Seni Islami, bagaimanakah ?


islmicaSebuah karya seni ; novel, puisi, lagu, lukisan, sinetron, atau film, acapkali memantik kontroversi di kalangan umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia.

Beberapa karya seni yang pernah mengundang kegaduhan dan protes umat Islam antara lain The Message, The Satanic Verses, Schindler’s List, Fitnaa, dll.

Buku karangan Salman Rushdie The Satanic Verses misalnya berujung pada keluarnya vonnis mati dari seorang Mullah dan pemimpin spiritual paling dihormati di Iran kala itu, Ayatullah Rohullah Khomeini (alm).

Terkait dengan fenomena itu, menarik dicermati bagaimana sesungguhnya seni dalam perspektif Islam. Sejauh ini, belum ada definisi seni Islam yang bisa diterima semua komunitas Islam.

Barangkali pendapat Ernst Diez dalam A Stylistic Analysis of Islam Art (1982) bisa dijadikan salah satu rujukan. Menurut Diez, seni Islam atau karya seni ialah pengungkapan sikap pengabdian kepada Allah azza wa jalla.

Sementara M Abdul Jabbar Beg dalam Fine Art in Islamic Civilization (1987) mengemukakan, suatu bentuk karya Islami merupakan gambaran tentang pandangan hidup kaum muslim. “Karya seni Islami tidak harus dihasilkan seorang muslim,” katanya.

Soal ini ada buktinya. Arsitektur Masjid Istiqlal Jakarta (masjid termegah di kawasan Asia Tenggara) ternyata didesign seorang arsitek nonmuslim (Ir Silaban). Artinya, historical background pembuat karya seni akhirnya tidaklah menjadi tolok ukur utama.

Yang lebih penting adalah karya yang telah dihasilkannya ; apakah bermanfaat atau tidak bagi umat Islam.

Iwan Fals, Dik Doank, Slank, Gigi, Dewa, acap tampil urakan, tapi lirik lagunya banyak bernuansa Islami. Sementara Dewi Persik yang muslimah dan dengan bangga mengekspos keberangkatannya umroh, selain tak Islami, goyangannya saat bernyanyi sering membuat mual.

Ajaran Islam sejatinya sangat apresiatif terhadap karya seni. Karya seni yang mengandung seruan berbuat kebaikan kepada orangtua, mencintai tanah air, menyayangi sesama, memerangi korupsi, menjaga kelestarian alam, termasuk dalam kategori seni yang Islami.

Sebaliknya gambar nudis si cantik Carla Bruni (istri Presiden Perancis Nicolas Sarkozy), kendati disebut mengandung nilai artistik tinggi, jelas bukan karya seni Islami.

Ajaran Islam menentang kebebasan berkreasi yang menjurus pada tontonan atau bacaan berbau takhyul, syirik, mengundang birahi serta segala jenis seni yang dapat mendorong degradasi akhlak.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 22 Agustus 2008, in agama, Budaya, Musik & Film and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. postingan yang bagus dan mencerahkan, mas agus. memang dunia seni menimbulkan banyak penafsiran. khususnya di kalangan islam. pdahal sesungguhnya, seni mampu memperhalus budi sekaligus memperkuat kepribadian. mungkin perlu dibedakan antara karya seni dan karya kitch yang hanya memburu nilai komersial sehingga tak jarang mengeksploitasi pornografi dan sejenisnya.

  2. setuju bang, yg pntng produknya yang Islami, bukan siapa yg membuatnya
    sutradara Islam jg bnyk menghasilkan karya mengumbar syahwat

  3. Seni baru bisa punya nilai, jika ia bisa membuat kehidupan lebih baik. Jika tidak, ia tak lebih terhormat dari air seni.

    Dan segala yang membuat kehidupan lebih baik, semua yang menyodorkan kita keindahan-keindahan, dengan sendirinya jadi mulia, dan tak perlu diberi nama.

    *bah, makin serius pulak*

  4. @setuju mas sawali, maturnuwun udah mampir

    @Bung Toga,
    nama tetap perlu, tapi isi lebih penting lagi
    gracias

    *serius lah eceknya*

  5. mereka kan sudah berkreasi untuk dan atas nama Islam, bagaimana dengan kita…???😀

  6. maunya bagaimana ya ?
    lho kok

  7. kyaaaaaaaa aq berharap seniman2 yg mengatasnamakan islam pdhl seni yg dibawanya mengandung kontroversi dan bahkan dapat memecahbelah umat islam segera disadarkan oleh yg maha kuasa. amin.

    @mikekono : amin ya rabbal alamin. semoga mereka segera sadar dan kembali ke jalan yg benar

  8. Setelah Istiqlal yang diarsiteki nonmuslim jadi, ada sesuatu yang mengganggu di sana. Jika diperhatikan dari kejauhan, tiang penyangga dan lantai yang bertingkat menyisakan tanda salib.

    Bukan bermaksud berburuk sangka, namun hal ini tidak banyak diperhatikan orang.

    Untung saja ada orang-orang yang jeli. Seperti Ustad Faiz Abdurrazak –seorang kaligrafer nasional yang sudah berpengalaman di kancah internasional yang sekaligus putra kaligrafer kenamaan Abdul Rozak–, beliau kemudian memprakarsai pembenahan pada bagian-bagian yang berbentuk salib tersebut.

    Seolah tidak kurang akal, bagian yang bersilangan itu kemudian diberi hiasan seperti kubah lengkung –khas masjid muslim– dan menghilangkan kesan tiang yang saling bersilangan.

    Semoga menjadi masukan. Thanks.

    @mikekono :wahhhhh…..saya baru tahu itu mas. informasi berharga ini perlu disosialisasikan kepada umat Islam secara meluas. thanks atas masukan berharga ini mas. syukran katsir

  9. Nah, ini dia Bang artikel yang dasyat satu lagi dari Bang Mike.
    Jadi gimana bang Mike, kalau mulai sekarang kita semakin bahu membahu mulai meng-islam-kan diri kita secara hakiki.

    Yuk, mulai dari yang ringan-ringan dulu kali yach, mudah-mudahan tambah hari, tambah usia kita makin dekat dengan segala unsur yang meng-Islam-kan diri & harkat kita sebagai orang yang beriman 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

  10. setuju banget,……
    tapi gmn y mas buat orang2 sadar dalam kebutaan mereka saat ini?

    soalnya banyak loh yang ngeliat tapi sebenarnya buta (buta hati maksudx, he….)
    Seni dalam islam???ada refensinya gak sich?mungkin lebih ke pembinaan akhlak kali y??!!maybe,…soalnya belum pernah tuch Q dengar kalo seni diajarkan oleh para ulama kita,
    paling juga yang diajarkan tuch tauhid, istikharah, dll.

    sebelumnya, thanks udah buat artikel yang bagus banget bkn hanya buat saya, tapi buat semua umat muslim yang insya allah segera tersadar kembali, amin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: