3 Januari 2012

Ketika Rakyat Salah Memilih

Ketua DPR Marzuki Alie mengimbau seluruh anggota DPR untuk bekerja lebih baik pada tahun 2012. Jangan sampai rakyat menyesal memilih wakilnya di DPR !
“Kita masih punya waktu 2,5 tahun lagi sampai pemilu 2014. Kalau tahun-tahun lalu kita kedodoran, mungkin karena perlu adaptasi. Tahun 2013 partai-partai akan sudah mempersiapkan diri untuk pemilu, maka tinggal tahun 2012 yang tersisa untuk berkarya yang terbaik,” kata Marzuki, Selasa (3/1).
Marzuki seakan pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya sudah sejak lama rakyat merasa salah dan menyesal sejumlah anggota DPR/ D yang tidak optimal memperjuangkan aspirasi rakyat tersebut.
Sejatinya, tidak hanya dalam hal memilih anggota DPR/ D saja, sebahagian rakyat merasa menyesal karena ternyata telah salah pilih, melainkan juga saat memilih para pemimpin mereka di daerah (gubernur, bupati dan wali kota). Bahkan, kini merasa menyesal karena dulu telah memilih SBY-Boediono.
Terbukti, tidak cuma wakil rakyat di DPR/ D saja, yang terlalu disibukkan dengan manuver-manuver politik untuk kepentingan partai dan dirinya sendiri, para kepala daerah dan pemimpin tertinggi di negeri ini, juga belum cukup memuaskan kinerjanya dalam hal peningkatan kesejahteraan rakyat.
Rakyat sejahtera yang terbebas dari kemiskinan dan pengangguran, hanya tertuang dalam visi-misi yang dengan berapi-api disampaikan para calon kepala daerah, presiden, dan wakil rakyat, saat menggelar kampanye.
Ketika kursi empuk kekuasaan sudah berada di genggaman, mereka pun dengan begitu mudahnya melupakan janji-janji dan visi-misi tersebut. Yang ada di benak mereka, justru bagaimana melakukan berbagai manuver, yang mengarah pada politik pencitraan yang tidak terlalu dirasakan rakyat manfaatnya.Lalu, ketika rakyat telah terbukti salah dalam memilih, selanjutnya apa yang mesti dilakukan ? Dalam konteks ini, diimbau kepada segenap rakyat Indonesia, agar pada event pemilihan kepala daerah dan Pemilu legislatif dan Pilpres mendatang, tidak lagi salah pilih.
Selain itu, perlu segera diinventarisasi anggota DPR/ D mana saja, yang selama ini kinerjanya tidak optimal dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Begitu juga kepala daerah yang cuma piawai pidato dan nihil prestasi, harus segera ‘diberi pelajaran’. Mereka (anggota dewan dan kepala daerah) yang melempem itu, tidak boleh dibiarkan terpilih kembali.
Nah, untuk Presiden RI mendatang, rakyat pun seharusnya sudah bisa mendeteksi sejak dini, siapa saja figur yang layak dan akan benar-benar berbuat untuk rakyat, jika diberi mandat menjadi kepala negara. Kesalahan dalam menjatuhkan pilihan tidak selayaknya terjadi berulang kali. Semoga….

Kaitkata: , , ,
8 Desember 2011

Sudah Saatnya Pensiun, Sir Alex !

Hanya butuh hasil seri untuk lolos ke babak 16 besar. Namun, fakta berbicara Manchester United harus tersungkur di kandang klub antah berantah FC Basel, 1-2, Kamis kemarin. Dengan hasil ini, The Red Devils harus puas turun kasta, hanya bermain di Liga Europa.
Pencapaian ini, jelas merupakan sebuah kegagalan terbesar MU, yang baru setahun lalu menjadi runner up Liga Champions, setelah dikandaskan Barcelona. Ia pun terang-terangan mengaku kecewa dengan hasil yang didapat skuadnya.
Tak hanya itu, MU juga tiga kali menjadi finalis dalam empat musim terakhir Liga Champions. Menyikapi hal itu, Sir Alex Ferguson sendiri menyatakan, bahwa Liga Europa tidak pernah ada di benaknya. “Tentu saja kami kecewa. Tak mungkin ada perasaan lain selain itu,”ujarnya.
Tanda-tanda kegagalan MU tahun ini, memang sudah mulai terlihat, utamanya setelah Wayne Rooney dkk dibabakbelurkan tim sekotanya, Manchester City 1-6. Sejak kekalahan memalukan ini, permainan tim besutan Sir Alex mengalami penurunan drastis.
Kendati masih bisa bertahan di posisi kedua Liga Primeir Inggris, namun kemenangan yang diraih, hampir semuanya didapatkan dengan susah payah alias kurang meyakinkan. Terakhir misalnya, hanya mampu meraih kemenangan 1-0 melawan Aston Villa.
Pekan lalu, Nemanja Vidic dkk juga mengalami kekalahan memalukan di perempat final Piala Carling. Di kandang sendiri, ditundukkan tim kasta bawah Crystal Palace dengan skor 2-1.
Sejumlah hasil pertandingan yang ditorehkan MU belakangan ini memang, jauh dari kesan statusnya sebagai klub raksasa Inggris. Puncaknya, sudah barang tentu kegagalan melaju ke babak 16 besar, setelah dipecundangi klub yang tak pernah dikenal prestasinya di jagat sepakbola, yakni FC Basel.
Kiprah dan talenta Sir Alex sebagai salah satu manajer terbaik di dunia, tentu tidak akan pernah diragukan. Terbukti, dalam kariernya dalam menangani MU, sejak tahun 1986 lalu, Fergie telah memperoleh hampir semua trophy yang diperebutkan oleh klub sepakbola sejagat.
Namun, dengan torehan prestasinya belakangan ini, tidak ada salahnya pula jika kita menyarankan Sir Alex, agar segera pensiun. 25 tahun menangani sebuah klub sepakbola, merupakan sebuah rentang waktu yang sangat panjang.
Ibarat sebuah rezim pemerintahan, Sir Alex sudah terlalu lama berkuasa. Terbukti, kekuasaan yang terlalu lama berpusat pada seseorang, bisa memunculkan penyalahgunaan wewenang (abuse of power), atau setidaknya melahirkan sebuah kejenuhan.
Bisa jadi Sir Alex sudah jenuh, seiring dengan usianya yang sudah semakin renta. Karenanya, kini saatnya untuk pensiun, Sir Alex !

Kaitkata: , , ,
19 September 2011

Fenomena Mundurnya Briptu Norman

Briptu Norman Kamaru pertama kali menggegerkan publik di tanah air, karena aksi lipsync-nya mencontoh aksi Shahrukh Khan dalam lagu ‘Chaiyya-chaiyya’ dari film ‘Dil Se’, yang aslinya dinyanyikan Sukhwinder Sigh, seorang background singer Bollywood, yang kariernya tidak sementereng Mohammad Rafi, Kishore Kumar atau Sonu Nigam.
Setelah pemunculannya yang menarik perhatian publik dalam video yang diupload ke youtube itu, Briptu Norman kemudian mendadak sontak berubah menjadi selebriti. Aksi dan kehadirannya banyak ditunggu-tunggu. Bahkan media televisi pun rebutan ingin menampilkan sosoknya.
Setelah pamornya sebagai selebriti dadakan mulai meredup, Briptu Norman kembali membuat kejutan. Dia menyatakan ingin mundur dari keanggotaannya di Brimob Polda Gorontalo. Konon, pengunduran dirinya karena sudah merasa capek bertugas sebagai polisi dan ingin lebih eksis mengembangkan karier sebagai penyanyi.
Karuan saja keinginan Norman ini layak dinilai sebagai sebuah sikap yang mengejutkan. Karenanya, tidak berlebihan
jika pimpinan Polri merasa bak ‘kebakaran jenggot’. Tidak aneh pula, jika Mabes Polri kemudian tidak bisa begitu saja mengabulkan permohonan Briptu Norman Kamaru untuk mundur dari Brimob. Norman diwajibkan membayar ganti rugi atas biaya pendidikan yang dikeluarkan negara selama ini untuknya.
“Setelah masuk polisi dididik dan disekolahkan, yang dibiayai dari uang rakyat. Polisi mengemban amanat rakyat, kalau
mendidik polisi kan uang rakyat. Makanya ada peraturan internal kepolisian,” ujar Karopenmas Brigjen Pol I Ketut
Untung Yoga Ana saat dihubungi wartawan, Senin (19/9).
Yoga mengatakan, ikatan dinas bagi seorang anggota bintara yakni 10 tahun. Sementara Briptu Norman baru berdinas
6 tahun.”Peraturan Polri mengemban amanat rakyat. Saya belum baca detailnya keluarnya atas keluar sendiri atau
polisi, jadi harus mengganti biaya itu,” jelas Yoga.
Yoga tidak menjelaskan berapa total jumlah yang harus dibayarkan Briptu Norman. Namun sesuai aturan, Briptu Norman
harus mengganti uang yang selama ini dikeluarkan negara untuknya.”Kan sudah mengeluarkan uang untuk pendidikan
itu,” imbuhnya.
Fenomena Briptu Norman ini memang menarik untuk dicermati. Dan, dipastikan sosoknya akan lebih menarik dan
ditunggu penggemarnya, jika yang bersangkutan tetap menyandang status sebagai anggota kepolisian.
Dengan menanggalkan statusnya sebagai anggota Polri, hal itu bermakna Briptu Norman Kamaru telah ‘mengkhianati’
institusi yang telah membesarkan namanya. Patut diingat, jika yang melakukan lipsync “Chaiyya-chaiyya’ itu, bukan
seorang Norman, yang anggota Brimob itu, niscaya tidak akan mengundang antuasias masyarakat untuk
mengunduhnya.
Hal inilah yang mungkin tidak disadari oleh Norman. Tanpa menyandang status Briptu di pundaknya, dia tidak akan
‘diterge’ masyarakat, dan hampir dipastikan obsesinya menjadi penyanyi sukses, akan membentur tembok besar. (**)

7 September 2011

Bencana tak Henti Melanda

Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) yang terjadi di kawasan Singkil Baru, Provinsi Aceh pukul 00.55 WIB, Selasa dinihari terasa cukup kencang di sejumlah daerah di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan.
Bencana gempa tersebut misalnya, juga menimbulkan kerusakan puluhan rumah di Kabupaten Dairi, Tanah Karo, dan Pakpak Bharat. Dampak gempa juga terasa hingga ke Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan berbagai daerah lainnya di Sumatera Utara.
Sudah barang tentu, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Aceh, kita sangat prihatin dengan terjadinya gempa tersebut. Gempa ini mungkin tidak sedahsyat gempa sebelumnya, yang terjadi berulang kali di Aceh dan sekitarnya.
Namun, apa pun ceritanya, gempa tetap berdampak pada timbulnya korban. Ada yang meninggal, dan tentu lebih banyak lagi warga dan saudara kita yang terpaksa kehilangan tempat tinggal, karena luluh lantak diterjang gempa tersebut.
Di sisi lain, sebagai hambaNya yang percaya pada kehendak dan takdir Sang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla, kita juga berkewajiban melakukan introspeksi dan melakukan kontemplasi (perenungan), mengapa berbagai bencana seolah tiada henti melanda negeri ini ?
Adakah hal itu sebagai sebuah hukuman terhadap manusia Indonesia, yang kini cenderung semakin terpola pada tradisi hidup yang individualis, kapitalis, serta hipokrit ? Atau, berbagai bencana yang diturunkan Allah itu, hanya sekadar ujian bagi hambaNya agar semakin ingat kepadaNya ?
Apa pun yang menjadi faktor penyebab banyaknya bencana yang melanda negeri ini, satu hal yang pasti, dibutuhkan introspeksi dari semua pihak di negeri ini, agar dapat mencari alternatif solusi dalam mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak negatif berbagai bencana tersebut.
Tidak tepat lagi, jika pemerintah dan pihak-pihak terkait hanya memikirkan langkah-langkah riil pasca terjadinya gempa, banjir, longsor, serta berbagai bencana lainnya.
Hal mendesak, yang mestinya juga harus segera dilakukan pemerintah dari pusat hingga ke daerah adalah melakukan upaya nyata menyiasati kemungkinan terjadinya bencana, sekaligus melakukan sosialisasi kepada segenap rakyat Indonesia, bagaimana kiat menghadapi ancaman berbagai bencana tersebut, agar masyarakat tidak panik dan larut dalam kecenderungan traumatis.
Namun, seolah sudah menjadi takdir rakyat Indonesia, apa pun yang hendak dikatakan dan diusulkan kepada pemerintah dan jajarannya, semua itu seolah akan menguap begitu saja, alias tidak jelas follow-up nya.
Karena itu, ketika berbagai bencana tiada henti melanda, rakyat hanya bisa bersikap pasrah dan selanjutnya berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, agar tidak menjadi sasaran bencana yang maha dahsyat tersebut.(**)

Kaitkata: , , ,
7 September 2011

Piala Dunia Tetap Sebatas Mimpi

Ketika dibekuk Timnas Iran 0-3, pelatih timnas Indonesia Wim Rijsbergen berdalih kekalahan itu disebabkan faktor  kelelahan dan cuaca dingin di negeri-nya Mahmoud Ahmadinejad itu.
Lalu, saat dibekuk Bahrain 0-2 di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Karno Selasa malam kemarin, masih adakah alasan yang hendak dikedepankan sang pelatih ? Jangan-jangan dia berdalih, hal itu karena gangguan mercon dari penonton ?
Dengan dua kekalahan yang diderita tersebut, dapat dipastikan keinginan ratusan juta rakyat Indonesia melihat timnas kita berlaga di Piala Dunia, benar-benar tetap berhenti sebatas mimpi belaka.
Dan, hingga kini tidak bisa dipastikan, entah sampai kapan mimpi itu akan tetap sekadar mimpi yang tidak pernah mewujud dalam kenyataan.
Pertanyaannya, mengapa performance timnas kali ini terlihat begitu melempem, sehingga dalam dua pertandingan yang telah dilakoni di Grup E Pra Piala Dunia Zona Asia ini, belum sekalipun Christian Gonzalez dkk berhasil mencetak gol ke gawang lawan.
Jika dicermati lebih mendalam, kualitas permainan timnas kali ini, justru mengalami penurunan dibandingkan saat sukses mencapai babak final Piala AFF di Jakarta beberapa bulan lalu.
Dengan kata lain, ketika kursi pelatih beralih dari tangan Alfred Riedl ke tangan Wim Rijsbergen, yang terjadi bukan peningkatan kualitas taktik dan strategi permainan, melainkan penurunan sekaligus ketidakjelasan pola permainan.
Padahal, semasa timnas masih ditangani Riedl, belum diperkuat pemain penuh talenta Boaz Solossa. Namun, berkat tangan dingin Riedl, Irfan Bachdim dkk berhasil menyuguhkan permainan memukau serta kerja sama tim yang cukup padu.
Namun, apa yang terjadi sekarang, justru sangat memprihatinkan. Dengan materi yang relatif sama plus suntikan tenaga baru Boaz Solossa, timnas justru menjadi bulan-bulan. Bahkan, kini menjelma menjadi ‘lumbung gol’ bagi Iran dan Bahrain.
Itu bermakna, kebijakan PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin, yang buru-buru mendepak Riedl dan menggunakan jasa Wim Rijsbergen, bisa disebut sebagai sebuah langkah blunder.
Agaknya itu pulalah konsekuensi yang harus ditanggung, jika urusan sepakbola di tanah air masih tetap saja sarat diwarnai dengan kepentingan politik, selama itu pula bayang-bayang kegagalan akan terus mewarnai masa depan sepak bola Indonesia.
Tepatnya, selama PSSI masih dipengaruhi oleh vested interested pihak-pihak luar, yang terkait dengan politik kompromi serta keinginan memuaskan selera pihak-pihak tertentu, selama itu pula keikutsertaan timnas Indonesia di Piala Dunia, akan tetap berhenti sebatas mimpi belaka.(**)

9 Agustus 2011

Implikasi Penangkapan Nazaruddin

Setelah cukup lama menjadi buronan, akhirnya mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itupun, tertangkap. Duta Besar RI untuk Kolombia Michael Manufandu mengisahkan proses penangkapan tersangka kasus suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games, Muhammad Nazaruddin, di Cartagena, Kolombia.
Michael menjelaskan saat ditangkap polisi kota Cartagena, Nazaruddin tidak melawan. “Dia sedang duduk-duduk. Tidak ada perlawanan, dia cenderung kooperatif,” ujar Michael dalam wawancara dengan tv swasta, kemarin.
Michael mendapat kabar penangkapan Nazaruddin dari kepolisian Kolombia, sekitar pukul 21.00, waktu setempat. “Saya diberi tahu ada orang penting Indonesia ditangkap. Saat disebut mengenai public bribery, saya langsung tahu,” jelas Michael.
Sudah barang tentu, kita dan sebahagian besar rakyat Indonesia mensyukuri penangkapan tersebut. Penangkapan ini diharapkan akan membuka titik terang sejumlah kasus dan keterlibatan banyak nama, yang kerap disebut-sebut mantan politisi kelahiran Sumatera Utara itu.
Dapat dipastikan keberhasilan membekuk Nazaruddin akan memiliki implikasi luas. Bisa jadi, kekhawatiran bahwa dirinya akan menjadi korban ‘kriminalisasi’ akan terbukti, atau sebaliknya dia akan sukses menyeret sejumlah tokoh penting, untuk menginap bersamanya di hotel prodeo.
Di sisi lain, ‘jeweran’ Ketua DPR-RI Marzuki Alie terhadap KPK, yang sampai mengarah pada munculnya wacana pembubaran lembaga super-body itu, justru akan memiliki implikasi sendiri, yakni para petinggi KPK dipastikan tidak akan lagi berani ‘bermain-main’ dalam menangani sederet kasus yang melibatkan Nazaruddin tersebut.
Nah, dalam konteks ini, bisa jadi Nazaruddin di dalam keterangannya kepada juru periksa KPK, akan kembali melontarkan berbagai pengakuan yang akan menyudutkan mantan sekondannya di Partai Demokrat, yaitu Anas Urbaningrum.
Dengan demikian, penangkapan Nazaruddin ini, tidak hanya akan berdampak dalam perspektif kepentingan penegakan hukum (law enforcement), melainkan juga akan memiliki implikasi dalam perspektif kepentingan politis, utamanya bagi faksi-faksi yang terdapat di Partai Demokrat.
Dalam konteks demikian, kita berharap, kiranya KPK tidak terpengaruh dengan apa yang tengah terjadi internal partai penguasa tersebut. Pemeriksaan terhadap Nazaruddin hendaknya dilakukan secara transparan dan profesional.
KPK jangan sampai terpengaruh oleh adanya pressure politik, yang menginginkan kasus Nazaruddin, kemudian disederhanakan atau digiring sesuai dengan selera kelompok kepentingan di negeri ini, utamanya di kalangan Partai Demokrat.(**)

19 Juli 2011

Yang Kuat tak Selalu Menang

Terdapat fenomena aneh dan sangat mengejutkan pada perhelatan kejuaraan sepakbola paling bergengsi di Amerika Selatan, Copa Amerika, yang tengah berlangsung di Argentina.
Dua raksasa sepak bola dunia dan juga kawasan Amerika Selatan (Conmebol), Tim Tango Argentina dan Tim Samba Brasil, harus menanggung rasa malu, karena hanya mampu melangkah hingga ke babak perempat final.
Kedua negara raksasa sepak bola dunia itu, tersingkir lebih awal dan mengundang kekecewaaan ratusan penggemarnya di seluruh dunia. Lionel Messi dkk dipermalukan Diego Forlan dkk, kalah adu penalti 4-5.
Sementara Brasil juga kalah adu penalti melawan Paraguay. Tim besutan pelatih anyar Mano Manezes ini bahkan lebih memalukan lagi. Sebab pada adu penalti itu, empat penendangnya gagal menceploskan bola ke gawang Paraguay.
Tak cuma Brasil dan Argentina yang dipermalukan. Tim unggulan Chile, juga disingkirkan tim anak bawang, yang selalu menjadi bulan-bulanan di zona Conmebol, yakni Venezuela. Chile disingkirkan Venezuela dengan skor 1-2.
Sementara Tim Putri negeri sakura Jepang, yang sebelumnya dipandang sebelah mata, juga sukses membalikkan ramalan, dan membekuk tim unggulan Negeri Paman Sam, AS di final Piala Dunia sepak bola putri.
Fenomena ini, kembali memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa yang kuat tidak selalu menang. Kekuasaan yang diback-up senjata canggih militer pun kerap tumbang oleh desakan massa rakyat (people power), yang hanya bersenjatakan semangat dan tekad kuat dan kebersamaan.
Karenanya, ketika berada di puncak kekuasaan, janganlah pernah menganggap remeh kekuatan rakyat. Stabilitas politik yang terwujud lewat upaya merangkul kekuatan partai, tidak akan ada artinya, jika aspirasi dan kemauan rakyat selalu diabaikan.
Sudah sangat banyak sekali contohnya, pihak yang merasa dirinya kuat dan tidak akan mungkin mengalami kekalahan, tiba-tiba menemui batu sandungan dan terpuruk dalam kegagalan, yang sangat mengenaskan dan menyakitkan.

2 Juni 2011

Penegak Hukum Melanggar Hukum

KPK resmi menetapkan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Syarifudin dan seorang kurator PT Skycamping, Puguh Wirayana sebagai tersangka.”Sudah kita sudah tetapkan keduanya sebagai tersangka,” jelas Wakil Ketua KPK M Jasin melalui pesan singkat, Kamis (2/6).
Syarifudin dan Puguh ditangkap satuan penyidik, di dua tempat berbeda. Syarifudin ditangkap di kediamannya. Sedangkan Puguh di sebuah hotel kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Keduanya dijadikan tersangka  karena diindikasikan terlibat kasus dugaan suap.
Dalam penangkapan di rumah Syarifudin, petugas menemukan uang yang tersebar di dalam tas, laci, dan amplop. Sebanyak Rp 250 juta dalam amplop coklat dan Rp 141 juta di amplop lainnya. Petugas KPK juga menemukan uang asing, yakni 84.228 dolar AS, 284.900 dolar Singapura, 20 ribu yen, dan 12.600 bath.
Penangkapan hakim, yang sejatinya bertugas sebagai aparat penegak hukum dan memberikan rasa keadilan kepada masyarakat itu, bukanlah hal mengejutkan. Sebab, sebelumnya juga sudah sangat banyak sekali aparat penegak hukum, yang kesandung persoalan hukum, misalnya Jaksa Cirus Sinaga.
Tertangkapnya Hakim Syarifudin, setidaknya juga menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan terhadap berbagai sepak terjangnya sebelumnya. Sebab, belum lama ini, dia merupakan Hakim Ketua, yang memvonis bebas terdakwa korupsi Agusrin Najamuddin (Gubernur nonaktif Bengkulu, yang juga kader Partai Demokrat).
Terkait dengan tertangkapnya Hakim Syarifudin beserta sejumlah uang cash, yang jumlahnya lumayan fantastis itu, patut dipertanyakan kembali, apakah putusannya membebaskan Agusrin Najamuddin sudah tepat, atau jangan-jangan putusan itu juga beraroma suap ?
Terlepas dari benar-tidaknya kecurigaan berkenaan dengan vonis bebas Agusrin Najamuddin tersebut, agaknya hal itu patut ditelusuri oleh pihak-pihak yang berkompeten. Jangan sampai orang yang sejatinya korup, justru dibiarkan bebas menghirup udara segar, sementara yang belum terbukti korup, sudah menjadi pesakitan.
Di sisi lain, penangkapan Hakim Syarifudin juga sekaligus sebagai bukti, bahwa penegakan hukum (law enforcement), belum berjalan sesuai dengan harapan rakyat. Bagaimana mungkin penegakan hukum bisa diharapkan memberikan rasa keadilan, jika para penegak hukum sendiri masih terlibat dalam tindakan melanggar hukum ?
Selain itu, tertangkapnya Hakim Syarifudin hendaknya bisa dijadikan sebagai momentum bagi KPK, untuk terus mengendus sepak terjang para aparat penegak hukum, agar mereka tidak ‘bermain api’ saat melakukan penegakan hukum !
Aparat penegak hukum yang menyalahgunakan wewenangnya, harus dikenakan ganjaran hukum yang lebih berat. Sebab, mereka yang mafhum soal hukum, tidak sepatutnya melakukan tindakan melanggar hukum. (**)

Kaitkata: , , ,
24 April 2011

Kita dan Euforia Bieber

Penyanyi asal Kanada Justin Bieber tampil memukau dalam konser bertajuk “Justin Bieber My World Tour” di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu 23 April 2011. Pelantun lagu “Baby” tersebut membuat histeris penggemarnya yang mayoritas remaja putri itu.
Tidak kurang 10 ribu penonton menjadi saksi aksi panggung Justin Bieber tadi malam. Membuka konser dengan lagu “Love Me”, Justin mengenakan jaket dan celana putih. Klik di sini untuk melihat foto-foto aksi panggung remaja yang diorbitkan musisi Usher tersebut.
Dengan usia masih sangat belia itu, harus diakui Justin Bieber memang hebat. Pengakuan terhadap kehebatannya bisa dilihat dari sejumlah penghargaan yang diraihnya, antara lain anugerah artist of the year American Music Awards, best male MTV Music Europe Awards, favorite male singer Nickelodeon Kids’ Choice Awards, nominasi Grammy Award dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya.
Pesona Bieber membuat remaja Indonesia terperangkap pada euforia berlebihan. Lihatlah misalnya, pengakuan sejumlah remaja kita. “Justin itu suaranya bagus, kepribadiannya menarik, cakep,” kata Tirza (15), Yeni (15) dan Inggrid (15) kompak, siswi kelas satu SMA di Jakarta yang mengenakan kaus ungu, warna favorit penyanyi kelahiran 1994 itu.
Berbagai atribut dikenakan para penggemar Bieber seperti baju warna ungu, kaus bertuliskan “I Love JB”, stiker bertuliskan “beliebers” yang ditempel di pipi, sepatu khas Bieber atau dengan membawa poster bergambar pemuda yang bakatnya ditemukan dari situs “Youtube” tersebut. “Saya sudah beli tiket sejak tiga bulan lalu dan membayar orang untuk antri penukaran voucher dengan tiket,” kata seorang bapak asal Samarinda yang tidak ingin disebutkan namanya.
Ia tiba di Jakarta dari Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (22/3) bersama kedua putrinya yang duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama serta seorang keponakannya yang juga masih SMP, ketiganya perempuan.”Total saya habis 20 juta, termasuk ongkos pesawat dan tiket konser,” katanya yang saat menunggu pintu gedung pertunjukan dibuka pada pukul 18.00 WIB.
Performance Justin Bieber memang yahuudd…., tapi tidak sepatutnya kita terjebak pada sikap euforia serta terlalu melebih-lebihkan kehebatannya, apalagi sampai mengkultuskannya.
Kalau mau jujur, Justin Bieber belumlah sehebat Rhoma Irama, Iwan Fals, atau Ahmad Dhani. Level Bieber sebenarnya masih sekelas Agnes Monica, Gita Gutawa atau Afghan. Tapi, begitulah persepsi sebahagian masyarakat kita, yang masih suka ‘mengagung-agungkan’ segala sesuatu yang berbau asing, atau seseorang yang ngetop di Amerika. Silahkan mengagumi Bieber, tapi janganlah berlebihan….!(**)

13 April 2011

Pelajaran dari DPR ‘Porno’

Akhirnya, anggota Fraksi PKS Arifinto, yang kepergok nonton video porno saat sidang paripurna, menyatakan mundur sebagai anggota DPR.
Arifinto mengatakan, terhadap pemberitaan terhadap diri saya dan dinamika media yang berkembang saat ini, saya meminta maaf kepada seluruh kader, simpatisan, konstituen PKS, serta kepada seluruh anggota DPR RI yang terhormat.

“Dengan seluruh kesadaran diri saya tanpa paksaan dari siapa pun dan pihak mana pun demi kehormatan diri dan partai saya, setelah pernyataan ini saya akan segera mengajukan kepada partai saya untuk mundur dari jabatan sebagai anggota DPR,” katanya, kemarin.

Kepergok menonton video saat rapat paripurna DPR, memang sebuah kesalahan yang sukar dimaafkan. Apalagi, jika yang melakukannya adalah kader PKS, yang notabene selama ini mengklaim sebagai partai yang mengedepankan akhlak Islam, dalam perjuangannya.

Arifinto memang telah melakukan kekeliruan. Namun, terdapat pelajaran yang bisa dipetik dari langkah yang ditempuh anggota DPR ‘porno’ itu. Setidaknya, dia telah melakukan tindakan gentlemen sebagai konsekuensi kesalahan yang telah diperbuatnya. Anggota DPR ‘porno’ itu, telah memberikan pelajaran berharga, seputar pentingnya memperlihatkan tanggung jawab atas kekeliruan yang telah dilakukan.

Pasalnya, selama ini sangat banyak oknum pejabat dan politisi kita, selalu lebih suka memilih berpantang mundur, walau sudah terbukti bersalah. Bahkan, tak jarang pula atasan dan pimpinan partainya memberikan proteksi terhadap anggotanya, yang sudah nyata-nyata terbukti bersalah.

Salah satu contoh, tatkala sejumlah politisi dinyatakan terlibat dalam kasus cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, Miranda S Goeltom, para politisi yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu, ramai-ramai dibela pimpinan partainya. Karenanya, ke depan apa yang telah dilakukan politisi PKS Arifianto tersebut, patut dijadikan pelajaran berharga.

Bahwa, setiap kesalahan yang telah dilakukan, haruslah pula siap menghadapi konsekuensinya. Berani berbuat salah, harus berani pula menanggung risikonya. Kita meyakini, Arifinto mungkin hanya sedang apes atau tengah iseng mengintip tayangan porno itu.

Tapi, apa pun dalihnya, dia tetap bersalah karena statusnya sebagai anggota DPR terhormat. Kita juga meyakini, masih banyak anggota dewan lainnya, yang mungkin perilakunya lebih bejad, tetapi tidak terungkap ke publik, karena dia pintar menyembunyikannya. Untuk itu, sebelum kebusukan itu terendus, diharapkan mereka segera bertaubat dan bisa memetik pelajaran dari anggota DPR ‘porno’ tersebut.

Kaitkata: , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.