Kenapa Mesti Mudik ?


Setiap kali jelang lebaran tiba, jutaan para perantau di Jawa dan seantero nusantara ini, selalu saja disibukkan dengan persiapan berangkat mudik atawa pulang ke kampung halaman.

Kenapa mesti mudik ? Sebegitu pentingkah mudik itu, sehingga banyak orang rela antrian panjang dan berdesak desakan untuk mendapatkan tiket KA atau bus. Bahkan ada yang siap berangkat walau tak mendapat tempat duduk.

Ditinjau dari aspek sosial budaya, mudik memang banyak manfaatnya. Dengan mudik seseorang bisa memperkokoh tali silaturrahmi dengan keluarga yang mungkin sempat retak atau sudah terlalu lama ditinggal. Lewat mudik pula, seseorang bisa merasakan kembali arti penting sebuah keluarga yang utuh.

Mudik juga bisa memunculkan perasaan cinta dan peduli terhadap kampung halaman. Seseorang yang sudah sukses di perantauan bisa jadi akan tergerak hatinya ikut berpartisipasi membangun sarana irigasi atau membantu perbaikan sarana jalan yang banyak berlobang-lobang.

Dalam konteks pentingnya memperkokoh ukhuwah itu pula, saya pun akan ikutan mudik pada H-1. Insya Allah saya akan mudik nyetir sendiri menyusuri jalanan sepanjang 250 km lebih dari kota Medan yang pasti rawan macet. Adduuh, pasti melelahkan dan menguras tenaga ?

Tetapi apa pun ceritanya, dipandang dari sisi ekonomis…..mudik bisa juga menimbulkan kebangkrutan massal. Betapa tidak, uang hasil keringat sendiri yang ditabung selama setahun misalnya bisa jadi akan ludes selama berada di kampung.

Pasalnya, banyak juga perantau memaksakan diri mudik, karena pertimbangan gengsi. Tradisi di kampung biasanya masih terdapat kompetisi antarkeluarga. Misalnya, orangtua akan membanggakan anaknya yang pulang ke kampung halaman dengan membawa cerita keberhasilan, yang cilakanya sering tak sesuai fakta.

Alhasil mudik yang cenderung dipaksakan itu seringkali berujung duka. Hanya demi gengsi, tak jarang pemudik sengaja merental mobil mewah ke kampung dan bercerita seakan-akan mobil itu miliknya.

Ketika mudik usai dan mesti pulang kembali ke tempatnya bekerja, barulah pusing tujuh kelililing dan lintang pukang karena harus bekerja keras lagi, sebab uang yang dikumpulkan seperak dua perak dan disimpan di tabungan, ludes dalam sekejap selama berada di kampung.

Membayangkan mudik berdesak-desakan di KA, bus dan kapal laut, sungguh membuat miris. Bagi siapa pun yang sejatinya tak punya bekal memadai untuk mudik, sebaiknya mengurungkan niatnya. Lebih baik berlebaran di rumah.

Kalau mudik bisa melahirkan duka dan nestapa, kenapa mesti mudik ? Mudiklah kalau punya bekal cukup dan punya cadangan dana pasca mudik. Kalau mau beli tiket KA saja pun mesti ngutang sana sini….kenapa mesti mudik ?

Mudik bisa jadi akan lebih banyak mudharatnya, kalau bekal yang dibawa tak memadai. So, tak perlu memaksakan diri mudik, apalagi kalau tengah menderita sakit.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 22 September 2008, in Budaya, Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 25 Komentar.

  1. Namanya keindahan mudik telah tercemar.

    @mikekono : tercemar oleh konsumerisme dan kemiskinan

  2. Yup..betul..meskipun harus desek2an gk karuan di angkutan umum..tapi saia sangat menanti saat ini tiba..saia kepingin cepet smpe kampung, tapi syang liburnya masih H-2 nanti..:(

    @mikekono : semoga mudiknya menyenangkan….. serta bahagia bs bertemu keluarga dan orang2 tercinta

  3. Pendapat saya: penduduk indonesia yang mayoritas muslim ingin pulang ke rumahnya walau setahun hanya sekali. kapan waktunya? ya momen yang paling tepat adalah pas Idul Fitri. sayapun sebenarnya enggan mudik, tapi bagaimana lagi, libur 9 hari, di mess sendiri, tempat jajanan banyak yang tutup, dan segudang alasan lainnya. yang membedakan adalah, saya ke jakarta di mana yang lain meninggalkannya.

    @mikekono : betul mas kis…..kl tak mudik bakal sepi sendiri di rumah

  4. Jogja,,,kalau lebaran juga sepiii….anak kos pada mudik.Tapi H minus 7 hari,mulailah pemudik datang dari banyak kota besar di Indonesia. Nah ini sangat membanggakan bagi kami,selain hunian hotel penuh, toko dan outlet craft dan suvenir juga laris…Saat Sholat Idulfitri, mobil mobil dengan plat nomor luar kota buanyyaak sekali. Sukses lah kami,,,membuat orang selalu kangen Jogja,walau untuk mudik adalah perjuangan yang luar biasa. maaf ,,,beberapa hari saya off, sedang ada perbaikan blog saya.nuwun

    @mikekono : wuiiihhhh, sudah lama kepengen ke Jogja tapi belum kesampaian jg. ntar nanti mana tau ada kesempatan ke sana, syukur2 bs jmp Bunda dan keluarga…….nuwun Bunda

  5. setuju bang, biar bagaimanapun mudik kalau pada akhirnya hanya akan menyengsarakan sipemudik, alangkah bijaksananya jika mudiknya ditunda sampai benar2 cukup dari sisi financial.

    “Selalu ada harga yang harus dibayar untuk stiap kenikmatan yang ingin kita teguk”

    Kenikmatan bersilahturahmi dengan kerabat dan keluarga,… kenikmatan berbagi2 rejeki,.. sampai kenikmatan semu yg diperoleh org2 yg suka show off harta yang sudah dimiliki, meski kadang cuma mobil rentalan yg penting keliatan keren… dsb… Kadang harus dibayar “mahal”… ketika kemudian mereka harus kembali ke kehidupan nyata.

    Buat saya, tinggal menimbang, segala yang dikorbanin saat ini dan yang AKAN di’bayar’ nantinya… apakah sepadan dengan VALUE yang didapet dari kenikmatan mudik ini…

    be wise… and always be nice to our self for our future.

    buat yang mudik, salam hangat, semoga tiba dengan selamat di tempat tujuan… bawalah sebanyak2nya cinta untuk keluarga yang anda kunjungi, jangan pikirkan apa yang akan dihadapi anntinya, karena kita sudah berani memutuskan untuk berangkat, maka bergembiralah dengan keputusan anda.

    Again, selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap kenikmatan yang pengen kita raih, jadi jangan mengotorinya dengan pikiran ttg masalah yg akan dihadpi nantinya. Biarlah kesusahan hari esok menjadi bagian dari hari esok saja… nikmati hari ini, dah mengucapsyukurlah setiap saat…

    Duhhh, banggg… maaf yahh, saya kalo udah nulis gak pernah bisa pendek2. Gak ngerti deh, jiwa bawel saya mungkin udah mendarah daging kali yahhh… hahahaha… maaf lahir batin yahhh

    Salam hangat,
    Silly

    @mikekono :
    yesss…..sy selalu memendam kerisauan setiap kali mendengar berita para pemudik sampe ngantri tiket bus dan udah begitu lm mesan tiket KA. Padahal seringkali ketika tiba di kampung hasilnya tak sepadan dengan pengorbanan yg tlh diberikan. Klo blum berkeluarga, mudik sih oke oke saja. Tp bg mrk yg sdh berkeluarga, kan lbh bagus uang itu digunakan utk investasi spy lbh establish ke depan atau akan lbh bermakna jk dana utk mudik itu ditransfer membantu ortu di kampung.
    Aksentuasi pikiran sy, tak perlulah memaksakan diri mudik kl tidak atau belum pny kemampuan, utamanya bg para pemudik yg datang dr Jawa menuju Sumatera.
    Thanks my best friend, ur comment selalu menarik, dan inspiring………
    komen bs panjang krn yg memberi komen pny cadangan ilmu segudang, bukan sprti pemerintahan RI cadangan devisanya sll ambrol……..
    thanks again, salam hangat tuk Anya and u r mom
    Gbu

  6. agaknya mudik memang tekah menjadi bagian dari budaya di negeri ini, mas agus. banyak yang jauh dan mesti repot di perjalanan, tapi ada nilai budaya silaturahmi yang tak ternilai harganya. saya sendiri dan keluarga tetep menyempatkan utk mudik setiap lebaran, terutama utk sngkem kepada emak dan juga siltaturahmi kepada sanak kerabat. mas agus sendiri mudik ndak?

    @mikekono : insya Allah saya juga akan mudik mas Sawali

  7. Mudik…., aku juga mau mudik nih hehe….😀
    Aku kangen ma Orang tua n semua keluargaku…., apalgi ponakanku yang lucu-lucu…
    Mudah2an enggak da halangan apa2…., lancar semuanya (amin)…

    @mikekono : ya semoga lancar semuanya, selamat mudik ya dik…..

  8. mudiklah selagi mampu dan bisa. kalau nasibnya seperti saya ini, yang kalau mau mudik mikir 1000x buat keluar biaya, rasanya cuma bisa menangis kalau mendengar berita heboh dari kampung halaman. kalau ada telepon dari jakarta rasanya deg2an melulu. sampai kebawa mimpi berhari2 lho, kalau hasrat ingin mudik lagi menggebu2. I miss mudik.

    salam kenal..

    @mikekono : iya memang sedih juga kl lebaran tak bs jumpa keluarga. Tp kl memang tak bisa ya jangan dipaksakanlah. salam kenal jg

  9. ..mungkin ini adalah kebiasaan tersendiri yang di timbulkan oleh si empunya kampung halaman…terkadang yessy pikir..kenapa mesti mudik ya..apalagi kalo di paksaain segala..terus lagi nih..kalo biasanya hidupnya gak di kampung halaman..maksudnay kalo biasanya di jakarta..cari nafkahnya di jakarta..bergaul dan berinteraksinya ya di jakarta juga..berarti kemungkinan berbuat dosanya di jakarta juga kan??..kenapa mesti mudik si…tapi tentu saja alasan yessy itu bisa dengan gampang dipatahkan dengan alasan di kampung masih ada orang tua yang mau kita sungkemin..masih ada sanak saudara yang kita rindu dan selalu ingin kita dengar kabarnya…hal hal itu tentu saja gak bisa di dapat hanya dengan sms atau telepon..iya kan bang?…
    Yessy sendiri bisa di bilang gak punya kampung..nengok ompung di tanjung merawa sesekali..lebih sering ompung yang ke jakarta..atau nengok tante tante adek papa di pekan baru..itu juga belum tentu sesekali…but anyway..mudik itu adalah tradisi yang kayaknya tidak harus selalu di lakukan ..apalagi kalo pake acara ngutang sana ngutang sini..tapi bagaimanapun juga..melepas rindu di hari lebaran hanya bisa di lakukan dengan ..ya itu tadi..heheh..mudik😛

    @mikekono : wuahhh…..punya ompung rupanya di Tanjungmorawa ya ? Masih punya darah Sumatera rupanya ya…..melepas rindu kan bs dilakukan kapan saja, tak mesti saat lebaran, ya kan yess !

  10. Karena dimoment lebaran hampir semua orang mudik. Jadi di moment tersebut bisa bertemu teman kecil atau saudara yang tidak bisa ditemui di moment moment lainnya. Saya juga rindu mudik… Hiks😦 thanks

    @mikekono : ya, semua yang namanya wong Indonesia pasti akan sll rindu mudik. thanks

  11. saya ndak mudik pak, tapi mudik itu pilihan sih buat orang2, dan sudah jadi budaya, apalagi kesempatan sekali setahun untuk silaturahim.
    kalo memang dirasa mudik lebih byk mudharatnya lebih baik ngak usah mudik.

    @mikekono : ya betul mas rul, mudik sebuah pilihan. so, silahkan memilih

  12. Sungguh malang nasib saya, nggak pernah bisa merasakan romantika menjadi mudikers. Lha mau mudik kemana, wong orang tua dan mertua sama-sama tinggal di Yogya …..
    Jadi setiap lebaran saya nggak pernah kemana-mana, sibuk menerima keluarga dan saudara yang pada mudik. Cuma, karena saya dan suami adalah anak nomor sekian dalam keluarga, dan saudara-saudara selalu penginnya nginap di rumah orangtua, jadinya rumah saya ‘aman-aman’ saja selama lebaran. Rumah orangtua lah yang berantakan kayak kapal terhantam tsunami, karena diserbu sekian orang dengan segala tetek bengek barang bawaannya …
    Mudik memang repot, tapi itulah yang ditunggu-tunggu setiap orang selama setahun. Cuma, kalau mudik sudah diwarnai pamer, buntut-buntutnya ya sengsara. Alhamdulillah di keluarga kami yang seperti itu nggak ada.

    @mikekono : justru sy ngiri sm mbak tuti, karena keluarganya deket semua. kl punya keluarga jauh jauh semua…..waduuuh repotnya bukan main. perjalanan jauh sangat melelahkan dan menguras isi dompet. hehehee…. nuwun mbak tuti

  13. Ya…. mudik sebenarnya sah2 saja. Asal jangan dijadikan ‘ritual’ yang musti dilaksanakan. Yang lebih menyedihkan lagi, banyak orang2 yang nggak puasa (Muslim) tapi ikut2an mudik juga. Seolah2 mudik menjadi lebih penting dari puasanya! Padahal seharusnya kebalikan kan??

    Ya… udah deh…. kita harapkan saja… mudah2an bangsa ini kedepannya lebih dewasa lagi…

    @mikekono : betul sekali mas Yari, muslim yang tak puasa sering lbh semangat mudik dan menyambut dengan glamour kedatangan lebaran

  14. kenapa mudik??
    orang yang gak mudik orang yang pribumi ( contoh orang jakarta ) dia mau mudik kemana ??? orang dia di sini kok, mungkin kalo orang jakarta kerjanya di Aceh, munkin dia mudik juga deh…. hehehe

    salam kenal

    oya saya mudik ke Brebes
    ati2 aja buat yang mudik dan yang tidak mudik🙂

    @mikekono : salam kenal juga, hati2 mudiknya, krm salam sm kekuarga di Brebes

  15. itu udah menjadi budaya kita dan ga akan pernah berubah selama budaya itu masih dipertahankan karena mereka mau menghabiskan saat2 lebaran tuk berkumpul bersama keluarga mereka dan bersilahturahmi, mas.

    @mikekono : exactly, budaya itu sulit diubah. thanks mas

  16. kenapa harus mudik?
    karna ibu dan bapakQ disanah,masa aku lebaran sendiri dijkt uu..nda mauu..!!meski aban92 ku pad mudik kekampung istrinya,kasian ibu klu aku nda pulan9 sb9i anak perempuan satu2nya,pasti muddiiik duunkss..seru ajah,suka banged ngliat mreka para mudikers mudikers yg bawaannya segabrek,gaya2 mreka akh kadan9 senyum2 sayah,sementara sayah cuma ngoboy,bawa daypack duanks..

    klu nda dipaksakan nda bisa pulang bang mike,saat lebaran seperti inilah semuanya pada berkumpul termasuk teman2 hehe..

    @mikekono : iya…ya, mudiklah wi3nd, anak perempuan satu satunya pasti dirindu dan disayang semua keluarga. semoga mudiknya lancar2 aja, jangan lupa kue lebarannya ditinggalin ya.

  17. karena keluarga ada candu. makanya selalu ada rasa ketagihan. ya, setaun sekali kan tak apa. bagi saya itu sebenarnya kurang. maunya sih paling tidak ya dua kali.

    soal konsumerisme, ah, itu sih utk semua hal. gak cuma soal mudik. apa sih yg gak dibajak kapitalisme.

    @mikekono : ya setahun sekali, monggo.

  18. mudik itu selalu saya tunggu sejak mulai berpisah dari orangtua.
    begitu juga ketika masih bersama orang tua, saya tetap berbahagia menanti sodara-sodara yang akan datang dari mudik..

    mudik itu tak sekedar pulang kampung, tapi ada sebuah rasa rindu yang tak terbayarkan oleh apapun.

    @mikekono : bagi perantau seperti easy yang masih sorangan dan sukses dalam usaha, memang wajib hukumnya mudik. ya kerinduan itu tak akan terbayarkan oleh apa pun ; sebuah kata kunci yg menohok sekaligus sarat makna. thanks adinda

  19. kenapa harus mudik?
    Ya karena liburnya lumayan trus orang tua dan masa lalu yang penuh kenangan yang selalu memanggil-manggil (halah..),
    dan,untuk pulang ke rumah kita gak perlu alasan…

    @mikekono : Anda benar untuk pulang ke rumah, tak perlu alasan. nuwun

  20. Sedih tahun ini berlebaran jauh dari keluarga, tapi dgn teknologi komunikasi jarak bukan masalah lagi Insya Allah. Tak bertemu muka, masih bisa dengar suara😀 . Mudik kalau pakai strategi Insya Allah akan menyenangkan….😀

    @mikekono : ya semua bisa disiasati dgn teknologi. Mudik pakai strategi,…..waaah kayaknya bagus disosialisasikan tuh mbak indira

  21. beda bang suasana lebaran kl ga ngumpul sm keluarga, thn kmrn aq hari pertama sampe ketiga sendirian di kostan, rasanya sedih sekali ga bs ngumpul, tapi tahun ini aq mudik.
    buat tmn2 yg thn ini mudik jj, mudah2an lancar ya perjalanannnya. amin.

    @mikekono : betul itu da…..kl tak mudik terasa hambar dan sepi di tengah keramaian. Tp yg saya maksud bagi perantau yg sdh berkeluarga tp uangnya pas2an sebaiknya tak prl memaksakan diri tuk mudik. Klo mbak ida yg masih sorangan dan dompet tebel, yahhh memang wajib mudik dunk. Ya smg mudiknya lancar

  22. berbahagialah yg masiy bs mudik, karena seperti tahun2 kemarin tahun ini pun aq kembali ngga bs mudik ke medan “hiks”…(T~T)

    @mikekono : ngga bs mudik ke medan ? wow, Im shock…….

  23. ta salah satu pelakunya niyh,,

    kalau ta mash simple ajh,,

    seru aja ikt rebutan nyari tiket,,
    hah hah!!😆

    *lagi malas log in bang,,
    hihihi

    @mikekono : klo begitu tolong dunk bantu beliin tiket abang ? heheheheee. jngan malas2 lah

  24. sudah tradisi mas…kalo gak mudik kayaknya ada yang ilang dalam lebaran

    @mikekono : betul mas, tradisi mudik sepertinya tak mungkin hilang

  25. selain tradisi yg dianggap sakral, mudik itu juga mewadahi interaksi ekonomi urban-rural. di beberapa kota di jawa fenomena ini sudah pernah diteliti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: