Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dianggap bertanggungjawab atas keberadaan infotainment. PWI dinilai telah melakukan pembiaran terhadap infotainment sehingga infotainment dianggap bermasalah.
“Ini bentuk kegagalan PWI yang memasukkan infotainment sebagai wartawan. Saya melihat ada penurunan moralitas di sini. Kebanyakan wartawan infotainment juga tidak memiliki latar belakang jurnalistik, makanya mereka kurang memahami kode etik peliputan,” kata komedian dan politisi Dedi Gumilar, Minggu (27/12).
Apa yang dikemukakan Dedi di atas mungkin ada benarnya. Tetapi di sisi lain, juga masih bersifat debatable. Bahkan mungkin banyak kelirunya. Hal seperti itu memang sudah menjadi kebiasaan umum kita ; cenderung men-generalisir masalah.
Setiap kali terdapat seseorang yang melakukan kesalahan, acapkali institusinya yang dipersalahkan. Saat terdapat oknum polisi yang menyalah, intisui Polri yang dikecam. Ketika ada oknum Jaksa menyimpang, lembaga Kejaksaan dituding, dan semacamnya.
Dalam konteks kasus Luna Maya vs Infotainment, tidak sepatutnya institusi PWI diklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab dan tidak perlulah muncul fatwa haram segala.Para pekerja infotainment memang layak menyandang predikat sebagai wartawan. Soal terdapat awak infotainment yang tidak profesional tidak menyampaikan berita akurat, itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab para produser infotainment itu yang alpa membenahi kualitas wartawannya.
Media televisi sebagai lembaga yang menyiarkan berita-berita entertaint juga patut dipersoalkan. Sebab, mereka juga terkesan tutup mata dan kurang mampu melakukan sensor terhadap produk-produk infotainment yang hendak ditayangkan.
Di sisi lain, kita juga patut menyayangkan, permasalahan yang terjadi antara Luna Maya vs infotainment, akhirnya berujung pada aktivitas dukung-mendukung, yang muaranya adalah kepentingan, termasuk kepentingan para pengelola televisi sendiri. Beberapa stasiun televisi yang tak punya tayangan infotainment misalnya, cenderung membela Luna Maya.
Padahal terlepas dari kualitas wartawan infotainment, yang mesti diakui masih banyak yang tidak profesional, dan terkesan kerap melakukan pemaksaan kehendak terhadap nara sumbernya, Luna Maya juga patut dikecam karena tulisannya yang kurang etis di twitternya itu. Menyebut siapa pun sebagai pelacur, apa pun alasan logisnya, tetaplah tidak dapat ditolerir !
Dari perspektif jurnalistik, sudah sepatutnya peristiwa Luna vs Infotainment ini, dijadikan sebagai momentum introspeksi bagi para pengelola media cetak dan elektronik, bahwa kualitas wartawan memang masih harus terus dibenahi. Memang media beken sekaliber Kompas, Media Indonesia, sudah tidak diragukan lagi kualitas wartawannya.
Tetapi di sejumlah media lainnya, utamanya di daerah masih sangat banyak orang yang tidak pantas menjadi wartawan, bisa selama berpuluh tahun menyandang predikat sebagai wartawan. Alhasil banyak oknum wartawan yang dikenal sebagai wartawan bodrex, muntaber, wartawan email,dan wartawan copy paste.
Terhadap wartawan-wartawan semacam itulah, yang menjadi tanggung jawab PWI untuk ikut berperan menindak dan meniadakannya. Dan tentunya yang paling berada di garis terdepan memberangus para wartawan tidak becus ini, sudah barang tentu adalah para pimpinan dan pengelola media itu sendiri…!



Beberapa bulan belakangan ini, saya banyak mendapat kritikan dari teman-teman blogger, karena blog Mikekono nyaris nihil dari postingan-postingan baru.
Rekaman percakapan Anggodo Widjojo dengan sejumlah oknum pejabat, yang disebut-sebut mengarah pada upaya kriminalisasi KPK, akhirnya mulai menemui babakan penutup, yang kita harapkan akan bermuara pada terjadinya reformasi hukum menyeluruh di negeri ini.
Calo CPNS dilaporkan terus bergentayangan. Mereka tak segan-segan mencari mangsa untuk menarik keuntungan. Modus yang dipakai dengan mengiming-imingi peserta bisa dibantu lulus seleksi dengan menyetor uang pelicin bervariasi antara Rp 75 juta hingga Rp 100 juta.
Bencana tsunami, gempa, banjir, kebakaran, yang seakan bertubi-tubi melanda negeri ini, tak ayal telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Ada trauma di mana-mana.
“Ada uang abang sayang, tak ada uang, abang ditendang”.Ungkapan ini sering diucapkan, dan kelihatan memang ada benarnya.