Politisasi Ramadhan…..!


Politisasi Ramadhan….? Ya, begitulah kesimpulan saya setelah hampir sepekan menjalani ibadah puasa serta bergerilya melaksanakan shalat tarawih dari masjid ke masjid di kota Medan.

Hari pertama dan kedua shalat tarawih di masjid dekat rumah, usai kulibas (kuliah lima belas menit) dari seorang ustadz yang ceramahnya tak terlalu menarik, saya merasa bersyukur menerima dua lembaran kertas berisikan jadwal imsyakiah Ramadhan. Jadwal itu perlu, sebagai panduan saat bersahur dan berbuka.

Namun sejurus kemudian, saya urung mengambil jadwal imsyakiah tadi, karena di dalam lembaran itu ternyata tertera gambar dua orang calon anggota legislatif. Sementara pada lembaran lain tertera foto pasangan calon bupati.

Sungguh naif dan keterlaluan. Ramadhan pun dipolitisasi. Masjid dimanfaatkan menjadi ajang kampanye. Macam tak ada tempat lain aja.

Politisasi Ramadhan memang terjadi di mana-mana. Ajang buka bersama, dengan mengundang anak yatim dan warga masyarakat juga kerap dimanfaatkan partai politik menjadi sarana kampanye, dengan mensosialisasikan gambar serta memperkenalkan para caleg yang mereka usung.

Ketika Presiden SBY dan Wapres JK berbuka puasa di kediaman Ketua MPR-RI Hidayat Nur Wahid, banyak kalangan menilai, acara itu kental dengan nuansa politis. Sebagai salah satu upaya penjajakan koalisi menuju Pilpres 2009. 

Memang begitulah faktanya. Pada bulan Ramadhan ini, parpol seakan berlomba lomba mengadakan paket acara berbuka puasa bersama serta berlomba pula memasang spanduk di jalan menyampaikan ucapan marhaban ya Ramadhan.

Biasalah, saat Pemilu legislatif sudah semakin dekat, kader dan pimpinan parpol selalu berupaya tampil dengan penuh keakraban dan mengobral senyum, kapan dan di mana saja. Asal jangan senyum dan tertawa sendiri. Alaaamak.

Tapi saat Pemilu usai– terpilih atawa tidak– senyum itupun berangsur pudar…., bahkan nomor handphone kemudian ditukar, karena takut sering-sering ditelpon konstituen atau debt collector.

Politisasi Ramadhan bisa disebut sebagai indikator manusia lemah iman dan opportunis, yang senantiasa berupaya mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara (machiavellisme).

Ramadhan mestinya diisi dengan kekhusyukan mengerjakan qiyamul-lail, memperbanyak shadaqah, menyantuni kaum dhuafa, mengkaji isi kandungan al-Quran. Bukan malah memanfaatkan Ramadhan demi meraih keuntungan politis. Ramadhan yes, politisasi no.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 6 September 2008, in agama, Politik, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 27 Komentar.

  1. bagusnya itu mereka melakukan ritual tanpa diketahui orang byk yakz…
    jadinya amalannya dapat…😀

    @mikekono : iya, betul mas Arul

  2. Wah…. di negeri ini apa sih yang “ikhlas”? Semua dilandasi oleh politis atau popularitas pribadi. Mudah2an Allah menyadari orang-orang tersebut dan kembali ke jalan yang benar.

    Wah…. lagi2 saya ngomongin orang nih di bulan Ramadhan huehehehe…….

    @mikekono : betul mas Yari, sulit mencari org yg ikhlas

  3. Selalu mencari kesempatan hehehe…

    @mikekono : akhirnya kesempitan….hehehee

  4. belum2 udah ketahuan belangnya, ada udang di balik bakwan..

    @mikekono : ya, hidungnya berbelang-belang…..

  5. Salam kenal.
    Terima kasih telah berkunjung.
    Belum pasang banner BloggerSumut-nya bang?

    @mikekono : lam kenal juga, Tks

  6. wah bagus sekali ulasan di arikel ini , itulah sebabnya saya kurang suka semua yg berbau politik , obral janji sana sini yg belum tentu bisa di tepati

    Apalagi kalau ngobral janjinya di rhamadan , duh keterlaluan banget …

    makasih ya sudah mampir , salam kenal kembali

    …susie…

    @mikekono : iya, asal yang namanya obral, biasanya kurang bagus. Thx uda mampir

  7. itulah naluri politik para petualang yang haus kursi, mas agus, hehehe😀 momentum tarawih diserbu juga jadi ajang kampaye terselubung.

    @mikekono : betul mas sawali, para petualang itulah yg menyebabkan negeri ini kacau balau😀

  8. Mudah2an tarawih keliling nya syarat ibadah, dan bukan pamor RIYA untuk kepentingan kampanye hik. Semoga!

    @mikekono : tarawih yes, riya no….

  9. mas, gimana tanggapan mas mike melihat aktifitas sebuah parpol (Partai Keadilan) dalam gerakannya di bulan puasa seperti sekarang,

    @mikekono : aktivitas parpol di bulan Ramadhan, sepertinya sama saja.

  10. OOOoo ternyata kampanye terselubungnya sudah dimulai ya Bang. Mungkin mereka fikir bisa mendongkrak popularitas ternyata malah menghilangkan rasa simpati dengan mencampur adukkan ibadah dan politik. thanks

    @mikekono : iya mbak yulis, mestinya Ramadhan konsentrasi beribadah dulu. politiknya ntar habis Ramadhan……thanks mbak

  11. Yeah…😕

    Dan hal seperti itu tampaknya masih akan berlangsung lama di negeri kita.

    Tjabpe d™🙄

    @mikekono : yeahh…begitulah

  12. ah.. biarin saja mike. mereka memang selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk berpolitik, ga peduli timingnya. seperti waktu ujian nasional anak2 sekolah di sumsel kemarin, di setiap lembaran soal ada pesan singkat dari gubernur😀
    memang sih kalimatnya menyemangati, tapi kenapa harus ada photo beliau juga disitu.. kampanye terselubung😉

    @mikekono : ya udahlah, klo mbak Lies bilang biarin aja, ya udahlah kita biarin aja.

  13. moga aja yang ada adalah pendidikan politik ke masyarakat di bulan ramadhan😀

    @mikekono : ya, pendidikan politik bernuansa religius

  14. nggak heran lagi …

    @mikekono : sudah jd rahasia umum

  15. ga di pusat ga di daerah tnyt sama aja..
    huaaahhhh…
    *menghela nafas

    @mikekono : ya sama saja, sama-sama amburadul. huaaaahhh. *thanks dinda ida*

  16. bingung juga ya memisahkan antara agama dan politik, memang ironi ketika sebuah acara keagamaan yang suci dijadikan ajang kampanye… tapi ya mau gimana lagi, kita tidak bisa berbuat apa2.. apalagi kalau melihat kenyataan bahwa banyak juga partai politik yang berlandaskan sebuah agama..

    @mikekono : hal itu memudahkan kita utk memilih dan memilah

  17. Sambil menyelam minum susu tu… Ambil positifnya aja…🙂

    @mikekono : yaa, ambil positifnya aja

  18. jadi bang..kalo abang gak mau tuh lembaran jadwal puasanya..kasih yessy aja donnng..di rumah belum punya niii

    @mikekono : jadwal puasa itu kan utk orang yg berpuasa

  19. bener kang ……

    yak itulah politik di negera kita …..

    nggak pandang waktu katanya …🙂
    kan masa kampanye 1 th … so, dimanfaatin dunks (begitulah kiranya …😀 )

    @mikekono : ya, politik kesempatan dalam kesempitan

  20. hmmm….. selalu memanfaatkan keadaan ….
    Pinter sekali yach …..🙂
    Lam kenallll
    @mikekono : lam kenal jg. ma kasi yo

  21. abanggggggggg..yessy puasa tauuuuuuuuu..
    astaghfirullah
    *tarik nafas dalem dalem dalemmmmmmmmmm*

    @mikekono : siapa yg bilang mbak ngga puasa ?
    kebangetan kali tuh orang, yg bilang yessy ngga puasa…..!

  22. Buat mba’ Yessy, dah baca ini belum?

    *biar ga marah-marah mulu*🙄

  23. Ada link di kata “ini”, gak keliatan. Mgkn krn efek temanya…🙄

  24. ah… begitulah… ga cuma ramadhan aja kok…

    @mikekono : ya…..begitulah….memang begitulah

  25. walah kok menyedihkan gitu tho.padahal tanah air tlah kutingalkan hampir 7 tahun, tapi kok perubahan tetep kagak ada ya?

    @mikekono : emangnya mbak kemana aje selama 7 tahun. kok ngga bilang2

  26. Sebab saingan makin banyak bos, dan rupanya dianggap beda tipis antara ritual politis dengan ritual ramadhan.

    @mikekono :ya bos, sm dgn si beti (beda tipis).
    santribuntet dgn santritakkhatam juga sama….cuma beti

  1. Ping-balik: Koq lapar ya… « ~fat72009/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: