‘Kerajaan’ itu Bernama Parpol


Beberapa hari ini kabar pemecatan Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Irgan Chairul Mahfiz oleh Ketua Umum DPP Surya Dharma Ali, menghebohkan dan menghiasi pemberitaan sejumlah media nasional.

Terlepas dari benar atau tidaknya pemecatan itu…atau akankah pemecatan urung dilakukan setelah mengundang sejumlah proses di internal partai berlambang Ka’bah itu. Namun satu hal pasti, beberapa parpol selama ini memang cenderung dimenej seenaknya dan sesuai kehendak Ketua Umum dan elite pengurus yang berada di lingkaran dalam sang Ketua Umum.

Karena itu tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, parpol sekarang dimenej bak sebuah ‘kerajaan’. Seperti lazimnya ‘kerajaan’, tentunya sang Raja (Ketua umum) bebas melakukan apa saja sesuai dengan kepentingan dan keinginannya.

Aturan yang berlaku dalam sistem ‘Kerajaan’ bernama parpol itu cuma terdiri dari dua pasal.
Pasal (1) : Raja (Ketua Umum) tidak pernah melakukan kesalahan.
Pasal (2) : Jika Raja (Ketua Umum) melakukan kesalahan (lihat pasal 1).

Karena parpol sudah menjelma menjadi sebuah ‘kerajaan’, maka tidak perlu heran, manakala penyusunan caleg di hampir semua parpol, berlangsung sesuka hati dan mesti mengikuti selera sang Raja (Ketua Umum).

So, tak aneh bila dalam komposisi caleg, kemudian muncul nama istri, anak, keponakan, dan para kerebat dekat lainnya. Kalau tak ada kerabat, maka dimunculkan teman-teman dekat.

Seseorang yang belum pernah aktif di partai, tiba-tiba bisa nongol di nomor urut satu daftar caleg, karena yang bersangkutan memiliki hubungan kedekatan pribadi atau telah menyetorkan sejumlah upeti kepada sang Raja.

‘Kerajaan’ bernama parpol itu akan terus menancapkan kekuasaan dan pengaruh dinastinya hingga  kerajaan tersebut punah ditelan zaman, karena rakyat mulai sadar dan muak melihat tingkah laku sang Raja yang semakin arogan dan bergaya bak Idi Amin.

Parpol yang dikelola bak ‘kerajaan’ tidak bisa diharap tampil menjadi pelopor penegakan demokrasi. Sebab yang tengah dan terus mereka lakukan, hanyalah berupaya untuk terus memelihara kelangsungan dinastinya dengan cara apa pun.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 19 September 2008, in Budaya, Politik, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 29 Komentar.

  1. lucu juga kalau anggota parpol adalah juga anggota keluarga dan famili2nya, tentu tujuan utamanya ya pasti ukt kepentingan keluarganya donk, terus apa gunanya parpol semacam ini ?

    @mikekono : yeahhh begitulah faktanya mbak lys…….parpol semacam itu cuma berguna bagi mereka dan membebani rakyat

  2. saya sepakat bila dikatakan sekarang parpol sudah melenceng dari tujuannya sebagai institusi pendidikan demokrasi bagi kadernya.
    tapi dalam artikel ini saya menangkap kebencian kepada Idi Amin dan mendukung Irgan C.M dgn berlebihan.
    @mikekono : tulisan ini tak bermaksud mengulas PPP. Dan sama sekali tak berpretensi mendukung Irgan CM…..yang disoroti adalah fenomena umum parpol

  3. kalau parpol di ibaratkan kerajaan , maka yg paling beruntung menduduki jabatan2 basah di kerajaan itu ya yg paling banyak mempunyai koneksi aka network di kerajaan itu …

    @mikekono : coba mbak s magdalena perhatikan, begitulah yg banyak terjadi di tubuh parpol kita. thanks mbak susie

  4. Angkat tangan….(melapor maksudnya).. duh gak tau mau ngomong apa…. lha wong ipar saya sendri tau2 jadi caleg, urutan pertama lagi. Gitu pengakuannya pada saya kemaren. Saya gak tau mau ngomong apa akhirnya cuma ngucapin selamat. MAsalahnya setau saya sih dia gak pernah ikut partai manapun, lha ko’ bisa yaaa???:D

    Mengikuti selera sang raja? gimana kalau
    kebeneran raja-nya memiliki rasa nasionalisme yang tinggi (gak ngenal istilah kroni). mungkin gak yaa? hehe….Tapi yang namanya “raja” tentulah akan memelihara keutuhan dinastinya dwong yaa…

    @mikekono : itulah faktanya, tak pernah ikut partai, ujug ujug jadi caleg nomor satu pula. betul mbak rita, sebagaimana lazimnya ‘raja’ pastinya akan memelihara keberlangsungan dinastinya

  5. Ya elah…. namanya juga parpol. Apalagi parpol yang hanya mengkultuskan individu rajanya, eh maksud ane pemimpinnya, ya jelas aja mirip kerajaan, atau paling modern adalah kediktatoran. Tapi heran juga kalo ada yang mau memilih parpol itu?? Apa berarti ia senang dengan parpol otoriter seperti itu? Tauk deh….😀

    @mikekono : kita cuma berharap mas Yari, semoga rakyat segera sadar, dan jangan lg memilih parpol yang dikelola seperti kerajaan

  6. Pernah denger ada seorang Jenderal yang mampu membeli parpol seharga belasan milyar? duh, itu duit beneran semua ato campur duit monopoli, ya?

    @mikekono : wuihhhh info menarik itu mbak Vina. kayaknya duitnya beneran, tp sumbernya dari mana, itu sih patut diragukan……thanks mbak Vin

  7. Kapan ya ada parpol yang bener-bener mikir rakyat, bukannya mikir dirinya sendiri??? (utopis)

    @mikekono : benar mas andy, berharap parpol mikirin rakyat, sepertinya cuma sebuah utopia. tks

  8. seharusnya mereka bisa belajar dari pengalaman. kok kalah sama keledai yang ndak mau terperosok ke dalam lubang yang sama. cara2 nepotisme kayak begitu pelan tapi pasti akan menghancurkan dirinya sendiri.

    @mikekono : mereka tak pernah belajar dari pengalaman, karena cuma memikirkan kpntngan sesaat. betul mas sawali, menerapkan nepotisme sama dengan menggali lubang kubur sendiri.

  9. memang politik itu pasti dekat dekat dengan kekuasaan ,uang dan nepotisme….dan tidak ada teman sejati di politik,semua berdasar kepentingan ,,kali ya.
    maka itu perempuan masih banyak yang ragu untuk masuk dunia politik,,,walau banyak yang mampu dan cukup punya konstituen,,,yang insya Allah…konstituen yang iklas,,tanpa embel embel…he..he..

    @mikekono : exactly bunda Dyah, tak ada teman sejati dalam politik. yang ada adalah kepentingan sejati….!

  10. Waduh kalau sudah berurusan dengan parpol di Indo rumit banget ngak NU ngak PPP dll semua punya masalah intern… lha sekarang kalau memimpin sebatas partai aja ga becus gimana kalau memimpin suatu negara ya Bang? … 😦 thanks

    @mikekono : iya mbak yulis, kalau mimpin partai aja ngga becus, boro boro mimpin negara, jauh panggang dari api lah. thanks my sister

  11. Mungkin nepotisme itu sudah berakar dalam karakter parpol, sehingga mereka tidak pernah dapat melihat dan menyelesaikan suatu masalah dengan jernih.

    @mikekono : selain nepotisme sdh mengakar, economic oriented juga semakin mendominasi. horas

  12. Kita do’akan supaya orang-orang yang “ngurus parpol aja” ga beres jangan sampai jadi ngurus ni negara.🙂 seperti politikus yang berpermutasi jadi dewasa (Tikus).

    @mikekono : amiin…..doanya orang teraniaya serta kaum Balita biasanya langsung makbul,…….

  13. Benar sekali .
    Karena kerajan parpol ini bertujuan untuk mencapai kepentingan peribadi, maka pengurus yg direkrut jga dicari yg mau nurut. Dan disini demokrasi biasanya tdk berjalan. Sistemnya otoriter. keputusan pimpinan mutlak…

    Kwikikikik..

    Aq sendiri sebenarnya udah tdk percaya lagi dg partai. Tapi bagimana-pun di dunia/hidup ini harus punya pemimpin…
    Kadang2 aq harus memilih yg baik dari yg terburuk…. seperti di Pilwako Jambi baru2 ini…

    Jika ingin belajar berpolitik, belajar sama Muhammad SAW. Insya Allah berhasil. Karena landasannya Qur-an dan Hadist.

    Salam kenal and semoga berhasil

    @mikekono : ya….kita sering terpaksa memilih the best from the bad. thanks

  14. Pak Bachtiar Chamsah dan Hasrul Azwar koq diam aja ‘anak mainnya’ dizolimin SDA ? Dulu mereka yang ‘sibuk’ nitip dia jadi sekjen PPP waktu muktamar?

    Ah, politik memang kejam. Tak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.

    Bang Irgan…yang sabar ya… Kalau gak betah lagi di Jakarta, udah pulang kampung aja ke Tanjung Balai…

    @mikekono : begitulah politik…..mau jujur akhirnya terbujur. berpolitik harus bisa kompromi dan pintar mengikuti langgam

  15. Kebanyakan diantara “raja” itu sanggup memimpun (jadi boss) tapi tidak sanggup dipimpin (jadi pengikut). Maka banyak eks ketua partai/pengurus, begitu tidak terpilih lagi jadi ketua/pengurus, langsung bikin partai baru.
    Yang membuat dunia ini tertata teratur, jika masih ada rasa “malu”. Jika rasa “malu” sudah tidak ada, percayalah, dunia semakin kacau.

    @mikekono : ya mereka terbiasa ngeboss….dan tak siap jd anak buah

  16. Pernahkah terpikir oleh massa di level grass root, yang saat kampanye bisa sampai bunuh-bunuhan itu, bahwa semua hiruk pikuk pemilu itu hanya untuk mengantarkan beberapa caleg menjadi anggota dewan, dan ketika sudah menjadi anggota dewan mereka tak ingat untuk menjalankan amanah yang mereka emban dari konstituennya?

    Pernahkah para anggota dewan itu menggelar jumpa konstituen untuk menjelaskan apa yang sudah mereka perbuat di DPR? Jadi kapan mereka mempertanggungjawabkan amanah itu?

    @mikekono : pemikiran mbak tuti memang selalu brilian…..ya sudah saatnya wakil rakyat menggelar jumpa konstituen untk mempertanggungjawabkan amanah yg diberikan rakyat. thanks mbak

  17. saya sm sekali ga tertarik di dunia politik, eneg ngeliatnya. negara ini ga maju2 kl org2 yg berada di blkgnya hanya bisa mikir kkn aja… capek!

    @mikekono : sama mbak Ida, abng pun eneg melihat para poli-tikus itu. kl nunggu komen mbak Ida sih nggak prnh eneg…..heheheee

  18. Kerajaan baru kah ini ?

    @mikekono : hmmm….maybe

  19. kayaknya negara ini bisa maju kalo politikusnya seperti saya…

    huhauhaahahaha *ngaciiiiirrr sebelum digebukin massa… :P*

    @mikekono : Indah jd politisi ? why not ! kok buru buru ngacir ?

  20. Masalah politik ya? Mmm, ndak bisa komen. Belum pernah ikutan jadi anggota parpol sih. Btw, kalau lihat banyak parpol baru menjelang pemilu ini, sebenar mereka mau ngapain ya? Siap2 utk menang bertempur dalam pemilu tahun depan dan jadi penguasa baru, atau memang mau mewujudkan aspirasi rakyat?

    @mikekono : banyak di antara mereka sebetulnya kaum pengangguran yg kepengen nyari pekerjaan

  21. hidup golput!

    *kabuuuuur*:mrgreen:

    @mikekono : golput…….sebuah pilihan yg patut dihargai

  22. wew…. alhasil negeri ini pun hasil dari seperti itu …. dmN caleg2nya merupakan masukin dr partai yg spt itu ….

    sungguh malang negeri ini ….😦

    @mikekono : betul, mungkin masih sngat lama negeri ini berada dalam penderitaan

  23. la9e demam neeh,sekaran9 ini banyak banged yang rame2 ikutan parpol meski nda punya basic sama sekali yang pentin9 ada uang gituh katanya..jadi bisa dilihat sendiri nantiny akan jadi apa dan ba9aimana kerajaan ituh beroperasi hehe..
    untun9nya nda tertarik..;)

    @mikekono : ya, bagusnya kita membangun ‘kerajaan’ blogger aja…..setuju kan dinda wi3nd

  24. apa di kerajaan parpol itu juga banyak selir-selirnya ?

    @mikekono : heheheeee……..Seandainya iya…..apa mau ikutan mendaftar ya ?

  25. abang..setiap kali postingan tentang politik..wacananya selalu buram..apakah memang ini keadaan politik kita sekarang..atau hanya kepiawaan dirimu dalam mendeskripsikannya…buat aku..politik itu gak ada bagus bagusnya..tapi selalu menarik untuk membacanya..terlebih lagi dirimu yang menulis *dan idung abang kembang kempis saking GRnya*

    @mikekono : politik kita memang buram….masya’ mau dibilang terang. abang mmng agak tertarik soal-soal politik, makanya tulisan abng agak lumayanlah, heheheeee……sempet geer juga nih…..idungnya uda kembang semakin kembang lagi.

  26. sorry bang mikekono aq ngga koment kali ini tp mo ngasiy tau ada PR bwt bang mikekono mampir blog ku yaa

    @mikekono : siaaap…..ketua, eh nina

  27. parpol parpol ga ada habisnya..

    untungnya tubuh internal PPP sudah baik.
    ya yg penting skrg pak sda sama pak irgan udah baikan? ya kan?🙂

    @mikekono :ya, semoga internal PPP kembali normal dan ingat keberadaannya sbg parpol Islam yang harus terus peduli dan memberi teladan bg umat

  28. Parpol seharusnya bis amenjadi wadah aspirasi perjuangan bukannya..aspirasi..mencari keuntungan

    @mikekono : exactly mas……tetapi faktanya parpol masih tetap jd alat mencari keuntungan ekonomis dan politis

  29. duh mas sepertinya semakin kesini. masyarakat menjadi bingung dengan semakin banyaknya baliho2 yang bertebaran di setiap sudut kota.
    dampak psikologisnya sich ada sebuah kebingungan mau pilih siapa?

    Pemilu tinggal menghitung jari, 2 bulan kurang sudahakan ada pemilu.

    yakin ga ya,partai dan calon yang kita usung bisa mengaspirasikan suara kita, jika cara dan niatnya saja sudah salah.

    jangan didik masyarakat kita dengan cara yagn tidak benar, ini akan berpengaruh pada jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: