Tak Puasa (Hingga) Mati


“Sesungguhnya sangat banyak orang berpuasa, tapi yang diperolehnya hanya lapar dan dahaga saja”.(Al-Hadits).

Betapa meruginya seorang hamba Allah yang sudah setengah modar menahan rasa lapar dan dahaga, sejak subuh hingga maghrib, ujungnya hanya beroleh kesia-siaan belaka.

DIA tak berkenan memberi apresiasi terhadap ibadah puasa yang dikerjakan tanpa ditopang fondasi iman yang kokoh dan penuh perhitungan (imanan wakhtisaban)  serta sikap lego-lilo, pasrah padaNya (sami’na wa atha’na).

Alhasil banyak orang sejatinya tak kunjung puasa (hingga) mati. Sebab mereka berpuasa selalu tanpa niat dan ketulusan. Mereka puasa sekadar ikut-ikutan. Cuma melepas rodi, atau karena segan sama mertua, ikutan pacar, dan tak enak hati dengan atasan di kantor. 

Berpuasa yang dikerjakan tanpa dibarengi kemauan dan kemampuan membersihkan hati. Membentengi diri dari ghibah. Memelihara mulut, mata dan telinga. Selanjutnya hanya akan menuai lapar dan dahaga saja.

Selama sebulan dalam setahun, umat Islam dikenai kewajiban menjalankan ibadah puasa. Tujuannya, agar segenap hamba Allah mengejawantah menjadi orang-orang yang takut/patuh kepadaNya (muttaqien).

Sayangnya, sosok muttaqien sebagai ultimate goal puasa, hanya segelintir saja yang sukses mendapatkannya. Padahal di sepanjang usianya hingga beranak cucu, mereka selalu berada di garda terdepan menyambut kedatangan Ramadhan dan setia pula melaksanakannya.

Terdapat begitu banyak fakta, mereka yang sangat rajin berpuasa, pasca Ramadhan, tetap keukeuh pada tabiatnya semula sebagai : pemimpin zhalim (seperti Idi Amin), pejabat korup, suami yang khianat, istri tak pandai mensyukuri nikmat, anak durhaka, dan politisi tak punya rasa malu.

Kualifikasi manusia sedemikian– yang tak pernah berubah tabiatnya kendati telah berpuasa selama berpuluh tahun–selain cuma memperoleh lapar dan dahaga, mereka juga tak pernah puasa hingga mati. Allahu A’lam Bish-shawab.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 1 September 2008, in agama, Kehidupan, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. met puasa dan mohon maaf lahir bathin😀

    @mikekono :
    syukran katsir ya ukhti

  2. Ya Allah.. semoga aq, bang agus, dan semua yg sedang membaca tulisan ini ga termasuk ke dalam golongan ini. Amin ya rabbal alamien.

    @mikekono :
    kl mbak Ida kayaknya hampir pasti senantiasa berpuasa imanan wakhtisaban hingga mencapai predikat muttaqien. Amiiin

  3. Allahu A’lam Bish-shawab, Insya Allah kita tidak tergolong kedalam orang2 spt itu

    @mikekono :
    Insya Allah Nin, amin ya rabbal alamin

  4. selamat puasa ya bang..

    mohon maaf lahir dan bathin

    @mikekono :
    same same, smg sahurnya ngga pake jengkol

  5. Wah jadi takut membacanya, jangan jangan saya termasuk golongan itu. Semoga Allah melindungi saya. Amien.

    Selamat menunaikan Ibadah puasa ya Bang. thanks

    @mikekono : saya yakin mbak Yuli termasuk hamba Allah yg muttaqin. Amiin. thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: