Politik Pencitraan dan Rekayasa Media


Hari ini (10/9) saya merasa banyak memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman baru setelah selama satu jam penuh ( pukul 11.00 hingga 12.00 WIB ),  berdiskusi tentang berbagai hal dengan seniorku Drs Jhon Tafbu Ritonga MEc di ruang kerjanya.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) yang akrab disapa JTR ini menyatakan kekecewaannya dengan pola dan kebijakan pemberitaan media massa nasional dan lokal sekarang yang cenderung penuh dengan rekayasa sesuai dengan kepentingan pemilik modal alias tak sejalan dengan fakta sebenarnya.

Lalu JTR memperlihatkan headline sebuah media nasional yang mengutip pernyataan mantan Rektor UGM Sofyan Effendi tentang citra BPK yang merosot drastis selama berada di bawah kepemimpinan Anwar Nasution.

Padahal dalam pandangan JTR, justru di tangan Anwar lah, kiprah BPK saat ini semakin disegani dan diperhitungkan sekaligus berhasil mengungkap sejumlah kebobrokan administrasi dan laporan keuangan aparat pemerintah di pusat dan daerah.

Saya pikir apa yang dikemukakan JTR itu benar adanya. Bahwa Anwar Nasution sekarang berada dalam posisi tersudut, karena memang dialah yang pertama kali mengungkap soal adanya aliran dana BI ke DPR. Dan Anwar paham konsekuensi langkahnya itu. Dalam sepak terjangnya sebagai Ketua BPK, dia juga banyak membuat gebrakan yang menyebabkan sejumlah pejabat ketar ketir.

Bahkan Anwar juga tak segan-segan ‘melawan’ Ketua Mahkamah Agung RI Bagir Manan. Nah, bisa jadi sikapnya yang sering bicara blak-blakan dan mengungkap semua kebobrokan dalam laporan keuangan pejabat pusat dan daerah, membuatnya banyak dimusuhi orang.

Sosok seperti Anwar Nasution ini sudah pasti pula tidak terlalu disukai kalangan media massa. Sebab orang seperti dia sudah barang tentu tidak akan pernah memberi keuntungan (ekonomis) bagi para pemilik penerbitan media massa tersebut.

Pasalnya, gebrakan Anwar ini pulalah menjadi salah satu penyebab berkurangnya sumber-sumber pemasukan bagi kalangan media massa. Para pejabat yang biasanya suka memasang iklan, sudah pasti tak lagi bebas melakukannya, karena hal seperti itu tidak dibenarkan BPK.

Begitulah kejamnya media massa. Citra seseorang bisa menjadi positif atau negatif, sangat tergantung pada kemurahan hati media massa. Dalam hal ini Amien Rais pun pernah mengeluh, karena dia merasa sudah panjang lebar bicara dengan wartawan mengkritisi kebijakan pemerintahan SBY, ternyata yang muncul di media massa keesokan harinya, sangat mengecewakan karena cuma ditempatkan di halaman dalam dengan kolom sangat kecil.  

Politik pencitraan memang sangat banyak tergantung pada rekayasa media. Tokoh seperti Nurcholish Madjid (alm) dulu sangat cepat melejit dan dikenal sebagai pemikir muslim handal seantero nusantara, karena media berpengaruh nasional selalu menempatkannya dalam porsi pemberitaan yang cukup gencar.

Media massa juga sering dimanfaatkan untuk melakukan character assasination (pembunuhan karakter). Sebagai contoh, derasnya pemberitaan soal kegagalan bibit padi super toy. Pemberitaan ini sedikit banyaknya berhasil merusak citra SBY.

Sikap Agus Condro yang terkesan ujug-ujug mengaku bersama sejumlah koleganya di Fraksi PDIP menerima uang suap deputi senior BI Miranda Goeltom, juga bisa disebut sebagai bahagian dari skenario politik pencitraan negatif terhadap PDIP atawa Megawati Soekarnoputri.

Menggunakan media massa sebagai sarana untuk menyerang atau menjelekkan citra lawan politik, sebenarnya sah-sah saja. Namun kita berharap pihak media massa hendaknya bisa lebih selektif dan jangan menyesatkan publik. 

Dengan kata lain, janganlah citra seorang tokoh atau pejabat yang sejatinya bersih, justru dibuat atau direkayasa menjadi seolah-olah yang bersangkutan penuh dengan kekotoran dan kemunafikan atau sebaliknya sosok yang sebenarnya penuh dengan kemaksiatan dan kemunafikan dipoles menjadi figur teladan dan berbudi pekerti luhur.

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 10 September 2008, in Budaya, Kehidupan, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 30 Komentar.

  1. Pertamax nih siiip deh 😀

    @mikekono : siip deh…..itu namanya sahabat sejati

  2. Tergantung bang hehe… Tergantung lahannya, kalau subur yaaa otomatis banyak yg dapat numbuh disana, sebaliknya kalau gersang? siapa yg berani spekulasi, udah tau gersang make nyoba nanam tela, yaa gak jelas bisa nimbuh pa nggak, keburu paceklik heheh…..(arahnya kemana lagi yak) 😀

    Berat bang… maksudnya berat untuk meluruskannya karena kita harus menelusuri, serabut demi serabut sistem yang akhirnya berujung ke mindset personalnya. Atau yang bener, mulai dari personalnya dulu baru menjalar ke sistemnya yaa? whateverlah yang jelas kalau mau perubahan sepertinya kedua hal tersebut tidak kalah penting untuk dibenahi
    Tapi siapa yang kuasa?, siapa yang sanggup?…. cape deee…

    @mikekono : betul mbak rita, capek utk meluruskannya….ya wait and see ajalah

  3. Dalam kasus2 seperti ini, sulit sudah untuk menentukan mana yang kotor dan mana yang bersih sebelum terbukti di pengadilan. Media massapun terkadang juga justru menyudutkan seseorang walaupun belum tentu orang tersebut bersalah, seolah2 media massa merupakan sebuah pra-peradilan bagi kasus2 kriminal terutama kasus2 korupsi dan juga dalam kasus2 politik.

    Yang penting bagi penegak hukum di negeri ini adalah belajarlah melihat segalanya dengan seobyektif mungkin. Jangan melihat aliran politik , suku, agama, golongan, hubungan kekerabatan dengan “si terdakwa” dan lain sebagainya. Dengan begitu diharapkan penegakkan hukum di negeri ini dapat menjadi lebih profesional…….

    @mikekono : betul mas Yari, sulit memastikan mana yg kotor dan mana bersih…thx

  4. media massa kita menganut 3 prinsip : Bantai, Bantu, dan Bantah. Kalau tak mau ‘membantu’ (inkam media lewat iklan, upeti, dan sejenisnya) siap-siaplah dibantai media. Tapi kalau sudah ‘membantu’, semuanya tinggal dibantah.

    Slogan media massa kita kan: Maju Tak Gentar, Membela Yang Bayar !

    Idealisme Media Massa, Bullshit!
    @mikekono : kl istilah toga dan sulben, itu disebut 3 ban….heheheeee. Gas terussss, mas Gus

  5. begitulah politik, memakai ranah yang yang seharusnya netral…
    media sekarang sudah berpihak, walaupun mereka menggunakan jargon netral… tapi tetap aja.

    @mikekono : ya, media cenderung membela yg menguntungkan dirinya

  6. Media idealnya netral, sayangnya media massa adalah lahan bisnis juga yg mau ga mau harus profit-oriented, alih-alih memberi informasi berimbang, malah berpihak dan jadi media penyuara pihak tertentu….

    @mikekono : idealnya sih netral. Makanya kl mau netral media harus diback-up oleh pemodal yg betul-betul kuat dan tidak menjadi corong pemerintah

  7. sayang sekali media disini blm ada yg netral. sedih sekali jika melihat pencitraan seseorang yg menurutku baik, hanya krn ulah media mjd kurang baik ato bahkan buruk.

    @mikekono : ya mbak ida, media mash suka memelintir sesuai kepentingan sponsor. Siapa yng menurut Ida baik, terlihat seolah tak baik krn ulah media ?

  8. media kini telah menjadi bagian dari sebuah industri yang dikendalikan oleh kaum kapitalis, mas agung. tak berlebihan jika mereka selalu memperhitungkan untung-rugi dalam mengekspose sebuah berita. saya sendiri sudah lama salut pada anwar nasution dg sikapnya yang fair dan terbuka dalam mengungkap berbagai borok di negeri ini. maju terus utk orang2 yang selalu konsisten menegagkkan kebenaran dan kejujuran.

    @mikekono : mas agus, bukan mas agung. setuju mas Sawali, mereka yg konsisten menegakkan kbnrn hrs didukung

  9. Peran media memang cukup berpengaruh dalam memaparkan sebuah kasus, baik itu lewat media cetak ataupun elektonik. Lucunya kadang ada beberapa media yang mumpuni memanfaatkan sebuah hot issue untuk mengangkat medianya sendiri, yah meskipun berita yang di angkat kadang tak sesuai fakta. Penyimpangan penyampaian berita inipun kadang terjadi. Jika sudah begini, ya peran journalist yang memang harus SMART. Kross check dan berpegang pada kode etik journalistik. Mana yang tepat dan mana yang benar. Jika kondisinya beritanya sudah beredar dimana2, tinggal kita2nya aja untuk menjadi pintar, lalu kross check sendiri keabsahan dan kebenaran dari berita yang dipublikasikan tersebut.

    @mikekono : benar pakde, jurnalis masih sering mengabaikan kode etik jurnalistik

  10. Media massa juga manusia (pelakunya maksudnya) yang senengnya lahan basah/subur hehe….

    @mikekono : mbak Rita nampaknya ngga mau kalah dengan Fernando Torres yg suka mencetak hattrick di Liga Inggris……thanks

  11. Memang Media massa bisa mempengaruhi pemikiran seseorang. Nah sebagai pembacanya mungkin kita mulai memilah dan memilih serta menyaring mana berita yang berdasarkan rekayasa dan fakta. Semoga kebebasan bersuara ini akan membawa Indonesia kearah kemakmuran bukan sebaliknya. thanks
    @mikekono : exactly mbak Yulis, sebagai pembaca kt hrs bs memilih dan memilah…..

  12. PS: maaf, comment panjang allert… 😛

    Pertama baca tulisan ini saya senyum2 sinis bang, bukan senyumin tulisan abang, tapi sinis sama media di ‘endonesah’… It’s so de ja vu banget.

    I mean, beberapa kali saya kecewa membaca pemberitaan yang justru menyudutkan tokoh yang menurut saya sangat “clean”, tapi malah diposisikan sebagai “pecundang”…

    On the other hand, tokoh yang menurut saya sangat tidak layak untuk dipuja2, bahkan kelakuannya sehari2 sumpah mati suka bikin saya pengen garuk2 aspal… Tapi kok ya diberitakan begitu bersahaja, begitu berjasa bagi “Endonesah” (halahhh, nyebut Indonesia aja gak bener, blajar dulu gih sana sama anak SD pak… 😛 )

    Maaf bang, saya tersenyum, karena kesel sebetulnya, tapi ya,… at least kita2 lah blogger2 “sok brani” ini yang mempergunakan media blog untuk setidaknya mengingatkan kembali media resmi, seperti TV, Koran dan Radio2, untuk TIDAK membiarkan dirinya jadi KENDARAAN politik bagi kepentingan golongan tertentu saja…

    (halahhh, saya tersenyum lagi ama komentar saya sendiri… tolol deh gue… mana ada sih media yg tidak mau duit ya bang?… Mereka harus mempertahankan kelangsungan hidup media dan stake holder didalamnya, jadi yahhh, mo gak mau… mereka ‘terpaksa’ jadi kuda tunggangan lagi.. dan masa2 menjelang pemilu kek gini merupakan “panen raya” bagi media dinegri ini.. Besok2 bukan cuma kasus ‘Blue Energy” dan “super toy” yang d blow up untuk merusak citra SBY, barangkali sampe cerita cucunya yg “dipaksa lahir” tgl 17 agustus itu pun bukan tidak mungkin diputarbalikkan menjadi issue yg bisa merusak citra SBY dan kel. who knows…??? )

    Ya sudahlah… asal jangan kebablasan aja deh buat rekan2 di media… Nasib bangsa ini ada ditangan anda, rekan media.

    Salam hangat,
    Silly
    (yg suka geram sama iklan2 ttg calon pemimpin masa depan, ugh… kalo saya jadi mentri penerangan, pertama2 ta’ restrukturisasi undang2 penyiaran dulu, biar besok2 tidak dijadikan alat untuk pembodohan massal)

    @mikekono : siapa sih yang membuat Silly, garuk-garuk aspal ? Setuju sekali, kita para blogger hrs ikut berperan meluruskan yg bengkok dan membangunkan yg tidur.
    Comment mbak Silly sll educated, belajarnya di mana ya ?
    Silly lbh cocok jd caleg ketimbang Wulan Goeritno atawa Okky Asokawati

  13. duh.. sakit perut..
    bentar bang.. nanti balik lagi kesini ngasih komen..

    @mikekono : makan apa aja, kok dari semalam sakit perut melulu ?

  14. *back.. abis gosok perut pake minyak kayu putih 😀 *

    bad news kan is a good news untuk media. dan good news malah belum tentu tetap menjadi good news bagi media. *halah jadi bingung sendiri*

    serba sulit ya bang, media massa juga kan butuh duit untuk hidup, dan kebetulan di Indonesia ini orang2nya malah seneng dengan berita yang belum jelas juntrungannya.. (semakin menampilkan berita terpanas, semakin laku tuh media)

    bahkan berita2 buruk itu (yang kadang ga jelas sumbernya) jadi berita utama dimana2…

    @mikekono : betul sekali, dalam perspektif pengelola media, bad news is good news…..! Misalnya, kl adinda Lies ketahuan selingkuh itu baru berita, tapi kl Lies menggelar khitan massal malah dianggap bukan berita…..
    thanks atas commentnya wlpn blm mengimbangi Christiano Ronaldo
    yg suka bikin hetrik di Liga Inggris

  15. Sebenarnya yang penting adalah “kode etik” pemberitaan itu sendiri, tentunya media juga harus melihat dari berbagai sisi. Saya tak memihak siapapun, karena belum tentu media salah…yang penting pemberitaan harus seimbang, juga pikirkan efek sampingnya, karena rakyat Indonesia masih heterogen.
    @mikekono :betul bu Enny, kode etik harus dipatuhi. Maturnuwun

  16. Makanya, bikin media sendiri aja. lewat sini nih.

    @mikekono : hmmm

  17. Bukannya memang media massa seperti itu, maksudnya jarnagg sekali bisa netral dama pemberitaan tentang suatu hal atau seseorang, gak usah ribet ribet deh ya..jangan kan penulisannya, gambar yang terpampang aja di pilih..ada 1 surat kabar di indonesie yang kalo yessy liat artikelnya dalam menulis seseorang politikus yang sudah jelas jelas korupsi, di gambarkan selalu mengenakan PECI dan berbaju seperti HABIS SHOLAT JUMAT..maksudnya apa ya???…mencoba mengambil simpati dan mencoba meyakinkan kalo sebenarnya dia adalah orang baik? Please dehh..

    @mikekono : mungkin itulah yg disebut STMJ (shalat terus, maksiat jalan juga). Ehm

  18. wiw..! yg lain komentnya p x l , jd bingung niy,tp yg seperti itu bukannya sudah dr dulu..”so’ tau”

    @mikekono : panjang-pendek komentnya sama sj. Di sisi Allah yg penting kan ketakwaannya ?

  19. Ohya, lupa… SALAH SATU (kalo salah satu berarti ada lebih dari satu khan?, hehehehe) yang suka bikin saya “garuk2 aspal” adalah mas SB, yang nyatut nama bidan teladan “haduh lupa namanya” untuk dimasukin dalam iklan si SB sebagai org2 yang mendukung dia, padhal akhirnya belakangan dituntut ama si bidan karena dia tidak merasa menandatangani kontrak untuk pembuatan iklan tersebut. dia hanya tahu kalo dia dishoot untuk pembuatan iklan layanan masyarakat.

    SEE???… belum jadi pemimpin aja udah belajar menipu rakyat, bagaimana ntar kalo jadi pemimpin… iiihhh, saya tidak berani membayangkannya… 😛

    saya educated???, hahaha, abang ini… gak salah???… saya belajarnya dimana yahhh, hehehe… yang jelas bahasa saya yang kek preman pasar pasti datangnya dari pergaulan di antara “preman” pasar itu, hehehehe… 😛

    ehya, tadi subuh sebetulnya karena geram saya menulis ttg kalo silly melamar jadi jadi caleg cuma belum semapt dipublish karena pagi harinya ngurusin ini itu, rada siangan… ketiduran, dan sekarang baru bangun, hehehe.

    Ya sudah, nanti kalo saya udah publish, koment yah, sapa tau ada orang pemerintahan yg baca trus ngangkat saya jadi caleg beneran (langsung buru2 bikin daftar instansi mana yang kira2 bisa saya palakin ntar kalo dah jadi orang Legislatif, hahahaha… khan udah keluar modal duluan, masak mo rugi, dinegri ini… pipis aja bayar kok ya bang, HAHAHAHAHAHAHAHA… I cannot imagine my self so greedy like that!!! ihhh, serammmmm)

    @mikekono : kok mas SB sih ? dia kan deket sm temen2nya silly.
    lagian semboyan dia kan sangat bagus dan mulia, Hidup adalah perbuatan…..,
    bg saya orang cerdas dan ayu sprt silly patut diberdayakan, soalnya skrng sulit mencari orang yang berani berkata apa adanya.
    Ya apa adanya, bukan sprti pernyataan dan pertanyaan orang pemerintahan saat ini hanya di seputar : ada apa, atau apa ada ?
    ditunggu postingan berjudul ‘Andai Silly Jadi Caleg’……..
    salam hangat

  20. media massa = lahan bisnis dan bisa memutar balikkan fakta inilah kenyataan ….

    @mikekono : ya begitulah faktanya mbak pinky,
    karenanya kt mesti selektif menerima/ membaca media

  21. Yang rambutnya kriting kriewelan…….. itu Fernando “flores” yaa… 😀

    @mikekono : kriting kriewelan, who is ? maybe Ruud Gullit or Jimmy Hendrix
    because I mean Fernando Torres, not flores. Torres is football player in Liverpool FC

  22. Ini kan sudah diramal oleh Naisbitt (eh, bener nggak sih? Sok teu deh … 😦 ) bahwa milenium ketiga adalah era informasi. Siapa yang menguasai informasi, dia akan menguasai dunia.

    Di Yogya, ada pimpinan surat kabar besar yang sudah seperti raja. Dari panitia kegiatan lomba, pimpinan perguruan tinggi, sampai pejabat tingkat pusat, kalau ingin diberitakan dengan baik di korannya, pasti ‘sowan’ kepada beliau ini di kantornya (padahal sama raja Yogya beneran aja nggak).

    Itulah hebatnya kekuatan media massa. Tentu saja kita harus bisa memilah dan memilih mana berita yang benar, tapi bagaimana bisa memilih yang benar, kalau sumber berita kita justru mereka sendiri?

    Puyeng …. 😦
    @mikekono : ya, mbak tuti bener, itu sdh diramal naisbitt.
    soal sowan ke pemimpin media massa, hal itu juga terjadi di Medan. Gubernur dan para pejabat merasa harus sowan dl dengan dua atau tiga pemimpin/ pemilik media berpengaruh di Medan….
    akhirnya krn sdh sowan, media massa itu jarang melakukan kontrol/ kritikan positif kpd sang pejabat…..inilah sisi negatifnya…….puyeng jg 😦

  23. waduh … ternyata ada juga korelasi antara pemberantasan korupsi dengan berkurangnya iklan.. dan secara tidak langsung membuat media membenci petugas pemerintahan yang mengungkap korupsi..!!! bener gak ??

    @mikekono : exactly mas ario……krn tak lg gencar korupsi,
    pejabat tak pny dana cadangan utk memasang iklan

  24. media memang akan selalu begitu……

    krn memang sistem nya mengarahkan sebuah media utk spt itu ……

    klo menurut saya, sistem negara ini yg mnjdikan komponen didalamnya juga mengalami hal yang sama… yakni rusak & tidak memakmurkan negeri ini ….

    apalagi pejabat hanya mengejar kekuasaan …. rakyat dikemanakan !?!??!

    @mikekono :slm media tak didukung pemilik modal yg kuat dan idealis, media tetap akan sprt sekarang

  25. di Jepang, PP yang mengatur tentang pasca pencalonan seorang wakil daerah maupun pemerintahan sangat ketat, salah satunya adalah melarang menggunakan mediamassa untuk pencitraan seorang tokoh secara subjektif.
    Di Indonesia, malah terang-terangan menonjolkan seorang tokoh parpol di iklan televisi maupun surat kabar (???) yang notabenenya mediamassa dapat menjadi bumerang kalau terjadi suatu ketidakberesan dari biografi tokoh tersebut.
    Kemudian, tentang seorang Anwar Nasution dengan sikapnya yang sering bicara blak-blakan dan mengungkap semua kebobrokan dalam laporan keuangan pejabat pusat dan daerah, sebenarnya bagi mediamassa yang “haus” akan berita tidak akan kekurangan sumber-sumber pemasukan, seandainya ada seorang cagub yang ternyata terungkap pernah melakukan kasus pelecehan seksual atau menggelapkan dana miliyaran, apakah masih ada suara yang akan memilihnya? disitulah peran mediamassa berbicara.
    Yang jadi permasalahan adalah kebebasan pers untuk mengungkapkan sebuah fakta ke khalayak ramai secara independen.
    Bagi pers di negeri ini, mungkin lebih aman bagi mereka jika menayangkan atau memberitakan info2 seputar selebritis entertaiment dibanding kebobrokan seorang pejabat secara terang-terangan dengan transparan (pengecutttt).

    @mikekono : betul dinda Icha, media massa kita masih penakut dan belum berani bicara dan mengungkap fakta secara apa adanya…..good comment

  26. Agak berat memang bila bicara pertaruhan citra seseorang di tengah negara dengan iklim kebebasan informasi dan berpendapat ini. Apalagi jika yang bersangkutan tampaknya terbawa dengan persoalan masa lalu, yang mengarah kepada tindakan melawan hukum.

    Seorang Anwar Nasution, dari segi kepemimpinan di BPK diakui mempunyai idealisme dan nyali yang tinggi. Di satu sisi, seorang Anwar dalam konstelasi politik jabatan tetaplah rentan dengan ketidaksempurnaan – untuk tidak mengatakan sebuah kekeliruan.

    Jadi, siapa pun harus siap dijadikan apa pun oleh apa pun!

    Indonesia menuju kesempurnaan sebuah negara!

    Tabik!
    @mikekono : dibanding pejabat lainnya, Anwar Nasution sejatinya masih cukup clean dan bs diandalkan

  27. jadi…kalau ada yang heboh cerita tentang sesuatu dan berita baru,,,,,kita tanya dulu ya….Eh,,bacanya darimana ,koran apa TV,majalah atau tabloid…soalnya masing2 punya cara lihai untuk membuat berita jadi BOM besar.Waduh menyedihkan pers kita.

    @mikekono : iya Ibu, media kita masih mudah ditunggangi kepentingan individu dan kelompok.
    Yang bengkok bs dibuat lurus, yg lurus tak jarang dipoles jd bengkok. Ma kasih Ibunda

  28. wih panjang2 komennya yah

    @mikekono : iya neh……tp sampeyan commentnya singkat tp singkat jg

  29. hehehe itu sekedar plesetan *mode on* ala keli sipelipur lara di antv bang
    Abang bener yang abang maksudn si Fernando (el nino) José Torres Sanz, penyerang club madrid.kan.
    Kalo aku suka si gelandang arda turkan bang 😀

    @mikekono : ohhhhh…..gitu toh….kebobolan nih gue. Arda Turkan pemain nasional Turki itu ya. Mbak Rita tau jg rupanya soal bintang2 sepakbola ya. saluuuut…….sippppp deh……

  30. aw, kayaknya kereta udah jauh meleset dari relnya ni bang hehehe…biarin deh….:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: