Simeone, Antara Guardiola dan Mourinho


diego-simeone.jpgAtletico Madrid memang belum dipastikan lolos ke final Liga Champions 2016. Namun, kemenangan 1-0 atas Bayern Muenchen dinihari kemarin, kembali mempertegas sosok Diego Simeone sebagai pelatih jempolan. Sebab, sebelumnya di perempat final anak didiknya juga sukses menaklukkan juara bertahan Barcelona.
Keberhasilan Atletico menggebuk dua tim bertabur bintang dan kaya raya sekelas Barcelona dan Bayern Muenchen, sekali lagi memperlihatkan, betapa sebuah klub sepak bola juga bisa meraih kesuksesan tanpa harus memiliki pemain bintang bergaji super mahal. Seperti lazim dilakoni Real Madrid, Bayern Muenchen, PSG, dan Manchester United, jika klub itu berada di tangan pelatih ‘bertangan dingin’ sekelas Simeone.
Agaknya hal itu pulalah yang membedakan level kepelatihan antara Simeone dengan Pep Guardiola dan Jose Mourinho. Dari segi raihan trofi, Simeone memang masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan torehan gelar yang berhasil dicatatkan Guardiola dan Mourinho.
Namun, keberhasilan Atletico Madrid terus menjadi pesaing utama dua klub raksasa Spanyol (Barcelona dan Real Madrid), sejak berada di bawah didikan Simeone dan puncaknya sukses meraih Juara La Liga pada musim 2013-2014, di tengah kedigdayaan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, jelas merupakan prestasi sangat mencengangkan dan spektakuler.
Padahal, sebelum berada di bawah binaan Diego Simeone, Atletico Madrid selalu menjadi bulan-bulanan Barcelona dan Real Madrid. Bahkan, dalam derby antara Atletico dengan Real, kekalahan hampir selalu berada di pihak Atletico dengan skor yang selalu lumayan telak.Tetapi, setelah mendapatkan sentuhan magis Simeone, semuanya berbalik 180 derajat, Atletico hampir selalu keluar sebagai pemenang dalam derby Madrid.
Riwayat kepelatihan Simeone tak hanya sukses saat menukangi Atletico, melainkan juga pernah mencatatkan kegemilangan saat melatih klub Argentina, San Lorenzo, Estudiantes dan River Plate. San Lorenzo dan Estudiantes bukan termasuk klub kaya di negaranya, namun berkat Simeone, berhasil meraih sukses.
Nah, coba bandingkan dengan Mourinho yang banyak meraih gelar. Namun, semua prestasi diperolehnya saat melatih klub besar bertabur bintang. Guardiola sama saja. Gelar juara diraihnya hanya bersama klub hebat yang diperkuat para pemain kelas satu (Barcelona dan Muenchen).
Banyak kalangan meyakini, tanpa dilatih Guardiola pun, Barca yang diperkuat Messi akan mudah meraih gelar. Begitu juga Muenchen dengan segudang pemain hebat, dipastikan sangat mudah meraih gelar Bundesliga. Dengan kata lain, kalau sekadar mendapatkan gelar juara Bundesliga, tanpa Guardiola pun mudah dilakukan.
Dari fakta-fakta ini, tak berlebihan jika disimpulkan Diego Simeone jauh lebih piawai dan jenius dibanding Guardiola dan Mourinho. Sebab, dalam menjalankan tugasnya sebagai pelatih, Simeone mampu memoles pemain ‘antah berantah’ menjadi sangat terkenal atau pemain yang sudah dianggap ‘habis’ seperti Torres, kembali bersinar. Dengan kata lain, Simeone lah ‘the real special one’ sejati. Begitulah…(**)

Semoga Klopp, Klop untuk The Kop


Seperti yang sudah ramai diberitakan selama sepekan ini, Liverpool akhirnya meresmikan pengangkatan Juergen Klopp sebagai manajer barunya menggantikan Brendan Rodgers.
“Liverpool Football Club dengan bangga mengumumkan Juergen Klopp telah ditunjuk sebagai manajer baru klub ini,” demikian pernyataan resmi The Reds di Anfield, Jumat (9/10).juergen-klopp-fc-liverpool
Tidak disebutkan durasi kontrak yang diberikan oleh Manajemen Liverpool, namun media-media Inggris menyebut Klopp akan berada di Anfield selama tiga tahun.
Penunjukan Juergen Klopp memang sejalan dengan harapan banyak kalangan, terutama para Liverpudlian serta pesepakbola legendaris yang pernah membela The Reds, semisal Dietmar Hamann, Robbie Fowler, Michael Owen, Jamie Carragher, dan lainnya.
Harus diakui catatan prestasi ditorehkan Klopp selama menjadi pelatih, luamayan menjanjikan. Klopp misalnya mampu membawa klub semenjana, Mainz promosi ke Bundesliga Jerman.
Sementara, selama menukangi Borussia Dortmund, Klopp sukses meruntuhkan dominasi Bayern Muenchen dan berhasil meraih dua trofi Bundesliga, satu trofi DFB-Pokal, dua Piala Super Jerman, dan finalis Liga Champions 2013.
Mencermati curriculum vitae-nya tersebut, wajar memang muncul harapan besar para penggemar Liverpool, di bawah racikan taktik dan strategi Juergen Klopp, The Reds akan kembali menorehkan prestasi gemilang seperti era keemasannya, pada 70 hingga 80-an.
Begitupun, tetap saja harus dimunculkan pertanyaan, benarkah Klopp akan klop untuk menangani The Reds. Benarkah di tangannya, tim legendaris Liverpool itu akan kembali berjaya di Inggris dan Eropa ?
Melihat pengalaman melatih Klopp yang hanya berkutat di tanah kelahirannya, Jerman, memang wajar pula jika terdapat sebahagian kalangan, yang meragukan Klopp bakal benar-benar klop untuk membangkitkan kejayaan The Reds.
Seharusnya, jika petinggi Liverpool ingin memperoleh prestasi instan, pilihan mestinya tertuju pada sosok Carlo Ancelotti, yang dalam karier kepelatihannya selalu sukses memberikan trofi kepada klub besutannya, termasuk saat melatih klub Inggris yang kini tengah terpuruk, Chelsea.
Tetapi, jika pemilik dan manajemen Liverpool ingin meraih kesuksesan by process serta mengasah potensi para pemain muda, maka pilihan terhadap Juergen Klopp memang sudah klop. Artinya, para Liverpudlian haruslah memiliki kesabaran, dan jangan berharap Klopp akan segera memberikan trofi pada tahun pertama kepelatihannya.
Namun, melihat durasi kontrak yang cuma tiga tahun. Hal itu bermakna, pada tahun kedua dan ketiga, Klopp sudah harus membuktikan kinerjanya, dengan adanya raihan trofi kepada para fans dan pemilik Liverpool.
Waktu yang dimiliki Juergen Klopp untuk membenahi Liverpool, memang tidaklah lama. Tetapi, jika dia benar-benar piawai dalam meramu taktik, tiga tahun merupakan waktu yang cukup baginya untuk memperlihatkan bukti kepiawaiannya.
Semoga pilihan terhadap Klopp, benar-benar klop untuk The Kop (nama julukan markas Liverpool di Anfield). Jika sampai Klopp tak juga klop, berarti bukan pelatihnya yang salah. Bisa jadi, Liverpool-nya yang tengah dilanda kesialan berkepanjangan atau tidak lagi dilindungi Dewi Fortuna.(**)

From Politisasi to Implementasi


setno-trumpWakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, ada pihak yang sengaja menggiring isu pertemuan Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon dengan bakal calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke arah pergantian kursi pimpinan DPR.
Fahri mempersilakan jika ada pihak-pihak yang ingin mengambil kursi pimpinan yang kini ia duduki.”Siapa yang mau ambil kursi saya? Ambil ! Jijik deh saya. Biarlah buka pintu, ambil saja,” kata Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).
Terlepas dari ada atau tidak, manfaat pertemuan antara pimpinan DPR dengan capres independen USA, Donald Trump. Namun, yang pasti tanggapan berbagai pihak, utamanya para politisi di DPR-RI sendiri dan sejumlah pengamat, lebih menjurus pada adanya upaya politisasi.
Sangat menggelikan jika pertemuan dengan Donald Trump tersebut, sampai dibawa ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD) dan mengarah pula pada keinginan melakukan kocok ulang pimpinan dewan segala. Padahal, pertemuan itu hanya biasa-biasa saja, dan sama sekali tidak ada implikasi politiknya bagi Pilpres di negerinya Paman Sam tersebut.
Karena itu, sangat arif wicaksono pernyataan Wapres Jusuf Kalla saat dimintai tanggapan soal pertemuan Setya Novanto dkk dengan Donald Trump. Kalla menilai, merupakan suatu hal yang wajar, jika seorang politikus seperti Setya Novanto dan Fadli Zon, berkawan dengan politikus negara lain.
Nah, dalam hal ini kita hendak menekankan, agar para politisi, pengamat, dan media di negeri hendaknya bisa mengubah mind-set serta berpindah haluan : from politisasi to implementasi. Tak elok jika semua permasalahan yang sejatinya remeh-temeh, selanjutnya dibesar-besarkan dan membuat seseorang menjadi pihak yang harus dicap telah melakukan kesalahan.
Kecenderungan melakukan politisasi terhadap berbagai persoalan di negeri ini, sepertinya telah menjadi sebuah pembenaran, belakangan ini. Akibatnya, kegaduhan politik antarelite seolah tidak pernah berhenti, yang notabene merugikan bangsa kita secara keseluruhan, di tengah ancaman krisis ekonomi, yang belum ditemukan obat mujarab untuk mengatasinya.
Dalam hal ini, kita ingin mengingatkan semua pihak di negeri ini, hendaknya tidak lagi sibuk melakukan manuver dan politisasi, melainkan lebih mengarah pada upaya meningkatkan implementasi kinerja sesuai dengan bidang tugas masing-masing, sehingga terlihat kontribusi nyata untuk negeri ini.
Dominasi politisasi selain menguras energi, juga akan membuat jalinan antarelite akan terus tercabik-cabik, sehingga masing-masing pihak terus terlibat dalam manuver saling intai, sehingga kegaduhan politik tidak pernah mereda.
Di tengah situasi perekonomian bangsa yang semakin sulit dan ancaman PHK (pengangguran) meruyak di seantero negeri, seharusnya elite politik dan petinggi pemerintahan, tidak lagi berbicara atas nama kepentingan kelompok. Semua harusnya berpikir dan bertindak untuk dan demi kepentingan bangsa. Hal ini hanya bisa dilakukan, jika ada kesadaran untuk hijrah, from politisasi to implementasi. (**)

‘Mengasapi’ Penyebar Asap


Kepala Staf Presiden Teten Masduki menanggapi beredarnya kabar Komunitas Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang mengirim surat ke Perdana Menteri Nazib Razak dan meminta Malaysia turun tangan menangani masalah asap di Riau. Menurut Teten, saat ini pemerintah terus berusaha agar masalah tersebut cepat selesai.HL-3
“Pemerintah sedang dan terus berusaha, Presiden sudah panggil seluruh kementerian terkait, Panglima, Kapolri dan pemerintah daerah untuk koordinasi tanggulangi asap ini,” kata Teten saat akan mengantar Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Riau di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (6/9).
Teten menyebut Jokowi telah meminta aparat terkait untuk terus mencari apa penyebab terjadinya kebakaran. Jika ada oknum yang melakukannya dengan sengaja, maka pelakunya akan dibawa ke ranah pidana.
Dampak penyebaran asap akibat pemkabaran hutan, yang kabarnya berasal dari Provinsi Riau dan Jambi, tidak saja potensial menimbulkan timbulnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Serbuan kabut asap yang melanda hampir semua daerah di Sumatera Utara khususnya, juga telah membuat kenyamanan masyarakat terganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Termasuk membuat sejumlah penerbangan di Bandara Kuala Namu International Airport (KNIA), terpaksa dibatalkan.
Dengan kata lain, multiplier effeck yang ditimbulkan kabut asap itu, telah bersifat sistemik dan massif. Karenanya, sangat wajar jika pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum segera ‘mengasapi’ (menindak tegas) para pelaku pembakaran hutan tersebut.
Seperti diketahui, pembakaran hutan khususnya di daerah Riau, sudah berulangkali terjadi dan menimbulkan serbuan kabut asap yang menyebabkan tak saja seluruh masyarakat Sumut menderita, melainkan juga berdampak pada masyarakat di negeri jiran kita.
Tentu, negeri jiran wajar merasa geram dan kecewa dengan pemerintahan kita, yang dinilai tidak becus dan kurang cepat mengasapi (memberangus) para pelaku pembakaran lahan/ hutan, yang tidak bertanggungjawab tersebut.
Nah, dalam hal ini kita menunggu realisasi ketegasan pihak pemerintah sebagaimana disebutkan Teten Masduki di atas, bahwa Presiden Jokowi sudah memanggil kementerian terkait, untuk secepatnya menuntaskan permasalahan asap itu.
Jika pihak berkompeten khususnya jajaran kepolisian mau bertindak tegas dan cepat, dipastikan akan dengan mudah, mengendus para pelaku di balik meruyaknya kabut asap tersebut, sekaligus segera mengasapinya, supaya tidak lagi mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari. Ditunggu…!(**)

Tipelogi Caleg


ImageIni dia tipelogi atau jenis-jenis calon legislatif (caleg) yang akan ‘mengasah parang’ pada Pileg 2014, dari perspektif eceg-eceg…
1. Caleg monek (modal nekad)
2. Caleg monyong (modal nyolong)
3. Caleg montok (modal rontok)
4. Caleg monika (modal nipu kawan)
5. Caleg modar (modal alakadar)
6. Caleg motif (modal tipis)
7. Caleg mogok (modal nyogok)
8 .Caleg mokondo (modal kombur doang)
9. Caleg monita (modal nipu mertua)
10.Caleg modom (modal dompet, tebal)……!

Capres Independen, Why Not ?


GambarHarapan Farhat Abbas bisa mencalonkan diri sebagai presiden melalui jalur independen pupus. Sebab Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi UU Pilpres yang dimohonkannya dan Iwan Piliang.
“Memutuskan, menolak permohonan Pemohon secara keseluruhan,” kata Ketua Majelis Hakim Konstitusi, Akil Mochtar saat membacakan amar putusan di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (27/6).
Farhat sebagai pemohon menguji materi Pasal 1 ayat 4, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 13 UU No 42/2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (UU Pilpres). UU ini mengatur pencalonan Presiden dan Wakil Presiden yang hanya bisa dilakukan dengan dukungan partai politik.
Penolakan MK tersebut, sungguh sangat disayangkan. Institusi MK sebagai gerbang pencari keadilan di bidang hukum ketatanegaraan, mestinya menyapa Farhat Abbas, dengan pernyataan : Capres Independen, Why Not ?
Dengan kata lain, penolakan MK terhadap kemungkinan seorang Warga Negara Indonesia, tampil sebagai calon presiden lewat jalur perseorangan, merupakan sebuah keputusan yang terburu-buru, sekaligus kurang menguntungkan dari perspektif demokrasi dan pendidikan politik.
Ketika menjadi kepala daerah diperbolehkan maju melalui jalur independen, seharusnya hal yang sama juga diberlakukan untuk menjadi kandidat presiden. Pasalnya, jika kandidat presiden hanya dimungkinkan nyapres lewat dukungan partai, hampir dapat dipastikan hanya segelintir orang saja yang berpeluang menjadi capres.
Padahal, sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, untuk mendapatkan dukungan partai politik, selain berat juga penuh dengan intrik. Bahkan, keberhasilan meraih dukungan parpol juga kerap didominasi kesepakatan transaksional secara politis maupun ekonomis.
Itulah sebabnya banyak kalangan merasa tidak siap baik secara mental maupun ekonomis, untuk melakukan lobi dan berbagai pendekatan kepada parpol, demi mendapatkan restu (dukungan) tersebut.
Karena itu, seharusnya MK bisa bersikap lebih bijaksana dan objektif dalam mencermati kondisi tersebut. Artinya, MK sebagai institusi penegak keadilan, hendaknya memberi peluang munculnya figur capres alternatif lewat jalur perseorangan.
Sikap terburu-buru MK memutuskan tidak mengakomodir munculnya capres independen pada Pilpres, dipastikan akan menutup peluang bagi figur-figur muda potensial di negeri ini, yang sejatinya juga layak menjadi calon presiden ! Capres Independen, Why Not ? (**)

Ketika Pejabat Jadi Penjahat


Gambar
Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terkait adanya dugaan suap yang diterima pejabat Pemkab Mandailing Natal dan seorang swasta di Medan, pada Selasa lalu.
Tim baru saja menangkap Bupati Mandailing Natal, Hidayat Batubara, Rabu (15/5) sekitar pukul 16.00 WIB  “HIB baru saja ditangkap di Medan sekitar pukul 16.00 WIB, kemungkinan akan dibawa ke Jakarta,” kata juru bicara KPK, Johan Budi SP dalam jumpa pers di kantor KPK, Jakarta, Rabu (15/5).
Berita seputar penangkapan pejabat oleh KPK bukan lagi kabar yang mengejutkan. Di era kejayaan KPK saat ini, kabar penangkapan pejabat (menteri, gubernur, bupati, wali kota, pimpinan parpol, dan anggota dewan), sudah dianggap bukan lagi berita yang menarik.
Mungkin kiprah KPK baru akan dianggap spektakuler dan meninggalkan legacy monumental bagi rakyat Indonesia, jika para penyidik KPK berani, misalnya menjadikan Wakil Presiden atau Presiden RI yang masih aktif, sebagai tersangka sekaligus melakukan penahanan ?
Pasalnya, bagi masyarakat, perilaku pejabat yang menjelma menjadi penjahat (menguras uang negara) demi kepentingan pribadi/ kelompok, serta menyalahgunakan wewenang demi memperkaya diri, seolah sudah menjadi rahasia umum.
Sejatinya, jika mau jujur dan objektif, hampir semua pejabat, tidak ada yang benar-benar bersih. Jika kini mereka selamat dan aksi penjarahan uang negara yang dilakukannya tidak terendus KPK. Hal itu bisa jadi disebabkan, dirinya masih dilindungi dewi fortuna dan atau sangat piawai memproteksi diri, sehingga aksi kejahatannya tidak bisa tercium KPK.
Namun, dalam hal maraknya pejabat yang berubah menjadi penjahat (ekonomi) itu, agaknya patut pula dijadikan kajian mendalam ; apakah semua pejabat terlibat korupsi itu, memang benar-benar bermasalah
atau bisa jadi pula, mereka hanya ketiban apes atau terbawa rendong oleh berbagai tekanan yang dihadapinya dalam mengamankan jabatannya.
Kita meyakini, di antara para pejabat itu sebenarnya masih banyak yang tidak ingin terlibat dalam aksi kejahatan (menyalahgunakan kekuasaan). Tidak tertutup kemungkinan, mereka ‘dipaksa’ oleh keadaan atau juga karena sudah telanjur banyak mengeluarkan dana saat Pilkada, hingga tergoda untuk mengembalikan uang yang telah digelontorkannya itu.
Ketika pejabat pun menjadi penjahat, sudah pasti kondisi ini akan merugikan rakyat dan bangsa Indonesia. Dalam konteks ini diperlukan solusi bersama, agar stabilitas negara tidak sampai terganggu, akibat semakin banyaknya pejabat yang terpaksa menghuni jeruji besi. Harus ada way out mengatasi situasi ini, supaya para pejabat di negeri ini tidak ‘dipaksa’ menjadi penjahat.(**)

Penyusunan Bacaleg Sarat Nepotisme


Partai politik masih menerapkan politik dinasti saat ini. Di Pemilu 2014, sejumlah parpol mengajukan bakal caleg (bacaleg), yang memiliki hubungan kekeluargaan.
Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formapi) mencatat ada 5 parpol yakni GambarDemokrat, Golkar, PPP, Gerindra dan PAN, yang mengajukan bakal caleg memiliki hubungan kekeluargaan seperti suami-istri dan bapak-anak.
Dari 5 parpol, Demokrat yang paling banyak dengan mengajukan 6 bakal caleg suami istri. “Ini menggambarkan dua hal, satu parpol cenderung menjadi milik segelintir elite atau keluarga tertentu dan kedua cermin mandegnya proses rekrutmen sehingga tanpa selektif semua dimasukkan,” kata Koordinator Formapi, Sebastian Salang dalam jumpa pers di sekretariatnya Jalan Matraman, Jaktim, Minggu (28/4).
Selain adanya sejumlah ambisi elite partai yang ingin membangun dinasti pada partai yang dipimpinnya, seperti terlihat paling mencolok di tubuh Partai Demokrat ; Ketua Umum DPP dijabat Susilo Bambang Yudhoyono (Bapak) dan Sekjen dijabat Edhy Baskoro Yudhoyono (anak).
Selain nuansa dinasti, penyusunan nama-nama bacaleg juga sarat dengan nepotisme. Karena kuatnya pengaruh nepotisma itu, elite partai kemudian lebih mengedepankan saudara atau teman akrab berdasarkan kualitas kedekatan hubungannya, dan bukan berdasarkan kompetensinya.
Tidak heran, jika pasca penyusunan nama-nama bacaleg tersebut, kemudian muncul berbagai kekisruhan di internal partai. Kisruh yang terjadi tidak lagi hanya sekadar memrotes kebijakan elite partai, bahkan ada pula sampai melakukan tindakan perusakan kantor partai, seperti melanda DPC PDIP Langkat.
Memang lazimnya dalam berpartai, sejak dahulu para pengurus dan kader parpol, dalam kiprahnya hampir selalu mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Demi kepentingan, semuanya seolah siap dinafikan dan dikorbankan. Karenanya, benar ungkapan yang menyebut, tidak ada teman/ musuh yang abadi di wilayah politik.
Namun, dalam konteks pendidikan politik dan penguatan kualitas demokrasi di tanah air, nepotisme dalam penyusunan bacaleg, jelas tidak bisa ditolerir. Silahkan saja memasukkan keluarga dan teman, menjadi caleg, tapi hal itu hendaknya tetap didukung kompetensi yang bersangkutan. Penyusunan bacaleg, tetaplah harus objektif, rasional dan menghormati fatsun dalam berpolitik…!(**)

Mengapa Barca Hancur Lebur ?


GambarAsisten Pelatih Barcelona Jordi Roura mempertanyakan keabsahan dua dari empat gol yang dicetak Bayern Munich ke gawang timnya. Dua gol itu ia nilai ilegal.
Empat gol dilesakkan para pemain Bayern ketika menjamu Barca di laga leg I semifinal Liga Champions di Allianz Arena, Rabu (24/4) dinihari WIB, dalam kemenangan 4-0. Dari empat gol tersebut, dua gol di antaranya disebut Roura ilegal.
Terlepas dari penilaian Roura tersebut, secara umum penampilan Barca kali ini memang sangat jauh di bawah standar. Terbukti, sepanjang 90 menit pertandingan, sama sekali tidak ada shot on goal or goal attemp, yang mengancam gawang Neuer.
Dari sisi ball possesion, Barca memang tetap seperti biasanya, masih dominan. Tapi, ketika hendak memasuki memasuki kotak penalti Munchen, Messi, Iniesta, Sanchez, Xavi, seperti membentur tembok, yang sangat sukar ditembus.
Kendati, secara teknis permainan, Munchen memang layak memenangkan pertandingan semi final Liga Champions leg pertama itu. Namun, kekalahan dengan skor mencolok 0-4, tetaplah merupakan hal yang sangat mengejutkan dan bisa disebut, tak seorang pun berani meramalkan, Barca akan kalah setelak itu.
Pertanyaannya, mengapa Barca sampai hancur lebur dan harus pulang dengan menanggu malu ? Jika dicermati, dari pertandingan melawan Munchen kemarin, setidaknya terdapat tiga hal penyebab kekalahan Barca.
Pertama, pelatih Tito Villanova kurang mampu menganalisis pertandingan dan melakukan pergantian pemain yang tepat. Dia juga terkesan kurang piawai dalam menerapkan strategi meredam permainan ‘ganas’ tim besutan Jupp Heynckes tersebut.
Setelah melihat kedigdayaan Munchen melibas tim sekelas Juventus di perempat final dengan agregat 5-0, mestinya Villanova mampu meramu taktik yang tepat, misalnya dengan cara memperkuat lini pertahanan, atau berupaya menerapkan man to man marking yang ketat.
Kedua, rapuhnya lini pertahanan Barca kelihatannya hingga kini belum juga bisa dibenahi Villanova dan Jordi Roura. Jangankan Munchen, tim sekelas Real Sociedad dan Malaga saja di La Liga, begitu mudah menembus jantung pertahanan Barca. Kelemahan sektor pertahanan inilah menyebabkan mudahnya pemain Munchen membobol gawang Valdes.
Ketiga, pasca mengalami cedera melawan PSG, kelihatannya Messi belum sepenuhnya pulih. Kondisi Messi yang tidak 100 persen fit itu, juga menjadi penyebab tidak keluarnya sentuhan magis ‘el pulga’ pada partai semifinal tersebut.
Last but not least, sepeninggal pelatih Jose ‘Pep’ Guardiola, harus diakui pula trend permainan Barca memang mengalami penurunan. Pola permainan Messi dkk memang tidak banyak mengalami perubahan dan tetap enak dinikmati, tapi sudah semakin gampang diredam tim lawan.
Jika pelatih Villanova tidak melakukan berbagai perubahan signifikan dalam taktik permainan serta segera melakukan pembenahan total di sektor pertahanan pada musim depan, dapat dipastikan, Barca akan semakin terpuruk dan sulit bersaing di level Liga Champions.(**)

Ketika Rhoma Kalahkan Ical dan JK


GambarPopularitas Raja Dangdut Rhoma Irama semakin terdongkrak. Elektabilitas Rhoma Irama di ajang Pemilihan Presiden 2014, bahkan mengalahkan politisi-politisi terkemuka.
Politisi senior yang harus mengakui keunggulan Bang Haji adalah, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Wiranto dan Hatta Rajasa. Elektabilitas Rhoma Irama berada di urutan keempat hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB), yang dirilis Rabu (6/2) lalu.
Lembaga survei yang dipimpin Didik J Rachbini itu memilih 13 kandidat capres potensial.  Survei yang dilakukan sejak 3 Januari-18 Januari 2013 itu melibatkan 1.200 responden di 30 provinsi di Indonesia secara acak.
Dalam hasil survei itu, Gubernur DKI Jakarta, Jokowi menempati urutan teratas, dengan dukungan 21,2 persen suara responden. Urutan kedua ditempati Prabowo Subianto (18,4 persen). Berturut-turut disusul Megawati Soekarnoputri (13), Rhoma Irama (10,4), Aburizal Bakrie (9,3), Jusuf Kalla (7,8), Wiranto (3,5), Mahfud MD (2,8), Dahlan Iskan (2,0), Surya Paloh (1,3), Hatta Rajasa (1,2), Chairul Tanjung (0,4) dan Djoko Suyanto (0,3 persen suara).

Melihat hasil survei tersebut, mungkin banyak yang terkejut dan sedikit kurang percaya. Namun, menimbang sosok Didik J Rachbini, yang berada di balik lembaga survei tersebut, mau tidak mau, kita harus percaya, bahwa hasil survei itu sangat objektif.
Pasalnya, selama ini Didik J Rachbini dikenal sebagai sosok intelektual yang kritis, cerdas dan lugas. Dapat dipastikan, yang bersangkutan tidak akan mau mengorbankan integritasnya, dan menjadikan wadah dipimpinnya sebagai lembaga survei pesanan.
Pertanyaannya, mengapa elektabilitas seorang Rhoma Irama bisa mengalahkan tokoh sekaliber Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla (JK), Wiranto, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Surya Paloh, dan Hatta Rajasa ?
Hal ini tiada lain, karena sosok Rhoma Irama sejatinya bukan sekadar raja dangdut atau musisi biasa. Lebih dari itu, ayah penyanyi Ridho Rhoma ini juga dianugerahi kelebihan, sebagai cendekiawan dan seorang da’i.
Dan, hanya sedikit artis/ seniman di pentas musik tanah air, yang talentanya bisa disejajarkan dengan Rhoma Irama, sebutlah misalnya Iwan Fals, Ebiet G Ade, Deddy Mizwar, Eros Djarot, dan Ahmad Dhani.
Sosok Rhoma memiliki kharisma yang membuatnya memiliki pengaruh kuat, tidak saja di dunia keartisan, tetapi juga merambah ke dunia politik.
Lagi pula, kiprah Rhoma di bidang politik bukanlah hal baru. Dia sudah pernah tercatat sebagai politisi PPP, dan menjadi anggota DPR-RI melalui Golongan Karya. Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, sangat wajar, jika dia merasa mampu menjadi Presiden RI.

Di sisi lain, hampir seluruh rakyat Indonesia, tidak ada yang tak tahu dengan nama Rhoma Irama. Sejumlah lagu-lagunya hingga kini masih tetap populer dan menjadi lagu wajib di setiap acara kondangan, seperti Syahdu, Malam Terakhir, Kehilangan, Pantun Cinta, Cuma Kamu, Menunggu, Kerinduan, Keramat dan lainnya.
Dengan kata lain, sebagai seorang raja dangdut, Rhoma sudah memiliki modal dasar (basis pendukung) para penggemar fanatik lagu-lagunya. Karenanya, sangat masuk akal, jika survei membuktikan, elektabilitasnya mengalahkan Ical dan JK.(**)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 124 pengikut lainnya