Arsip Kategori: Musik & Film

Kita dan Euforia Bieber


Penyanyi asal Kanada Justin Bieber tampil memukau dalam konser bertajuk “Justin Bieber My World Tour” di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu 23 April 2011. Pelantun lagu “Baby” tersebut membuat histeris penggemarnya yang mayoritas remaja putri itu.
Tidak kurang 10 ribu penonton menjadi saksi aksi panggung Justin Bieber tadi malam. Membuka konser dengan lagu “Love Me”, Justin mengenakan jaket dan celana putih. Klik di sini untuk melihat foto-foto aksi panggung remaja yang diorbitkan musisi Usher tersebut.
Dengan usia masih sangat belia itu, harus diakui Justin Bieber memang hebat. Pengakuan terhadap kehebatannya bisa dilihat dari sejumlah penghargaan yang diraihnya, antara lain anugerah artist of the year American Music Awards, best male MTV Music Europe Awards, favorite male singer Nickelodeon Kids’ Choice Awards, nominasi Grammy Award dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya.
Pesona Bieber membuat remaja Indonesia terperangkap pada euforia berlebihan. Lihatlah misalnya, pengakuan sejumlah remaja kita. “Justin itu suaranya bagus, kepribadiannya menarik, cakep,” kata Tirza (15), Yeni (15) dan Inggrid (15) kompak, siswi kelas satu SMA di Jakarta yang mengenakan kaus ungu, warna favorit penyanyi kelahiran 1994 itu.
Berbagai atribut dikenakan para penggemar Bieber seperti baju warna ungu, kaus bertuliskan “I Love JB”, stiker bertuliskan “beliebers” yang ditempel di pipi, sepatu khas Bieber atau dengan membawa poster bergambar pemuda yang bakatnya ditemukan dari situs “Youtube” tersebut. “Saya sudah beli tiket sejak tiga bulan lalu dan membayar orang untuk antri penukaran voucher dengan tiket,” kata seorang bapak asal Samarinda yang tidak ingin disebutkan namanya.
Ia tiba di Jakarta dari Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (22/3) bersama kedua putrinya yang duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama serta seorang keponakannya yang juga masih SMP, ketiganya perempuan.”Total saya habis 20 juta, termasuk ongkos pesawat dan tiket konser,” katanya yang saat menunggu pintu gedung pertunjukan dibuka pada pukul 18.00 WIB.
Performance Justin Bieber memang yahuudd…., tapi tidak sepatutnya kita terjebak pada sikap euforia serta terlalu melebih-lebihkan kehebatannya, apalagi sampai mengkultuskannya.
Kalau mau jujur, Justin Bieber belumlah sehebat Rhoma Irama, Iwan Fals, atau Ahmad Dhani. Level Bieber sebenarnya masih sekelas Agnes Monica, Gita Gutawa atau Afghan. Tapi, begitulah persepsi sebahagian masyarakat kita, yang masih suka ‘mengagung-agungkan’ segala sesuatu yang berbau asing, atau seseorang yang ngetop di Amerika. Silahkan mengagumi Bieber, tapi janganlah berlebihan….!(**)

Bollywood : Mereka yang Terlupakan


Diilhami postingan Tutinonka soal Bollywood, saya jadi tergoda untuk mengulas sedikit soal sosok yang sering dilupakan di balik kesuksesan bintang beken semisal Shah Rukh Khan, Aamir Khan, Salman Khan, Govinda,  Kajol, Rani Mukherjee, Kareena Kapoor, atau bintang-bintang tempo doeloe, seperti Raj Kapoor, Dilip Kumar, Dev Anand, Dharmendra,  Shashi Kapoor, Rishi Kapoor, Nargis, Madhubala, Hema Malini, Rekha, Zeenat Aman dan lainnya.

Sejak doeloe hingga kini, Bollywood movies tetap belum bisa melepaskan diri dari tarian dan nyanyian. Hanya satu atau dua film saja, yang tidak menonjolkan tarian dan nyanyian.

Nah, para penyanyi dan penata musik hebat di balik suksesnya film Bollywood itu, kerap menjadi sosok terlupakan. Minimal, bagi para penikmat film Hindustani di negeri kita.

Yang selalu terngiang di benar pecinta Bollywood, tidak pernah terlepas dari figur tenar sekaliber SRK, Salman, Aamir, Hritik Roshan, Saif Ali Khan, Akhsay Kumar, Kajol, Katrina Kaif, Kareena Kapoor, Priyanka Chopra, dll.

Padahal di balik layar terdapat sejumlah nama penting, para penyanyi yang selalu menyumbangkan suara emasnya, mengisi suara para bintang beken itu, saat menyanyi dan menari dalam film tersebut.

Pada era 40 hingga 60-an misalnya, penyanyi Mukesh selalu mengisi lagu-lagu dalam film-nya aktor legendaris Raj Kapoor. Sementara pada era  60 hingga 80-an, dua penyanyi paling laris di masa itu adalah Mohammad Rafi dan Kishore Kumar. Kedua penyanyi pria bersuara merdu ini disebut-sebut, hingga kini belum ada tandingannya.

Pada masa jayanya, lagu-lagu hits Rafi antara lain : Chaudvin Ka Chand Ho, Teri Pyaari Pyaari Suraat Ko, Chahunga Mein Tujhe Saanjh Savere, Kya Hua Tera Waada, Aap Hamare Paas, Yeh Dinya Yeh Mehfil, Chura Liya Hain Tumne, Ghulabi Ankhen, Aye Gulbadan Aye Gulbadan, Mere Mehboob Tujhe, Itna To Yaad Main Tujhe, Badi Mastana Hai. Selama kariernya pria kelahiran 24 Desember 1924 ini,  tercatat tak kurang telah membawakan 28 ribu lagu dari sekitar 5000 film, hingga akhir hayatnya. Rafi meninggal pada usia 55 tahun pada 1981.

Satu lagi penyanyi legendaris Bollywood, yang bersama Rafi dianggap tak tergantikan hingga kini adalah Kishore Kumar. Dia juga berjaya di era 60 hingga akhir 80-an. Rafi dan Kishore Kumar, memiliki kehebatan masing-masing. Kalau diibaratkan pesepakbola zaman sekarang, antara keduanya ibarat Messi dan Christiano Ronaldo. Rafi seperti Messi cenderung lebih cool, sedangkan Kishore mirip Ronaldo cenderung playboy dan meledak-ledak.

Rafi dan Kishore pulalah, yang menjadi icon dan mengilhami penyanyi-penyanyi hebat Bollywood sekarang, seperti Udit Narayan, Sonu Nigam, Kumar Sanu, Abhijeet, Vinod Rathood dan lainnya. Sonu Nigam dan Udit Narayan (yang kerap mengisi suara nyanyian SRK) cenderung mengadopsi gaya bernyanyi Rafi, sementara Kumar Sanu, Abhijeet dan Vinod Rathod mengidolakan Kishore.

Faktanya, Sonu Nigam dan Udit Narayan dianggap lebih sukses. Sebab hampir seluruh film-film sukses era 90- hingga 2000-an yang dibintangi aktor-aktor papan atas, selalu menyertakan suara merdu keduanya. Sebaliknya Kumar Sanu, Abhijeet dan Vinod Rathod, hanya menjadi penyanyi latar film-film menengah.

Tentunya selain nama penyanyi legendaris Mohammad Rafi dan Kishore Kumar, kita juga tak bisa menafikan penyanyi wanita paling hebat di Bollywood, yaitu Lata Mangeshkar, yang pernah beberapa kali berduet dengan Rhoma Irama. Selain Lata, terdapat nama Asha Bhosle. Sedangkan pada sepuluh terakhir ini, nama-nama penyanyi wanita Bollywood yang paling bersinar adalah Alka Yagnik, kemudian Shreya Goshal,Sunidhi Chauhan, Sadhana Sargam, Alisha Chinoy, dan beberapa nama lainnya.

Tanpa keberadaan penyanyi-penyanyi hebat di atas, sudah pasti Bollywood movies akan seperti sayur tanpa garam. Nama-nama mereka tentu sangat tenar dan dihormati di negerinya Mahatma Gandhi itu. Namun di Indonesia, mereka seperti sosok yang terlupakan….!

KD Ragu, Anang Melaju….


Pasangan yang pas dan serasi...

Sejak bercerai dengan Anang, penyanyi Kris Dayanti (KD)– yang terlalu dibesar-besarkan kelebihannya, padahal kemampuannya biasa-biasa saja– kelihatan banyak diliputi keraguan dalam melangkah.

Selama ini KD memang terlalu dilebih-lebihkan. Padahal dibanding Melly Goeslaw, Maia Estianty, Titi Dj atau Agnes Monica, KD sebenarnya tidak ada apa-apanya.

Mengapa ? Karena kebisaan KD cuma menyanyi doang. Sementara Melly, Maia,  Titi, dan Agnes punya talenta lebih ; penyanyi sekaligus pencipta lagu yang handal.

Pasca perceraiannya dengan Anang, sepertinya KD diliputi keraguan. Dia selalu berkelit soal hubungannya dengan Raul Lemos. Sementara banyak kalangan menyebut, pengusaha asal Timor Leste itu sudah lama memiliki hubungan khusus dengannya.

Sebaliknya, Anang Hermansyah pasca berpisah dengan KD, justru terus melaju dan seakan menemukan jatidiri sesungguhnya. Dia kelihatan lebih ceria dan bersemangat berkarya setelah pisah dengan KD.

Setelah mencetak hits lewat ‘Separuh Jiwaku Pergi’, Anang juga sukses berat berduet dengan Syahrini lewat tembang berjudul ‘Jangan Memilih Aku’ (kalau tak setia). Kedua lagu ini kelihatannya menyindir KD.

Dan, duet Anang-Syahrini, seakan telah menghipnotis seantero Indonesia saat ini. Anang terus melaju bersama Syahrini, sebab keduanya terlihat tulus dan ikhlas saling mencintai. Artinya, ketika Anang jatuh cinta pada Syahrini, penyanyi molek nan baik budi ini, bukan milik siapa-siapa alias belum berstatus sebagai janda.

Nah, di sinilah keprihatinan layak kita tujukan buat KD. Selepas bercerai dengan Anang, pilihan dia justru jatuh kepada pria beristri Raul Lemos.  Istri Raul, Silvalay Noor Athalia menyatakan hubungannya dengan sang suami rukun-rukun saja. Alaaamak, cam tak da bujang lain je ?

Mungkin karena itu pula, kendati sudah menjadi rahasia umum mereka punya hubungan khusus, KD dan Raul Lemos belum berani nongol bersama di depan publik, seperti halnya Anang-Syahrini yang terus ceria sepanjang hari mereguk ketulusan cinta.

Siapa pun pilihan KD menjadi suaminya, sejauh ini KD sepertinya kurang cerdas dan bijaksana dalam memilih bakal calon suami. Terdapat kesan, dia sepertinya tengah menapaktilasi perjalanan hidup kakaknya, Yuni Shara. Begitulah faktanya ; KD ragu, Anang pun terus melaju…..!

Foto dari sini

Kualitas Wartawan : Luna Vs Infotainment


Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dianggap bertanggungjawab atas keberadaan infotainment. PWI dinilai telah melakukan pembiaran terhadap infotainment sehingga infotainment dianggap bermasalah.

“Ini bentuk kegagalan PWI yang memasukkan infotainment sebagai wartawan. Saya melihat ada penurunan moralitas di sini. Kebanyakan wartawan infotainment juga tidak memiliki latar belakang jurnalistik, makanya mereka kurang memahami kode etik peliputan,” kata komedian dan politisi Dedi Gumilar, Minggu (27/12).

Apa yang dikemukakan Dedi di atas mungkin ada benarnya. Tetapi di sisi lain, juga masih bersifat debatable. Bahkan mungkin banyak kelirunya. Hal seperti itu memang sudah menjadi kebiasaan umum kita ; cenderung men-generalisir masalah.

Setiap kali terdapat seseorang yang melakukan kesalahan, acapkali institusinya yang dipersalahkan. Saat terdapat oknum polisi yang menyalah, institusi Polri yang dikecam. Ketika ada oknum Jaksa menyimpang, lembaga Kejaksaan dituding, dan semacamnya.

Dalam konteks kasus Luna Maya vs Infotainment, tidak sepatutnya institusi PWI diklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab dan tidak perlulah muncul fatwa haram segala.Para pekerja infotainment memang layak menyandang predikat sebagai wartawan. Soal terdapat awak infotainment yang tidak profesional tidak menyampaikan berita akurat, itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab para produser infotainment itu yang alpa membenahi kualitas wartawannya.

Media televisi sebagai lembaga yang menyiarkan berita-berita entertaint juga patut dipersoalkan. Sebab, mereka juga terkesan tutup mata dan kurang mampu melakukan sensor terhadap produk-produk infotainment yang hendak ditayangkan.

Di sisi lain, kita juga patut menyayangkan, permasalahan yang terjadi antara Luna Maya vs Infotainment, akhirnya berujung pada aktivitas dukung-mendukung, yang muaranya adalah kepentingan, termasuk kepentingan para pengelola televisi sendiri. Beberapa stasiun televisi yang tak punya tayangan infotainment misalnya, cenderung membela Luna Maya.

Padahal terlepas dari kualitas wartawan infotainment, yang mesti diakui masih banyak yang tidak profesional, dan terkesan kerap melakukan pemaksaan kehendak terhadap nara sumbernya, Luna Maya juga patut dikecam karena tulisannya yang kurang etis di twitternya itu. Menyebut siapa pun sebagai pelacur, apa pun alasan logisnya, tetaplah tidak dapat ditolerir !

Dari perspektif jurnalistik, sudah sepatutnya peristiwa Luna vs Infotainment ini, dijadikan sebagai momentum introspeksi bagi para pengelola media cetak dan elektronik, bahwa kualitas wartawan memang masih harus terus dibenahi. Memang media beken sekaliber Kompas, Media Indonesia, sudah tidak diragukan lagi kualitas wartawannya.

Tetapi di sejumlah media lainnya, utamanya di daerah masih sangat banyak orang yang tidak pantas menjadi wartawan, bisa selama berpuluh tahun menyandang predikat sebagai wartawan. Alhasil banyak oknum wartawan yang dikenal sebagai wartawan bodrex, muntaber, wartawan email,dan wartawan copy paste.

Terhadap wartawan-wartawan semacam itulah, yang menjadi tanggung jawab PWI untuk ikut berperan menindak dan meniadakannya. Dan tentunya yang paling berada di garis terdepan memberangus para wartawan tidak becus ini, sudah barang tentu adalah para pimpinan dan pengelola media itu sendiri…!

Kebahagiaan Semu……!


loneSeparuh jiwaku Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka

Reff:
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku

Kau bilang tak pernah bahagia
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua

(song by : Anang Hermansyah)

Saat lagu ini dinyanyikan Anang dengan penuh penghayatan di sebuah stasiun televisi, dan bola mata putrinya Aurel berkaca-kaca mengikuti bait lagu itu, tak sadar air mataku menetes.

Saya tak terlalu sedih membayangkan nasib Anang, saya cuma tak kuasa menahan perasaan duka membayangkan betapa dalam luka yang mesti ditanggung kedua anak Anang-KD, Aurel dan Azriel.

Saat ditanya presenter televisi, apakah Aurel dan Azriel merindukan mamanya KD, mereka kompak menjawab : tidak ! Kedua anak nan lugu ini menyatakan terpaksa melupakan ibunya, karena sang ibu telah punya si Om..yang baru. Woow…..sungguh tragis…..

Seandainya KD melihat tayangan itu, pastilah dirinya akan menangis pilu. Kedua anak kesayangannya terpaksa meninggalkan rumah mewah ibunya dan lebih memilih tinggal bersama sang ayah di sebuah studio yang sempit dan jauh dari aroma kemewahan.

Alhasil KD yang diberi gelar sebagai DIVA dan bertabur harta dan kemewahan, kini hanya mengecap kebahagiaan semu. Setiap manusia yang waras, pastilah tidak akan pernah bahagia hidupnya jika berpisah dengan anak-anaknya.

Bagi seorang ibu, kehilangan kepercayaan dari anak-anaknya plus berpisah dengan darah dagingnya sendiri, merupakan derita yang tiada tara. Hanya seorang ibu yang tak bermoral lah, yang masih bisa tersenyum genit dan tertawa terkekeh-kekeh, setelah berpisah dengan anak-anaknya.

Banyak orang kini berada dalam kebahagiaan semu ; bertabur harta dan kemewahan, menuai sukses dan popularitas, tapi jiwanya kosong, hatinya hampa. Karenanya, agar tak kehilangan orang-orang yang dicintai, hati-hatilah sebelum melangkah. Jangan jadikan nafsu sebagai panglima…..!

Rhoma, Ali dan Maradona


rhomaMalam minggu kemarin, kebetulan saya menyimak tayangan KDI 6. Yang membuatku terkesan, bukan tampilan para peserta kontes penyanyi dangdut tersebut, melainkan tampilan si Raja Dangdut Rhoma Irama.

Rhoma yang hadir secara akustik (tanpa diiringi Soneta Group), tampil sangat memesona. Menyanyikan lagu SYAHDU versi Indonesia dan India serta lagu Ani….., Rhoma menyihir dan seakan menghipnotis.

Mengapa performance Rhoma tetap memikat ? Padahal lagunya itu-itu juga. Penyebabnya tiada lain, karena cara Rhoma membawakan lagu-lagunya itu memang sangat memukau dan seolah ‘menembus jantung’.

Karena itu tak terlalu berlebihan, jika Rhoma saya sejajarkan dengan Muhammad Ali dan Diego Maradona. Begitu banyak petinju hebat bermunculan, tapi pesona Ali di atas ring tetap belum tergantikan hingga kini.

Begitu juga Maradona, kharisma dan style permainannya yang cantik dalam mendribble bola, hingga kini tetap belum ada tandingannya. Lionel Messi, Kaka, dan Christiano Ronaldo memang hebat, tapi tidak akan pernah sehebat Maradona.

Rhoma, Ali dan Maradona merupakan jawara di bidangnya masing-masing. Ketiganya tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Ketiganya akan selalu dikenang sebagai legenda sepanjang masa.

Ridho Rhoma memang hebat dan sudah mulai menapaktilasi perjalanan sukses ayahnya. Namun Ridho tidak akan pernah sampai menyamai kehebatan Rhoma Irama. Rhoma tetap akan menyandang gelar si Raja Dangdut itu selamanya. He’s never dies……..!

foto dari sini

Tabloid Hiburan Makin Sopan !


Hans Miller Banureah, Pemred XO

Hans Miller Banureah, Pemred XO

xo-covers411Tabloid hiburan kini sangat jauh berbeda dibanding era 80 hingga 90-an. Sejak beberapa tahun terakhir ini, tabloid hiburan terlihat semakin sopan dan mulai meninggalkan bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan sekwilda (sekitar wilayah dada)

Doeloe kalau tengah membaca tabloid, misalnya Monitor (pelopor jurnalisme lher) serta tabloid lain yang suka mengumbar sensualitas wanita, waddduh….bisa keringatan dan panas dingin.

Selain Monitor beberapa penerbitan lain kemudian coba mengikuti jejak sukses tabloid yang dikomandoi Arswendo Atmowiloto itu. Sehingga muncullah tabloid Lipstik, Dugem, Boss, Kisah Nyata, dll plus sejumlah majalah hot semisal Popular, Oke dan Playboy Indonesia.

Tetapi belakangan ini, tabloid hiburan kini lebih didominasi tabloid berkualitas dengan liputan investigatif, informatif, edukatif, inspiratif, komunikatif dan sesekali ngegosip.

Salah satu tabloid hiburan yang menarik perhatian saya sejak setahun terakhir ini adalah tabloid XO (eXtreme shOt). Setelah beberapa lama mencermati, saya merasa tabloid ini cukup layak dijadikan sebagai rujukan tabloid hiburan terlengkap.

Mengapa saya sampai tertarik menjadi pembaca setia tabloid XO ini ? Tentu saja alasannya sangat jauh dari pertimbangan subjektif. Tabloid yang masih berusia relatif muda ini memang benar-benar layak dibaca, karena dikemas dengan gaya bertutur nan lugas, cerdas, menarik, dan obyektif. Karenanya, jika ingin mengetahui mengetahui informasi hiburan dan gosip selebriti terkini, bergegaslah membaca tabloid XO. Dijamin, tidak akan kecewa….!

Beberapa rubrik tabloid XO yang menarik dibaca antara lain : Berita Sampul, yang mengupas tuntas gosip terkini seputar selebriti yang menjadi cover story. Edisi terakhir misalnya mengulas soal Andy Soraya yang masih berseteru dengan Catherine Wilson gara-gara duren (duda keren) Tommy Soeharto.

Rubrik lain seperti Film, TV, Musik, Klip, Horoskop, Cerber, Cermin, Acara Hiburan Sepekan, Refleksi, Gaya Hidup, Kabar Idola, Serba-Serbi, Inspirasi, Aktual, semuanya dikemas dalam sajian gaya bahasa yang menarik dibaca.

Bagi saya secara pribadi, rubrik Refleksi, Cermin, serta Jendela di halaman 3, yang selalu menyajikan semacam pengantar redaksi ditulis langsung sang Pemimpin Redaksi Hans Miller Banureah (mantan Pemred Tabloid Citra), juga sayang dilewatkan alias perlu dibaca untuk mengetahui perkembangan terkini jagad hiburan serta masalah-masalah aktual lainnya.

Semoga tabloid hiburan yang semakin sopan dan cerdas itu, tetap eksis serta semakin mampu menjalankan fungsinya sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Performance yang sopan itu hendaknya muncul dari kesadaran sendiri, alias tak sebatas antisipasi lahirnya UU Pornografi.

Media yang bertanggung jawab memang sudah seharusnya ikut berperan dalam meningkatkan kualitas intelektual serta pencerahan moralitas generasi muda bangsa, seperti dilakoni tabloid XO selama ini.

Kreativitas Mentok, Dangdut Jeblok


ridho-irama

Ridho Rhoma

Pada Senin (26/1) malam kemarin, TPI menggelar acara bertajuk ‘Dangdut Never Dies’, yang sesungguhnya merupakan gawenya The King of Dangdut Rhoma Irama, menggunakan momentum acara itu melaunching putranya Ridho Rhoma.

Rhoma berobsesi Ridho tampil sebagai ‘pangeran dangdut’, yang akan mewarisi kejayaannya sebagai penguasa musik dangdut yang hingga kini belum tergantikan.

Obsesi Rhoma itu wajar dan sah-sah saja. Tapi, sayangnya performance dan vokal Ridho Rhoma yang sudah lumayan mempesona itu tak diimbangi dengan pemunculan sesuatu yang benar-benar baru.

Dengan kata lain kehadiran Ridho baru sebatas mendaur ulang lagu-lagu beken yang pernah dipopulerkan ayahnya.  Padahal dari kepiawaiannya menyanyikan lagu-lagu Hindustan seperti diperlihatkan dalam acara itu, mestinya nilai plus putra kesayangan Bang Haji itu layak dijual ke publik.

Sangat disayangkan kalau Ridho cuma menyanyikan lagu-lagu lawas Rhoma Irama. Mestinya launching Ridho Rhoma bersama ganknya Sonet 2 Band, disertai dengan pemunculan album anyar. Maksudnya, album berisi lagu benar-benar baru, bukan cuma daur ulang.

Dalam konteks demikian, tak terlalu berlebihan jika dikatakan, daya kreasi  musisi dangdut sekarang benar-benar cukup memprihatinkan. Kreativitas mentok, dangdut pun jeblok.

Sebagai penikmat segala jenis musik, sudah bertahun-tahun saya mencermati, tidak ada lagi album dangdut sukses mencetak hits dan digemari masyarakat. Coba bandingkan dengan perkembangan musik pop, hampir setiap bulan ada saja lagu-lagu baru muncul dan populer di tengah masyarakat.

Lihatlah misalnya Ahmad Dhani. Selalu saja ada lagu-lagu baru yang diciptakannya dan hampir semuanya meraih hits, baik saat diluncurkan lewat Dewa 19, The Rock, Mulan Jameela atau Dewi Dewi.rhoma

Sementara Rhoma Irama, sudah berpuluh tahun tak kunjung mengeluarkan album yang benar-benar baru (berisikan full lagu baru). Parahnya lagi, penyanyi dangdut lainnya saat manggung di layar kaca dan di mana saja, juga selalu menyanyikan lagu yang itu-itu saja. Membosankan ! Kreativitas mentok, dangdut jeblok.

Kelemahan penyanyi dangdut seperti Dewi Persik, Saiful Jamil, Inul Daratista, Cici Paramida, Ikke Nurjannah, Uut Permatasari, Kristina, Ine Cynthia, Iis Dahlia, Irfan Mansyur S, dan para alumni KDI ; mereka cuma bisa menyanyi dan tak punya talenta menciptakan lagu seperti halnya Rhoma, Mansyur S, Meggi Z, Ayu Soraya atau Rita Sugiarto. Adapun musisi dan group band pop saat ini umumnya kreatif membuat lagu baru.

Dalam konteks demikian, sungguh mengherankan Rhoma Irama yang dulu begitu kreatif dan sudah menciptakan sekitar 500 lagu, ikut-ikutan pula mandeg kreativitasnya dalam membuat lagu-lagu baru. Padahal para fansnya sudah cukup lama merindukan kehadiran album barunya.

Agar dangdut tak semakin lama jeblok, Rhoma seharusnya bisa memberikan terobosan baru menciptakan lagu-lagu anyar buat dirinya sendiri serta untuk penerusnya Ridho Rhoma. Dan akan lebih baik lagi jika Ridho juga diberi ‘pelajaran’ oleh sang ayah agar tak sekadar muncul sebagai penyanyi ansich, tetapi sekaligus sebagai musisi all-round.

Kalau Ridho tak punya talenta mengkreasi lagu, slogan Dangdut Never Dies akan berhenti sebatas jargon, selanjutnya jagad perdangdutan pun tetap jeblok dan kemungkinan besar akan ditinggalkan para pengemarnya…..!

foto dicomot dari sini

‘Bencana’ Award


Tahukah Anda siapa Divya Bharti ? Hampir bisa dipastikan hanya segelintir, atau bahkan tak ada yang pernah mendengar nama itu. Kalau disebut nama Kajol, Kareena Kapoor, Rani Mukherjee, Aishwarya Rai, atau Priyanka Chopra, mungkin masih banyak yang tahu.

Divya Bharti adalah artis Bollywood seangkatan dengan Kajol, Raveena Tandon, Karishma Kapoor, Juhi Chawla, Manisha Koirala dan Urmila Matondhkar. Dia memulai debutnya di jagad perfilman India pada usia teramat muda, 16 tahun.  

Setelah sukses di industri film daerah (Telugu) tahun 1990-1991. Pada 1992, Divya menjejakkan kakinya di Mumbai, Bollywood dan meraih sukses besar lewat film debutnya Vishwatma (bersama Sunny Deol) dan Shola Aur Shabnam (bersama Govinda).

Sejak sukses dalam debutnya itu, sepanjang tahun 1992-1993, sedikitnya terdapat sekitar 15 film yang dibintangi artis kelahiran tahun 1974 ini dan hampir semuanya meraih sukses. Salah satu di antara filmnya yang super hits adalah Deewana, bertrio dengan aktor beken Rishi Kapoor dan Shahrukh Khan.  

Berkat kesuksesan yang sangat mencengangkan itu, Divya diganjar sejumlah award serta dipuji semua kritikus film dan sineas di negeri sungai Gangga itu. “She’s the most promising newcomer, innocence and a perfect figure,” kata Pehlaj Nehalani, produser terkenal. “Now, she’s a star,” puji sutradara Lawrence D’Souza.

Setelah rupa rupa award didapat dan pujian setinggi langit nyaris setiap hari menghiasi media, Divya Bharti ternyata tak kuat menahan beban mental pencitraan dirinya sebagai perfect figure serta seorang megastar yang harus selalu tampil ramah dan charming.

Akhirnya bak petir di siang bolong, terbetik kabar mengejutkan dan menggegerkan seantero India. Pada 5 April 1993, Divya ditemukan tak lagi bernyawa di apartemennya di Mumbai. Dia mati muda, dalam usia sangat belia, 19 tahun. Konon, artis yang tengah melesat bak meteor ini meninggal karena bunuh diri. Sungguh tragis.

So, sebuah kesuksesan atau award yang sering didapat bisa jadi akan menjadi bencana, bila tidak disikapi dengan arif wicaksono. Award akan berujung bencana kalau tak dimaknai sebagai sebuah tantangan dan sugesti untuk meraih prestasi lebih baik, dan lebih baik lagi.

Beberapa hari lalu saya beruntung mendapat award Briliante Weblog dari rekan blogger, Wi3nd (yang baru kenal sebatas penerawangan).Tapi hal itu tak penting sangat. Cuma setahu saya, beliau adalah seorang gadis baik budi, cerdas, lucu, selalu ceria, dan senantiasa berupaya dekat padaNYA.

Saya akan berupaya sekuat tenaga agar award yang diberikan Wi3nd tidak akan menjadi ‘bencana’  bagi saya, seperti menimpa Divya Bharti, melainkan akan semakin menambah zemangad dalam berkreasi, sesuai dengan pesan gadis penyuka harum hutan itu.

Sebelumnya seorang teman lainnya Easy, yang produktivitasnya mustahal ditandingi dan untuk itu dia diganjar ‘pahala’ selalu masuk kategori blog pilihan Blogdetik.com, dalam postingannya juga pernah memberi apresiasi dengan menyebut saya sebagai salah satu rujukan dalam soal politik serta menyertakan tagline blog Mikekono sebagai 13 tagline menarik.

Teman blogger lain, Yessy Muchtar juga pernah menyatakan, blog saya termasuk ke dalam 10 blog yang mencerahkan hari-harinya. “Ulasan politik Mikekono menarik dibaca, tanpa perlu mengernyitkan kening,” kata ibunda Tangguh ini.

Saya juga merasa tersanjung dengan apresiasi yang diberikan Mbak Yulis (perempuan ramah, santun, baik budi, asal Magetan yang berdomisili di Colorado bersama suami tercinta Marvin). Mbak Yulis menampilkan link headline tulisan terbaru saya di blognya bersama 12 blogger lainnya. “Thanks so much, my sister”. 

Semoga tradisi pemberian award dan apresiasi yang diberikan sesama blogger itu akan memberi manfaat positif dan bisa semakin mempererat tali persahabatan di antara kita semua. Amien.   

Thanks mbak Yulis, Yessy Muchtar, Wi3nd, matur nuwun sanget Lies ‘Easy’ Surya, thanks….., thanks, thanks for all. Syukran katsir, syukriya, namaste, gracias, horas, mejuah-juah, njuah-juah. (jadi kebayang saat Robert de Niro mengucap sepatah dua kata ketika menerima piala Oscar……heheheeee).

NB. Agar tak menimbulkan kesan kurang obyektif dalam memilih dan setelah menerima wangsit dari ‘guru’ spiritual saya mbak Tutinonka, ‘atasan’ saya Bunda Dyah Suminar serta my sist Yulis, maka award di atas tak jadi saya teruskan ke blogger lain (padahal 7 nama yang berhak mendapat award itu sudah ada dalam kantong celana saya).

Seni Islami, bagaimanakah ?


islmicaSebuah karya seni ; novel, puisi, lagu, lukisan, sinetron, atau film, acapkali memantik kontroversi di kalangan umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia.

Beberapa karya seni yang pernah mengundang kegaduhan dan protes umat Islam antara lain The Message, The Satanic Verses, Schindler’s List, Fitnaa, dll.

Buku karangan Salman Rushdie The Satanic Verses misalnya berujung pada keluarnya vonnis mati dari seorang Mullah dan pemimpin spiritual paling dihormati di Iran kala itu, Ayatullah Rohullah Khomeini (alm). Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.