Bosan juga menulis soal politik dan hal-hal serius yang membuat kepala pusing. Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman sedikit tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dari biodata seseorang, sering ditulis Agus Salim Ujung alumni FT IAIN Sumut, Toga Nainggolan alumni FS-UI, atau Rahmawati alumni FK UGM (ini hanya sekadar contoh)
Kita tak menyadari penyebutan kata alumni dalam kalimat itu sebenarnya keliru. Memang kekeliruan seperti ini tidak ada sanksinya. Tapi, apa mau salah melulu…?
Kalimat yang benar, Agus Salim Ujung alumnus FT IAIN Sumut. Kalau menyebut dua orang sekaligus, misalnya Agus Salim Ujung, Toga dan Rahmawati, barulah digunakan kata alumni atau 1000 alumni Unpad diwisuda.
Mengapa demikian ? Alasannya, karena kata alumni lazimnya digunakan untuk plural (jamak), sedangkan alumnus untuk singular (tunggal).
Kesalahan mendasar lainnya juga kerap ditemui dalam penulisan kata sekedar. Padahal kata yang benar, adalah sekadar , karena kata dasarnya kadar (ukuran), bukan kedar. Kata kedar tak jelas apa maknanya.
Kekeliruan juga sangat sering ditemukan dalam penulisan kata merubah atau merobah. Mestinya ditulis mengubah. Sebab kata dasarnya ubah, bukan rubah, obah atau robah.
Hal-hal sepele tapi penting, juga terlihat dari penulisan kata diatas, didepan, dirumah, yang acap tulisannya digabung. Penulisan yang benar, di atas, di depan, di rumah.
Sebaliknya kata yang mestinya digabung justru sering dipisah, seperti di pukul, di hukum, di bunuh. Seharusnya ditulis dipukul, dihukum dan dibunuh.
Masih banyak kesalahan elementer yang sering ditemui. Mungkin butuh sebuah artikel lumayan panjang untuk menuliskannya.
Tapi, apa yang disinggung di atas (mungkin) hanya berlaku bagi teman-teman yang ingin mencoba menulis artikel, yang baik dan benar, serta ingin mengeksposnya di media massa.
Menulis di blog, tentu nggak ada aturannya. Semua bisa menulis sesuka hati dan sepuas-puasnya. Kalau diharuskan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, justru tulisannya bisa kurang greget. Iya kan. Monggo……..
pertamax dulu yaa
Salah satunya aku yang suka salah tuw mas kalo nulis sekadar, hrus gabung or dipisahin hehe, tpi gak papa, sekarang sdh ada yg membatu kita untuk meluruskannya…. Tinggal masuk aja kesini, gampang khan
Wah baru tau aku bro. Thanks dah ngingetin
Salam kenal ya bro…
tambahan bang…
yg bener apotek bukan apotik krn yg ada apoteker bukan apotiker.
udah segitu dulu hehehe
*langsung ngecek di “About Me”*
ternyata memang cuma contoh
*bernapas lega*
saya juga perhatian sama yang namanya EYD. seruu..
@Rita
saya hanya sekadar berbagi pengalaman, mn tahu ada manfaatnya. thx uda mampir pertamax
@Adieska
tks uda mampir, salam kenal jg mas
@Pimbem
nanti-nanti ditambahi lagi ya. thx
@Rahmawati
ya hanya sekadar contoh,
tulisan tulisan di blog Ama, EYD nya memang sudah pas semua
kebayang gak ya..kalo Jus badudu main main ke blog yessy….atau Gorrys Keraf deh..nengok blog yessy…hiiks…mereka pasti mengelus dada…sambil mikir “anak anak jaman sekarang..bahasanya ko ya semrawut pisannnn”
kan uda abang bilang
kalau nulis blog nggak ada aturannya tuh
suka suka aja
*kadang-kadang semrawut itu indah, kok*
Mari kita sempurnakan, atau berusaha sempurna dengan kaidah bahasa yang baik. Semoga …lama-lama terbiasa. saya juga sangat sering salah..tetapi tetap ingin memperbaikinya…semoga bisa…hehehe…
mengakui kesalahan, ciri manusia mulia. Di negeri ini justru banyak orang sdh terbukti bersalah, tp tak mau mengaku salah…..
horas mas Singal
syalutlah, ternyata masih banyak anak bangsa yang peduli dengan bahasa nasional kita.
Sayang, teman-teman yang bekerja di media massa sebagai jurnalis banyak yang gak peduli ya…
jurnalis seperti itu
jurnalis yang “tidak tahu di tidak tahunya”
Tidak taunya kenapa?
Kenapa tidak tau???
aduuhh jadi ko bisa tauuu???
*Cepet cepet ngibrit sebelum si jewer abang*
Tidak taunya kenapa?
Kenapa tidak tau???
aduuhh jadi ko bisa tauuu???
*Cepet cepet ngibrit sebelum di jewer abang*
ya, aku tahu di tidak tahunya yessy
*dijewer ? dijewer pake apa ?*