Monthly Archives: September 2008

Sahabat Semua : Terimalah Maafku


Hari kemenangan Idul Fitri segera tiba. Kemuliaan dan keberkahan hari itu layak kita sambut dengan hati tulus dan ikhlas, seraya mengumandangkan gema takbir, tahlil, tahmid, dan taqdis. Hal ini sejalan dengan pesan Nabi SAW :”Hiasilah hari lebaran dengan mengagungkan namaNya.”(HR.Thabrani).

Makna esensial Idul Fitri adalah kembali pada kesucian (terbebas dari segala dosa), setelah menjalankan ibadah puasa secara kaafah (totalitas).

Sesuai dengan esensi Idul Fitri itu, jelang hadirnya hari penuh keberkahan itu saya ingin menyampaikan permintaan maaf dari hati sanubari paling dalam kepada segenap sahabat ; rekan-rekan blogger, para pembaca, mungkin saja ada yang merasa tersinggung dengan comment atau tulisan-tulisan saya.      

Hai para sahabatku semua, terimalah permintaan maafku nan tulus ini. Semoga jalinan persahabatan di antara kita bisa langgeng selamanya dan terus berjalan dengan lebih baik di masa mendatang. 

Kita boleh-boleh saja tak pernah, bahkan mungkin saja mustahil berjumpa (kopdar) selamanya, sebab tempat tinggal kita memang sangatlah  berjauhan, ada yang berdomisili di Colorado, Sidney, Jakarta, Jogja, Palembang, Bogor, Solo, Bandung, Makassar, Pekanbaru, Medan, dll.

Tetapi jarak yang memisahkan itu, insya Allah tidak akan mengurangi arti penting jalinan persahabatan yang sudah semakin membatin dan mendalam di kalbu kita masing-masing.

Melalui tulisan ini saya ingin menyapa dan menyampaikan Selamat Idul Fitri 1429 H kepada seluruh teman blogger yang sudah pernah mampir ke Mikekono (meninggalkan komen, sekadar nengok-nengok) atau mereka yang belum sempat mampir. Beberapa di antara para blogger ini sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.

Mungkin dalam beberapa hari ini kita tak bisa lagi saling menyapa sebab saudaraku tengah sibuk berlebaran dan saya juga tak bisa blogwalking, karena beberapa hari ke depan akan mudik ke kampung halaman.

Tetapi sahabat blogger semua akan selalu ada di hatiku. Saat berada di kampung, wajah para sahabat semua (baik yang transparan maupun abu-abu) pasti akan selalu terbayang dan mungkin akan hadir dalam mimpiku.

Tapi, kendatipun Mikekono rehat sejenak dan para blogger sibuk berlebaran, bagi yang ingin mengirim pesan dan komen di blog ini tetap dipersilahkan dengan pintu terbuka. Pasca lebaran komen itu segera akan dibalas.

Sekali lagi ku bermohon, hai sahabat semua : terimalah maafku…..(mata agak berkaca-kaca). Minal Aidin wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan bathin. See you again

Terpuruk dalam Pelukan ‘Tubang’


Seorang sahabatku (perempuan) bermukim nun jauh di kota Kabanjahe Kabupaten Tanah Karo Sumatera Utara, belum lama ini curhat lewat email.

Perempuan yang benar benar sahabat (non sejati) ini meminta pendapatku seputar dirinya yang kini semakin terpuruk serta sulit melepaskan diri dari perangkap seorang pria tua bangka atau acap disebut ‘tubang’.

Dia….atau sebut saja namanya Mamta Kulkarni, mengaku sudah cukup lama (sekitar empat tahun) menjalin hubungan dengan si Tubang ini. Konon, hubungan ini bermula dari proses witing tresno jalaran suko kulino.

Mamta bersama Tua Bangka itu rupanya bekerja dalam profesi yang sama. Awalnya perempuan lumayan ayu ini cuma sekadar curhat soal kerjaannya……tetapi lama-kelamaan keseringan curhat benar-benar dimanfaatkan pria Tua Bangka ini untuk memikat hati si gadis nan ranum tersebut.

Sahibul hikayah (singkat cerita) setelah beberapa tahun berhubungan secara intens. Si pria Tua Bangka ini sering bercerita tanpa sungkan kepada teman-temannya bahwa dia telah sukses merenggut mahkota sahabat saya itu.

Soal itu sebenarnya tak terlalu dipersoalkan sahabatku tadi. Dia benar benar sudah pasrah. Dia hanya meminta keseriusan pacarnya yang sudah tua bangka itu agar segera menemui kedua orangtuanya untuk melamar sekaligus menikahinya.

Tetapi tunggu punya tunggu, lamaran tak kunjung datang. Si Tubang ini selalu punya seribu satu alasan untuk menyatakan ketidaksiapannya. Padahal, konon dia sudah punya istri dan sudah berkali-kali kawin.    

Akibat tidak adanya kejelasan ending dari hubungan antara keduanya. Terdengar kabar, sejak delapan bulan silam, sahabatku ini sudah berhasil lolos dari perangkap pria tua bangka durjana tersebut. “Saya merasa lega sekarang, sudah bisa benar-benar putus dan hanya berteman saja dengannya,” ungkapnya dalam email itu.

Wajar saja temanku ini merasa lega, sebab sudah menjadi rahasia umum dia sering menjadi korban kekerasan fisik sang pacar yang bergaya bak begundal itu. Dan satu hal lagi, si tubang ini juga sangat protektif dan pencemburu numero uno.

Namun apa hendak dikata, kelegaan tadi cuma sesaat saja. Entah dari mana muasalnya, terdengar kabar dua bulan lalu, hubungan antara sahabatku dengan si Tubang itu kembali mesra seperti sediakala.

Nasihatku padanya agar dia menata kehidupan baru dan membuang jauh-jauh kenangan bersama pacarnya yang sering berlaku kasar itu, cuma sesaat saja dijalankan. Sahabatku ini ternyata tak bisa menahan rasa rindunya untuk kembali ke pelukan sang pacar, yang berbeda usia sekitar 20 tahun dengannya itu.

Sungguh mengherankan,  walaupun pria itu berstatus Tubang, ternyata tak mudah dilupakan begitu saja. Padahal pria Tubang ini selain tak ngganteng, hidupnya pas-pasan, jarang beribadah, juga dikenal sebagai lelaki pemberang. Anehnya, kenapa sahabatku itu masih juga mau memaafkan dan kembali menerima cinta pria Tubang itu ya……?

Mungkin fenomena inilah yang disebut love is blind, cinta tak bisa dirasionalkan, dan selalu penuh dengan kejutan yang acapkali kontradiktif dengan akal sehat. (atau mungkin para pembaca punya pendapat lain mengapa sahabatku tak bisa lepas dari ‘Tubang’ sialan itu )

Lebih Jauh tentang Mikekono


Saya, termasuk new comer di kalangan blogger. Karenanya saya merasa surprise sekaligus agak mudheng juga ketika memperoleh PR dari tiga teman blogger sekaligus. Pertama, PR dari ibunda Zaskia Rahanatha, Nina (simple life) dan kedua dari Secha Andriani Putri yang suka disapa Ic dan ketiga dari Ariefdj, yang piawai berbahasa France dan commentnya selalu cerdas dan menggelitik.

Saya merasa mendapat kehormatan dan sedikit terkesan, sebab yang memberikan PR ini dua perempuan yang kesohor berparas cantik, cerdas dan dianugerahi budi pekerti luhur serta seorang pria mapan dan tak pernah lalai shalat lima waktu (mas Ariefdj). wow, perfecto…. amazing. Read the rest of this entry

Kenapa Mesti Mudik ?


Setiap kali jelang lebaran tiba, jutaan para perantau di Jawa dan seantero nusantara ini, selalu saja disibukkan dengan persiapan berangkat mudik atawa pulang ke kampung halaman.

Kenapa mesti mudik ? Sebegitu pentingkah mudik itu, sehingga banyak orang rela antrian panjang dan berdesak desakan untuk mendapatkan tiket KA atau bus. Bahkan ada yang siap berangkat walau tak mendapat tempat duduk.

Ditinjau dari aspek sosial budaya, mudik memang banyak manfaatnya. Dengan mudik seseorang bisa memperkokoh tali silaturrahmi dengan keluarga yang mungkin sempat retak atau sudah terlalu lama ditinggal. Lewat mudik pula, seseorang bisa merasakan kembali arti penting sebuah keluarga yang utuh. Read the rest of this entry

‘Kerajaan’ itu Bernama Parpol


Beberapa hari ini kabar pemecatan Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Irgan Chairul Mahfiz oleh Ketua Umum DPP Surya Dharma Ali, menghebohkan dan menghiasi pemberitaan sejumlah media nasional.

Terlepas dari benar atau tidaknya pemecatan itu…atau akankah pemecatan urung dilakukan setelah mengundang sejumlah proses di internal partai berlambang Ka’bah itu. Namun satu hal pasti, beberapa parpol selama ini memang cenderung dimenej seenaknya dan sesuai kehendak Ketua Umum dan elite pengurus yang berada di lingkaran dalam sang Ketua Umum.

Karena itu tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, parpol sekarang dimenej bak sebuah ‘kerajaan’. Seperti lazimnya ‘kerajaan’, tentunya sang Raja (Ketua umum) bebas melakukan apa saja sesuai dengan kepentingan dan keinginannya.

Aturan yang berlaku dalam sistem ‘Kerajaan’ bernama parpol itu cuma terdiri dari dua pasal.
Pasal (1) : Raja (Ketua Umum) tidak pernah melakukan kesalahan.
Pasal (2) : Jika Raja (Ketua Umum) melakukan kesalahan (lihat pasal 1).

Karena parpol sudah menjelma menjadi sebuah ‘kerajaan’, maka tidak perlu heran, manakala penyusunan caleg di hampir semua parpol, berlangsung sesuka hati dan mesti mengikuti selera sang Raja (Ketua Umum).

So, tak aneh bila dalam komposisi caleg, kemudian muncul nama istri, anak, keponakan, dan para kerebat dekat lainnya. Kalau tak ada kerabat, maka dimunculkan teman-teman dekat.

Seseorang yang belum pernah aktif di partai, tiba-tiba bisa nongol di nomor urut satu daftar caleg, karena yang bersangkutan memiliki hubungan kedekatan pribadi atau telah menyetorkan sejumlah upeti kepada sang Raja.

‘Kerajaan’ bernama parpol itu akan terus menancapkan kekuasaan dan pengaruh dinastinya hingga  kerajaan tersebut punah ditelan zaman, karena rakyat mulai sadar dan muak melihat tingkah laku sang Raja yang semakin arogan dan bergaya bak Idi Amin.

Parpol yang dikelola bak ‘kerajaan’ tidak bisa diharap tampil menjadi pelopor penegakan demokrasi. Sebab yang tengah dan terus mereka lakukan, hanyalah berupaya untuk terus memelihara kelangsungan dinastinya dengan cara apa pun.

Sahabat Sejati Cuma Ilusi


Sahabat sejati selalu di hati. Sahabat sejati selalu peduli. Sahabat sejati  senantiasa memberi arti….

Di masa kini, sahabat sejati cuma ilusi. Sahabat sejati, adanya di alam mimpi.

Di sini….sahabat sejati tak ada lagi. Sahabat sejati sudah lama pergi dan tak pernah kembali lagi. Sahabat tak lagi peduli, saat diri hendak mati….?

Sahabat hadir kala ada pada diri. Sahabat datang jika ada maksud di hati. Sahabat berlalu saat diri tak jua memberi……

Sahabat sejati cuma ilusi……dan tak kunjung datang lagi. Sahabat sejati hanya mekar dalam puisi. Persahabatan tak lagi berbingkai nurani .

Sajak di atas atau entah apa pun namanya, diilhami oleh pengalaman sendiri (true story). Saya pernah berteman dekat dengan seseorang sekitar 10 tahun lebih. Dia sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, dan mungkin itulah disebut sebagai sahabat sejati.

Tetapi persahabatan tersebut mendadak sontak hancur lebur setahun silam, karena sang sahabat sejati tega mengkhianati. Dia menggunting dalam lipatan.

Itulah sebabnya muncul keyakinan di dalam diri saya bahwa yang disebut sahabat sejati cuma ilusi, dan bualan belaka.

Sebuah persahabatan masa kini tak lagi bisa dilepaskan dari background reasoning serta akan berjalan dengan langgeng manakala terdapat situasi saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Dalam konteks demikian sejak mulai ngeblog dua bulan lalu……saya mulai merasakan kembali munculnya nilai-nilai persahabatan hakiki. Antar blogger terjalin sebuah silaturrahmi, saling berkunjung balik, serta saling mencintai walau tak kenal rupa.

Sahabat sejati adalah memberi tanpa meminta. Cinta sebenar, cinta tak kenal rupa ……..?!

Mestinya Bang Yos Biarkan Icuk


Jelang Munas PBSI, muncul berita Ketua Umum PBSI Sutiyoso, biasa disapa Bang Yos disebut-sebut akan menuntut Icuk Sugiarto karena brosur kampanye pencalonannya menggunakan logo PBSI. Icuk dinilai tak berhak memakai logo itu karena tengah menjalani skorsing hingga Desember 2008.

Sebaliknya mantan Juara Dunia bulutangkis tahun 1983 itu,  tetap keukeuh merasa benar dan berhak menggunakan logo tersebut, karena dirinya memang ingin menjadi Ketua Umum PBSI, bukan ketua partai politik.

Terlepas dari siapa yang benar di balik perseteruan panjang Bang Yos dengan mas Icuk ini, saya menilai kontroversi ini justru merugikan Bang Yos secara politis, dalam konteks image building-nya sebagai salah satu kandidat Presiden pada Pilpres 2009.

Sebaliknya Icuk Sugiarto, secara politis sangat diuntungkan. Sebab dirinya yang pernah sangat berjasa bagi perbulutangkisan Indonesia, justru terkesan dizhalimi dan dihalang-halangi untuk ikut dalam bursa kandidat Ketua Umum PBSI.

Padahal bisa jadi di tangan Icuk, yang sangat paham betul tetek bengek olahraga paling moncer di Indonesia itu, perbulutangkisan kita akan lebih maju. Seperti halnya wadah sepakbola Eropa (UEFA) lebih kreatif dan berkembang pesat sejak dipimpin seorang mantan pemain terbaik Eropa Michael Platini (Perancis), setahun silam.

Sikap Bang Yos yang terkesan tidak memberi peluang bagi Icuk untuk ikut serta sebagai kandidat dalam Munas PBSI, mungkin saja benar secara hukum. Tetapi secara politis dan kemanusiaan, langkah Bang Yos itu tidak populer dan bisa dinilai sebagai gaya politik masa lalu (set-back).

Sebagai seorang pemimpin yang arif wicaksono serta menjunjung tinggi demokrasi, mestinya Bang Yos memaafkan sekaligus membiarkan Icuk maju sebagai calon Ketua Umum PBSI.

Apalagi calon yang disebut-sebut didukung Bang Yos sebagai penggantinya adalah Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso. Dari hitung-hitungan kekuatan dukungan…..bukankah sudah hampir pasti Bang Yos bersama sejumlah daerah yang dibinanya selama ini pasti akan lebih solid dan mudah memenangkan kandidat yang direstuinya itu….?

Dalam konteks demikian, mestinya Bang Yos tidak lagi memandang Icuk sebagai ‘musuh’ yang mesti dihancurkan, melainkan sebagai ‘anak pintar yang nakal’. Sosok seperti ini seharusnya dibina, bukan ‘dibinasakan’……!

Keindahan tak Selalu Menarik


Keindahan tak selalu menarik….! Keindahan alam dan kecantikan seorang wanita, tidak selalu membuat kita betah berlama-lama memandang serta memelototinya.

Toba Lake di Sumatera Utara diakui sebagai salah satu danau terindah di Asia Tenggara atau mungkin di jagad raya. Tetapi entah kenapa saban kali berkunjung ke sana, saya tak betah berlama-lama. Ingin segera bergegas pulang.

Bisa jadi hal ini disebabkan situasi dan fasilitas yang terdapat di sekitar Danau Toba itu tak terlalu menyenangkan, misalnya di sepanjang jalan sering terlihat onggokan sampah.

Di tempat indah nan bersih juga tak selalu menarik dan ingin berlama-lama di sana. Ketika berkunjung ke Bali selama sepekan sekitar 4 tahun silam bersama teman-teman– satu di antaranya Toga Nainggolan (author Nesiaweek)– kami mengunjungi hampir semua tempat wisata di Pulau Dewata nan kesohor itu.

Betul, keindahan alam di Bali teramat sangat memesona, tetapi entah kenapa saya juga tak merasakan kesan yang sangat mendalam dan hingga kini tak terlalu bersemangat jika diajak berkunjung ke sana.

Hal itu bermakna, keindahan atau merasa indah itu ternyata sangat tergantung pada perasaan dan suasana kebatinan kala itu. Berada di gubuk tengah sawah, bisa jadi akan terasa lebih indah dan syahdu, karena saat itu tengah berduaan dengan seseorang yang sangat disayangi.

Berdua dengan perempuan cantik di suatu tempat mendadak menjadi sangat membosankan dan ingin segera mengucap adios, karena tiba-tiba saja muncul perasaan tak pede dan kesulitan untuk memulai dialog yang cair dan penuh keakraban.

Tetapi di saat lain kala berdua dengan perempuan yang bergincu ala kadarnya dan berbusana produk Pajak Petisah Medan,  mungkin akan dikenang sebagai salah satu saat paling indah di sepanjang hayat, karena suasana pertemuan begitu mencair dan semua lalu lintas percakapan berjalan dengan lancar dan penuh canda apa adanya alias tak terkesan dibuat-buat bak gaya Cinta Laura.

Keindahan ragawi atau pesona alam, memang indah tapi tak selamanya menarik. Suatu ketika berkunjung ke museum bersejarah atau malah melihat ikan-ikan berseliweran di kolam dekat rumah akan terasa lebih menarik dan menyenangkan hati.

Bagi saya kalau bisa berkunjung ke stadion Anfield Liverpool, Nou Camp Barcelona atau bertemu dengan Hillary Clinton, Nurul Izzah, Kajol, Ahmadinejad, Shahrukh Khan,  atau Diego Maradona,  mungkin akan menjadi pengalaman paling indah dan mengesankan. Kl bertemu dengan George Bush, Cinta Laura atau Pamela Anderson, ahhhh…..ntar dulu lah.

Sementara bagi seorang nenek bermain dengan cucunya yang masih berumur 5 atau 7 tahun, bisa jadi merupakan keindahan yang selalu dirindukan. Keindahan tak selalu menarik. Keindahan akan terasa indah kalau jiwa (nafs or soul) atau mind set  (cara berpikir) kita selalu memandang kehidupan sebagai sebuah proses pembelajaran agar lebih mengetahui dan senantiasa mensyukuri semua yang diberikanNya. Monggo…..

Politik Pencitraan dan Rekayasa Media


Hari ini (10/9) saya merasa banyak memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman baru setelah selama satu jam penuh ( pukul 11.00 hingga 12.00 WIB ),  berdiskusi tentang berbagai hal dengan seniorku Drs Jhon Tafbu Ritonga MEc di ruang kerjanya.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) yang akrab disapa JTR ini menyatakan kekecewaannya dengan pola dan kebijakan pemberitaan media massa nasional dan lokal sekarang yang cenderung penuh dengan rekayasa sesuai dengan kepentingan pemilik modal alias tak sejalan dengan fakta sebenarnya.

Lalu JTR memperlihatkan headline sebuah media nasional yang mengutip pernyataan mantan Rektor UGM Sofyan Effendi tentang citra BPK yang merosot drastis selama berada di bawah kepemimpinan Anwar Nasution.

Padahal dalam pandangan JTR, justru di tangan Anwar lah, kiprah BPK saat ini semakin disegani dan diperhitungkan sekaligus berhasil mengungkap sejumlah kebobrokan administrasi dan laporan keuangan aparat pemerintah di pusat dan daerah.

Saya pikir apa yang dikemukakan JTR itu benar adanya. Bahwa Anwar Nasution sekarang berada dalam posisi tersudut, karena memang dialah yang pertama kali mengungkap soal adanya aliran dana BI ke DPR. Dan Anwar paham konsekuensi langkahnya itu. Dalam sepak terjangnya sebagai Ketua BPK, dia juga banyak membuat gebrakan yang menyebabkan sejumlah pejabat ketar ketir.

Bahkan Anwar juga tak segan-segan ‘melawan’ Ketua Mahkamah Agung RI Bagir Manan. Nah, bisa jadi sikapnya yang sering bicara blak-blakan dan mengungkap semua kebobrokan dalam laporan keuangan pejabat pusat dan daerah, membuatnya banyak dimusuhi orang.

Sosok seperti Anwar Nasution ini sudah pasti pula tidak terlalu disukai kalangan media massa. Sebab orang seperti dia sudah barang tentu tidak akan pernah memberi keuntungan (ekonomis) bagi para pemilik penerbitan media massa tersebut.

Pasalnya, gebrakan Anwar ini pulalah menjadi salah satu penyebab berkurangnya sumber-sumber pemasukan bagi kalangan media massa. Para pejabat yang biasanya suka memasang iklan, sudah pasti tak lagi bebas melakukannya, karena hal seperti itu tidak dibenarkan BPK.

Begitulah kejamnya media massa. Citra seseorang bisa menjadi positif atau negatif, sangat tergantung pada kemurahan hati media massa. Dalam hal ini Amien Rais pun pernah mengeluh, karena dia merasa sudah panjang lebar bicara dengan wartawan mengkritisi kebijakan pemerintahan SBY, ternyata yang muncul di media massa keesokan harinya, sangat mengecewakan karena cuma ditempatkan di halaman dalam dengan kolom sangat kecil.  

Politik pencitraan memang sangat banyak tergantung pada rekayasa media. Tokoh seperti Nurcholish Madjid (alm) dulu sangat cepat melejit dan dikenal sebagai pemikir muslim handal seantero nusantara, karena media berpengaruh nasional selalu menempatkannya dalam porsi pemberitaan yang cukup gencar.

Media massa juga sering dimanfaatkan untuk melakukan character assasination (pembunuhan karakter). Sebagai contoh, derasnya pemberitaan soal kegagalan bibit padi super toy. Pemberitaan ini sedikit banyaknya berhasil merusak citra SBY.

Sikap Agus Condro yang terkesan ujug-ujug mengaku bersama sejumlah koleganya di Fraksi PDIP menerima uang suap deputi senior BI Miranda Goeltom, juga bisa disebut sebagai bahagian dari skenario politik pencitraan negatif terhadap PDIP atawa Megawati Soekarnoputri.

Menggunakan media massa sebagai sarana untuk menyerang atau menjelekkan citra lawan politik, sebenarnya sah-sah saja. Namun kita berharap pihak media massa hendaknya bisa lebih selektif dan jangan menyesatkan publik. 

Dengan kata lain, janganlah citra seorang tokoh atau pejabat yang sejatinya bersih, justru dibuat atau direkayasa menjadi seolah-olah yang bersangkutan penuh dengan kekotoran dan kemunafikan atau sebaliknya sosok yang sebenarnya penuh dengan kemaksiatan dan kemunafikan dipoles menjadi figur teladan dan berbudi pekerti luhur.

Tertawa Dulu, Nangis Kemudian


Dalam menjalani kehidupan nan serba temporer dan tak ada apa-apanya dibanding kehidupan abadi kelak di akhirat,  kita sering tak menyadari atau bahkan dengan sengaja, telah melakoni sebuah pilihan keliru.

Pilihan keliru dimaksud ialah sangat ingin dan bersemangat meraih kesuksesan serba instan serta melakukan segala cara supaya bisa menikmati kemewahan. Alhasil disadari atau tidak, kita telah memilih tertawa atau larut dalam gembira-ria terlebih dahulu, baru menangis kemudian.

Seseorang yang sedari awal menyadari, dirinya tak punya basis massa yang signifikan, tetapi ngotot mencalonkan diri menjadi kandidat kepala daerah. Ujungnya seperti sudah ditebak, dia menuai kekalahan telak….tabungan ludes….utang di sana-sini, keharmonisan rumahtangga pun terganggu. Orang seperti ini juga lebih memilih tertawa dulu, menangis kemudian.

Para caleg yang saat ini diliputi kegembiraan dan optimisme berlebihan karena memperoleh nomor urut 1, pada sekitar Juni 2009 mendatang, kita akan sama-sama menyaksikan akan sangat banyak para caleg itu ‘menangis berjemaah’.

Mereka menangisi dan meratapi nasib sialnya, karena telah rela menjual mobil, sepeda motor, dan mengutang sana sini, demi membiayai keperluannya sebagai caleg. Tapi kursi yang diimpikan tak berhasil didapat. Para caleg yang gagal, ujungnya tak cuma sekadar menangis,  bisa jadi akan ikut tertawa juga, mereka tertawa-tawa, tertawa terusss….seorang diri !

Orang yang sudah berumahtangga, tiba-tiba terlibat dalam perselingkuhan, termasuk dalam kategori tertawa dulu, nangis kemudian. Sebab perselingkuhan lazimnya bisa menimbulkan perceraian bahkan pembunuhan.

Ketika palu perceraian diketok, barulah air mata mengalir bercucuran. Tak kuasa membayangkan derita akan segera berpisah dengan anak-istri, yang sebetulnya teramat sangat disayanginya.

Dalam hal ini King of Dankduth Rhoma Irama benar sekali saat bersenandung dalam bait lagunya, “Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga, sungguh berat hati ini, kehilangan dia”

Begitulah manusia, setelah kehilangan seseorang, barulah muncul penyesalan sangat mendalam. Setelah dirinya tiada, kita senantiasa teringat semua kebaikan serta sejuta kenangan indah kala bersamanya.

Kalau tak ingin tertawa dulu, nangis kemudian, seperti dialami anggota DPR-RI Hamka Yandhu, Max Moein, Al-Amin Nasution, Walikota dan Wakil Walikota Medan Abdillah-Ramli, si tukang jagal Ryan, dan lainnya…..hal yang perlu dilakukan, tiada lain senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikanNya serta tak terlalu ngoyo dan ambisius menjalani kehidupan.

Dan satu hal yang lebih penting lagi, rajin-rajinlah bercermin. Dengan sering memandang dan menelanjangi diri sendiri di depan cermin, lambat laun akan muncul kesadaran tentang kelemahan dan kelebihan diri kita sendiri.

Kesadaran tentang jatidiri niscaya akan membuat kita selalu mawas diri dan selalu tahu persis kapan saatnya untuk tertawa serta tak pernah terkejut bila tiba saatnya menangis.