir di siang bolong, terbetik kabar mengejutkan dan menggegerkan seantero India. Pada 5 April 1993, Divya ditemukan tak lagi bernyawa di apartemennya di Mumbai. Dia mati muda, dalam usia sangat belia, 19 tahun. Konon, artis yang tengah melesat bak meteor ini meninggal karena bunuh diri. Sungguh tragis.

So, sebuah kesuksesan atau award yang sering didapat bisa jadi akan menjadi bencana, bila tidak disikapi dengan arif wicaksono. Award akan berujung bencana kalau tak dimaknai sebagai sebuah tantangan dan sugesti untuk meraih prestasi lebih baik, dan lebih baik lagi.

Beberapa hari lalu saya beruntung mendapat award Briliante Weblog dari rekan blogger, Wi3nd (yang baru kenal sebatas penerawangan).Tapi hal itu tak penting sangat. Cuma setahu saya, beliau adalah seorang gadis baik budi, cerdas, lucu, selalu ceria, dan senantiasa berupaya dekat padaNYA.

Saya akan berupaya sekuat tenaga agar award yang diberikan Wi3nd tidak akan menjadi ‘bencana’  bagi saya, seperti menimpa Divya Bharti, melainkan akan semakin menambah zemangad dalam berkreasi, sesuai dengan pesan gadis penyuka harum hutan itu.

Sebelumnya seorang teman lainnya Easy, yang produktivitasnya mustahal ditandingi dan untuk itu dia diganjar ‘pahala’ selalu masuk kategori blog pilihan Blogdetik.com, dalam postingannya juga pernah memberi apresiasi dengan menyebut saya sebagai salah satu rujukan dalam soal politik serta menyertakan tagline blog Mikekono sebagai 13 tagline menarik.

Teman blogger lain, Yessy Muchtar juga pernah menyatakan, blog saya termasuk ke dalam 10 blog yang mencerahkan hari-harinya. “Ulasan politik Mikekono menarik dibaca, tanpa perlu mengernyitkan kening,” kata ibunda Tangguh ini.

Saya juga merasa tersanjung dengan apresiasi yang diberikan Mbak Yulis (perempuan ramah, santun, baik budi, asal Magetan yang berdomisili di Colorado bersama suami tercinta Marvin). Mbak Yulis menampilkan link headline tulisan terbaru saya di blognya bersama 12 blogger lainnya. “Thanks so much, my sister”. 

Semoga tradisi pemberian award dan apresiasi yang diberikan sesama blogger itu akan memberi manfaat positif dan bisa semakin mempererat tali persahabatan di antara kita semua. Amien.   

Thanks mbak Yulis, Yessy Muchtar, Wi3nd, matur nuwun sanget Lies ‘Easy’ Surya, thanks….., thanks, thanks for all. Syukran katsir, syukriya, namaste, gracias, horas, mejuah-juah, njuah-juah. (jadi kebayang saat Robert de Niro mengucap sepatah dua kata ketika menerima piala Oscar……heheheeee).

NB. Agar tak menimbulkan kesan kurang obyektif dalam memilih dan setelah menerima wangsit dari ‘guru’ spiritual saya mbak Tutinonka, ‘atasan’ saya Bunda Dyah Suminar serta my sist Yulis, maka award di atas tak jadi saya teruskan ke blogger lain (padahal 7 nama yang berhak mendapat award itu sudah ada dalam kantong celana saya).

From Maradona to Messidona


Demi menghormati dan menyambut ultah ke-48 Diego Armando Maradona pada tanggal 30 Oktober mendatang, saya ingin mengulas sekilas perihal pesepakbola yang kepiawaiannya mengolah si kulit bundar, belum tertandingi hingga detik ini.

Memang bagi pecinta tim samba Brasil, sudah pasti akan menganggap Pele lebih baik dari Maradona, karena sepanjang kariernya konon sudah mengemas sekitar 1000 gol lebih.

Tetapi dalam pandangan saya, Maradona lebih hebat dan memesona dibanding Pele. Alasannya, pertama, saya belum pernah melihat rekaman pertandingan Pele. Kedua, di masa jayanya Pele tidak terlalu banyak berhadapan dengan bek bek tangguh seperti halnya Maradona, yang sukses mengelabui bek terbaik dunia seperti Franco Baresi, Ciro Ferrara, Bergomi, Paolo Maldini (Italia), Terry Butcher, Peter Reid (Inggris), Guido Buchwald (Jerman), Hierro, Nadal (Spanyol), dll. Ketiga, Pele merupakan striker murni, sementara Maradona adalah play maker, dirigen tim atau gelandang serang.

Selain itu hampir semua kemenangan Argentina dan klub Napoli, Barcelona, atau Boca Juniors saat diperkuat Maradona akan selalu tergantung pada prima-tidaknya kondisi pria yang berteman akrab dengan Fidel Castro dan Hugo Chavez ini.

Puncak kehebatan Maradona sendiri muncul pada World Cup 1986 di Meksiko. Pada pertandingan perempat final menghadapi Inggris, Maradona memimpin tim tango menekuk tim berjuluk the three lions itu, 2-1. Gol pertama memang sangat kontroversial dan kini dikenang sebagai gol Hand of God.

Tetapi gol kedua, benar benar brilian dan sangat mencengangkan. Berawal dari tengah lapangan, Maradona menggiring bola melewati dan memperdaya bek-bek tangguh Inggris dan menekuk kiper legendaris Peter Shilton. Gol ini pada tahun 2002 lalu, lewat voting FIFA, dinyatakan sebagai goal of the century. Puncaknya Diego berhasil membawa Argentina juara dunia untuk kedua kalinya setelah menekuk Jerman 3-2.

Pada World Cup berikutnya (1990) Maradona juga sukses membawa Argentina melaju hingga pusingan akhir, namun kandas di final melalui gol penalti kontroversial Andreas Brehme. Maradona benar-benar menangis saat itu. Tapi ada cerita menarik saat Argentina berhadapan dengan Brasil di perempat final. Brasil yang unggul kualitas pemain, sepanjang pertandingan mendominasi. Semuanya mendadak sontak berubah saat Maradona memperoleh kesempatan mengontrol bola, dengan umpan terukur kepada Claudio Cannigia langsung menyontek bola ke gawang Brasil, skor 1-0 hingga usai. Koran koran di Brasil kemudian menurunkan headline Maradona 1-Brasil 0, bukan Argentina 1-Brasil 0.

Begitulah pengaruh dan kehebatan Maradona. Ketika ditransfer klub antah berantah dan semenjana Italia FC Napoli, banyak kalangan menyatakan keheranannya dan menyayangkan mengapa Diego tidak berlabuh di klub papan atas AC Milan, InterMilan, atau Juventus.

Tapi lagi-lagi Maradona membuktikan talenta dan sentuhan magisnya. Napoli yang selalu berada di papan bawah itu, kemudian untuk pertama kalinya dibawa menjadi juara Serie A pada 1986/87, dan meraih scudetto kedua tahun 1989/1990. Juara Coppa Italia tahun 1987 dan juara UEFA Cup 1989. Setelah Maradona tak lagi di Napoli, klub ini tak pernah lagi juara, terpuruk dan pernah degradasi ke seri C.

Saat ini kehebatan megastar Diego tinggal kenangan. Lalu siapakah pemain Argentina paling layak dan berpeluang menyamai atau setidaknya mengikuti jejak kejayaan ayah Dalma dan Giannina itu ? Sejumlah nama pernah disebut akan menjadi New Maradona, seperti Ariel Ortega, Juan Roman Riquelme, Pablo Aimar, Carlos Tevez, dan Sergio Aguero.

Tanpa bermaksud menafikan kehebatan Sergio ‘Kun’ Aguero yang notabene adalah bakal menantu Maradona itu, dari semua bintang muda Argentina yang bersinar sekarang, agaknya Lionel Messi menjadi sosok paling potensial menapaktilasi jejak kejayaan Maradona dan kembali memberi titel World Champion kepada Argentina. 

Dalam usia masih sangat muda (21 tahun), Messi sudah memperlihatkan mental juara dan talenta kebintangannya dengan membawa Argentina meraih medali emas sepakbola di Beijing 2008, runner up Copa America 2007, dan kini menjadi pemain kunci FC Barcelona. Pada usia lebih muda dari Messi, Maradona saat berusia 17 tahun sudah memimpin Argentina menjuarai Piala Dunia jr di Jepang, 1979.

Seperti halnya Maradona, Messi juga memiliki skill individu dan dribbling bola yang ciamik, dan selalu dengan mudah mengelabui bek bek lawan, solo run menerobos kotak penalti dan menyarangkan gol, sehingga pecandu sepakbola memberinya gelar Messidona. Dont cry for me Argentina, the new Maradona to be born. From Maradona to Messidona…..!

Korban Trial by The Press


Kepala Badan (Kaban) Infokom Pemprov Sumut Drs H Eddy Syofian MAP mengeluh pada saya, soal kecenderungan media massa yang terkadang sudah tak bisa dipercaya, karena beberapa di antaranya suka seenaknya sendiri dalam menyajikan berita.

“Beberapa hari lalu, ada sebuah media menulis, saya menggelapkan dana Infokom Rp 12 miliar,” katanya. Padahal, tambah Eddy, anggaran Badan Infokom yang dipimpinnya itu keseluruhannya tak mencapai angka Rp 12 miliar. Sungguh aneh, bukan ?

Hal senada juga pernah saya alami. Saya diberitakan media massa menggelapkan dana Rp 18 juta (jumlah yang relatif kecil). Tapi berita itu sungguh naif. Bagaimana mungkin menggelapkan dana Rp 18 juta, sementara dana yang saya terima dari Infokom cuma Rp 10 juta ? Betul-betul menggelikan.

Kalau pola pola pemberitaan sedemikian terus terjadi, dapat dipastikan media massa semakin tak bisa dipercaya. Media yang pemberitaannya suka hantam kromo tanpa didukung data akurat, selain tak bisa dipercaya, lambat laun pasti akan ditinggal para pelanggan dan pembacanya. 

Maraknya pemberitaan menjurus trial by the press itu, antara lain disebabkan pola rekrutmen wartawan yang amburadul (tak bisa wawancara dan tak mampu menulis pun bisa jadi wartawan) plus keberadaan media massa (utamanya di daerah) kebanyakan kembang kempis ; hidup segan mati tak mau.

Menurut pengakuan Eddi Syofian, dirinya sudah berkali-kali menjadi korban trial by the press. Dia sering dituduh terlibat korup, tapi faktanya tak pernah berurusan dengan aparat kejaksaan, sebab berita berita media itu cuma prejudice, tanpa didukung bukti yang sahih.

“Biarkanlah media menulis apa saja, saya sudah capek dan males menanggapinya. Nanti kan akan terbukti sendiri, mana yang benar dan mana yang cuma membual,” ujarnya.

Tapi, kan tak semua orang seperti Bang Eddy. Banyak orang lain yang merasa menjadi korban trial by the press dan pembunuhan karakter (character assassination), akhirnya terpaksa menggugat media yang seenaknya saja membuat berita-berita tak bertanggung jawab itu.  

Trial by the press bermakna membicarakan satu pihak secara bias, tidak membeberkan semua fakta, dan pemberitaan umumnya tidak berimbang.(Atmakusumah, 2007)

Harus diakui, keberadaan media massa memang sangat diperlukan sebagai lembaga kontrol terhadap kebijakan pemerintah, kinerja yudikatif dan legislatif. Tetapi jangan sampai fungsi kontrolnya menjadi bias dan didominasi kepentingan kepentingan subyektif.

Media massa hendaknya selalu melakukan check and balances, check and recheck, serta selalu mengkaji terlebih dahulu data (informasi) yang diterima sebelum menerbitkannya menjadi sebuah berita yang akan menjadi konsumsi publik.

Agar korban trial by the press tidak terus bertambah, media massa sebaiknya tidak dijadikan sebagai corong pihak pihak tertentu untuk menegasi dan membunuh karakter pihak lain. Pers mestinya concern dan konsisten berpihak pada kebenaran dan bukan sebaliknya selalu maju tak gentar membela yang bayar……?

Kehilangan Kekasih Boleh, Asal….


Seorang teman saya sudah sekitar seminggu tak selera makan. Padahal sebelumnya kalau diajak makan sop buntut di resto Dharma Deli Hotel, biasanya dia bisa nambah tiga piring. Ada apa gerangan ?

Ternyata temanku ini baru saja dikhianati kekasihnya. Sang pujaan hati menikah dengan pilihan orangtuanya–seorang pria yang tongkrongannya masih kalah dibandingkan dengan Tukul Arwana–tetapi sudah memiliki posisi lumayan mapan di sebuah BUMD.

Tak cuma kehilangan selera makan, sang teman baik ini juga mengaku pernah berniat mengakhiri hidupnya seperti adegan di film film Bollywood yang sering ditontonnya. “Kalau tak sadar orang yang bunuh diri langsung dicampakkan ke neraka paling keropos, saya sudah siap mengakhiri hidup,” tuturnya dengan pandangan mata memelas.

Alaaamak. Amit-amit deh. Masya, karena ditinggal kekasih saja, sampai segitu kali. Tapi, mungkin bagi temanku itu, sang kekasih sudah terlanjur disayang dan selalu dianggapnya sebagai ‘bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir’ (mengutip bait lagunya Mus Mujiono). Dia lupa bahwa kata pasti hanya milikNYA.

Menghadapi teman yang selalu bersedih dan bermuram durja itu, dengan gaya bak seorang ustadz, aku memberi taushiyah kepadanya, dengan harapan dia kembali seperti sediakala, selalu ceria dan optimis menatap masa depan.

Kutegaskan berkali-kali padanya : kehilangan kekasih boleh, asal…. jangan kehilangan iman. “Kalau kehilangan iman, kacau deh semuanya. Percuma kita berlama-lama hidup di jagad ini, kalau sudah kehilangan iman,” kataku berlagak seperti Aa Gym, yang sudah mulai kehilangan popularitasnya sejak kawin betambuah itu.  

Kehilangan jabatan, kehilangan harta, kehilangan kerabat, bahkan kehilangan anak-istri,  memang sudah menjadi qonditio qua non (sebuah keharusan yang tak bisa dielakkan). Cuma waktu, tempat, dan tanggalnya saja, kita belum tahu.              

So, kepada temanku itu saya hanya bisa mengingatkan dirinya agar jangan sampai kehilangan iman. Sebab kekasih lama pergi, kekasih baru niscaya akan datang, datang dan datang lagi,….semuanya tergantung pada keseriusan dan ketulusan untuk mencarinya.

Tetapi kalau kehilangan iman, ke mana hendak dicari ? Iman tidak ada di buku, iman tak ada di televisi, iman tak ada di rumah Fatima. Stok iman mungkin masih banyak di rumahnya mas Sawali Tuhusetya, Ariefdj, Yari NK, Arul, Singal Sihombing, Afwan Auliyar, Wahyu Kresna, Toga, Gasgus, Nirwan, Okta, Kishandono, Yudhi14, Dyah Suminar, Easy, Ida ‘Pimbem’ Yanuarti, Wi3nd, Yulism, Tutinonka, Elys Welt, Ind1r4, Yessy Muchtar, Vaepink, Presty Larasati, Fannie, Rindu (Ade), Miz-Bounty, Silly, Namada, Indah Sitepu, Nina, Latree, Icha, Denok, Daffa, Rita, Pinky, Zahroul Aliyah, Ai, Ly, Shei, Tha-Adzel, Elindasari, Anthin atau Jeunglala, tapi tak mungkin dijemput ke sana, sebab rumah mereka pun ntah di mana. 

Iman tak bisa datang ujug-ujug dan terpatri di sanubari. Iman akan meng-ada, setelah ditanam terlebih dahulu, kemudian disirami sepanjang hari (rajin shalat, puasa, berzakat, sedekah, rajin ke gereja, kuil, vihara), agar tumbuh subur dan senantiasa mekar di lubuk hati.

Kepada teman teman di manapun berada, kalau kehilangan kekasih, relakan dan ikhlaskan saja, asal jangan kehilangan iman. Kalau sampai kehilangan iman (from sajadah to haram jadah), neraka dan para penghuninya sudah siap-siap menunggu…..ngeri ah !