Feeds:
Tulisan
Komentar
donRekaman percakapan Anggodo Widjojo dengan sejumlah oknum pejabat, yang disebut-sebut mengarah pada upaya kriminalisasi KPK, akhirnya mulai menemui babakan penutup, yang kita harapkan akan bermuara pada terjadinya reformasi hukum menyeluruh di negeri ini.
Mundurnya Komjen Pol Susno Duadji dari posisinya sebagai Kabareskrim Mabes Polri dan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga, patut diapresiasi dan disambut positif. Soal ini, tidak perlulah terlalu diungkit-ungkit, apakah mereka memang mundur atau dipaksa supaya segera mundur.
Apapun yang menjadi historical background yang menyebabkan mereka mundur. Langkah kedua pejabat teras di institusi penegakan hukum, tetap patut diberikan apresiasi. Itulah konsekuensi sebuah jabatan. Akan selalu ada ganjarannya (baik dan buruk), bila kita menduduki sebuah jabatan.
Bisa ditebak, Susno Duadji dan Hakim Ritonga, pastilah merasa berat untuk meninggalkan jabatan dan posisi mereka yang sangat prestisius tersebut. Agar bisa dipercaya menduduki posisi strategis dan cukup berpengaruh, dipastikan membutuhkan perjuangan lumayan berat dan perjalanan karier yang lumayan panjang.
Bila memikirkan kepentingan pribadi dan kelanjutan karier masing-masing, pastilah Susno dan Ritonga tidak akan pernah menyatakan mundur. Tetapi, keduanya ternyata mau dan mampu bersikap legowo dan selanjutnya lebih mementingkan kepentingan institusi dan kepentingan bangsa.
Agar carut-marut dan implikasi politis yang semakin meluas dan sulit terkendali, tidak semakin berkepanjangan, akhirnya kedua tokoh itu memperlihatkan sikap ksatria dan penuh tanggung jawab, sekaligus akan berimplikasi positif terhadap tradisi kepemimpinan di negeri ini di masa mendatang.
Kita berharap, di masa mendatang, setiap pejabat yang dianggap dan dinilai telah terbukti menyalahgunakan kedudukannya demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, memang sudah sepatutnya menyampaikan permohonan pengunduran dirinya.
Langkah seperti ini memang sudah sepatutnya dilakukan, agar selanjutnya tidak semakin memperburuk citra institusi sang pejabat bernaung, serta tidak pula mempersulit posisi atasan yang bersangkutan.
Seorang atasan bisa jadi sebetaulnya sangat sayang kepada anak buahnya, yang selama ini dinilai cukup berprestasi dalam bidang tugas yang diembankan kepadanya. Tapi harus diakui pula, kedekatan antara bawahan dengan atasan, acapkali pula melahirkan implikasi negatif, karena yang bersangkutan kemudian merasa jumawa dan merasa bisa melakukan apa pun. Sebab menganggap dirinya akan mendapatkan proteksi dari atasannya.
Kecenderungan seperti ini sangat potensial merebak di dalam diri seorang pejabat, katakanlah seorang menteri, dirjen, kepala dinas, dan lainnya, manakala sang atasan sering menganakemaskan bawahannya, yang memicu pada munculnya perasaan arogan dan anggapan akan selalu dilindungi kendati melakukan kekeliruan.
Dalam konteks ini, dibutuhkan figur pemimpin yang tegas tanpa pandang bulu, serta senantiasa objektif dalam menilai dan memperlakukan bawahannya. Kecenderungan like or dislike, mesti dihilangkan. Reward and punishment harus diberikan secara adil dan sesuai dengan kinerja masing-masing.
Susno dan Ritonga telah mundur. Kita berharap ‘perseteruan’ antara KPK dengan Polisi, yang telah menguras tenaga dan nyaris mengganggu stabilitas di negeri ini, hendaknya segera diakhiri. Kedua belah pihak sepatutnya segera saling menghargai dan saling membantu dalam melancarkan tugas masing-masing.
Di sisi lain, peristiwa mundurnya Susno dan Ritonga, patut dijadikan sebagai momentum untuk segera membudayakan tradisi mundur di negeri kita. Siapapun yang merasa dirinya tidak mampu mengemban tugas negara, sebaiknya segeralah mundur.
Mundur dari jabatan bukanlah dosa. Bukan cuma Susno dan Ritonga saja, siapapun termasuk di dalamnya para menteri, kepala daerah, para wakil rakyat, dan aparat penegak hukum, bahkan Presiden sekalipun, kalau memang tidak optimal menjalankan amanah rakyat, tidak perlu segan-segan untuk mundur. Tradisi mundur memang patut dibudayakan. Hal itu tidak saja akan memberikan kebaikan bagi kehidupan demokrasi, melainkan juga sebagai bahagian dari komitmen mewujudkan clean and good governance……!(**)
-karikatur dari sini
CPNSCalo CPNS dilaporkan terus bergentayangan. Mereka tak segan-segan mencari mangsa untuk menarik keuntungan. Modus yang dipakai dengan mengiming-imingi peserta bisa dibantu lulus seleksi dengan menyetor uang pelicin bervariasi antara Rp 75 juta hingga Rp 100 juta.

Padahal, pihak penyelenggara ujian CPNS dan jajaran Pemerintah telah berkali-kali menekankan, pelaksanaan ujian/ seleksi CPNS itu akan dilakukan dengan fair dan objektif alias tidak mengenal istilah beking-bekingan. Dengan kata lain, siapa yang berkualitas, itulah yang akan diloloskan.
Tetapi, fakta di lapangan hampir selalu bertentangan dengan apa yang dikumandangkan para pejabat pemerintah/ penyelenggara seleksi CPNS tersebut. Terbukti, sudah menjadi rahasia umum, yang berpeluang untuk lulus adalah mereka yang punya backing serta kemampuan menyediakan uang pelicin.
Sungguh malang nian nasib para CPNS itu. Ratusan ribu yang mendaftar, cuma sekitar ratusan yang diterima. Bahkan kendati telah menyediakan uang pelicin, juga belum menjadi jaminan seseorang akan dengan mudah lulus seleksi.
Sudah banyak buktinya, para peserta penerimaan CPNS itu mengalami kegagalan ganda ; tidak lulus dan uangnya pun tertahan di tangan calo. Bahkan tak jarang raib begitu saja alias tak kunjung dikembalikan sebagaimana perjanjian semula.
Kendati begitu, para orangtua dan peserta CPNS seolah tidak pernah kapok menggunakan para calo dan atau oknum-oknum PNS ‘berpengaruh’, yang ditengarai memiliki kekuasaan atau kemampuan membantu mempermulus kelulusan para peserta CPNS tersebut.
Pasalnya, mereka yang kualitas SDM dan intelektualnya pas-pasan, lebih merasa tak yakin lagi, apabila mengikuti seleksi penerimaan CPNS tanpa dibekali dengan modal (uang pelicin). Tanpa kesiapan dana memadai, mereka lebih menganggap keikutsertaannya hanya sekadar trial and error belaka.
Lalu mengapa status PNS begitu disayang dan masih diidolakan mayoritas generasi muda bangsa kita hingga kini ? Hal itu tiada lain, karena opini umum yang berkembang selama ini, status sebagai PNS memang cukup menjanjikan dan dianggap masih lumayan bergengsi.
Lagi pula pekerjaan sebagai PNS selama ini diasumsikan memang tidak terlalu berat, bahkan bisa disebut cenderung santai. Tidak jarang PNS justru lebih banyak waktunya menganggur di kantor, sehingga lebih sering diisi dengan main fesbuk atau ngobrol ngalor ngidul.
Status PNS memang lumayan enak. Pekerjaan ringan, tapi menjelang Pemilu seringkali mengalami kenaikan gaji. Faktanya generasi muda bangsa kita masih lebih suka dengan pekerjaan yang serba santai, tapi penghasilan mencukupi.
Jiwa dan spirit enterpreneurship kelihatannya belum terintegrasi dengan optimal di dalam diri generasi muda bangsa kita. Mereka tetap menjadikan status sebagai PNS sebagai impian, sebab pekerjaan itu memang menjanjikan masa depan lumayan cerah.
Namun pada realitasnya, untuk bisa diterima sebagai PNS bukanlah semudah membalik telapak tangan. Soalnya alokasi yang dibutuhkan selalu tidak sebanding dengan yang membutuhkan. Sebuah fenomena yang ironis ; PNS sayang, CPNS malang……!


           Pemerintah kini mempertimbangkan mengkaji ulang otonomi daerah (otda). Hal itu menyusul hasil evaluasi otda yang menunjukkan terdapat 34 daerah yang semakin miskin setelah lepas dari daerah induknya. Dalam waktu singkat, otda akan diatur lebih baik lagi agar tujuan untuk menciptakan pemerintahan yang efektif dapat tercapai.
        “Prinsip otonomi daerah tidak akan berubah, bahwa pilihan desentralisasi itu prinsip, tetapi kita tata kalau ada yang kurang baik untuk lebih memaksimalkan efektifitas pemerintahan,” ujar Mendagri Gamawan Fauzi di Jakarta, kemarin.
        Apa yang dikemukakan Mendagri itu cukup beralasan. Bahkan dalam perspektif Sumatera Utara, wacana pemekaran Provinsi Tapanuli telah meninggalkan ‘luka’ yang cukup mendalam, ditandai dengan jatuhnya korban meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara saat itu (Drs H Abdul Aziz Angkat MSp), akibat rencana pemekaran telah didominasi ambisi kekuasaan (politis dan ekonomis).
        Jika tidak segera diantisipasi sejak dini, tidak tertutup kemungkinan, keinginan memekarkan sebuah daerah (Provinsi, Kabupaten/ Kota), pada akhirnya bisa mengancam stabilitas dan harmoni sosial di sebuah daerah, seperti terjadi di Sumatera Utara sebagai side effect aksi massa yang cenderung memaksakan diri untuk menggolkan keinginannya.   
        Di sisi lain, kita juga bisa merasakan sendiri, beberapa pemekaran kabupaten/ kota yang telah terlaksana di Sumatera Utara, pada umumnya belum berhasil membawa perubahan signifikan dari segi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah pemekaran tersebut.
        Dari beberapa daerah yang telah dimekarkan itu, hanya sedikit yang telah menuai hasil. Barangkali salah satu yang lumayan berhasil adalah Kabupaten Serdang Bedagai, sebagai hasil pemekaran Kabupaten Deli Serdang.         Sementara beberapa daerah pemekaran lainnya, semisal Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Nias Selatan, dan lainnya, belum bisa dianggap berhasil, untuk tidak menyebut justru hingga kini masih jalan di tempat.
        Atas dasar itu kita berharap, kiranya wacana pemekaran, jangan terlalu mudah digelindingkan, sebelum dilakukan feasibility study yang benar-benar serius dan objektif serta mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya terkait dengan potensi Sumber Daya Alam plus potensi Sumber Daya Manusia (SDM)-nya.
        Jangan seperti kecenderungan selama ini, keinginan memekarkan sebuah daerah, lebih dominan dipengaruhi oleh kepentingan ekonomis dan kekuasaan kelompok tertentu. Ambisi kelompok ini kemudian dengan entengnya diklaim sebagai aspirasi mayoritas masyarakat.
        Di sisi lain kita juga mendukung sepenuhnya keinginan Depdagri untuk melakukan revisi terhadap implementasi Otonomi Daerah. Peran Gubernur sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Pusat di daerah sudah sepatutnya lebih diperkuat. Sehingga Gubernur pun ‘memiliki kekuasaan’ mencegah munculnya ancaman disharmoni oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memaksakan kehendak menggolkan pemekaran.
         Pemekaran daerah tak boleh dipaksakan. Biarkanlah rakyat sendiri menentukan nasibnya. Biarkanlah pemekaran itu berproses, sesuai dengan aspirasi dan kehendak mayoritas masyarakat, bukan karena ambisi kekuasaan kelompok elite semata..…!(**)  
      
            

Trauma……….!

TraumaBencana tsunami, gempa, banjir, kebakaran, yang seakan bertubi-tubi melanda negeri ini, tak ayal telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Ada trauma di mana-mana.

Mereka yang belum terkena bencana, juga dilanda trauma. Lebih-lebih lagi mereka yang mengalami kehilangan rumah, anak, dan kaum kerabatnya. Seorang teman menuturkan, cuma tempat tidurnya saja bergoyang,  dia merasa takut, membayangkan seolah terjadi gempa.

Hujan deras yang melanda kota Medan hampir setiap sore hingga malam selama sebulan terakhir ini, juga menimbulkan trauma. Ada ketakutan mendengar bunyi petir yang menggelegar, apalagi hujan deras itu hampir selalu disertai angin kencang.

Ya, kini trauma ada di mana-mana. Trauma karena terancam PHK, trauma karena korupsi belum juga bisa diberantas tuntas, trauma karena dizhalimi penguasa, trauma karena para politisi tak kunjung bisa dipercaya, trauma karena fitnah, juga trauma karena dikhianati pacar, istri dan suami.

Munculnya rasa trauma itu, di satu sisi memang bisa jadi disebabkan oleh masih lemahnya kualitas iman seseorang. Sebab, sesungguhnya kematian, jodoh, rezeki, sudah diatur oleh Sang Khaliq, Allah azza wa jalla.

Tetapi trauma itu juga bisa jadi disebabkan kelemahan kita bersama. Pemerintah kita lemah dalam hal antisipasi. Sudah begitu banyak terjadi bencana, tetapi selalu saja terlambat memberi bantuan. Penggalangan dana sangat cepat dilakukan, tapi penyaluran bantuan sangat lamban dan bertele-tele.

Ancaman banjir misalnya, bisa dicegah dengan semakin menggalakkan reboisasi dan memberangus illegal logging serta mencegah penumpukan sampah secara sembarangan. Ternyata hal itu juga belum maksimal dilakukan.

Entah sampai kapan rasa trauma itu terus menghantui banyak orang di negeri ini. Semoga para hambaNya tidak terus larut dalam kealpaan dan bangga terhadap dosa-dosanya, agar DIA bisa memaafkan dosa-dosa kita, dan tidak lagi memberi ‘jeweran’ berupa bencana yang mengerikan. Allahu A’lam bish-shawab !

Clint Eastwood & wife SMALL“Ada uang abang sayang, tak ada uang, abang ditendang”.Ungkapan ini sering diucapkan, dan kelihatan memang ada benarnya.

Coba perhatikan acara Take Him Out di televisi swasta, ketika seorang pria memperkenalkan diri sebagai seorang pengusaha sukses, dipastikan akan sangat banyak lampu menyala. Sebaliknya jika yang tampil cuma seorang guru atau seniman, hampir selalu tidak ada wanita yang mau menjadi calon pasangan mereka. Alaaamak….!

Dalam kehidupan rumah tangga juga demikian, saat suami tengah berjaya dan bisa memberi kemewahan, sang istri biasanya selalu happy dan memberi pelayanan terbaik bagi suaminya. Ketika suami terpuruk bangkrut, tak jarang sang istri mengajukan gugatan cerai. Nauzu billah min dzalik.

Ya, wanita memang materialistik atawa matre. Lihatlah misalnya di profil-profil fesbuk, sangat banyak kaum wanita yang sengaja bergaya di dalam mobil dengan mengenakan kaca mata hitam. Sejatinya itu memang tidak salah, tetapi fenomena itu memperlihatkan, kaum wanita memang selalu lebih nyaman dan merasa happy jika hidup bergelimang kemewahan.

Menyukai pria karena status kepangkatan dan hartanya, memang sah-sah saja. Tetapi, jangan sampai perasaan sayang itu, mendadak sontak pudar seketika, saat suami terpuruk atau tidak lagi berpenghasilan sebesar sebelumnya.

Cinta sejati adalah mencintai dalam keadaan apa pun. Mencintai saat kaya, dan tetap sayang saat tak lagi bergelimang harta. Sebab cinta yang sesungguhnya adalah selalu bersama sehidup semati, apapun konsekuensi yang dihadapi.

Dalam hal ini, kaum wanita perlu meneladani Tami, istri Pepeng, yang tetap setia merawat suaminya yang sudah hampir empat tahun dan hingga kini tetap dalam keadaan lumpuh.

Istri yang baik adalah mereka yang selalu tersenyum saat menyambut kepulangan suaminya, dan tak terlalu banyak menuntut dan membanding-bandingkannya dengan suami tetangga yang lebih makmur kehidupannya. Terimalah suami dan pacar Anda, apa adanya….!

Kebahagiaan Semu……!

loneSeparuh jiwaku Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka

Reff:
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku

Kau bilang tak pernah bahagia
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua

(song by : Anang Hermansyah)

Saat lagu ini dinyanyikan Anang dengan penuh penghayatan di sebuah stasiun televisi, dan bola mata putrinya Aurel berkaca-kaca mengikuti bait lagu itu, tak sadar air mataku menetes.

Saya tak terlalu sedih membayangkan nasib Anang, saya cuma tak kuasa menahan perasaan duka membayangkan betapa dalam luka yang mesti ditanggung kedua anak Anang-KD, Aurel dan Azriel.

Saat ditanya presenter televisi, apakah Aurel dan Azriel merindukan mamanya KD, mereka kompak menjawab : tidak ! Kedua anak nan lugu ini menyatakan terpaksa melupakan ibunya, karena sang ibu telah punya si Om..yang baru. Woow…..sungguh tragis…..

Seandainya KD melihat tayangan itu, pastilah dirinya akan menangis pilu. Kedua anak kesayangannya terpaksa meninggalkan rumah mewah ibunya dan lebih memilih tinggal bersama sang ayah di sebuah studio yang sempit dan jauh dari aroma kemewahan.

Alhasil KD yang diberi gelar sebagai DIVA dan bertabur harta dan kemewahan, kini hanya mengecap kebahagiaan semu. Setiap manusia yang waras, pastilah tidak akan pernah bahagia hidupnya jika berpisah dengan anak-anaknya.

Bagi seorang ibu, kehilangan kepercayaan dari anak-anaknya plus berpisah dengan darah dagingnya sendiri, merupakan derita yang tiada tara. Hanya seorang ibu yang tak bermoral lah, yang masih bisa tersenyum genit dan tertawa terkekeh-kekeh, setelah berpisah dengan anak-anaknya.

Banyak orang kini berada dalam kebahagiaan semu ; bertabur harta dan kemewahan, menuai sukses dan popularitas, tapi jiwanya kosong, hatinya hampa. Karenanya, agar tak kehilangan orang-orang yang dicintai, hati-hatilah sebelum melangkah. Jangan jadikan nafsu sebagai panglima…..!

Bukan Suami Biasa…..!

anangMungkin terkesan latah, bila saya juga ikutan tertarik membahas gonjang-ganjing seputar rumah tangga Kris Dayanti (KD) dan Anang Hermansyah.

Tapi, melihat reputasi Anang sebagai seorang suami, menjadi menarik untuk membahas seputar permasalahan yang menimpa keluarga selebritis satu ini. Pasalnya, Anang bisa disebut bukan suami biasa.

Kasus perceraian KD-Anang, tidak bisa disamakan dengan perceraian yang melanda Ahmad Dhani-Maia Estianti, Pasha Ungu-Okie, Rossa-Yoyok, Glenn Fredly-Dewi Sandra, Yuke-Kikan ‘Cokelat’, dan lainnya.

Anang menegaskan, selama berumahtangga dengan KD, dirinya tidak pernah berhubungan intim dengan wanita lain. Dan saya percaya sepenuhnya dengan pernyataannya itu.

Padahal kalau mau, Anang tentu bisa melakukannya. Tapi demi cintanya kepada KD serta demi menjaga ketaatannya pada Ilahi, dia selalu setia kepada KD, kendati menurut Anang sendiri, istrinya itu telah beberapa kali mengkhianatinya.

So, Anang memang bukan suami biasa. Banyak ayah yang baik (good father) seperti Ahmad Dhani, yang mampu menjaga tiga jagoannya Al, El dan Doel, tetapi sangat langka menemukan suami yang hebat seperti Anang, yang selalu setia alias tidak pernah mencoba bermain api dengan wanita lain.

Bukti sosoknya sebagai bukan suami biasa, plus sebagai ayah yang baik, terlihat dari sikap kedua anaknya (Aurel dan Azriel) yang lebih memilih tinggal berasama Anang, ketimbang KD.

KD mungkin kini menyesali langkah-langkahnya.Tetapi semuanya telah terlambat. Penyesalan tiada berguna. Mendapatkan suami yang lumayan handsome, berkualitas dan taat beragama seperti Anang, bukanlah pekerjaan gampang. Bahkan bisa disebut sebagai anugerah.

Kendati begitu KD belum merasa cukup. Yeaaah…, begitulah tabiat manusia, sering tidak pandai mensyukuri nikmat. Burung yang di tangan, kerap dilepas demi memburu burung baru yang dianggap lebih baik, yang belum tentu bisa didapatkan.

Saat masih bersama, sering dilihat kekurangannya saja. Ketika berpisah baru menyesal, dan selalu terbayang masa-masa indah dan menyenangkan. Makanya, sebelum melangkah, selalulah berhati-hati, jangan perturutkan hawa nafsu…..!

Foto dari sini

fbTerus terang mandegnya kreativitas saya menulis di blog plus mulai jarang blogwalking belakangan ini, antara lain dipengaruhi keberadaan facebook/ fesbuk.

Kendati begitu, saya belum sepenuhnya merasakan kenikmatan berfesbuk-ria itu. Blog tetap saya anggap sebagai media paling pas menuangkan ide dan gagasan, walaupun harus saya akui bakat menulis saya tidak sehebat Tutinonka, Jeunglala, Ratna Siti Respati, Jumria Rahman, Yessy Muchtar, Dyah Suminar, Toga Nesia, Nirwan Panjaitan, Mas Goenoeng, Om Trainer, Syawali Tuhusetya dan lainnya).

Cuma satu kelebihan yang mungkin bisa saya rasakan dari fb. Lewat fesbuk, kita bisa berkomunikasi lebih intens dengan teman-teman serta bisa pula berinteraksi dengan rekan-rekan yang kebetulan kurang piawai menuangkan pemikirannya dalam tulisan panjang dan sistematis.

Tetapi, lama kelamaan, saya tiba pada kesimpulan : fesbuk akan menyesatkan seseorang, jika berfesbuk tak lagi peduli waktu serta dimanfaatkan sebagai sarana promosi diri dan say hello dengan teman-teman fb yang kebetulan lagi online.

Kalau tujuan chatting, sekadar berinteraksi antar teman, tak ada masalah. Kalau chatting-nya sudah mengarah pada rayuan gombal dan transaksi cinta, tentu akan menuai masalah.

Jika hal itu terjadi di antara dua anak manusia yang masih sorangan wae, tentu tidak akan menjadi soal. Akan menjadi problema besar, bila fesbuk kemudian membuat ibu-ibu dan bapak-bapak menjadi suka bergenit-ria lewat chatting.

Fesbuk juga akan menyesatkan, bila dijadikan sebagai sarana untuk mendiskreditkan orang lain. Untuk itu, fesbuk seharusnya hanya dijadikan sebagai sarana mempererat silaturrahmi, bukan sebagai alat mencari mangsa.

Fesbuk mesti dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai media berbagi rasa, pengalaman, serta berbagi ilmu. Boleh saja melontarkan kritik lewat fesbuk, asal bertanggung jawab dan disertai data-data akurat dan konkrit. Bukan kritik, karena didasari faktor like or dislike dan sentimen kepentingan.

ramadhanRamadhan datang lagi. Ramadhan memang selalu setia mengunjungi umat Islam saban tahun. Tapi, acapkali Ramadhan datang dan pergi, tanpa kesan….!

Ramadhan, ada apa denganmu ? Tak ada yang salah dengan bulan Ramadhan. Tak ada yang keliru di balik perintah menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan itu.

Cuma para hambaNya saja, yang selalu saja lalai dan sekadar menjadikan Ramadhan sebagai sebuah rutinitas musiman. Ramadhan belum sepenuhnya sukses membuat mereka yang menjalankan ibadah puasa, benar-benar tampil sebagai pemenang pasca Ramadhan.

Puasa di bulan Ramadhan sejatinya bertujuan agar umatNya menjelma menjadi sosok hamba Allah yang laallakum tattaquun (menjadi orang yang bertakwa).

Orang yang bertakwa (muttaqin) itu sejatinya takut pada Allah SWT. Rasa takut itu ditandai dengan adanya kesadaran menjalankankan perintahNYA dan menjauhi segala laranganNYA.

Tetapi, pada kenyataannya, sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun mereka berpuasa….,tetap saja kualitas iman dan akhlaknya begitu-begitu saja alias tidak pernah takut melanggar perintahNYA.

So, wajar jika muncul pertanyaan, Ramadhan, ada apa denganmu ? Mengapa Ramadhan belum juga mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik.

Tentu semua itu bukanlah kesalahan Ramadhannya, melainkan karena kekeliruan si Ramadhan dalam menghayati makna esensial dan substansial yang terkandung di dalam perintah berpuasa itu.

Ramadhan belum mampu membentuk seseorang menjadi hambaNYA yang muttaqin, karena puasa dijalankan hanya sebagai rutinitas, bukan berawal dari sebuah kesadaran dan ketulusan dalam menjalankan setiap perintahNYA….!

Jika terjadi perselingkuhan, seringkali tudingan hanya kepada pria atau suami saja. Padahal di era serba sophisticated sekarang, istri-istri juga banyak yang terlibat perselingkuhan.

Memang tidak ada data yang pasti perihal perselingkuhan para istri itu. Tapi, dari lalu-lintas pergaulan sehari-hari, perselingkuhan istri-istri sudah menjadi rahasia umum.

Kendati begitu, saya meyakini, masih lebih banyak lagi istri yang selalu setia kepada suaminya. Seperti halnya, suami juga masih terdapat di antaranya yang masih tetap setia dengan istrinya (monogami).

Lalu, mengapa para istri juga terlibat perselingkuhan ? Penyebabnya tentu sangat beragam dan bisa jadi masih sangat debatable. Sebab istri lazimnya tidak suka jika dituding terlibat selingkuh.

Dalam pengamatan saya, istri terlibat selingkuh antara lain karena beberapa faktor : pertama, kualitas iman yang lemah. kedua, mengalami degradasi cinta terhadap suami. ketiga, tidak dihargai lagi oleh suami. keempat, pelampiasan dendam karena suami ketahuan selingkuh. kelima, penghasilan suami lebih rendah.

Dengan demikian, perselingkuhan istri pada umumnya bukanlah semata-mata karena faktor seks dan cinta, melainkan lebih sering karena faktor ekonomi dan terkikisnya rasa cinta kepada suami, akibat perilaku suaminya yang kurang perhatian, over protektif atau sang suami terlibat affair.

Tetapi apapun menjadi faktor pemicunya, perselingkuhan para istri tetaplah tidak bisa ditolerir. Rumah tangga pasti akan mengalami kehancuran, bila salah satu di antara mereka (suami ataupun istri) telah pernah terlibat dalam perselingkuhan.

Dan satu hal yang pasti istri-istri yang bangga dengan perselingkuhan itu, niscaya akan mendapat tempat yang layak di neraka jahannam kelak. So, apapun ceritanya……..say no to betrayal….!

Tulisan Sebelumnya »