Monthly Archives: Agustus 2008

Intelek itu Cantik


Bagi saya perempuan yang layak disebut cantik adalah sosok yang intelek, komunikatif, selalu menggunakan akal dan emosinya untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Selalu belajar, belajar, dan belajar terus tiada henti (learning by doing).

Ya, perempuan intelek itu cantik. Lihatlah misalnya senator Hillary Clinton, tak terlalu menggiurkan dari segi fisik, tapi dia sungguh menawan. She’s beautiful, karena terbukti sangat cerdas, piawai mengurai kata dan pemikirannya dalam kalimat kalimat menyengat dan layak kutip. Dan seandainya tak ada Obama, mestinya dialah yang akan bertarung dengan John Mc Cain memperebutkan kursi Presiden AS.

Nurul Izzah, putri Anwar Ibrahim ketika mengikuti persidangan ayahnya.

Nurul Izzah, putri Anwar Ibrahim ketika mengikuti persidangan ayahnya.

Walaupun sudah berumur, Wan Azizah (istri Anwar Ibrahim) juga sangat charming dan sungguh elok dipandang mata,  sebab dia merupakan sosok istri yang intelek, serta selalu gigih dan setia memback-up suaminya dalam keadaan teruk maupun saat berjaya. Begitu pula putri mereka, Nurul Izzah.

Britney Spears, Pamela Anderson, Dewi Persik, Julia Perez, juga cantik. Tapi aura kecantikan mereka tidak memberi kesan mendalam. Mereka terkesan kurang intelek, sehingga tak layak disebut sebagai perempuan cantik dalam makna sesungguhnya.

Perempuan akan kehilangan kecantikan dan pesonanya, jika dia gaptek, telmi, body size oriented  dan tak pernah connect ketika diajak bicara soal-soal kehidupan dan problema sosial-politik aktual.

Last but not least, perempuan dari dunia maya (cewek cewek blogger), justru hampir semua layak dikategorikan sebagai perempuan cantik, walaupun mungkin belum layak disebut sebagai makhluk Tuhan paling seksi (mohon izin mas Dhani, judul lagunya dicatut).

Cewek-cewek blogger adalah perempuan intelek, yang segalanya bisa, dan bisa segala. Coba perhatikan, tulisan para cewek blogger hampir semua menarik dan enak dibaca. Semua punya style dan kelebihan masing-masing.

Ada menulis bergaya puitis, ada yang slenge’an tapi menggelitik, ada yang berkonsentrasi menulis tentang agama, ada soal gizi, dan banyak juga curhat soal pribadi. Semua tulisan itu menarik, dan yang mencengangkan hampir semua pula fasih ber-English-ria. Woow, amazing.     

Hanya dengan membaca tulisan kaum perempuan di blognya itu, kita dengan mudah bisa menebak sang pemilik merupakan sosok yang intelek, kreatif,  berwawasan luas dan heterogen. 

Karena intelek itu cantik, untaian kata-kata lewat tulisan (tanpa mengenal wajah) seseorang pun, bisa juga membuat kita ‘jatuh cinta’. Tersentuh oleh kata-katanya yang merasuk ke relung jiwa. So, mencintai siapa saja, boleh kan ?   Perempuan intelek itu (memang) cantik ! Akan semakin cantik lagi jika ditingkahi dengan keluhuran budi pekerti serta kemauan mengikuti hati nurani.

Iklan

Perempuan Bekerja Rentan Selingkuh


Perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, swasta, LSM, dan profesi apa pun, sangat rentan terlibat dalam sebuah hubungan terlarang (perselingkuhan). 

Perempuan bekerja dimaksud di sini, tak hanya mereka yang tengah ngejomblo, melainkan juga perempuan yang sudah punya cowok, tunangan dan suami.

Tulisan ini true story. Bukan sekadar asumsi, analisis, prejudice, atau sebuah keinginan mendiskreditkan kaum perempuan yang akan, dan tengah merintis karier di tempatnya bekerja. Read the rest of this entry

Pilih Mana : Dicintai atau Mencintai ?


Seorang teman bertanya padaku, pilih mana : sampeyan dicintai atau mencintai ? Aku berpikir sejenak, lalu kujawab, sebaiknya sih dicintai sekaligus mencintai (mohabbatein).

“Ohhh, tidak bisa. Harus pilih salah satu : dicintai atau mencintai,” kata temanku itu. Kalau harus memilih salah satu. “Lebih baik dan lebih enak dicintai lah,” jawabku tanpa pikir panjang.

Aku lebih suka dicintai, karena rasanya lebih nyaman dan lebih terhormat. Sementara kalau kita mencintai seseorang, addduhhh lama-lama bisa stroke deh. Read the rest of this entry

Alumni or Alumnus


Bosan juga menulis soal politik dan hal-hal serius yang membuat kepala pusing. Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman sedikit tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dari biodata seseorang, sering ditulis Agus Salim Ujung alumni FT IAIN Sumut, Toga Nainggolan alumni FS-UI, atau Rahmawati alumni FK UGM (ini hanya sekadar contoh)

Kita tak menyadari penyebutan kata alumni dalam kalimat itu sebenarnya keliru. Memang kekeliruan seperti ini tidak ada sanksinya. Tapi, apa mau salah melulu…? Read the rest of this entry

Seni Islami, bagaimanakah ?


islmicaSebuah karya seni ; novel, puisi, lagu, lukisan, sinetron, atau film, acapkali memantik kontroversi di kalangan umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia.

Beberapa karya seni yang pernah mengundang kegaduhan dan protes umat Islam antara lain The Message, The Satanic Verses, Schindler’s List, Fitnaa, dll.

Buku karangan Salman Rushdie The Satanic Verses misalnya berujung pada keluarnya vonnis mati dari seorang Mullah dan pemimpin spiritual paling dihormati di Iran kala itu, Ayatullah Rohullah Khomeini (alm). Read the rest of this entry

Mengabdi Bisa di Mana Saja !


Anggota DPR-RI dari PBR Ade Nasution hengkang ke Partai Amanat Nasional. Ketika dikonfirmasi, Ade membenarkan. “Iya, mengabdi kan bisa di mana saja,” katanya.(Kps, 21/8).

Manis nian ungkapan Bung Ade itu. Yeahhh, memang benar mengabdi bisa di mana dan kapan saja. Pertanyaannya, selama empat tahun lebih menjadi anggota dewan, sampeyan mengabdi kepada siapa ?

Saya tak kenal siapa Ade Nasution dan caleg-caleg lainnya yang ramai-ramai pindah parpol agar tetap bisa berkiprah di parlemen.

Sebagai bahagian dari rakyat Indonesia, saya sama sekali belum pernah mendengar kiprah dan kontribusi riil mereka buat rakyat. Nama mereka hanya terdengar sayup-sayup saat ramai-ramai menjelang Pemilu.

Setelah terpilih dan duduk sebagai wakil rakyat di Senayan, kerja mereka tak lebih sekadar Datang, Duduk, Diam, dan Dapat Duit (5D).

Banyak kader dan anggota parpol sengaja pindah partai agar beroleh nomor urut 1 demi menjaga peluang mempertahankan kursi di legislatif. Mereka gampang berganti kulit dan berperilaku bak bunglon. Read the rest of this entry

Sepakbola Olimpiade : Brasil Brutal


Saya sempat uring-uringan menunggu pertandingan semifinal Argentina vs Brasil. Pasalnya, TVRI Medan justru menampilkan acara berbeda saat pertandingan amat prestisius itu sudah berlangsung. Akhirnya cuma pertandingan babak kedua yang bisa utuh disajikan. TVRI Medan benar-benar tak tahu selera pemirsa…!

Untungnya, tiga gol tim tango Argentina yang meluluhlantakkan kedigdayaan tim samba, semuanya tercipta di babak kedua. Dua gol diborong menantu dewa sepakbola Maradona yang merumput di Atletico Madrid, Sergio ‘Kun’ Aguero, dan satu lagi hasil tendangan penalti Roman Riquelme.

Soal kalah-menang, itu hal biasa. Tapi menyimak permainan Brasil di semifinal olimpiade Beijing kali ini, sepertinya ada sesuatu yang hilang dari Ronaldinho dkk. Ciri khas tim Samba, yang selalu menampilkan permainan sepakbola menyerang yang menawan, sama sekali tak kelihatan. Read the rest of this entry

Tak Kunjung Merdeka


17 Agustus 2008 ; sudah 63 tahun Indonesia merdeka. Tapi aku merasa tak kunjung merdeka.

Bagaimana dibilang merdeka. Saban hari rumahku dilanda gelap, karena PLN sesuka hati memadamkan listrik.

Apanya yang merdeka, wong semuanya serba mahal. Harga BBM selangit, rokok pun mahal. Katanya, ngurus KTP gratis, faktanya harus bayar juga. Boleh aja tak bayar, tapi siapnya ntah kapan.

Di instansi mana pun di negeri subur makmur ini, kalau mau urusan cepat selesai, mesti bayar dulu.

Katanya sudah 63 tahun merdeka, tapi saat aku pulang kampung, jalan yang dilalui penuh dengan lubang. Lama ditinggal, kondisi kampungku masih sama seperti doeloe. Rumah-rumah penduduk tetap kumuh.

Yang berbeda, anak-anak yang dulu kutinggalkan masih ingusan, kini sudah beranjak remaja dan mulai pandai bergaya bak Bunga Citra Lestari atau Raffi Ahmad. Read the rest of this entry

Berhenti Sebatas Jargon


Dalam setiap kesempatan, politisi dan pejabat kita selalu bicara soal pentingnya memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Mereka juga menekankan keharusan menjaga persatuan dan kesatuan ; memperkokoh silaturrahmi tanpa memandang latarbelakang suku, agama, ras dan antar-golongan.

Aparat penegak hukum berkoar-koar tentang komitmen menegakkan hukum (law enforcement) tanpa pandang bulu. Read the rest of this entry

Hans Miller Banurea


Hans Miller Banurea, merupakan nama yang tak asing dalam jagad industri pers di tanah air, khususnya media bergenre hiburan (film, musik, dan sinetron).

Bersama Arswendo Atmowiloto, Veven Sp Wardhana, Mayong Suryo Laksono, Aries Tanjung, Marcel Hartawan, dll, Bung Hans pernah sangat ‘terkenal’ ketika mengawaki tabloid Monitor.

Setelah Monitor tutup buku karena peristiwa angket yang kontroversial kala itu, Hans kemudian dipercaya menjadi Pemred tabolid Citra Musik.

Pria yang sering tampil plontos ini, juga pernah sebentar di majalah Rock, asisten produser Cek & Ricek, Kabar-Kabari, KasaKusuk, Ketua Departemen Infotainment PWI Pusat dan sekarang comeback ke habitatnya sebagai Pemred tabloid XO.

Di sela-sela seabrek kesibukannya, dia juga masih menyempatkan diri mengelola website kalak Pakpak serta ikut memoles majalah Batak TATAP. Melalui Pakpakonline, Rea atau HMB, selalu dan terus mendorong generasi muda Pakpak agar terus menulis….dan menulis serta memperkokoh semangat kebersamaan warga Pakpak, tanpa memandang perbedaan agama dan status.

Secara pribadi, saya sama sekali tak mengenal Bung Hans. Itulah sebabnya, saya hanya tahu riwayat hidupnya serba sepintas. Ohhh, hampir lupa, karena sering menulis soal musik pula, wartawan senior kita ini kecantol dengan lady rocker Indonesia era 80-an, Hilda Ridwan Mas ( seangkatan dengan Mel Shandy).

Tetapi, bukan soal statusnya sebagai pemred dan orang berpengaruh di infotainment itu, yang membuatku tertarik mengulas dan menampilkan potret dirinya di sini serta menjadikan sosoknya sebagai salah satu inspirasi dan rujukan dalam bidang tulis-menulis. Read the rest of this entry