Fanatisme Bollywood


Sebuah bioskop di Mumbai, India. Tak pernah kehilangan penonton, melahap 3 judul film yang diproduksi, setiap harinya!

———————————————————

Saya merasa bersyukur, karena sebagai penonton film, saya tidak fanatik kepada jenis film tertentu. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang, saya menyukai segala jenis film.

Ketika masih kanak-kanak dan menjelang remaja saya sudah akrab dengan nama-nama bintang film terkenal dari negeri sungai Gangga semisal Raj Kapoor, Dev Anand, Dharmendra, Amitabh Bachchan, Shashi Kapoor, Shatrughan Sinha, Nargis, Madhubala, Sharmila Tagore, Hema Malini, Zeenat Aman, Mumtaz, Rekha atau Jaya Bhaduri.

Saya juga masih terkenang dengan film-film yang dibintangi Chen Kuan Thai, Fu Sheng, Chen Sing, David Chiang, Wang Tao, Lin Ching Sia, Carina Lau, atau aktor-aktris Hollywood semisal Marlon Brando, Charles Bronson, Jean Paul Belmondo, Robert de Niro, Raquel Welch, Gina Lollogribida, Ursula Andress, Jacqueline Bisset, dll.

Salman Khan dan Aishwarya Rai dalam film Hum Dil De Chuke Sanam

 

Namun industri film Bollywood, memang sebuah perkecualian dan sangat berbeda dibandingkan dengan industri film negara lain. Bollywood seolah tidak mengenal pasang surut seperti halnya industri film Indonesia.

Bollywood tetap eksis, sejak mulai ada sekitar tahun 30-an hingga sekarang.Setiap tahun dari ratusan film yang diproduksi, terdapat puluhan film berstatus mega hit, hits, semi hit, dan flop.

Sungguh mencengangkan, industri film negerinya Mahatma Gandhi itu sama sekali tidak terpengaruh dengan maraknya televisi swasta dan berbagai jenis hiburan lainnya. Last not but least, film impor dari Hollywood justru jarang mendapat tempat di negeri itu.

Karena pesatnya produksi film di sana, tak mengherankan bila aktor sekaliber Dharmendra, Shashi Kapoor, Rishi Kapoor, Amitabh Bachchan, Mithun Chakraborthy, Govinda, sudah membintangi 100 hingga 200 film sepanjang karier mereka.

Apresiasi masyarakat terhadap bintang-bintang layar perak juga sungguh mengejutkan dan terkadang tak masuk akal. Masyarakat India misalnya, sering memperlakukan para aktor legendaris dan top sekaliber Raj Kapoor, Dilip Kumar, Dharmendra, Amitabh ‘Big B’ Bachchan, Salman Khan, Shahrukh Khan, bak ‘dewa’ yang datang dari planet lain.

Ya, mereka memang sangat fanatis. Ketika Dharmendra, Sunil Dutt, Big B, Hema Malini, Vinod Khanna, Govinda, Jayalalitha, atau Jaya Prada misalnya suatu ketika ingin beralih profesi menjadi politisi,  dengan sangat mudah mendulang suara dan menghantarkan mereka menjadi member or parliament.

Fanatisme masyarakat India hebatnya tak berhenti pada film produk Bollywood saja. Di negeri-nya Mohammad Rafi (salah satu penyanyi legendaris India) itu juga muncul istilah Tollywood, Kollywood, dan Mollywood, sebutan untuk karya film dihasilkan sineas daerah dari Tamil, Telugu dan Malayalam.

Tepatnya, di sana juga berkembang pesat film berbahasa daerah yang memiliki pangsa pasar tersendiri. Kalau di negeri kita, mungkin film berbahasa Batak, Sunda atau Jawa.

Begitu fanatiknya mereka terhadap film karya sendiri. Sampai-sampai film Bollywood (berpusat di kota Mumbai) dan beredar ke seluruh negeri, dianggap belum cukup, sehingga dipandang perlu membesut film daerah sendiri.

Dan sineas di daerah-daerah India tadi bukan sekadar hadir, melainkan bekerja sangat profesional. Industri perfilman daerah juga melahirkan nama-nama melegenda seperti Sivaji Ganeshan, Jayalalitha, Rajnikant, Kamal Hassan, Chiranjeevi, Nagarjuna, Vijaykant, Sarath Kumar, Gowthami, Radhika, Khushboo, Meena, Simran, Rambha, dll.

Bahkan music director number one di Bollywood saat ini, AR Rahman, justru tumbuh dan memulai kariernya dari perfilman daerah di Chennai (Tamil).

Kalau dihitung semua film karya sineas India, mungkin terdapat ribuan film dihasilkan setiap tahunnya. Sangat njomplang bila dibandingkan dengan produksi film Indonesia. Di tengah booming film horor setahun silam pun, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Kecintaan masyarakat mayoritas beragama Hindu itu terhadap film karya anak negeri sungguh mengagumkan. Fanatisme Bollywood tidak ada tandingannya dan tidak akan pernah luntur sepanjang zaman. Namaste…mera dosti, jaihind.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 7 Agustus 2008, in Musik & Film and tagged , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Betul, Bollywood hebat krn masyarakatnya sngt mencintai industri film dalam negeri. Tak sprti kita, sok gengsi dan sll suka sgl yang berbau impor. Lg pula film-film nasional mmng krng bermutu

  2. Hans Miller Banureah

    Film Indonesia dari dulu angin-anginan. Seneas muda sekarang ini pun terkontaminasi dengan pola itu. Ketika hantu menjadi bintang film, dan laku, semua membuat film hantu. Meski menyembul satu-satu, seperti Nagabonar, Ayat-Ayat Cinta, dan beberapa lainnya, secara kuantitas yang tak bermutu jauh lebih banyak daripada yang bermutu.
    Tentang hantu ini, Deddy Mizwar pernah bercanda, akan membuat film NAGABONAR MENJADI HANTU. Itu saking gemes dan kesalnya terhadap potret film Indonesia yang terus menerus sakit.
    Kita pasrah saja, karena semua memang terbalik-balik. Tak hanya di film, dunia musik pun begitu adanya. Lalu….?

  3. Bujur Bung Hans. Dunia musik kita juga sedang ‘sakit’, krn terlalu bnyk kontes mencetak bintang serba instan.
    Bisa menyanyi saja tak cukup sbg bekal jadi bintang….
    Rhoma Irama, Iwan Fals, Fariz RM, Indra Lesmana, Rita Sugiarto, Melly Goeslaw, Vicky Sianipar, bs terus eksis dan melegenda, krn punya sejumlah nilai plus yang tak mungkin bs didapat hanya dengan mengikuti kontes KDI, AFI, stardut, dangdutmania, dan sejenisnya.

  4. saya fans berat Shahrukh Khan. Bollywood memang paten

  5. acha !
    mohabbatein kya koahe?
    Mere Tere Dollana?
    Baca…Suka film India juga? astagaa ..tampang sangar hati Rinto kali Bang!!!. *cabut sebelum di timpuk pake sendalnya bang Agus*

  6. Yessy emang yess
    bisa ngomong India jg ya, dmn belajarnya mera dosti ?
    kya hua zindagi hai,
    Film Bollywood kan tak kalah dgn Hollywood.
    Tum mera sanam ???

  7. HAHAHAHAHAHAHAHAHA…

    Saya bukan pencinta film bollywood, masalahnya saya gerah ngeliat film yang bentar2 nyanyi, bentar2 nyanyi… Mending kalo lagunya ada hubungannya ama critanya.

    Udah gitu gak betah banget liat tiang nganggur, pasti deh diputer-puterin disitu… (ahh, jadi pengen nyari tiang, hahahahhahahhaa…)

    Ampun, saya dari tadi bacanya fast reading, secara saya bukan penikmat film india… Tapi baca koment mas Hans, saya setuju… perfiliman Indonesia masih harus belajar banyak.

    Budaya nyontek film2 asing dan budaya ikut arus ini benar2 harus dikikis pelan2. Gak asik banget kalo lagi booming Film Hantu2… tiba2 semua latahhhh bikin film hantu2… KURANG KREATIF AMATTTT… masih banyak issue yang keren kalo mo dijadiin Film.

    Yang enggak banget dulu tuh jaman2 sinetron Hidayah, dsb. Saya benci tontonan2 seperti ini, sorry to say, bukan tidak suka pesan agama yang disampaikan, tapi mbok ya Tuhan itu jangan digamabrkan sebagai Tuhan yang suka menhukum pendosa dong… Kesannya kok Tuhan yang kita sembah ini akan menghukum kita kalo kita tidak patuh… belatungan lah, liang lahatnya kebakar api lahhh, tubuhnya membusuklah dsb…

    Apa sih yang mo dikejar kalo bukan rating. Padahal sebetulnya pean moral yang nyampe ke penonton adalah… Tuhan itu HARUS disembah dan ditaati perintahnya/dijauhi larangannya… KALO TIDAKKKKK… TAU SENDIRI AKIBATNYA, TUNGGU AJAH!!!

    nahhh, gitu barangkali yang ditangkap anak kecil ketika menunton sinetron2 seperti ini.

    Padahal, kalo menurut saya, Tuhan itu sumber cinta, dia mencintai kita umat ciptaanya tanpa pamrih, tidak peduli seberapa besar dosa kita, seberapa kotor kita, seberapa jahatnya kita, karena justru itulah DIA ada untuk kita, merangkul kita, membersihkan kiat dari dosa, mengembalikan kita kejalan yg benar, dan brharap kitapun memperlakukan sesama seperti DIA memperlakukan kita…

    Jadi ketaatan kita buaknkarena TAKUT AKAN HUKUMAN… tetapi karena Kita CINTA pada Sumber Cinta itu, The Almighty God…. What ecer your religion is… semua agama pasti mengajarkan bahwa GOD is LOVE… so LOVE GOD as HE loves YOU.

    Ya ampun… kok saya jadi ceramah gini yah, hehehe, abis kesel ama sinetron2 lebih mentingin rating daripada unsur pendidikan.

    Back to film India, harus diakui, industri film india bisa maju pesat karena mereka memang kreatif, dan sangat mjencintai industri film itu sendiri (mungkin karena ada unsur tiang2nya itu kali yahhh, hehehehehee).

    Tapi bukan berarti lantas kiat juga jadi ikut2an bikin film india… Malu khan??? (Eh, malu khan ini apanya sharukh khan yach, ahaahkahakhakahak)

  8. Haduhhh, maaf, masih pake username dr blog saya yang satu lagi, hehehehe…

    Tadi tuh yg myaffectionandpassion.wordpress.com itu ID saya di blog yang isinya gambar2, because I think “pictures speak more than words”

    Blog baru kok, habis mo upload gambar ke web saya susahnya minta ampun, sering error, jadi untuk postng yg banyak gambarnya, akan saya post disitu.

    Salam,
    Silly

    @mikekono : bingung mau mengomentari apa lagi, soalnya komentar mbak silly tak
    kalah dengan resensi dari pengamat/ kritikus film/ sinetron yg biasa nulis di tabloid dan media nasional.
    Saya juga tak pernah tertarik menonton film dan sinetron Indonesia karena sering mempertontonkan kelucuan yg tak lucu atau cerita horor yang tak menakutkan.
    Bollywood menjadi sebuah perkecualian, sebab industri film mereka benar benar eksis dan bs menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
    Keberadaan tv swasta dan industri film Hollywood tak bs mempengaruhi dan menggeser posisi Bollywood di kalangan masyarakat negeri Sungai Gangga itu

  9. Wahh….banyak juga yah yg suka india
    saya kira di indonesia saya duank yg suka india ternyata kalian juga yah

    bagi yg suka india add yah FS aku
    Email:jacksen69@yahoo.com
    add my yahh

    @mikekono : syukria mera dosti. namaste, Jack

  10. keren abiz, emang hinduztan ga ada matinya, btw gw punya banyak nih koleksi film hema malini

    @mikekono : thanks…..bagi dunk koleksi film Hema Malini-nya
    hehehe 🙂

  11. wiiiiii…cerita en datanya lengkap..kap…
    Ibu saya penggemar film india jadi karena waktu itu saya satu-satunya anak perempuan, maka sayalah yang diajak nonton…
    Dan membuat saya kebawa suka film india..tapi kalau sekarang yang box office aja baru pengen nonton, seperti semua karya Karan Johar (bener ga siy namanya..)

    @mikekono : film besutan sineas Bollywood
    memang jempolan, buktinya Slumdog Millionare
    belum lama ini memborong Oscar
    btw, film besutan Karan Johar
    memang semua bagus dan hits 🙂

  12. anda suka pilem india juga? gw dah suka dari dulu direcoki ma nyokap gw. coba lu dateng aja kesini :

    http://www.kaskus.us/showthread.php?p=70534714#post70534714

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: