Feeds:
Tulisan
Komentar

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dianggap bertanggungjawab atas keberadaan infotainment. PWI dinilai telah melakukan pembiaran terhadap infotainment sehingga infotainment dianggap bermasalah.

“Ini bentuk kegagalan PWI yang memasukkan infotainment sebagai wartawan. Saya melihat ada penurunan moralitas di sini. Kebanyakan wartawan infotainment juga tidak memiliki latar belakang jurnalistik, makanya mereka kurang memahami kode etik peliputan,” kata komedian dan politisi Dedi Gumilar, Minggu (27/12).

Apa yang dikemukakan Dedi di atas mungkin ada benarnya. Tetapi di sisi lain, juga masih bersifat debatable. Bahkan mungkin banyak kelirunya. Hal seperti itu memang sudah menjadi kebiasaan umum kita ; cenderung men-generalisir masalah.

Setiap kali terdapat seseorang yang melakukan kesalahan, acapkali institusinya yang dipersalahkan. Saat terdapat oknum polisi yang menyalah, intisui Polri yang dikecam. Ketika ada oknum Jaksa menyimpang, lembaga Kejaksaan dituding, dan semacamnya.

Dalam konteks kasus Luna Maya vs Infotainment, tidak sepatutnya institusi PWI diklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab dan tidak perlulah muncul fatwa haram segala.Para pekerja infotainment memang layak menyandang predikat sebagai wartawan. Soal terdapat awak infotainment yang tidak profesional tidak menyampaikan berita akurat, itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab para produser infotainment itu yang alpa membenahi kualitas wartawannya.

Media televisi sebagai lembaga yang menyiarkan berita-berita entertaint juga patut dipersoalkan. Sebab, mereka juga terkesan tutup mata dan kurang mampu melakukan sensor terhadap produk-produk infotainment yang hendak ditayangkan.

Di sisi lain, kita juga patut menyayangkan, permasalahan yang terjadi antara Luna Maya vs infotainment, akhirnya berujung pada aktivitas dukung-mendukung, yang muaranya adalah kepentingan, termasuk kepentingan para pengelola televisi sendiri. Beberapa stasiun televisi yang tak punya tayangan infotainment misalnya, cenderung membela Luna Maya.

Padahal terlepas dari kualitas wartawan infotainment, yang mesti diakui masih banyak yang tidak profesional, dan terkesan kerap melakukan pemaksaan kehendak terhadap nara sumbernya, Luna Maya juga patut dikecam karena tulisannya yang kurang etis di twitternya itu. Menyebut siapa pun sebagai pelacur, apa pun alasan logisnya, tetaplah tidak dapat ditolerir !

Dari perspektif jurnalistik, sudah sepatutnya peristiwa Luna vs Infotainment ini, dijadikan sebagai momentum introspeksi bagi para pengelola media cetak dan elektronik, bahwa kualitas wartawan memang masih harus terus dibenahi. Memang media beken sekaliber Kompas, Media Indonesia, sudah tidak diragukan lagi kualitas wartawannya.

Tetapi di sejumlah media lainnya, utamanya di daerah masih sangat banyak orang yang tidak pantas menjadi wartawan, bisa selama berpuluh tahun menyandang predikat sebagai wartawan. Alhasil banyak oknum wartawan yang dikenal sebagai wartawan bodrex, muntaber, wartawan email,dan wartawan copy paste.

Terhadap wartawan-wartawan semacam itulah, yang menjadi tanggung jawab PWI untuk ikut berperan menindak dan meniadakannya. Dan tentunya yang paling berada di garis terdepan memberangus para wartawan tidak becus ini, sudah barang tentu adalah para pimpinan dan pengelola media itu sendiri…!

Boediono dan Demokrasi Kita

Di era kejayaaan Soeharto, apapun kesalahannya, mustahil seorang Wakil Presiden akan datang ke DPR, untuk menjalani pemeriksaan sebagaimana dilakukan Pansus Angket Bank Century, yang membombardir Boediono,  notabene seorang Wakil Presiden RI, dengan sejumlah pertanyaan lumayan pedas, saat hadir memenuhi panggilan Pansus di Gedung DPR Senayan, kemarin.
Sejatinya untuk mengukur kualitas demokrasi di Indonesia, harus dilihat sejauh mana keterlibatan warga negara dalam mengakses hak dan kewajibannya sebagaimana diamanahkan dalam konstitusi. Selama ini dalam praktek, umumnya rakyat masih sekadar obyek.
Dalam konteks demikian, kita patut merasa bersyukur sekaligus sangat mendukung langkah-langkah yang ditempuh Pansus Angket Bank Century DPR-RI, serta mengapresiasi kesediaan Boediono (walaupun kehadirannya sebagai mantan Gubernur BI), bukan sebagai Wapres, saat memenuhi panggilan Pansus. Tetapi dalam diri Pak Boed, tetaplah melekat jabatan Wapres.
Kita berharap momen langka pada era rezim sebelumnya itu, akan menjadi babak baru dalam penguatan demokrasi kita, sekaligus akan memberi angin segar dalam penegakan hukum (law enforcement) di negeri ini ; bahwa siapa pun yang terbukti bersalah, mesti ditindak tanpa pandang bulu.
Selama ini disinyalir terdapat empat tipe anggota anggota DPR. Pertama, anggota yang vokal, kreatif, idealis dan dinamis (10%). Kedua, mereka yang banyak mengeluarkan pernyataan, namun tidak didukung dengan data dan analisa (50%). Ketiga, kelompok 4D, yakni datang, duduk, dengar dan duit (30%). Keempat, kelompok pemalas yang seringkali bolos dan mengikuti sidang hanya beberapa kali dalam setahun (10%).
Benar tidaknya sinyalemen itu, akhirnya terpulang pada kinerja dewan. Kita cuma bisa berharap agar berbagai perkembangan terkini, yang diawali dari perhelatan Pansus Angket Bank Century itu hendaknya bisa memberi perubahan ke arah positif, bagi perbaikan kinerja wakil rakyat sekaligus peningkatan kualitas demokrasi Indonesia secara menyeluruh.
Peningkatan kualitas demokrasi kita, memang sudah sepatutnya diawali dari gedung dewan ditandai dengan peningkatan kinerja para wakil rakyat tersebut.
Bahwa, wakil rakyat sudah sepantasnya selalu berbicara mengacu pada kepentingan rakyat, tidak lagi sekadar memperjuangkan kepentingan partainya, apalagi sebatas ‘menjilat’ penguasa.
Jalan dan momentum ke arah perbaikan citra wakil rakyat sudah diretas. Semoga hal ini bukan sebatas kasuistis dan insidentil belaka, melainkan harus terus menjadi komitmen nyata para wakil rakyat itu.
Bila wakil rakyat konsisten menyuarakan kepentingan rakyat, dapat dipastikan rakyat akan selalu di belakang mereka, dan eksekutif pun dipastikan akan lebih hati-hati dan tidak lagi menyepelekan legislatif seperti kecenderungan selama ini.
Apa pun hasil pemanggilan Boediono oleh DPR itu, tidaklah terlalu penting. Yang patut dicatat, peristiwa itu harus bisa dijadikan sebagai starting point menuju perbaikan kualitas demokrasi kita kini dan di masa mendatang. Bahwa pengelolaan negara tidak bisa lagi dilakukan sesuka hati. Transparansi dan akuntabilitas harus diwujudkan secara nyata di segala lini.

Mikekono Style

Ini dia sisi lain Mikekono. Mengurai fenomena dan aktivitas keseharian dalam kata-kata singkat. Mungkin bisa disebut sajak, pantun atau apapun namanya.

Mikekono style….hmmm, begitulah kira-kira. Selamat membaca dan berbagi rasa, semoga ada manfaatnya…

-Berpikir idealis, bertindak pragmatis, tak sudi menangis, walau miris…teriris-iris….

-Membuka tirai hati……mengurai mimpi, mengusir sepi di siang ini…….

-Makan sudah…..,shalat pun sudah…….,senyum merekahhh……sumringah, penuh gairahhhhh.

-Walau Tamara Bleszynski sexy & berani berbikini, adinda nan baik budi lebih memikat hati.

-Tak ingin berkeluh kesah….walau gerah dan gelisah.

-Siang nan panas….,pengen makan nenas dan juice semangka segelas, agar tak malas menerabas…

-Tak ada maaf buat mereka yang inkonsistensi, cuma bisa umbar janji, dan slalu mikirin diri sendiri…

-Ditemani secangkir kopi plus song from hindustani, mengusir dingin dan rasa ingin di sore ini.

-Minggu nan syahdu, dengerin lagu sendu, semilir angin berlalu, menyapu wajah nggantengku.

-Sahabat sejati slalu peduli, cinta sejati slalu di hati, walau tlah pergi dan tak kan kembali…..

-Cerah pagi memberi inspirasi, lahirkan motivasi, memicu diri jadikan hidup lebih berarti sesuai koridor nurani dan tuntunan Ilahi…….!

-Coba menahan ingin, walau mulai terasa dingin, semoga tak masuk angin…

-Tak dinyana, asa cuma sebatas wacana, indah dalam kata, buruk dalam fakta.

-Bumi makin panas, tak perlu cemas, lebih baik keramas, agar badan tak lemas…!


Ketika pertandingan digelar antara Manny ‘Pacman’ Pacquaio (Filipina) dengan Miguel Cotto dan disiarkan langsung salah satu televisi swasta kita, saya ikut deg-degan dan ikut berharap agar Manny memenangkan pertandingan itu.
Akhirnya Manny benar-benar hebat dan memang patut dibanggakan. Dia sukses mempecundangi Cotto dan membuat petinju yang bertubuh lebih tinggi dan besar itu, benar-benar tidak berdaya, dan mesti tunggang langgang menghadapi serbuannya. Alhasil Cotto dinyatakan kalah Technical Knock Out (TKO) di ronde terakhir (12).
Lalu apa pentingnya kemenangan itu buat kita (bangsa Indonesia) ? Sesama bangsa Asia, sudah sepatutnya kita ikutan bangga dengan prestasi gemilang Manny Pacquaio tersebut. Ternyata, bangsa Asia tak kalah hebat dibanding bangsa Amerika dan Eropa.
Bahkan petinju Asia (Manny Pacquaio) justru telah mencatat prestasi luar biasa, menciptakan sejarah baru sebagai petinju Asia pertama yang pernah meraih enam gelar juara dunia dalam kelas berbeda.
Memang Indonesia juga punya juara dunia dalam diri Chris John, yang baru beberapa waktu lalu mempertahankan gelarnya di Amerika Serikat. Tetapi tetap saja kehebatan Chris John kelihatannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan prestasi yang ditorehkan petinju Filipina tersebut.
Mengapa ? Pasalnya Manny Pacquaio mencatat prestasi gemilang mengalahkan lawan-lawannya di negeri Paman Sam (AS) dengan lawan yang benar-benar kelas satu, serta dengan kemenangan yang selalu meyakinkan, berhasil menjatuhkan lawan-lawannya (kemenangan KO dan TKO).
Sebaliknya kendati berstatus sebagai juara dunia dan belum pernah mengalami kekalahan, Chris John belum punya nama mentereng di Amerika, sebab mayoritas kemenangan yang ditorehkannya lebih banyak diraih di kandang sendiri, dan kebanyakan pula dengan kemenangan angka.
Chris John memang hebat, sayangnya dia tidak memiliki pukulan mematikan (killing punch) seperti halnya Pacquiao. Alhasil pertandingan Chris John kurang begitu memikat dan memiliki nilai jual di negeri pusatnya tinju, Amerika Serikat.
Manny Pacquiao adalah kebanggaan Asia. Lalu, apakah yang masih bisa dijadikan sebagai ikon kebanggaan kita ? Selama ini, bangsa Indonesia membanggakan prestasi olahraganya di dunia lewat bulutangkis. Sayangnya, sejak lima tahun terakhir ini, prestasi kita di bidang yang selalu diandalkan itu, kini telah meredup. Kita sudah terlalu jauh tertinggal dibanding China, bahkan melawan Malaysia pun sudah sering keteteran.
Begitu juga dengan prestasi di Sea Games, dalam beberapa dekade terakhir ini cenderung mengalami penurunan. Jangankan mengejar posisi Juara Umum, untuk meraih posisi tiga besar saja pun sulitnya bukan main.
Ke depan sudah seharusnya kita kembali memantapkan pembinaan dalam bidang olah raga atau bidang lainnya, yang potensial dijadikan sebagai kekuatan yang dapat memberi kebanggaan Indonesia di dunia internasional. Dalam hal ini sudah sepatutnya pembinaan olahraga kita harus benar-benar dikelola secara profesional.
Pembinaan dan pimpinan induk olahraga sudah sepatutnya dipercayakan kepada mereka yang benar-benar faham tetek-bengek olahraga, tidak lagi seperti selama ini acap campur aduk dengan kepentingan kekuasaan. Cuma dengan cara itu, kita akan mampu membangun jatidiri dan kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa.

creativeBeberapa bulan belakangan ini, saya banyak mendapat kritikan dari teman-teman blogger, karena blog Mikekono nyaris nihil dari postingan-postingan baru.

Kritikan konstruktif itu antara lain berasal dari Tutinonka, seorang dosen dan novelis yang selalu saya kagumi karya-karyanya, karena postingannya selalu inspiring, enak dibaca dan perlu. Jeweran juga datang dari Yessy Muchtar, yang menyebut blog saya sudah seperti ‘hutan’.

Kritikan teman-teman itu, menyadarkan saya untuk segera menulis dan menulis lagi. Ternyata, kreativitas memang bisa dipicu agar terus tumbuh berkembang dan mengalami peningkatan. Kreativitas bisa dipaksa agar tetap terjaga. Karya-karya baru bisa terus bermunculan, bila ada kemauan.

Sebaliknya, betapapun kuatnya dorongan motivasi, bila seseorang tidak berkualitas, dipastikan tidak akan mampu menghasilkan karya yang berkelas. Sebab kualitas memang tak bisa dibeli…..!

Terbukti, banyak orang kini menduduki jabatan bergengsi, tetapi tetap saja kelihatan tak memiliki reputasi layak puji. Sebab pada akhirnya jabatan yang disandangnya membuat dirinya menjadi bahan tertawaan dan olok-olokan.

Tersebutlah seorang tokoh di negeri Sijujung Koden, dengan bekal kekuatan finansialnya yang tidak terukur, mampu membeli jabatan penting di sebuah institusi bergengsi.

Tapi, apa lacur, setelah menduduki jabatan bergengsi tersebut, yang bersangkutan, tetap saja tidak berubah menjadi sosok yang kredibel. Dia cuma menjadi boneka dan tukang stempel. Tanda tangannya memang berlaku, namun kebijakan institusi yang dipimpinnya lebih banyak dikendalikan oleh para wakil-wakilnya.

Hal itu bermakna, apa pun profesi yang disandang, jika Anda tidak memiliki kualitas, Anda tidak akan pernah menjadi sosok yang berpengaruh dan memberikan peran menentukan. Dengan kata lain, keberadaannya cuma sekadar menggenapi alias antara ada dan tiada.

Kreativitas bisa dipicu dan dipaksa. Namun pemaksaaan terhadap kreativitas itu hanya dimungkinkan dapat berjalan mulus, apabila didukung kualitas. Tanpa kualitas, semuanya cuma sebatas karya apa adanya alias bukan karya lawas yang berkelas…..!

donRekaman percakapan Anggodo Widjojo dengan sejumlah oknum pejabat, yang disebut-sebut mengarah pada upaya kriminalisasi KPK, akhirnya mulai menemui babakan penutup, yang kita harapkan akan bermuara pada terjadinya reformasi hukum menyeluruh di negeri ini.
Mundurnya Komjen Pol Susno Duadji dari posisinya sebagai Kabareskrim Mabes Polri dan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga, patut diapresiasi dan disambut positif. Soal ini, tidak perlulah terlalu diungkit-ungkit, apakah mereka memang mundur atau dipaksa supaya segera mundur.
Apapun yang menjadi historical background yang menyebabkan mereka mundur. Langkah kedua pejabat teras di institusi penegakan hukum, tetap patut diberikan apresiasi. Itulah konsekuensi sebuah jabatan. Akan selalu ada ganjarannya (baik dan buruk), bila kita menduduki sebuah jabatan.
Bisa ditebak, Susno Duadji dan Hakim Ritonga, pastilah merasa berat untuk meninggalkan jabatan dan posisi mereka yang sangat prestisius tersebut. Agar bisa dipercaya menduduki posisi strategis dan cukup berpengaruh, dipastikan membutuhkan perjuangan lumayan berat dan perjalanan karier yang lumayan panjang.
Bila memikirkan kepentingan pribadi dan kelanjutan karier masing-masing, pastilah Susno dan Ritonga tidak akan pernah menyatakan mundur. Tetapi, keduanya ternyata mau dan mampu bersikap legowo dan selanjutnya lebih mementingkan kepentingan institusi dan kepentingan bangsa.
Agar carut-marut dan implikasi politis yang semakin meluas dan sulit terkendali, tidak semakin berkepanjangan, akhirnya kedua tokoh itu memperlihatkan sikap ksatria dan penuh tanggung jawab, sekaligus akan berimplikasi positif terhadap tradisi kepemimpinan di negeri ini di masa mendatang.
Kita berharap, di masa mendatang, setiap pejabat yang dianggap dan dinilai telah terbukti menyalahgunakan kedudukannya demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, memang sudah sepatutnya menyampaikan permohonan pengunduran dirinya.
Langkah seperti ini memang sudah sepatutnya dilakukan, agar selanjutnya tidak semakin memperburuk citra institusi sang pejabat bernaung, serta tidak pula mempersulit posisi atasan yang bersangkutan.
Seorang atasan bisa jadi sebetaulnya sangat sayang kepada anak buahnya, yang selama ini dinilai cukup berprestasi dalam bidang tugas yang diembankan kepadanya. Tapi harus diakui pula, kedekatan antara bawahan dengan atasan, acapkali pula melahirkan implikasi negatif, karena yang bersangkutan kemudian merasa jumawa dan merasa bisa melakukan apa pun. Sebab menganggap dirinya akan mendapatkan proteksi dari atasannya.
Kecenderungan seperti ini sangat potensial merebak di dalam diri seorang pejabat, katakanlah seorang menteri, dirjen, kepala dinas, dan lainnya, manakala sang atasan sering menganakemaskan bawahannya, yang memicu pada munculnya perasaan arogan dan anggapan akan selalu dilindungi kendati melakukan kekeliruan.
Dalam konteks ini, dibutuhkan figur pemimpin yang tegas tanpa pandang bulu, serta senantiasa objektif dalam menilai dan memperlakukan bawahannya. Kecenderungan like or dislike, mesti dihilangkan. Reward and punishment harus diberikan secara adil dan sesuai dengan kinerja masing-masing.
Susno dan Ritonga telah mundur. Kita berharap ‘perseteruan’ antara KPK dengan Polisi, yang telah menguras tenaga dan nyaris mengganggu stabilitas di negeri ini, hendaknya segera diakhiri. Kedua belah pihak sepatutnya segera saling menghargai dan saling membantu dalam melancarkan tugas masing-masing.
Di sisi lain, peristiwa mundurnya Susno dan Ritonga, patut dijadikan sebagai momentum untuk segera membudayakan tradisi mundur di negeri kita. Siapapun yang merasa dirinya tidak mampu mengemban tugas negara, sebaiknya segeralah mundur.
Mundur dari jabatan bukanlah dosa. Bukan cuma Susno dan Ritonga saja, siapapun termasuk di dalamnya para menteri, kepala daerah, para wakil rakyat, dan aparat penegak hukum, bahkan Presiden sekalipun, kalau memang tidak optimal menjalankan amanah rakyat, tidak perlu segan-segan untuk mundur. Tradisi mundur memang patut dibudayakan. Hal itu tidak saja akan memberikan kebaikan bagi kehidupan demokrasi, melainkan juga sebagai bahagian dari komitmen mewujudkan clean and good governance……!(**)
-karikatur dari sini
CPNSCalo CPNS dilaporkan terus bergentayangan. Mereka tak segan-segan mencari mangsa untuk menarik keuntungan. Modus yang dipakai dengan mengiming-imingi peserta bisa dibantu lulus seleksi dengan menyetor uang pelicin bervariasi antara Rp 75 juta hingga Rp 100 juta.

Padahal, pihak penyelenggara ujian CPNS dan jajaran Pemerintah telah berkali-kali menekankan, pelaksanaan ujian/ seleksi CPNS itu akan dilakukan dengan fair dan objektif alias tidak mengenal istilah beking-bekingan. Dengan kata lain, siapa yang berkualitas, itulah yang akan diloloskan.
Tetapi, fakta di lapangan hampir selalu bertentangan dengan apa yang dikumandangkan para pejabat pemerintah/ penyelenggara seleksi CPNS tersebut. Terbukti, sudah menjadi rahasia umum, yang berpeluang untuk lulus adalah mereka yang punya backing serta kemampuan menyediakan uang pelicin.
Sungguh malang nian nasib para CPNS itu. Ratusan ribu yang mendaftar, cuma sekitar ratusan yang diterima. Bahkan kendati telah menyediakan uang pelicin, juga belum menjadi jaminan seseorang akan dengan mudah lulus seleksi.
Sudah banyak buktinya, para peserta penerimaan CPNS itu mengalami kegagalan ganda ; tidak lulus dan uangnya pun tertahan di tangan calo. Bahkan tak jarang raib begitu saja alias tak kunjung dikembalikan sebagaimana perjanjian semula.
Kendati begitu, para orangtua dan peserta CPNS seolah tidak pernah kapok menggunakan para calo dan atau oknum-oknum PNS ‘berpengaruh’, yang ditengarai memiliki kekuasaan atau kemampuan membantu mempermulus kelulusan para peserta CPNS tersebut.
Pasalnya, mereka yang kualitas SDM dan intelektualnya pas-pasan, lebih merasa tak yakin lagi, apabila mengikuti seleksi penerimaan CPNS tanpa dibekali dengan modal (uang pelicin). Tanpa kesiapan dana memadai, mereka lebih menganggap keikutsertaannya hanya sekadar trial and error belaka.
Lalu mengapa status PNS begitu disayang dan masih diidolakan mayoritas generasi muda bangsa kita hingga kini ? Hal itu tiada lain, karena opini umum yang berkembang selama ini, status sebagai PNS memang cukup menjanjikan dan dianggap masih lumayan bergengsi.
Lagi pula pekerjaan sebagai PNS selama ini diasumsikan memang tidak terlalu berat, bahkan bisa disebut cenderung santai. Tidak jarang PNS justru lebih banyak waktunya menganggur di kantor, sehingga lebih sering diisi dengan main fesbuk atau ngobrol ngalor ngidul.
Status PNS memang lumayan enak. Pekerjaan ringan, tapi menjelang Pemilu seringkali mengalami kenaikan gaji. Faktanya generasi muda bangsa kita masih lebih suka dengan pekerjaan yang serba santai, tapi penghasilan mencukupi.
Jiwa dan spirit enterpreneurship kelihatannya belum terintegrasi dengan optimal di dalam diri generasi muda bangsa kita. Mereka tetap menjadikan status sebagai PNS sebagai impian, sebab pekerjaan itu memang menjanjikan masa depan lumayan cerah.
Namun pada realitasnya, untuk bisa diterima sebagai PNS bukanlah semudah membalik telapak tangan. Soalnya alokasi yang dibutuhkan selalu tidak sebanding dengan yang membutuhkan. Sebuah fenomena yang ironis ; PNS sayang, CPNS malang……!


           Pemerintah kini mempertimbangkan mengkaji ulang otonomi daerah (otda). Hal itu menyusul hasil evaluasi otda yang menunjukkan terdapat 34 daerah yang semakin miskin setelah lepas dari daerah induknya. Dalam waktu singkat, otda akan diatur lebih baik lagi agar tujuan untuk menciptakan pemerintahan yang efektif dapat tercapai.
        “Prinsip otonomi daerah tidak akan berubah, bahwa pilihan desentralisasi itu prinsip, tetapi kita tata kalau ada yang kurang baik untuk lebih memaksimalkan efektifitas pemerintahan,” ujar Mendagri Gamawan Fauzi di Jakarta, kemarin.
        Apa yang dikemukakan Mendagri itu cukup beralasan. Bahkan dalam perspektif Sumatera Utara, wacana pemekaran Provinsi Tapanuli telah meninggalkan ‘luka’ yang cukup mendalam, ditandai dengan jatuhnya korban meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara saat itu (Drs H Abdul Aziz Angkat MSp), akibat rencana pemekaran telah didominasi ambisi kekuasaan (politis dan ekonomis).
        Jika tidak segera diantisipasi sejak dini, tidak tertutup kemungkinan, keinginan memekarkan sebuah daerah (Provinsi, Kabupaten/ Kota), pada akhirnya bisa mengancam stabilitas dan harmoni sosial di sebuah daerah, seperti terjadi di Sumatera Utara sebagai side effect aksi massa yang cenderung memaksakan diri untuk menggolkan keinginannya.   
        Di sisi lain, kita juga bisa merasakan sendiri, beberapa pemekaran kabupaten/ kota yang telah terlaksana di Sumatera Utara, pada umumnya belum berhasil membawa perubahan signifikan dari segi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah pemekaran tersebut.
        Dari beberapa daerah yang telah dimekarkan itu, hanya sedikit yang telah menuai hasil. Barangkali salah satu yang lumayan berhasil adalah Kabupaten Serdang Bedagai, sebagai hasil pemekaran Kabupaten Deli Serdang.         Sementara beberapa daerah pemekaran lainnya, semisal Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Nias Selatan, dan lainnya, belum bisa dianggap berhasil, untuk tidak menyebut justru hingga kini masih jalan di tempat.
        Atas dasar itu kita berharap, kiranya wacana pemekaran, jangan terlalu mudah digelindingkan, sebelum dilakukan feasibility study yang benar-benar serius dan objektif serta mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya terkait dengan potensi Sumber Daya Alam plus potensi Sumber Daya Manusia (SDM)-nya.
        Jangan seperti kecenderungan selama ini, keinginan memekarkan sebuah daerah, lebih dominan dipengaruhi oleh kepentingan ekonomis dan kekuasaan kelompok tertentu. Ambisi kelompok ini kemudian dengan entengnya diklaim sebagai aspirasi mayoritas masyarakat.
        Di sisi lain kita juga mendukung sepenuhnya keinginan Depdagri untuk melakukan revisi terhadap implementasi Otonomi Daerah. Peran Gubernur sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Pusat di daerah sudah sepatutnya lebih diperkuat. Sehingga Gubernur pun ‘memiliki kekuasaan’ mencegah munculnya ancaman disharmoni oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memaksakan kehendak menggolkan pemekaran.
         Pemekaran daerah tak boleh dipaksakan. Biarkanlah rakyat sendiri menentukan nasibnya. Biarkanlah pemekaran itu berproses, sesuai dengan aspirasi dan kehendak mayoritas masyarakat, bukan karena ambisi kekuasaan kelompok elite semata..…!(**)  
      
            

Trauma……….!

TraumaBencana tsunami, gempa, banjir, kebakaran, yang seakan bertubi-tubi melanda negeri ini, tak ayal telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Ada trauma di mana-mana.

Mereka yang belum terkena bencana, juga dilanda trauma. Lebih-lebih lagi mereka yang mengalami kehilangan rumah, anak, dan kaum kerabatnya. Seorang teman menuturkan, cuma tempat tidurnya saja bergoyang,  dia merasa takut, membayangkan seolah terjadi gempa.

Hujan deras yang melanda kota Medan hampir setiap sore hingga malam selama sebulan terakhir ini, juga menimbulkan trauma. Ada ketakutan mendengar bunyi petir yang menggelegar, apalagi hujan deras itu hampir selalu disertai angin kencang.

Ya, kini trauma ada di mana-mana. Trauma karena terancam PHK, trauma karena korupsi belum juga bisa diberantas tuntas, trauma karena dizhalimi penguasa, trauma karena para politisi tak kunjung bisa dipercaya, trauma karena fitnah, juga trauma karena dikhianati pacar, istri dan suami.

Munculnya rasa trauma itu, di satu sisi memang bisa jadi disebabkan oleh masih lemahnya kualitas iman seseorang. Sebab, sesungguhnya kematian, jodoh, rezeki, sudah diatur oleh Sang Khaliq, Allah azza wa jalla.

Tetapi trauma itu juga bisa jadi disebabkan kelemahan kita bersama. Pemerintah kita lemah dalam hal antisipasi. Sudah begitu banyak terjadi bencana, tetapi selalu saja terlambat memberi bantuan. Penggalangan dana sangat cepat dilakukan, tapi penyaluran bantuan sangat lamban dan bertele-tele.

Ancaman banjir misalnya, bisa dicegah dengan semakin menggalakkan reboisasi dan memberangus illegal logging serta mencegah penumpukan sampah secara sembarangan. Ternyata hal itu juga belum maksimal dilakukan.

Entah sampai kapan rasa trauma itu terus menghantui banyak orang di negeri ini. Semoga para hambaNya tidak terus larut dalam kealpaan dan bangga terhadap dosa-dosanya, agar DIA bisa memaafkan dosa-dosa kita, dan tidak lagi memberi ‘jeweran’ berupa bencana yang mengerikan. Allahu A’lam bish-shawab !

Clint Eastwood & wife SMALL“Ada uang abang sayang, tak ada uang, abang ditendang”.Ungkapan ini sering diucapkan, dan kelihatan memang ada benarnya.

Coba perhatikan acara Take Him Out di televisi swasta, ketika seorang pria memperkenalkan diri sebagai seorang pengusaha sukses, dipastikan akan sangat banyak lampu menyala. Sebaliknya jika yang tampil cuma seorang guru atau seniman, hampir selalu tidak ada wanita yang mau menjadi calon pasangan mereka. Alaaamak….!

Dalam kehidupan rumah tangga juga demikian, saat suami tengah berjaya dan bisa memberi kemewahan, sang istri biasanya selalu happy dan memberi pelayanan terbaik bagi suaminya. Ketika suami terpuruk bangkrut, tak jarang sang istri mengajukan gugatan cerai. Nauzu billah min dzalik.

Ya, wanita memang materialistik atawa matre. Lihatlah misalnya di profil-profil fesbuk, sangat banyak kaum wanita yang sengaja bergaya di dalam mobil dengan mengenakan kaca mata hitam. Sejatinya itu memang tidak salah, tetapi fenomena itu memperlihatkan, kaum wanita memang selalu lebih nyaman dan merasa happy jika hidup bergelimang kemewahan.

Menyukai pria karena status kepangkatan dan hartanya, memang sah-sah saja. Tetapi, jangan sampai perasaan sayang itu, mendadak sontak pudar seketika, saat suami terpuruk atau tidak lagi berpenghasilan sebesar sebelumnya.

Cinta sejati adalah mencintai dalam keadaan apa pun. Mencintai saat kaya, dan tetap sayang saat tak lagi bergelimang harta. Sebab cinta yang sesungguhnya adalah selalu bersama sehidup semati, apapun konsekuensi yang dihadapi.

Dalam hal ini, kaum wanita perlu meneladani Tami, istri Pepeng, yang tetap setia merawat suaminya yang sudah hampir empat tahun dan hingga kini tetap dalam keadaan lumpuh.

Istri yang baik adalah mereka yang selalu tersenyum saat menyambut kepulangan suaminya, dan tak terlalu banyak menuntut dan membanding-bandingkannya dengan suami tetangga yang lebih makmur kehidupannya. Terimalah suami dan pacar Anda, apa adanya….!

Tulisan Sebelumnya »