Tertawa Dulu, Nangis Kemudian


Dalam menjalani kehidupan nan serba temporer dan tak ada apa-apanya dibanding kehidupan abadi kelak di akhirat,  kita sering tak menyadari atau bahkan dengan sengaja, telah melakoni sebuah pilihan keliru.

Pilihan keliru dimaksud ialah sangat ingin dan bersemangat meraih kesuksesan serba instan serta melakukan segala cara supaya bisa menikmati kemewahan. Alhasil disadari atau tidak, kita telah memilih tertawa atau larut dalam gembira-ria terlebih dahulu, baru menangis kemudian.

Seseorang yang sedari awal menyadari, dirinya tak punya basis massa yang signifikan, tetapi ngotot mencalonkan diri menjadi kandidat kepala daerah. Ujungnya seperti sudah ditebak, dia menuai kekalahan telak….tabungan ludes….utang di sana-sini, keharmonisan rumahtangga pun terganggu. Orang seperti ini juga lebih memilih tertawa dulu, menangis kemudian.

Para caleg yang saat ini diliputi kegembiraan dan optimisme berlebihan karena memperoleh nomor urut 1, pada sekitar Juni 2009 mendatang, kita akan sama-sama menyaksikan akan sangat banyak para caleg itu ‘menangis berjemaah’.

Mereka menangisi dan meratapi nasib sialnya, karena telah rela menjual mobil, sepeda motor, dan mengutang sana sini, demi membiayai keperluannya sebagai caleg. Tapi kursi yang diimpikan tak berhasil didapat. Para caleg yang gagal, ujungnya tak cuma sekadar menangis,  bisa jadi akan ikut tertawa juga, mereka tertawa-tawa, tertawa terusss….seorang diri !

Orang yang sudah berumahtangga, tiba-tiba terlibat dalam perselingkuhan, termasuk dalam kategori tertawa dulu, nangis kemudian. Sebab perselingkuhan lazimnya bisa menimbulkan perceraian bahkan pembunuhan.

Ketika palu perceraian diketok, barulah air mata mengalir bercucuran. Tak kuasa membayangkan derita akan segera berpisah dengan anak-istri, yang sebetulnya teramat sangat disayanginya.

Dalam hal ini King of Dankduth Rhoma Irama benar sekali saat bersenandung dalam bait lagunya, “Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga, sungguh berat hati ini, kehilangan dia”

Begitulah manusia, setelah kehilangan seseorang, barulah muncul penyesalan sangat mendalam. Setelah dirinya tiada, kita senantiasa teringat semua kebaikan serta sejuta kenangan indah kala bersamanya.

Kalau tak ingin tertawa dulu, nangis kemudian, seperti dialami anggota DPR-RI Hamka Yandhu, Max Moein, Al-Amin Nasution, Walikota dan Wakil Walikota Medan Abdillah-Ramli, si tukang jagal Ryan, dan lainnya…..hal yang perlu dilakukan, tiada lain senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikanNya serta tak terlalu ngoyo dan ambisius menjalani kehidupan.

Dan satu hal yang lebih penting lagi, rajin-rajinlah bercermin. Dengan sering memandang dan menelanjangi diri sendiri di depan cermin, lambat laun akan muncul kesadaran tentang kelemahan dan kelebihan diri kita sendiri.

Kesadaran tentang jatidiri niscaya akan membuat kita selalu mawas diri dan selalu tahu persis kapan saatnya untuk tertawa serta tak pernah terkejut bila tiba saatnya menangis.      

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 9 September 2008, in Budaya, Kehidupan, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 24 Komentar.

  1. Begitulah manusia, setelah kehilangan seseorang, barulah muncul penyesalan sangat mendalam..

    betul banget mike..
    saya pernah mengalaminya dan betul2 menjadi sebuah penyesalan.

    @mikekono : lho kok….sama. *kompak nih*

  2. pertamax ya ternyata:mrgreen:

    @mikekono : lha iyalah, masya buntut melulu. agresif di jalan kebaikan, kan bagus tuh

  3. seep..
    hetrix sekalian ah..

    #lagi lapar aku mike :D#
    @mikekono : siiip deh…..! lapar opo ‘lapar’…….?

  4. bagaimana dengan para artis2 itu yg berduyun2 dan berlomba2 jadi caleg ?

    @mikekono : mereka jg akan menangis, tp nangisnya tak smp tersedu2.

  5. iya ya.. kudu rajin2 bercermin.. ehm, tapi kalo cerminnya retak seribu gimana ya ?😀

    @mikekono : kl cerminnya retak seribu, krn bercermin. kudu ambil langkah seribu…..
    *awas, ada gondoruwo, hi hi hi hi*

  6. tiap hari ntn tv, beritanya selalu kl ga korupsi, rebutan nomor urut caleg, tawuran..
    mending ngeblog aja deh🙂

    @mikekono : setuju buangeet dinda Ida, yuuk….ngeblog yuuk !🙂

  7. penyeselan selalu datangnya terakhir … he3x…. tragis memang …
    @mikekono : exactly miss pinky

  8. Inget pepatah di pelajaran bahasa Indonesia dulu Pak…

    Jauh bau bunga, dekat bau tai…

    Kalo udah jauh ato pisah aja, baru nangisnya keluar…🙄

    Ini Ramadhan, mari kita jadikan momentum untuk berbenah diri. Gak usah mencontoh apa yang gak layak dicontoh. Mbak Pimbem bener, mending ngeblog…
    *artikel yg positif tapi,jangan keyword-keyword “terlarang” ditampilkan lagi demi traffic. Kalo gitu mah sama aja… *😉

    Tulisan-tulisan Bapak juga menginspirasi…🙂

    @mikekono :ya, mari ngeblog yang positif dan inspiratif

  9. pencerahan dengan untaian kalimat nan indah

    @mikekono : subhanallah…..syukran katsir

  10. @ achoey sang khilaf:
    Wew…
    Kang Achoey…, jalan-jalan kang?
    Sambil nunggu waktu berbuka…:mrgreen:

    @mikekono : wahhh, rajin jalan2nya….jalan kemane aja nih

  11. ya namanya juga manusia..

    numpang mampir kang.. ngabuburit sambil blogwalking…

    @mikekono : ya sama, lg ngabuburit nih

  12. ini sebenarnya adalah curhatan abang yang suka banget lagu rhoma irama..ya kan..ngakuuu

    @mikekono : adduuh, jd ketahuan neh

  13. @Elys Welt : klu pada gitu…rizoa mau gantiin jadi artisna…hehehe

    @mikekono : alaamak, inilah yg disebut ‘negara dalam negara’. thanks mas

  14. setuju banget, karena manusia sering lupa dan menyombongkan kemampuannya padahal semuanya hanyalah semu dia sering lupa akan Kekuatan yang Maha Dahsyat

    @mikekono : smg momentum Ramadhan ini membuat kt semua sadar dan semakin mendekat padaNYA

  15. wah benar pak, rajin2 bercermin melihat diri kita dan memperbaikinya😉
    terima kasih motivasinya lewat blog ini

    @mikekono : thanks mas Arul

  16. Ambisi boleh boleh saja tetapi harus tetap ingat bahwa semua keputusan ada di tangan-Nya. Manusia memang begitu ya Bang, kalau sakit baru sadar nikmatnya sehat, kalau kehilangan seseorang baru disadari kebaikannya. thanks

    @mikekono : betul mbak Yulis, itulah manusia makhluk yang dhaif (lemah). Thanks

  17. berpolitik seharusnya mampu menjadikan seseorang makin arif dan punya wisdom dalam mengendalikan dan memanage urusan kenegaraan, mas agus. sayangnya, banyak kaum elite kita yang menggunakan logika terbalik. politik justru tak jarang digunakan utk memikirkan kepentingan pribadi sehingga menghalalkan segala cara tk mencapai tujuan.

    @mikekono : setuju mas sawali, politisi dan pejabat kita skrng kehilangan wisdom dan kearifan

  18. Itulah buah keserakahan manusia. Di mana cita-cita dan ambisi tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas melainkan dengan landasan harta dan kekuasaan semata…

    Jadi wajarlah kalau ia nanti akan menangis atau tertawa sendiri terus2an… tapi masih syukur deh… tidak tertawa terus2an berjamaah…. nanti disangkanya malah kesurupan lagi… huehehe…..

    @mikekono : semoga kt tidak termasuk hambaNya yang akan menangis kemudian. Thanks mas Yari

  19. humm…penyesalan selalu datang belakangan ya pak..
    fi masih heran, kenapa orang bela2in jual harta benda, hutang sana-sini, yang katanya untuk modal mencalonkan diri. lha emang kalopun terpilih ntu jabatan bisa mbalikin modal?? dikira ladang bisnis kali ya, humm…gimana indonesia mau maju kalo calon pemimpinnya kayak bgini smua?? hampir semua kan? dimana-mana kan? ga di daerah juga di pusat, aiih…sedih…apa dipikir jadi pemimpin itu gampang ya? *gampang “memeras” sih iya* he..

    @mikekono : ya begitulah fi, krn awalnya jual harta, akhirnya betul sprt Fi bilang, jd gmpang memeras !

  20. pak mike , gmn kbr nya ? moga baik yach kek saya juga😀.heuhehe..

    blogwalkinggg pakk…

    @mikekono : kbr baik aja kek adinda. blogwalking yess

  21. Penyesalan sering kali datang belakangan, tapi tak selalu terlambat. Tak jarang bisa menjadi sebuah pembelajaran yang membuat kita lebiih baik kedepannya…amien

    @mikekono : betul mbak, agar tak menyesal, semua mesti dijadikan sbg proses pembelajaran. thanks

  22. Untuk kasus ini, gak usah jauh2 deh, papasaya salahsatu korbannya. I hope he didn’t mind, saya share hasil pembelajarannya di dunia politik putaran tahun sebelumnya.

    Beliau brgabung di salahsatu partai dan menjadi Calon Nomer 1 dari daerah pemilihan A… sudah keluar duit untuk biaya kampanye didaerah tsb, entah gimana critanya, papa saya tahu2 digeser ke nomer 4, dengan alasan yg tidak jelas… Tentu saja papa saya murka, karena seluruh tabungan hari tuanya sudah dipertaruhkan demi meraih posisi itu…

    Sangat disayangkan memang karena papa tahu betul, saya menentang aksinya.

    Saya tahu papa saya org yang saklek dan lurus, dia berambisi untuk masuk ke pemerintahan dan melakukan perubahan, tapi politik itu kotor, dan beliau mencoba bermain diwilayah ini.

    Makanya begitu tahu papa org yang frontal banget, beliau malah diturunin ke urutan ke 4… which is sangat kecil kmungkinannya.

    Papa saya pasti hanya satu dari segitu banyak org yang tersenyum dulu menangis kemudian🙂

    @mikekono : apa yg dialami papa Silly, hingga skrng sngt bnyk menimpa para politisi kt.
    pasalnya parpol kt memang dimenej sprt sebuah ‘kerajaan’. apa kata ketua umum, itulah yang berlaku. smg apa yg dialami papa Silly dpt menjd pelajaran bg kt semua. salam hangat

  23. Saya juga rajin bercermin lho : bangun tidur bercermin, habis mandi bercermin, mau pergi bercermin, pulang ke rumah bercermin ….. (*weleh … gak nyambung ya*? 😦 0

    @mikekono : lho gitu tokh ? pantesan mbak tuti selalu charming and sejuk dipandang mata, terutama dipandang mas itu loh,,, u r husband nan handsome……(nyambung sekali, kok)

  24. Hwikikikiq, nangis berjamaahnya itu loch😀
    kalo nangis aja masih lumrahlah tapi kalau nyambung ma tawa2 ndiri? wahh alamt dikirim ke grogol tuw bang.
    mmm bercermin mang udah hobby bang, kalo gak bercermin dulu gak berani kepasar hehe….
    aw, perlu latihan pemikiran yang orientasinya jauh ke depan (dalam segala hal) agar tidak terjebak pada kenikmatan sesaat. Melatih kemampuan yang dapat memprediksi konsekuensi setiap langkah/tindakan. Seperti orng2 tersebut namanya diatas, mereka berani melakukan itu karena akal pikiran mereka mentok, (gak mikir panjang) gak mampu memikirkan akibatnya di kemudian hari dan akhirnya melakukan hal yg akan amat disesalinya…. …

    @mikekono : heheee, biar ajalah mrk yg ngga ikutan ngeblog dikrm ke grogol.
    setuju mbak rita, kita prl melatih diri berpikir jauh ke depan (future oriented)…..
    krn srng bercermin, makanya mbak rita nangis dulu tertawa kemudian……thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: